LOGIN"Siapa mas?"
Elang menerima panggilan itu. "Halo Ma, gimana kondisi mama?" Ia tau mamanya yang tengah sakit sudah memaksakan diri demi acara pernikahannya. Salah satu alasan lain Elang terburu keluar dari rumah adalah itu. Ia ingin rumah segera sepi sehingga Mamanya bisa beristirahat. "Aku baik Ma, iya, ini lagi bersama Ivanka. Mama mau bicara?"
Binar dimata Ivanka berkilauan saat menerima benda pipih itu dari suaminya. "Halo Ma." sapanya dengan hati diliputi kehangatan. Ia melirik Elang yang memilih duduk di sofa ruang tamu, mengeluarkan handphone lain lalu sibuk menggulir layar, membiarkannya bicara panjang lebar.
Sambil bicara, Ivanka menatap lelaki itu. Senyumnya merekah. Rasanya masih tak percaya kalau sekarang ia berhak atas lelaki itu. Elang Rajendra adalah miliknya!
"Iya Ma, tempatnya sejuk, asri, enak kok." Ivanka menenangkan kekhawatiran Mama mertua yang tertangkap oleh telinganya. "Sekarang lagi hujan deras. Mas Elang pulang untuk menemani." katanya bahagia. "Jakarta hujan nggak Ma?"
"Panas banget disini." suara Mama mertuanya juga begitu ceria. "Ya sudah kalau gitu. Baik-baik mengurus suami. Yang sabar menghadapi Elang ya. Mana dia?"
Ivanka mendekat untuk menyerahkan benda pipih itu kepada suaminya.
Elang serta merta berdiri, mengantongi handphonenya lantas merebut benda itu kasar dari tangan istrinya. Lelaki itu menjauh, bicara di sudut ruangan sambil menatap derasnya hujan dari jendela.
Kalau saja ia nggak tau dengan siapa suaminya bicara, ia pasti sudah mengira Elang selingkuh. "Ah, mas Elang anak mami, cute amat kamu mas." pikir Ivanka walaupun kata 'cute' nggak cocok untuk tubuh tegap berisi itu.
"Aku kembali ke kantor." ujar Elang dingin, begitu selesai menelepon.
"Pulang jam berapa mas? Makan malam di rumah kan?"
Elang tak menyahut. Lelaki itu mengenakan sepatunya lalu berlari kecil menembus hujan menuju ke mobil.
Tak lama, petir menyambar keras sekali membuat Ivanka terburu menutup pintu. Paling enggak, pikirannya sekarang nggak se-horror sebelumnya. Seluruh rumah terang benderang. Pintu kamar mandi pun sengaja ia buka.
Ivanka menatap pintu-pintu kamar yang masih menutup rapat. Ia penasaran. Seperti apa bagian dalam ruangan-ruangan itu. Nggak ada larangan untuk membuka kamar-kamar itu bukan? Tapi mungkin nanti. Ia lebih tertarik untuk membuat makan malam sekarang. Tadi sekilas ia melihat beberapa bungkus sayuran di kulkas.
Sebenarnya ia nggak pintar memasak. Hanya menu amat sangat standar saja. Tumis-tumisan, bening-beningan, plus beberapa macam goreng-gorengan. Ia menata hasil masakannya di atas meja makan lantas mengaduk isi kopernya untuk mengeluarkan buku bacaan yang ia bawa dari Jakarta.
Ia baru ingat, Papa mertuanya mengatakan kalau nggak jauh dari resort ada sekolah. Mungkin besok ia bisa pergi kesana untuk melamar pekerjaan. Project pembangunan resort ini dicanangkan selesai satu tahun lagi, cukup lama tapi dua belas bulan itu bisa menjadi singkat kalau dirinya punya kesibukan.
Gadis itu meletakkan bukunya di atas nakas lalu mulai membongkar binder berisi surat-surat berharga miliknya. Ijazah, sertifikat pelatihan dan seminar serta penghargaan. Ia menimbang dan memilih mana-mana saja yang sekiranya akan ia lampirkan dalam surat lamarannya. Segaris senyum tipis menghiasi wajah Ivanka yang ceria.
Seluruh berkasnya sudah siap, tinggal membuat surat lamaran kalau nanti ia sudah tau nama sekolahnya. Sebelum menikah dengan Elang, ia memang seorang guru.
Hujan sudah berhenti. Ivanka keluar untuk mematikan genset karena listrik juga sudah menyala. Ia membuka jendela dapur, membiarkan angin semilir yang dingin dan beraroma tanah basah menerobos masuk.
Awan kelabu tersingkir begitu cepat. Langit yang semula gelap mendadak terang benderang. Ia beralih ke ruang tamu, menyingkap tirai yang tadi ia tutup rapat karena takut melihat kilatan petir.
