Share

10. Perhatian Tersembunyi

Author: Dinis Selmara
last update publish date: 2025-09-22 21:09:02

Serayu sontak menegakkan punggungnya ketika melihat siapa yang baru masuk.

“Do–dokter David?” suaranya langsung tercekat.

David adalah salah satu dokter senior yang cukup sering berinteraksi dengan Abra. Dengan statusnya yang termasuk atasan Serayu, jelas perempuan itu merasa semakin terkejut dan tidak enak.

David berhenti di ambang pintu, satu alisnya terangkat. “Oh? Gue ganggu, ya?”

Serayu spontan menutup kotak makannya, panik refleks. Abra justru terlihat santai, hanya melirik temannya tanpa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (37)
goodnovel comment avatar
Imelda Makatita
aku suka dengan sikap Abra yg jual mahal tp sebenarnya suka...
goodnovel comment avatar
Nany Moiras
saya dipotong n byr subscribe 2x tapi nga bs buka kunci. saya sdh unsubsrice krn percuma bayar nga bs baca .
goodnovel comment avatar
Chy Nancy
sy sdh byr kenapa tdk ada,,2 kali dibuat seperti ini
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   357. Sebelum Berpisah

    “Selalu aktifkan live location kamu. Wajib video call setiap hari, terutama sebelum tidur,” oceh Abra sambil memeluk istrinya dari belakang. Saat ini Serayu sedang duduk di pangkuan suaminya. Tangannya sibuk memasukkan pakaian Abra satu per satu ke dalam koper. “Iya... saya ingat,” jawabnya. “Tidak boleh ada rekan dokter laki-laki yang masuk ke kamar kamu,” tambah Abra. Serayu langsung menoleh. “Mau dituduh main serong atau gimana ini?” “Hanya mengingatkan.” Abra mengecup pipi istrinya. “Intinya, tidak boleh berdua-duaan dengan rekan dokter laki-laki.” “Ya kali kalau mau membahas materi?” “Harus ada yang menemani. Nggak baik berduaan dengan lawan jenis. Sayang, yang ketiganya bisa saja setan.” Abra kembali mengingatkan. “Makan yang teratur. Saya tahu kamu kalau sudah belajar bisa lupa segalanya.” Serayu melirik Abra tajam. Bukannya merasa bersalah, lelaki itu justru memajukan wajahnya dan kembali mengecup pipi sang istri. Serayu mengembuskan napas pelan. Ia masih beta

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   356. Persetujuan

    Hari kedua MPASI, Serayu sendiri yang menyiapkan makanan untuk Satria. Seantusias itu istri Dokter Abra. Pagi-pagi sekali ia sudah sibuk di dapur, memastikan makanan sang buah hati siap sebelum dirinya berangkat ke rumah sakit. “Masakan mamanya juga nggak kalah enak,” kata Abra sambil memperhatikan Satria yang tampak bersemangat menyantap makanan di hadapannya. “Lucu banget sih, Mas. Cepat banget anaknya gede. Udah makan aja.” Serayu merajuk dengan nada manja. “Padahal kemarin masih nemplok terus, nen.” Abra menatap Satria dengan senyum bangga. Rasanya baru kemarin ia masih menggendong bayi kecil yang hanya bisa menangis dan menyusu. Kini, anak itu sudah mulai belajar menikmati makanan pertamanya. “Kamu sudah mulai cicil perlengkapan yang mau dibawa saat seminar nanti?” tanya Abra kali ini, mengalihkan perhatian kepada istrinya. Serayu mengangguk. “Iya. Nggak banyak juga kok bawaannya.” “Bawa baju hangat juga.” “Ada, kok, Mas. Nanti saya bantuin Mas packing juga ya malam

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   355. Bincang Sebelum Tidur

    Jangan tanya seperti apa kekhawatiran Riani ketika mengetahui cucunya yang baru berusia enam bulan akan ditinggal kedua orang tuanya karena pekerjaan. Kegagalan yang pernah dialaminya di masa lalu membuatnya tak ingin hal serupa terjadi pada cucunya. “Satria sama Mama saja, ya?” pintanya. Entah sudah untuk yang keberapa kalinya Riani mengajukan permintaan itu, tetapi tidak pernah dikabulkan Abra. Abra tidak pernah melarang sang nenek menemui cucunya. Riani bebas datang kapan saja. Mereka pun beberapa kali berkunjung ke rumah Oma dan Opanya untuk bermain. Namun, Abra belum pernah terpikir untuk benar-benar menitipkan Satria kepada Riani. Menurutnya, semua yang sudah dipersiapkannya di rumah jauh lebih dari cukup. Orang-orang yang bekerja di rumah pun sudah dianggapnya seperti keluarga sendiri. Ia sangat mempercayai mereka untuk menjaga Satria. “Soal menu MPASI, Serayu aja yang siapin. Nanny juga ikut aja bersama Satria dan Mama.” Kepala Abra langsung dipenuhi berbagai pertimbangan.

