Share

11. Sekamar

Author: Dinis Selmara
last update Petsa ng paglalathala: 2025-09-22 23:19:58

Sapaan sopan dan hangat dari suara lembut dr. Aileen pada Abra membuat beberapa rekan koas Serayu membulatkan mata, mereka sangat menanti reaksi Abra.

Namun, seperti biasanya Abra berlalu tanpa menanggapi. Itu hal yang sudah biasa bagi mereka karena hampir pada semua orang Abra bersikap seperti itu.

“Dok, sabar ya. Dokter Abra memang begitu,” celetuk seorang koas membuat Aileen menoleh.

“Benarkah?” tanyanya dan yang lain mengangguk membenarkan. Aileen pun ikut mengangguk pelan seolah paham.

Per
Dinis Selmara

Prriittt... offside, Mas! Ramaikan GEM ya ... kalau komennya rame besok double jugak

| 99+
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (36)
goodnovel comment avatar
Khikmah Pujiati
susah bgt dbuka nya iklan nya ka
goodnovel comment avatar
ArnyKamal
kok gak bisa kebuka yas...padahal ada warna pink
goodnovel comment avatar
Adriyani
cinta tapi masih gengsi untuk memgakui
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   362. Suami Manja

    Apa-apaan itu tadi?Serayu menggeleng saat melihat brankar yang membawa Abra didorong masuk lebih jatuh ke ruangan lain. Ia yakin ruangan itu adalah ruangan persiapan operasi.Sempat-sempatnya menggoda, pikir Serayu.Begitu keluar dari ruangan tersebut, Serayu langsung disambut oleh Aksa yang setia menunggu. “Yang lain menunggu di ruang dokter. Ibu mau istirahat saja di ruang perawatan Bapak?” tawar Aksa.Serayu cepat menggeleng.“Saya mau ke kafetaria, lalu mau nunggu di sini lagi saja,” jawab Serayu. Aksa pun mengangguk paham.Sementara Abra berjuang di dalam ruang operasi, Serayu dan Aksa menunggu di luar sambil duduk di kursi yang telah disediakan. Tak banyak percakapan di antara mereka karena Serayu lebih banyak berdoa dalam diam. Ia sangat berharap yang terbaik atas keberhasilan operasi suaminya ini. Hingga akhirnya, saat dinanti pun tiba.“Keluarga dr. Abra?”Serayu cepat berdiri begitu mendengar panggilan itu. Tak lama kemudian, ia mendapatkan kabar bahwa operasi telah selesa

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   361. Kejutan Untuk Suami

    “Sudah di Bandara, ya?” Suara Riani bertanya, meski kini layar ponsel Serayu dipenuhi wajah Satria. “Sudah, Ma. Ini lagi di ruang tunggu,” jawab Serayu. “Yakin Abra nggak tahu kedatangan kamu? Nggak cepu tuh si Aksa? Dia kan tangan kanan Abra banget.” Serayu terkekeh kecil. “Serayu percaya sih sama Mas Aksa, Ma.” Riani mengangguk saja. Saat ini, Serayu memang sedang bersiap menyusul Abra ke Malaysia. Keberangkatannya sengaja ia rahasiakan sejak jauh-jauh hari. Semua orang tahu rencananya, kecuali Abra. Ia hanya ingin memberikan kejutan pada suaminya. “Serayu masuk pesawat ya, Ma,” pamit Serayu. “Hati-hati, ya. Kabari Mama kalau kamu sudah sampai.” “Iya, Ma. Serayu langsung ke rumah sakit nanti di jemput Mas Aksa.” Panggilan itu pun terputus, dan Serayu sudah berjalan menuju pesawat. Ini adalah penerbangan pertamanya ke luar negeri tanpa ditemani suami. Jujur saja, ada sedikit rasa deg-degan, tapi juga antusias karena beberapa jam lagi ia akan bertemu dengan Abra. Serayu kemb

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   360. Dikenal

    “Saya, Dok?” Darma mengangguk kecil, memastikan bahwa perempuan di hadapannya memang orang yang ia maksud. “Saya ingat sekarang. Istri Dokter Abra,” ujar Darma akhirnya. Serayu tersenyum. “Oh, iya. Benar, saya, Dok.” “Maaf baru menyapa. Tadi sempat ragu.” Darma mengulurkan tangannya lebih dulu. “Senang bertemu dengan Anda.” Serayu sempat sungkan, tetapi akhirnya menyambut uluran tangan itu. Bagaimanapun, di lingkungan profesi mereka, Darma lebih senior darinya. “Nggak apa-apa, Dok.” Pertemuan yang awalnya hanya sekilas itu ternyata berlanjut menjadi percakapan yang cukup panjang. Darma lebih banyak bercerita. Ia bahkan sempat menceritakan pengalamannya ketika menjadi relawan saat internship dan mendapat kesempatan dimentori langsung oleh Abra. Sementara Serayu lebih banyak mendengarkan. Sesekali ia menimpali dengan pertanyaan singkat, lebih sering lagi hanya tersenyum mendengar cerita Darma tentang suaminya. “Saya banyak dapat ilmu dari dr. Abra,” ujar Darma sambil terkekeh.

