LOGINIva menunggu sang suami sampai jam 11 malam tapi tak ada tanda-tanda Elang akan pulang. Ia nekat menunggu diluar tapi tak sampai 5 menit sudah masuk kembali gara-gara sayup didengarnya suara burung hantu.
Gadis itu meringkuk di sofa ruang tamu. Ia tergeragap bangun saat pintu dibuka. "Mas...!" Pekiknya, serta merta bangkit dari sofa.
Tekadnya untuk menyingkirkan cinta terpendamnya kepada Elang buyar saat mereka berdekatan begini. Penuh kerinduan Ivanka menghambur memeluk lelaki itu. "Darimana aja mas? Kok jam segini baru pulang? Aku nggak berani di kamar jadi aku nungguin disini sampai ketiduran." Berondongnya tanpa titik koma. Kedua lengannya melingkar erat di pinggang Elang.
"Lepaskan, aku mau buka sepatu." Ucap lelaki itu dingin.
"Enggak, aku kangen." Iva nekat menempelkan pipinya di dada Elang. Hidungnya kembang kempis mencoba mencari aroma manis khas perempuan yang tertinggal disana tapi tak ada apa-apa.
Kedua tangan Elang mencengkeram pinggang gadis itu, siap mendorongnya mundur. Ia tertegun saat menunduk. Ivanka tengah menengadah ke arahnya.
Dua bulir air mata menetes di pipi istrinya.
"Jangan pulang tengah malem begini mas. Aku sudah masak untukmu, aku juga takut sendirian. Rumah ini serem." Terisak Ivanka mengadu.
"Cengeng." Elang berhasil mendorong tubuh ramping Ivanka. Belum sempat ia berjongkok membuka boot yang ia kenakan untuk ke site, istrinya sudah berjongkok membuka pengait sepatu itu lalu menarik lepas dari kakinya.
"Besok pagi aku bersihkan ya mas. Kalau ke site-nya masih beberapa hari lagi, aku cucikan." Ujar Ivanka sambil melucuti sepatu yang satu lagi.
Elang tak menyahut.
"Mas mau mandi air hangat? Aku rebusin air ya."
"Nggak usah."
"Makan dulu mas." Iva mengekor. "Aku bikin sup daging dengan perkedel kentang. Tadi istrinya Mang Sarif mengantar sayur dan sekepal daging. Aku hangatkan sebentar ya."
"No need." Elang langsung mendorong pintu kamar utama.
"Mas...."
"Apa sih? Cerewet sekali kamu jadi manusia?" Kesabaran Elang menipis. Ia berbalik sembari menyentak sebal. "Ngemil, kunyah sesuatu supaya mulutmu nggak bicara terus Ivanka!"
"Aku takut sendirian di kamar itu mas. Mana jendelanya belum ada tirainya. Siang aja aku takut, apalagi malam begini." Ivanka menengadah, menatap penuh permohonan. "Please... mas temani aku atau aku yang ikut masuk ke kamar ini?"
Lelaki itu bergeming.
"Sumpah, aku nggak akan melakukan apa-apa sama mas Elang."
Dalam hati, Elang merasa geli juga oleh perkataan sang istri barusan. Dimana-mana, perempuan yang harusnya takut 'diapa-apakan' oleh lelaki, bukan sebaliknya.
"Mas... tolong mas..." rengeknya.
"Ya sudah..." sahutnya ketus.
"Ah.... makasih." Iva mengekor dengan dada berdebar. Memasuki kamar itu di siang hari, berbeda dengan malam hari. Apalagi masuk berdua Elang.
Lelaki tinggi atletis itu berdiri di depan deretan lemari, mulai membuka kemeja kantornya.
"Aku bantu ya mas." Iva sigap berpindah ke hadapan Elang. Tubuhnya yang ramping itu mudah saja menyusup di antara Elang dan lemari. Ia betul-betul senang saat Elang diam saja.
Sesuai janjinya, asal diijinkan, ia akan membuktikan kalau ia bisa menjadi istri yang baik.