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   354. Tak Bisa Menemani

    Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bahkan bulan pun berlalu silih berganti. Tanpa disadari, waktu ternyata berlalu sesingkat itu. Ini bukan kali pertama Serayu meninggalkan suami dan anaknya untuk menjalani dinas malam. Jangan tanya seberapa gundahnya ia tetap harus melewati semuanya. Serayu selalu menyempatkan diri melakukan video call meski hanya sekejap sudah cukup untuk sedikit mengobati rasa rindunya. Pagi kembali menyapa setelah malam yang tidak terlalu padat, tetapi juga tidak bisa disebut lengang. Serayu masih harus melanjutkan tugasnya hingga sore nanti. Sebelum memulai tugas berikutnya, ia segera meraih ponselnya lalu duduk di salah satu bangku taman rumah sakit. Dering panggilan dari seberang membuat jantungnya berdebar. Tak lama kemudian, wajah Abra memenuhi layar, lengkap dengan senyum hangat yang langsung membuat Serayu ikut tersenyum. Lalu, raut wajahnya berubah. “Sayang,” sapa Abra lebih dulu. “Saya tahu sekali wajah kamu akan seperti itu.” “Sedih nggak bis

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   353. Romantis?

    Serayu memeluk suaminya erat, membenamkan wajah di dada bidang itu. Sementara Abra mengecup lama puncak kepalanya dengan penuh sayang. Tubuh polos mereka masih terbungkus selimut, menyisakan jejak lelah setelah saling berbagi kasih.Keheningan yang nyaman menyelimuti kamar hingga akhirnya Serayu bersuara pelan."Mas, ngantuk nggak?"Abra yang sedari tadi memejamkan mata menjawab, "Belum. Kenapa?"Serayu berbisik dengan nada manja. "Lapar, Mas."Seketika Abra membuka kedua matanya dan menunduk menatap istrinya."Kamu lapar?"Serayu mengangguk kecil."Mau dimasakin apa?"Abra sudah bisa menebak isi dapur mereka. Hampir semua makanan malam tadi sudah habis tanpa sisa."Mie rebus."Jawaban itu membuat wajah Abra seketika datar. Melihat reaksinya, Serayu hanya meringis sambil tersenyum bersalah."Spaghetti?" tawar Abra.Serayu menggeleng."Ramen?"Jawaban Serayu masih berupa gelengan."Mie rebus biasa aja. Pakai telur setengah matang," pinta Serayu sambil memamerkan deretan giginya yang rap

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   352. Saling Menginginkan

    “Malam masih sangat panjang ‘kan, Sayang?”Keduanya melempar tertawa kecil. Abra mengangkat Serayu dalam menggendongnya ala bride, lalu menautkan kening dan hidung mereka dengan penuh sayang.Namun, saat hendak melangkah, Abra mendadak menghentikan langkahnya. Di ambang pintu, Aksa berdiri sambil menundukkan kepala.Serayu ikut menoleh, mengikuti arah pandang suaminya. Ia lupa masih ada satu orang lagi yang belum pulang."Kamu bisa langsung pulang," ujar Abra.Serayu sempat berusaha turun dari gendongan, tetapi Abra justru mengeratkan pelukannya. Mau tak mau, Serayu hanya bisa menyembunyikan wajahnya yang memerah di dada bidang sang suami."Semua sudah saya bersihkan dan rapikan, Pak. Bibi juga sudah menyelesaikan pekerjaannya dan bersiap beristirahat. Kalau sudah tidak ada lagi yang diperlukan, saya izin pamit," lapor Aksa."Ya, silakan. Terima kasih."Aksa mengangguk, lalu mengalihkan pandangannya kepada Serayu. Senyum tipis tersungging di sudut bibirnya."Bu, saya pamit."Nada suara

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status