Share

BAB 9

Author: Indah.poe.try
last update publish date: 2026-06-06 03:58:36

Suara everest Elang memasuki halaman.

Iva terburu membawa pakaian itu ke belakang lalu menyambut sang suami. "Ada yang ketinggalan mas?" Sesuai dugaannya, Elang hanya melewatinya begitu saja tanpa kata. 

Entah apa yang diambil lelaki itu dari dalam kamar utama tapi sebentar saja Elang sudah pergi lagi. 

"Iya kamu punya kekasih mas." Iva berujar lirih sambil berdiri di pintu utama menatap kepergian sang suami untuk yang kedua kali.

Tergesa Iva menuju ke kamarnya sendiri begitu everest itu hilang dari pandangan. Ia meraih handphone yang sejak semalam ia biarkan tergeletak disana. Jemarinya menekan nomor kontak mamanya. Sebentar saja ia sudah tersambung. Iva menarik napas panjang, memastikan suaranya terdengar ceria.

"Apa kabar Mama dan semua orang rumah?"

"Mama dan adik-adikmu baik Va tapi Papa enggak. Tadi malam papamu kena serangan lagi."

Iva menggigit bibir bawahnya mendengar itu. Mata kirinya langsung menjatuhkan setetes air mata.

"Untung saja mertuamu langsung membantu, Papa langsung ditindak dan dijadwalkan untuk pasang ring jantung. Semua biaya ditanggung oleh mertuamu." sambung mamanya dengan suara bergetar penuh haru.

Dadanya berdentum. Iva yang tadinya ingin meminta dijemput pulang jadi mengurungkan niatnya bicara. "Jadi... papa sudah aman?" tanyanya terbata dan tertusuk disaat yang sama.

"Iya Va, papa sekarang stabil. Papa mertuamu memaksa supaya Papa stay di rumah sakit. Katanya supaya lebih terkontrol kondisinya. Semakin bagus kondisinya, semakin cepat operasinya bisa dilakukan."

Iva mendengarkan dengan perasaan yang terbelah. Disatu sisi ia bahagia papanya tertolong, disisi lain ia terluka karena kalau begini ceritanya, ia nggak mungkin meminta cerai. Nggak secepat ini.

Alangkah nggak tau dirinya kalau ia nggak bersabar menghadapi Elang padahal keluarga Rajendra sudah menjadi penolong papanya.

"Kita nggak bisa membalas apa-apa kecuali kamu menjadi istri yang baik untuk Elang." 

Sayup suara ibunya merasuk ke telinga Ivanka yang tengah melamun memikirkan sikap Elang dan juga sisa lipstick di kerah kemeja suaminya. Aku punya harga diri Ma, rintihnya dalam hati. ‘Aku tau mas Elang nggak menginginkan aku dan aku nggak mau terus-terusan melukai diriku sendiri dengan berpura-pura nggak tau betapa bencinya mas Elang kepadaku.’

Itu hanya suara di dalam kepalanya. Nyatanya, bibir Ivanka menyahut lemah. "Iya Ma, aku akan berusaha jadi istri yang baik untuk mas Elang." Kini mata kanannya yang menjatuhkan butiran bening.

Lengkap sudah, pipi kanan dan pipi kirinya basah.

"Iya, mengabdi pada suami Va, setia, penuhi kebutuhannya. Kalau perlu, tawarkan dirimu padanya. Istri menawarkan diri pada suami itu sah-sah saja, nggak usah malu."

Ivanka tak menyahut. Apa ia mampu merayu Elang sementara ia tahu hati Elang diisi perempuan lain walaupun ia belum tau siapa dan seperti apa perempuan itu. Semalam rasanya sudah habis-habisan ia mengeluarkan kemampuan merayunya yang terbatas.

"Iva." ibunya memanggil pelan.

"Iya Ma, aku dengar. Nanti dicoba." Tangannya meremas ujung rok yang ia kenakan. "Apa Mama tau kalau... mas Elang belum menyukaiku?" Ia mendengar tarikan napas panjang ibundanya. "Mama tau?" tuntutnya. Ia curiga mendengar tarikan napas berat itu.

"Nanti kita bicara lagi. Papa kamu bangun."

Klik!

Iva menatap layar hand phone nya yang berubah gelap. Perlahan ia bangkit, memeriksa waktu. Ia masih punya beberapa belas menit sebelum ke sekolah. Mau tak mau ia kembali ke rencana awal untuk ke sekolah itu padahal tadinya ia tak ingin kembali kesana. Ia ingin pulang dan mengakhiri pernikahan yang masih seumur jagung ini.