Kancing kemeja sang suami sudah terbuka seluruhnya. Tak ada apa-apa lagi dibalik kemeja Elang kecuali kulit sang suami yang kencang berotot. Iva menelan ludah mendapati abs Elang yang ternyata terbentuk sempurna. "Mas tadi nge-gym?"
"Iya."
Iva mendongak. Tak menyangka Elang akan menjawab, tak menyangka juga kalau di kota kecil ini ada gym. Tapi ia sekedar manggut-manggut saja. Hatinya terlanjur bahagia.
Tangannya beralih ke bawah, membuka ikat pinggang sang suami lalu menyentuh ritsleting celana kerja Elang. Bahunya menjengit saat tangannya ditangkap.
"Cukup."
Iva menggigit bibir sembari menghentikan kegiatannya. "Nggak apa-apa Va, ini permulaan yang bagus," pikirnya sambil mengatur detak jantungnya yang berdebum keras hingga serasa siap keluar dari rangkanya.
Elang berjalan menuju kamar mandi.
Sementara Iva terpaku menunggu ditempatnya. Gadis itu menunduk malu saat Elang keluar dari kamar mandi masih tanpa kemeja, hanya mengenakan celana pendek katun warna abu-abu yang memperlihatkan paha kekar lelaki itu.
Kalau begini, bagaimana ia bisa melupakan Elang? "Ma... makan dulu mas... icip aja." Katanya grogi.
Elang menarik selembar kaus tipis dari lemari lalu menghempaskan diri ke tempat tidur.
"Ya udah kalau nggak mau, temani aku menyimpan makan malam dikulkas dulu mas. Besok bisa dihangatkan untuk sarapan kalau disimpan. Kalau enggak... pasti basi."
Elang mendengus. Enggan tapi toh ia bangun juga dari tempat tidurnya. Lelaki itu berdecak saat sampai di dapur, Ivanka menghangatkan dulu sup daging yang dikatakanya itu.
Aroma kaldu yang menguar memenuhi dapur membuat Elang tergoda. Ia makan malam jam 8 tadi sedangkan sekarang sudah jam setengah satu. Tapi tentu saja ia hanya mengatupkan mulut rapat-rapat.
"Sudah mas, besok pagi sarapan bersama ya."
Elang mendesis. "Cerewet."
"Cerewet tandanya sayang mas. Nanti kalau aku udah nggak sayang, aku akan diam." Ivanka terkekeh. "Tapi itu nggak akan terjadi karena aku sayang banget sama mas."
Lelaki itu menaiki tempat tidur. "Matikan seluruh lampunya. Aku nggak bisa tidur kalau ada cahaya."
"Tapi aku takut gelap mas." itu hanya alasan. Ia ingin menatap wajah Elang saat lelaki itu tertidur.
"Damn you Ivanka!!" Bentak Elang menggelegar. Mata lelaki itu melotot besar sekali. "Jangan menghabiskan stock sabarku yang cuma seujung kuku padamu!" Lanjutnya masih dengan suara keras.
Napas Ivanka memburu. Seumur-umur, baru kali ini ia dibentak sekeras itu. Gadis itu menciut. Wajahnya pias ketakutan.
"Tidur, jangan banyak bicara." Titah Elang. Suaranya sudah tak se-menggelegar tadi tapi masih keras dan kaku. "Dan jangan nangis. Aku benci perempuan cengeng." Geramnya sembari masuk ke dalam selimut.
"A... antar a.. aku ke kamarku mas." Isaknya.
"Tidur, satu kata lagi keluar darimu, aku nggak akan segan menampar mulutmu yang cerewet itu."
Iva menelan tangisnya. Ia meringkuk menghadap punggung lebar Elang, berusaha menghentikan tangisnya.
Entah jam berapa ia baru bisa tertidur. Mungkin karena sebelumnya ia sudah ketiduran di sofa. Pokoknya cukup lama ia mendengarkan deru napas Elang yang teratur sebelum ia akhirnya menyusul tertidur.
Pertama kali tidur bersama. Meski ciut akibat bentakan Elang, pipinya tetap merona saat kelopak matanya membuka keesokan pagi. Ia beringsut turun perlahan dari ranjang besar itu. Berjingkat ke arah jendela untuk menyingkap tirainya lalu menuju ke dapur.