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   359. Jarak Jauh

    Hubungan Jarak jauh be like … Hari kedua Serayu mengikuti seminar. Sementara itu, Abra sudah tiba di Malaysia untuk menjalani rangkaian pemeriksaan dan pengobatan lanjutan. Baru beberapa saat lalu Serayu akhirnya bisa menghubungi suaminya. “Mas, maaf, ya… Saya hectic banget,” rajuk Serayu begitu panggilan mereka tersambung. Abra yang sedang duduk di tepi ranjang hotel hanya mengembuskan napas. “Nggak sesuai ekspektasi.” Serayu mengerjapkan mata. “Mas…” “Komunikasi kita jelek banget.” “Iya, maaf, Mas.” Serayu langsung membujuk dengan suara lembut. “Besok saya usahain lebih sering kabarin Mas yaaa….” “Ya sudah.” Abra mengalah. “Mas juga nggak bisa lama-lama. Harus cukup tidur sebelum besok pemeriksaan.” “Sedihnya…” Serayu mengerucutkan bibir. “But it's okay, Mas. Besok bangun langsung kabari, ya?” “Saya selalu kabari kamu.” Serayu terdiam sebentar, lalu buru-buru mengoreksi ucapannya. “Eh, iya. Maksudnya saya yang akan kabari Mas kalau saya sudah bangun.” Abra

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   358. Sebelum Berpisah

    “Mbak,” cegat Abra membuat Riani menoleh. “Biar istri saya yang bawa Satria ke kamar.” Hati Serayu yang sendu seketika menghangat. Ia kembali meraih buah hatinya ke dalam pelukan, lalu mengangguk pamit pada sang mertua. “Kalian ini lebay sekali. Kasihan cucu Mama. Udah kelihatan capek banget,” ujar Riani, menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah anak dan menantunya. “Serayu masih mau berlama-lama dengan Satria, Ma,” kata Abra mencoba memberi pengertian. Memanfaatkan kesempatan yang ada, Serayu menciumi seluruh wajah anaknya. Sayangnya, Satria sekali tidak terbangun. Sepertinya, bocah kecil itu benar-benar kelelahan. Serayu tidak pernah menyesali pekerjaannya. Ia mencintai profesinya dan paham tanggung jawabnya. Namun, tidak bisa di pungkiri, setiap harus meninggalkan Satria, ada rasa berat yang memenuhi dadanya. Cukup lama Serayu hanya duduk menikmati wajah lelap Satria. Ia mengusap rambut halus anaknya perlahan penuh sayang. Cukup lama serayu hanya menikmati wa

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   357. Sebelum Berpisah

    “Selalu aktifkan live location kamu. Wajib video call setiap hari, terutama sebelum tidur,” oceh Abra sambil memeluk istrinya dari belakang. Saat ini Serayu sedang duduk di pangkuan suaminya. Tangannya sibuk memasukkan pakaian Abra satu per satu ke dalam koper. “Iya... saya ingat,” jawabnya. “Tidak boleh ada rekan dokter laki-laki yang masuk ke kamar kamu,” tambah Abra. Serayu langsung menoleh. “Mau dituduh main serong atau gimana ini?” “Hanya mengingatkan.” Abra mengecup pipi istrinya. “Intinya, tidak boleh berdua-duaan dengan rekan dokter laki-laki.” “Ya kali kalau mau membahas materi?” “Harus ada yang menemani. Nggak baik berduaan dengan lawan jenis. Sayang, yang ketiganya bisa saja setan.” Abra kembali mengingatkan. “Makan yang teratur. Saya tahu kamu kalau sudah belajar bisa lupa segalanya.” Serayu melirik Abra tajam. Bukannya merasa bersalah, lelaki itu justru memajukan wajahnya dan kembali mengecup pipi sang istri. Serayu mengembuskan napas pelan. Ia masih beta

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status