Iva mengucek sisa lipstick di kerah kemeja Elang sampai tak bersisa lalu memasukannya ke mesin cuci. Sambil menunggu ia mempersiapkan diri lalu keluar rumah dalam keadaan rapi. 

Gadis itu menjemur cucian yang hanya beberapa lembar itu di halaman samping lalu berjalan ke rumah mang Sarif untuk meminjam motor.

"Mang, tau sandal jepit di depan rumah itu milik siapa? Ada inisial 'S' nya." tanyanya saat menerima kunci dari mang Sarif.

"S itu pasti untuk kata 'Sandal' neng." mang Sarif meringis.

Iva tak mau menjatuhkan Elang dengan terang-terangan bertanya 'apa itu sandal pacar suami saya yang tertinggal?' Jadi ia hanya mengangguk. Mang Sarif mungkin takut kepada Elang. Lagipula kalau dulu mereka pacaran disini, di rumah ini, itu bukan kesalahan. Waktu itu Elang belum menikah dengannya bukan?

Ia tertawa kecil agar lelaki setengah baya itu tak kecewa. "Pinjam dulu motornya. Hari ini mungkin agak lama ya pak, saya ingin melihat-lihat sebentar."

Mang Sarif mengangguk. Mana berani ia menolak keinginan sang nyonya. Toh motor itu juga milik Elang yang diserahkan untuk kendaraan operasional dirinya kalau Elang butuh sesuatu. Mata lelaki setengah baya itu hanya bisa menatap prihatin pada sang nyonya yang ramah dan lembut itu.

***

Tiga puluh menit lagi akan ada rapat dengan arsitek dan para mandor untuk membicarakan tata letak. Resort mereka hanya akan terdiri dari 3 lantai dengan bangunan terpisah sesuai type. Pagi ini mereka akan mendiskusikan lagi hal itu. Elang meletakkan berkasnya lalu mendongak melihat siapa yang berdiri di depan meja kerjanya. 

"Gimana kondisimu? Kalau masih pusing harusnya nggak usah turun kerja." Elang bicara lembut. Tatapannya pun begitu.

"Saya baik-baik aja pak, terima kasih." sekretarisnya meletakkan map berisi agenda rapat di meja Elang lalu pamit undur diri.

"Sebentar." Elang berdiri. Tangannya menempel di dahi sang sekretaris. "Panas." ucapnya makin lembut. "Masih ada waktu sebelum meeting, mau aku antar pulang?"

Silva menggeleng. "Nggak perlu."

"Kamu marah karena semalam aku tinggal pulang?" Elang menarik perempuan itu menuju kursinya, mendorong lembut hingga perempuan itu duduk lalu ia berjongkok di depannya. "Aku hanya khawatir dia melapor pada orangtuaku kalau aku sampai nggak pulang." 

Tak ada sahutan, hanya bibir yang mengatup semakin rapat saja.

"Pengacaraku sudah menyiapkan surat pernikahan kontrak selama setahun. Kami otomatis bercerai setelah satu tahun. Kalau kamu tanya kenapa harus satu tahun maka jawabnya karena itu waktu yang dibutuhkan Mamaku untuk pemulihan setelah operasi pengangkatan payudaranya."

Silva mengangguk lemah. 

"Kita akan tetap bertunangan Silva dan menikah tahun depan. Oke?" Elang berdiri, membungkuk untuk mengecup kening sekretaris pribadi sekaligus kekasihnya. "Jangan ngambek lagi. Pulang sekarang untuk istirahat. Mau diantar aku atau diantar supir?"

"Supir aja, arsitek senior project sudah dalam perjalanan kesini."

Elang tersenyum menawan. Selain cantik, kerja Silva juga bagus dan profesional. hampir tak ada cacatnya. "Kalau ada apa-apa kamu masih bisa ditelepon kan?" 

"Semua sudah ada dalam map itu pak." Silva berdiri. "Sudah lengkap."

"Kalau aku kangen." Elang berbisik mesra di telinga Silva. Lengannya merengkuh pinggang perempuan itu hingga dada mereka saling menempel. Elang memagut bibir perempuan itu sebentar lalu melepaskannya. "Aku akan menjengukmu pulang kerja nanti."

Silva mengangguk. "I love you." katanya sembari beranjak.

"I love you too." Elang kembali ke mejanya untuk mengambil berkas yang diperlukan sebelum menyusul keluar untuk menunggu tamunya di ruang meeting. Ia sempat memperhatikan mobil kantor yang dikemudikan sopir keluar dari perlataran kantor. Senyumnya menyungging samar. 