Baru jam 6 pagi. Ia akan membangunkan Elang setengah jam lagi.
Kelar menghangatkan sup dan menata meja makan, ia kembali ke kamar utama. "Mas... bangun... sarapan dulu." Iva mengerjap menatap bulu mata Elang yang lebat dan lentik.
Bulu mata itu tak sinkron dengan garis wajah Elang yang sangat maskulin tapi justru itu yang membuat Elang betul-betul tampan.
Lembut sekali Iva menyentuh pipi lelaki itu, mengulangi panggilannya. "Mas... sarapan dulu yuk..."
Kelopak mata Elang membuka. Ia langsung memejam lagi sambil beringsut mundur seolah jijik melihat pemandangan dihadapannya. "Shit..." desahnya sembari memilih turun dari sisi lain tempat tidur.
Iva beralih ke lemari, menyiapkan perlengkapan sang suami. Ia belum menyiapkan mental saat Elang keluar dari kamar mandi hanya berlilit handuk hitam yang menggantung begitu rendah. Longgar pula!
Handuk itu seolah siap melorot setiap saat.
"Pakai ini Mas." Iva tersipu. "Eh... Mas udah pakai celana dalam kan di kamar mandi?"
Elang bergeming. Matanya seolah membuat pertimbangan apakah ia akan memakai apa yang disiapkan istrinya atau tidak.
Iva mendekat dengan handuk kecil ditangan. Lembut sekali ia mengelap tetesan air dari rambut sang suami yang membasahi bahu dan dada lelaki itu.
Matanya yang dinaungi alis legam dan tegas tak lepas mengikuti gerak-gerik Ivanka yang luwes saat memakaikan kemeja hingga ikat pinggangnya. "Sudah sering?" Desis Elang.
"Apanya?" Iva mengangkat muka.
"Melayani laki-laki seperti ini?"
Gerakan tangannya terhenti detik itu juga tapi sebentar saja. Ivanka dengan cepat pulih dari kekagetannya. "Iya. Aku biasa melakukan ini sama Papa atau Ivan adikku, sambil membayangkanmu mas. Dulu... aku sering berkhayal jadi istrimu." Gadis itu tersenyum. "It's dream come true."
Tak ada perubahan di wajah Elang.
"I love you... suamiku." Bisik Iva dengan wajah merona. Ya ampun... ia ingin waktu berhenti disini.
Elang menjauh dengan cepat.
"Eh, mas sarapannya udah siap, icip aja dikit mas." Iva mengejar. "Mas Elang, Mas!!"
Everest merah Elang menggerung dan berdecit meninggalkan halaman rumah.
Iva membuang napas. "Jangan maruk Va, semalam sudah tidur bareng kan." Ia menghibur diri lalu ke kamar utama untuk mencari pakaian kotor. "Nyuci terus ke sekolah." Ucapnya pelan dan riang.
Keranjang pakaian kotor dari rotan itu hanya berisi pakaian yang semalam ia lepaskan dari tubuh suaminya. Iva memeluknya penuh sayang. Matanya menyipit melihat onggokan kain di single arm chair di sudut kamar.
Diraihnya benda itu. Selembar kemeja. Ada sisa lipstick di bagian kerahnya.
.
.
.
hi gaes.. bantu diriku grow di GoodNovel dengan leave komen dan kasih like yaaa... mampir juga baca karya aku yang lain di karyakarsa. search indah poetry atau bisa juga ketik judul "Before You Go" dan "Coming Home".
thanks a lot, love sekebon buat readers semua..