Perlahan ia membuka pintu. Di teras, tepat disamping kanan pintu terdapat rak sepatu. Ada dua pasang sandal jepit disitu. Satu besar dan satu kecil. Iva menurunkan sandal yang lebih kecil.
Pas!
"Punya siapa?' pikirnya sambil mengerutkan dahi. Namun sedetik kemudian ia ingat keluarga mang Sarif. Sandal itu bisa saja milik mang Sarif, istrinya atau mungkin juga anaknya yang katanya sudah remaja.
Mungkin sandal itu dipakai salah satu dari mereka kalau sedang bersih-bersih di sekitar sini.
Ivanka melingkupkan sweater rajut berbentuk jaket. Sambil setengah memeluk diri sendiri menahan dinginnya angin, ia keluar.
Pintu utama hanya ditutup. Sengaja nggak ia kunci karena ia nggak punya niat pergi terlalu jauh ataupun terlalu lama. Ia hanya ingin melihat keadaan disekitarnya.
Sandal jepit entah milik siapa itu menjejak tanah. Ujung-ujung rerumputan menerpa kakinya. Ia ke bagian samping dimana terdapat jemuran. Tak jauh dari situ ada rumah kecil. Terasnya yang sempit dipenuhi pot bunga.
Ia urung kesitu. Ivanka memilih berbalik, berjalan ke arah halaman depan. Terus saja lurus hingga keluar pekarangan.
Tak ada apapun, tak ada siapapun, hanya pepohonan dan jalanan selebar mobil di kiri dan kanan. Ia ingat mobil Elang berbelok ke kiri jadi ia ke kanan.
Kiri pastilah arah resort, mungkin lain kali. Ia butuh mencari warung sekarang. Di rumah tak ada sabun. Ia butuh sabun cuci piring, sabun mandi dan sabun untuk mencuci baju.
Ah... harusnya ia ke rumah kecil itu untuk bertanya pada mang Sarif, sesalnya karena sampai bermenit-menit, ia masih belum menemukan apa-apa.
Gadis itu celingukan. "Ya ampun, hujan lagi..." desahnya seraya mempercepat langkah. Hujannya hanya rintik-rintik tapi anginnya lumayan kencang. "Untung nggak pakai petir." Ivanka kembali mendesah ia berdiri di bawah pohon besar untuk berlindung.
Tak sampai semenit ia memutuskan untuk berlari, nekat saja menembus gerimis.
Usahanya tak sia-sia. Gadis itu menemukan warung kecil yang menjual kebutuhan sehari-hari.
Ia terburu masuk ke pelataran warung yang dianungi atap. Terengah-engah ia duduk di bangku kayu yang ada di depan warung.
Hujan menjadi deras.
"Bu... pak... beli sabunnya." Ia berdiri di depan salah satu rak diplay, ragu masuk ke dalam warung yang gelap itu.
Penjualnya, seorang wanita tua berambut putih keluar menggunakan tongkat. "Cari apa neng?"
"Sabun cuci piring."
"Masuk, cari sendiri, sudah ada harganya."
Ivanka menurut. "Lampunya dimana nek?" gadis itu meraba-raba dulu, masuk ke dalam hingga berhasil menemukan saklar. Ia memilih keperluannya.
"Tinggal dimana?"
Singkat saja ia menjelaskan.
Wanita tua itu menatapnya lekat. "Nanti kamu akan pindah dari rumah itu untuk mendapatkan ketenangan."
Ivanka merinding. "Ah... i... iya, terima kasih." Gadis itu mengangguk dengan sangat buru-buru lalu tanpa mempedulikan gerimis ia berjalan cepat-cepat, menyusuri jalan setapak berpasir yang sunyi. Dedaunan yang melambai seolah mencoba menggapai tubuhnya.
Ia mulai berlari kecil sambil melindungi matanya dari terpaan air hujan yang terbawa angin. Napasnya ngos-ngosan saat tiba di teras. "Ya ampun... serem banget..." desahnya sembari mengembalikan sandal jepit itu ke tempatnya. Tanpa menoleh-noleh lagi ia masuk ke dalam.
Kata orang, langsung mandi keramas setelah terkena hujan bisa mencegah flu. Nggak pernah ada penjelasan ilmiah tentang ini tapi dilakukannya. Kelar mandi, ia berdiri di depan kompor. "Gila, dingin banget." Ditutupnya jendela dapur. Ia berlari ke depan saat mendengar derum mobil Elang. "Sudah pulang mas?" sambutnya. Ia mencoba menarik briefcase tipis di tangan Elang.
Dengan cepat Elang menepis, seolah Ivanka adalah penjambret yang berusaha mencuri tas-nya. Lelaki itu melewati Ivanka begitu saja dengan wajah keruh.