Amran, yang nampaknya diserahi tugas oleh Silva mengetuk ruang meeting. "Maaf pak diluar ada tamu yang ingin menemui bapak." ujarnya hormat.

"Tamu? Sudah buat janji?" Elang tak mau repot-repot mengangkat kepala.

"Eh, saya nggak tau, bu Silva tadi ijin karena sakit tapi nggak meninggalkan note kalau mau ada tamu. Hanya memberi saya agenda meeting."

"Kalau begitu, sampaikan saja kalau saya sibuk."

"Baik pak, permisi."

Pintu ruang meeting menutup. Elang kembali menekuri gambar tata ruang yang akan mereka dibahas. Ia mendongak kesal saat ruang meeting kembali diketuk dan dibuka.

Kepala Amran kembali nongol di celah pintu. Wajah lelaki itu nampak serba salah. Pasalnya seluruh kantor termasuk dirinya tau kalau ada hubungan spesial antara Elang dan sekretarisnya. 

Elang menatap tak sabar.

"Tamunya mengaku sebagai istri bapak." katanya dengan wajah yang makin serba salah.

.

.

.

bersambung...

.

kisah ini bakal nongol rutin tiap sabtu jadi don miss it ya.. jangan lupa tinggalin komen dan like. thank youuuu

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bukan Cinta Pertama   BAB 9

    Suara everest Elang memasuki halaman.Iva terburu membawa pakaian itu ke belakang lalu menyambut sang suami. "Ada yang ketinggalan mas?" Sesuai dugaannya, Elang hanya melewatinya begitu saja tanpa kata. Entah apa yang diambil lelaki itu dari dalam kamar utama tapi sebentar saja Elang sudah pergi lagi. "Iya kamu punya kekasih mas." Iva berujar lirih sambil berdiri di pintu utama menatap kepergian sang suami untuk yang kedua kali.Tergesa Iva menuju ke kamarnya sendiri begitu everest itu hilang dari pandangan. Ia meraih handphone yang sejak semalam ia biarkan tergeletak disana. Jemarinya menekan nomor kontak mamanya. Sebentar saja ia sudah tersambung. Iva menarik napas panjang, memastikan suaranya terdengar ceria."Apa kabar Mama dan semua orang rumah?""Mama dan adik-adikmu baik Va tapi Papa enggak. Tadi malam papamu kena serangan lagi."Iva menggigit bibir bawahnya mendengar itu. Mata kirinya langsung menjatuhkan setetes air mata."Untung saja mertuamu langsung membantu, Papa langsu

  • Bukan Cinta Pertama   BAB 8

    Iva menunggu sang suami sampai jam 11 malam tapi tak ada tanda-tanda Elang akan pulang. Ia nekat menunggu diluar tapi tak sampai 5 menit sudah masuk kembali gara-gara sayup didengarnya suara burung hantu.Gadis itu meringkuk di sofa ruang tamu. Ia tergeragap bangun saat pintu dibuka. "Mas...!" Pekiknya, serta merta bangkit dari sofa.Tekadnya untuk menyingkirkan cinta terpendamnya kepada Elang buyar saat mereka berdekatan begini. Penuh kerinduan Ivanka menghambur memeluk lelaki itu. "Darimana aja mas? Kok jam segini baru pulang? Aku nggak berani di kamar jadi aku nungguin disini sampai ketiduran." Berondongnya tanpa titik koma. Kedua lengannya melingkar erat di pinggang Elang."Lepaskan, aku mau buka sepatu." Ucap lelaki itu dingin."Enggak, aku kangen." Iva nekat menempelkan pipinya di dada Elang. Hidungnya kembang kempis mencoba mencari aroma manis khas perempuan yang tertinggal disana tapi tak ada apa-apa.Kedua tangan Elang mencengkeram pinggang gadis itu, siap mendorongnya mundur

  • Bukan Cinta Pertama   BAB 7

    Beberapa kepala terangkat, menatap takjub pada sosok Ivanka yang tengah tersenyum manis."Saya mau melamar menjadi guru.""Wah kebetulan bu, sekolah memang kekurangan guru. Ada beberapa posisi yang kosong." Seorang lelaki berkemeja batik mengajak Ivanka mengikutinya hingga ke depan meja yang berada di ujung ruangan. Meja di ujung itu paling besar dan paling bersih. "Ini meja bagian kepegawaian bu. Sebentar ya, duduk dulu."Ivanka mengangguk ia memangku tote bag-nya sambil mengedarkan pandang. Suasana begitu asri dan dingin di dalam situ walaupun hanya ada satu unit kipas angin yang ada di tengah-tengah ruangan. Bukan hanya soal asri saja tapi sambutan guru-guru yang ada di ruangan itu juga begitu hangat dan ramah. Belum apa-apa ia sudah merasa betah. Semoga saja ia diterima dan setelah diterima nanti perlakuan orang-orang ini tetap baik kepadanya. Begitu pemikirannya.Tekadnya untuk memadamkan perasaannya kepada Elang sudah bulat. Kalau hanya karena belum cinta, ia akan sabar menungg