Rapat dadakan antara perusahaan sekolah telah berlangsung selama 10 menit. Elang, Silva, Pak Haryadi, Amran dan tim pengawas yang dibentuk oleh CSR The Ocean dalam waktu kurang dari satu jam, menyimak penjelasan Pak Sudiana.Berapa lama batas toleransi keterlambatan di sekolah ini? Pertanyaan itu mengambang di kepala Elang sejak lima menit yang lalu. Mungkin lima belas menit, ia menjawab sendiri dalam hati, berharap Ivanka yang tak kelihatan di ruangan sempit itu akan muncul dipintu.Hingga dua puluh menit lamanya, tak ada tanda-tanda istrinya bakal ikut bergabung dalam rapat dadakan ini. Elang mulai kehilangan minat. Duduknya mulai gelisah. Beberapa kali ia berganti-ganti melihat jam tangan dan handphonenya. Baginya, dua puluh menit itu sudah diluar batas toleransi keterlambatan.Padahal, biasanya di acara-acara seperti ini, ia hanya menyandar santai sambil sesekali bertingkah nakal. Meremas tangan Silva atau kadang - tapi amat sangat jarang - balas mengelus paha sang kekasih kalau p
"Amran, siapkan meeting dengan CSR dan bagian keuangan." Elang berhenti sejenak di meja sekretarisnya sebelum meneruskan langkah ke ruang kerja."Siap pak."Silva terburu mengejar langkah kekasihnya. "Mas, nggak sarapan dulu?""Aku kepingin merampungkan ini segera supaya bisa mengurus hal lainnya." Elang tak punya nafsu makan sejak kemarin. Ia berdiri di balik meja kerjanya, sibuk memeriksa berkas yang sudah diletakkan disitu oleh Amran."Aku nggak mau makan kalau mas nggak makan." Sebenarnya Silva nggak terlalu heran dengan sikap Elang yang begini. Dari dulu kekasihnya memang gila kerja. Kadang Elang harus diancam dulu hanya untuk diajak makan.Elang mengangkat kepala. "Kenapa akhir-akhir ini sikapmu sangat mengganggu?"Sepasang alis Silva yang melengkung sempurna terangkat tinggi. "Mengganggu gimana mas?""Apa maksudmu meneror aku?" Elang bersidekap."Aku nggak mungkin menelepon berkali-kali kalau mas mengangkat teleponku." Silva berusaha menahan emosi yang telah tersulut."Hidupku
Iva merinding mendengar gelegar suara suaminya yang mirip guntur saat hujan deras.Napas istrinya yang mendadak tersengal tertangkap oleh pendengaran Elang. Lelaki itu langsung menekan areal di antara kedua matanya. "Maaf." Katanya datar."Iya Mas. Aku juga minta maaf karena belum bisa pulang. Ibu-ibu disini akan menganggap aku nggak punya sopan santun kalau pamit duluan. Malam ini aja ya mas, please... ijinkan aku. Aku langsung pulang kok kalau acaranya selesai." Gadis itu memejam. Ah... untung saja Elang menelepon di handphone khusus-nya. Setelah ini, jangan harap ia akan mengangkat telepon dari lelaki itu lagi."Sampai jam berapa kamu disana?" Elang menyugar rambutnya. Kekhawatirannya membesar dengan cepat. Bagaimana kalau Iva keceplosan? "Hati-hati saat bicara Va.""Iya mas, iya. Udah dulu ya. Nggak enak nih sama ibu-ibu kalau menelepon terlalu lama." Ia diam, tapi tak langsung menutup telepon. Tak ada suara sambungan terputus yang artinya Elang juga belum menutup teleponnya. "Mas
Gaun floral merk ternama itu ia beli saat liburan ke Eropa. Ia suka saat kekasihnya mengenakan itu. Silva kelihatan cantik ketika memakainya. Jantungnya berdebum.Kalau mau jujur, ada banyak clue yang menunjukkan kalau Ivanka mengetahui sesuatu tapi Elang tak mau mengakui karena ada istilah 'kebetulan' dan ada istilah 'cocoklogi' di bumi ini.Sesuatu yang sebenarnya tak saling berkaitan tapi nampak pas kalau dikait-kaitkan.Meskipun begitu, Elang tetap merasa heran. Apa Ivanka nggak melihat label di bagian leher gaun itu? Asal buang aja!"Pak, silakan motornya." Mang sarif mendorong motor matic dengan helm menyangkut disalah satu spion."Mang itu.. kain yang bunga-bunga itu diambil dan tolong dicuci. Itu nggak sengaja terikut disitu." Ia tau kalau apa yang ia katakan amat absurd tapi Elang tak peduli.Mang Sarif mendekati tempat sampah. "Oh... baik pak. Nanti saya minta istri saya mencucinya." Lelaki paruh baya itu menatap terheran-heran sebab baru kali ini tuannya memberi perintah se