"Capek ya Mas dikerjaan. Mau dipijitin ntar?" Ia mengekori Elang yang menuju ke kamar utama. "Aku siapin air hangat untuk mandi ya!"
"Kamu nggak berisik aja sudah sangat membantu."
BRAK!!
Kelopak mata Ivanka mengerjap kaget saat pintu dibanting tepat dimukanya. Ia mengurut dada. Beberapa saat lamanya ia mematung di depan pintu. "Aku panggil lagi kalau airnya udah siap ya mas!" serunya belum menyerah namun suaranya sudah berubah sendu.
.
.
.
To be continued
Rapat dadakan antara perusahaan sekolah telah berlangsung selama 10 menit. Elang, Silva, Pak Haryadi, Amran dan tim pengawas yang dibentuk oleh CSR The Ocean dalam waktu kurang dari satu jam, menyimak penjelasan Pak Sudiana.Berapa lama batas toleransi keterlambatan di sekolah ini? Pertanyaan itu mengambang di kepala Elang sejak lima menit yang lalu. Mungkin lima belas menit, ia menjawab sendiri dalam hati, berharap Ivanka yang tak kelihatan di ruangan sempit itu akan muncul dipintu.Hingga dua puluh menit lamanya, tak ada tanda-tanda istrinya bakal ikut bergabung dalam rapat dadakan ini. Elang mulai kehilangan minat. Duduknya mulai gelisah. Beberapa kali ia berganti-ganti melihat jam tangan dan handphonenya. Baginya, dua puluh menit itu sudah diluar batas toleransi keterlambatan.Padahal, biasanya di acara-acara seperti ini, ia hanya menyandar santai sambil sesekali bertingkah nakal. Meremas tangan Silva atau kadang - tapi amat sangat jarang - balas mengelus paha sang kekasih kalau p
"Amran, siapkan meeting dengan CSR dan bagian keuangan." Elang berhenti sejenak di meja sekretarisnya sebelum meneruskan langkah ke ruang kerja."Siap pak."Silva terburu mengejar langkah kekasihnya. "Mas, nggak sarapan dulu?""Aku kepingin merampungkan ini segera supaya bisa mengurus hal lainnya." Elang tak punya nafsu makan sejak kemarin. Ia berdiri di balik meja kerjanya, sibuk memeriksa berkas yang sudah diletakkan disitu oleh Amran."Aku nggak mau makan kalau mas nggak makan." Sebenarnya Silva nggak terlalu heran dengan sikap Elang yang begini. Dari dulu kekasihnya memang gila kerja. Kadang Elang harus diancam dulu hanya untuk diajak makan.Elang mengangkat kepala. "Kenapa akhir-akhir ini sikapmu sangat mengganggu?"Sepasang alis Silva yang melengkung sempurna terangkat tinggi. "Mengganggu gimana mas?""Apa maksudmu meneror aku?" Elang bersidekap."Aku nggak mungkin menelepon berkali-kali kalau mas mengangkat teleponku." Silva berusaha menahan emosi yang telah tersulut."Hidupku
Iva merinding mendengar gelegar suara suaminya yang mirip guntur saat hujan deras.Napas istrinya yang mendadak tersengal tertangkap oleh pendengaran Elang. Lelaki itu langsung menekan areal di antara kedua matanya. "Maaf." Katanya datar."Iya Mas. Aku juga minta maaf karena belum bisa pulang. Ibu-ibu disini akan menganggap aku nggak punya sopan santun kalau pamit duluan. Malam ini aja ya mas, please... ijinkan aku. Aku langsung pulang kok kalau acaranya selesai." Gadis itu memejam. Ah... untung saja Elang menelepon di handphone khusus-nya. Setelah ini, jangan harap ia akan mengangkat telepon dari lelaki itu lagi."Sampai jam berapa kamu disana?" Elang menyugar rambutnya. Kekhawatirannya membesar dengan cepat. Bagaimana kalau Iva keceplosan? "Hati-hati saat bicara Va.""Iya mas, iya. Udah dulu ya. Nggak enak nih sama ibu-ibu kalau menelepon terlalu lama." Ia diam, tapi tak langsung menutup telepon. Tak ada suara sambungan terputus yang artinya Elang juga belum menutup teleponnya. "Mas