  • Bukan Cinta Pertama   BAB 6

    Kelopak mata Ivanka mengerjap kaget saat pintu dibanting tepat dimukanya. Ia mengurut dada. Beberapa saat lamanya ia mematung di depan pintu. "Aku panggil lagi kalau airnya udah siap ya mas!" serunya belum menyerah namun suaranya sudah berubah sendu.Tak ada jawaban dari dalam kamar utama.Gadis itu tak menunggu lama. Ia beranjak ke dapur untuk menjerang air. Sambil menunggu air mendidih, Ivanka menatap kaca jendela dapur. Diluar sudah gelap gulita. Satu-satunya pendar cahaya berasal dari rumah keluarga mang Sarif. Ia mematikan kompor lalu bergegas menuju ke depan karena mendengar suara pintu membuka.Elang telah berganti pakaian. Kemejanya berganti polo shirt warna putih sementara celana bahannya berganti jins hitam."Mau kemana mas?" Gadis itu tergesa mendekat."Not your business." Lelaki itu berhenti. "Aku dengar kamu guru SD sewaktu belum menikah denganku?"Ivanka mengangguk bingung dengan pertanyaan yang tiba-tiba itu. "Iya aku...""Berarti kamu bisa mengerti apa yang aku katakan

  • Bukan Cinta Pertama   Bab 5. Ramalan Nenek Tua

    "Siapa mas?"Elang menerima panggilan itu. "Halo Ma, gimana kondisi mama?" Ia tau mamanya yang tengah sakit sudah memaksakan diri demi acara pernikahannya. Salah satu alasan lain Elang terburu keluar dari rumah adalah itu. Ia ingin rumah segera sepi sehingga Mamanya bisa beristirahat. "Aku baik Ma, iya, ini lagi bersama Ivanka. Mama mau bicara?"Binar dimata Ivanka berkilauan saat menerima benda pipih itu dari suaminya. "Halo Ma." sapanya dengan hati diliputi kehangatan. Ia melirik Elang yang memilih duduk di sofa ruang tamu, mengeluarkan handphone lain lalu sibuk menggulir layar, membiarkannya bicara panjang lebar.Sambil bicara, Ivanka menatap lelaki itu. Senyumnya merekah. Rasanya masih tak percaya kalau sekarang ia berhak atas lelaki itu. Elang Rajendra adalah miliknya!"Iya Ma, tempatnya sejuk, asri, enak kok." Ivanka menenangkan kekhawatiran Mama mertua yang tertangkap oleh telinganya. "Sekarang lagi hujan deras. Mas Elang pulang untuk menemani." katanya bahagia. "Jakarta hujan

  • Bukan Cinta Pertama   Bab 4. Sebuah Nama Lain

    Hujan turun dengan deras disertai kilat dan guntur.Ivanka menjauh dari jendela. "Mas… kamu dimana?” desisnya dilanda takut.Kaca jendela mendadak terang benderang. Begitu pula halaman samping yang gelap oleh kelabunya langit. Pohon besar diluar sana terlihat meliuk kencang. Anehnya, semakin menakutkan Ivanka justru makin tak dapat mengalihkan pandang padahal tubuhnya sudah mundur beberapa langkah.Sosok terbalut pakaian serba putih berada ditengah hujan dan angin kencang.Napas Ivanka tercekat.Sosok itu mendekat dengan amat cepat, berlari menghampiri jendela kamarnya.Gadis itu tak dapat lagi menahan ketakutannya. "Aaaaarrgghhh!!!" Ivanka menjerit keras, serta merta berjongkok disamping ranjang, memeluk lututnya kencang-kencang.Jendelanya diketuk keras. "Neng! Neng buka pintunya neng, rumah ini ada bocornya nggak?"Suara itu tidak jelas tapi samar-sama ia mendengar orang bicara. Pelan sekali mengangkat muka. "Arghh!!" Ivanka ngos-ngosan menahan debur jantung dan ketakutannya saat m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status