Jam dua siang Ivanka sudah berada di kamar kos-nya. Ia tak lagi menunda-nunda kepulangan seperti biasa. Justru ia sangat bersemangat. Gadis berambut sebahu itu menatap ruangan yang masih terasa asing sambil tersenyum. Ia tak peduli sudah berapa lama dan bekas siapa saja sprei yang terpasang disitu. Langsung saja ia menghempaskan diri di atas kasur. Kakinya bergerak kesana kemari dengan lincah."Kebebasaaaaan." ucapnya pelan dengan kedua tangan terentang lebar.Puas menjajal kasur, ia mulai berbenah. Memasang keset, memindahkan pakaian dari tote bag-nya ke lemari lalu keluar menuju ke dapur umum untuk mencuci peralatan makan yang tadi ia beli bersama Saras.Langkahnya terhenti di ruang tengah rumah kost besar itu. Terdapat tv tiga puluh dua inch dan sofa panjang disitu. Ia membayangkan riuhnya menonton bersama. Yah, walaupun sudah lama sekali Iva nggak menonton tv. Nanti, pikirnya riang, ia akan bergabung. Ivanka meneruskan langkahnya ke kamar, menyusun peralatan makannya disamping lem
Gundukan selimut di atas ranjang berukuran single itu kelihatan gemetar. Ia mendekat. Rasa tak enak menelusup saat mendengar suara istrinya yang mencicit ketakutan bagai tikus kejepit.Tiap kali guntur menggelegar, dilihatnya bahu Iva menjengit. Ia ingat bagaimana Iva bersimbah air mata dimalam pertama mereka pindah kesini.Dengan hati-hati Elang menyingkap selimut, sedikit saja. Napasnya tertahan mendapati Ivanka menjadikan guling sebagai bantal sedangkan bantal ditutupkan oleh gadis itu ke kepalanya."Iva..." Elang berjongkok di samping tempat tidur. "Ayo pindah ke kamar utama." Ajaknya pelan. Ia tak ingin menakuti vadis itu. "Iva." Ulangnya sembari menyingkap seluruh selimut yang menutupi tubuh sang istri.Lelaki itu menelan ludah menatap separuh paha Ivanka yang terbuka. "Va..." desisnya serak."Aku bisa mas, aku berani. Leave me." Iva tak dapat lagi memikirkan bagaimana Elang bisa berada di dalam kamarnya padahal saat masuk tadi ia sudah mengunci pintu. Kepalanya hanya dipenuhi r
Kelopak mata Ivanka mengerjap kaget saat pintu dibanting tepat dimukanya. Ia mengurut dada. Beberapa saat lamanya ia mematung di depan pintu. "Aku panggil lagi kalau airnya udah siap ya mas!" serunya belum menyerah namun suaranya sudah berubah sendu.Tak ada jawaban dari dalam kamar utama.Gadis it
"Siapa mas?"Elang menerima panggilan itu. "Halo Ma, gimana kondisi mama?" Ia tau mamanya yang tengah sakit sudah memaksakan diri demi acara pernikahannya. Salah satu alasan lain Elang terburu keluar dari rumah adalah itu. Ia ingin rumah segera sepi sehingga Mamanya bisa beristirahat. "Aku baik Ma,
Hujan turun dengan deras disertai kilat dan guntur.Ivanka menjauh dari jendela. "Mas… kamu dimana?” desisnya dilanda takut.Kaca jendela mendadak terang benderang. Begitu pula halaman samping yang gelap oleh kelabunya langit. Pohon besar diluar sana terlihat meliuk kencang. Anehnya, semakin menaku
Keluarga besar Rajendra berkumpul di ruang makan. Suara obrolan dan canda terdengar jelas.Mengingat pesan Elang, Ivanka mengumbar senyum manisnya kepada semua orang."Santai amat jalannya yang belum malam pertama.”Mata Ivanka membulat mendengar siapa yang bicara. Wanita yang semalam ternyata masi