Gaun floral merk ternama itu ia beli saat liburan ke Eropa. Ia suka saat kekasihnya mengenakan itu. Silva kelihatan cantik ketika memakainya. Jantungnya berdebum.Kalau mau jujur, ada banyak clue yang menunjukkan kalau Ivanka mengetahui sesuatu tapi Elang tak mau mengakui karena ada istilah 'kebetulan' dan ada istilah 'cocoklogi' di bumi ini.Sesuatu yang sebenarnya tak saling berkaitan tapi nampak pas kalau dikait-kaitkan.Meskipun begitu, Elang tetap merasa heran. Apa Ivanka nggak melihat label di bagian leher gaun itu? Asal buang aja!"Pak, silakan motornya." Mang sarif mendorong motor matic dengan helm menyangkut disalah satu spion."Mang itu.. kain yang bunga-bunga itu diambil dan tolong dicuci. Itu nggak sengaja terikut disitu." Ia tau kalau apa yang ia katakan amat absurd tapi Elang tak peduli.Mang Sarif mendekati tempat sampah. "Oh... baik pak. Nanti saya minta istri saya mencucinya." Lelaki paruh baya itu menatap terheran-heran sebab baru kali ini tuannya memberi perintah se
Jam dua siang Ivanka sudah berada di kamar kos-nya. Ia tak lagi menunda-nunda kepulangan seperti biasa. Justru ia sangat bersemangat. Gadis berambut sebahu itu menatap ruangan yang masih terasa asing sambil tersenyum. Ia tak peduli sudah berapa lama dan bekas siapa saja sprei yang terpasang disitu. Langsung saja ia menghempaskan diri di atas kasur. Kakinya bergerak kesana kemari dengan lincah."Kebebasaaaaan." ucapnya pelan dengan kedua tangan terentang lebar.Puas menjajal kasur, ia mulai berbenah. Memasang keset, memindahkan pakaian dari tote bag-nya ke lemari lalu keluar menuju ke dapur umum untuk mencuci peralatan makan yang tadi ia beli bersama Saras.Langkahnya terhenti di ruang tengah rumah kost besar itu. Terdapat tv tiga puluh dua inch dan sofa panjang disitu. Ia membayangkan riuhnya menonton bersama. Yah, walaupun sudah lama sekali Iva nggak menonton tv. Nanti, pikirnya riang, ia akan bergabung. Ivanka meneruskan langkahnya ke kamar, menyusun peralatan makannya disamping lem
Gundukan selimut di atas ranjang berukuran single itu kelihatan gemetar. Ia mendekat. Rasa tak enak menelusup saat mendengar suara istrinya yang mencicit ketakutan bagai tikus kejepit.Tiap kali guntur menggelegar, dilihatnya bahu Iva menjengit. Ia ingat bagaimana Iva bersimbah air mata dimalam pertama mereka pindah kesini.Dengan hati-hati Elang menyingkap selimut, sedikit saja. Napasnya tertahan mendapati Ivanka menjadikan guling sebagai bantal sedangkan bantal ditutupkan oleh gadis itu ke kepalanya."Iva..." Elang berjongkok di samping tempat tidur. "Ayo pindah ke kamar utama." Ajaknya pelan. Ia tak ingin menakuti vadis itu. "Iva." Ulangnya sembari menyingkap seluruh selimut yang menutupi tubuh sang istri.Lelaki itu menelan ludah menatap separuh paha Ivanka yang terbuka. "Va..." desisnya serak."Aku bisa mas, aku berani. Leave me." Iva tak dapat lagi memikirkan bagaimana Elang bisa berada di dalam kamarnya padahal saat masuk tadi ia sudah mengunci pintu. Kepalanya hanya dipenuhi r
Hujan turun dengan deras disertai kilat dan guntur.Ivanka menjauh dari jendela. "Mas… kamu dimana?” desisnya dilanda takut.Kaca jendela mendadak terang benderang. Begitu pula halaman samping yang gelap oleh kelabunya langit. Pohon besar diluar sana terlihat meliuk kencang. Anehnya, semakin menaku
Keluarga besar Rajendra berkumpul di ruang makan. Suara obrolan dan canda terdengar jelas.Mengingat pesan Elang, Ivanka mengumbar senyum manisnya kepada semua orang."Santai amat jalannya yang belum malam pertama.”Mata Ivanka membulat mendengar siapa yang bicara. Wanita yang semalam ternyata masi
Suara Elang kembali terdengar. "Jadi jangan berharap banyak dari aku. Kita menikah dan bersikap layaknya suami istri hanya di depan orang tuaku, hanya demi ibuku."Ivanka tak mau mengangguk karena ia ingin menjadi istri sungguhan, bukan istri pura-pura dari lelaki yang amat ia cintai, lelaki yang s
Pembawa acara yang telah mengantarkan seluruh rangkaian acara dari awal hingga akhir berseru penuh semangat. “Sang pengantin pria gagah dan tampan sementara pengantin wanitanya mungil, imut menawan.”Kalimat santai itu menandai berakhirnya prosesi pernikahan antara Elang Rajendra dan Ivanka Juliett







