Share

2. Bayangan Masa Lalu

Penulis: Dinis Selmara
last update Terakhir Diperbarui: 2025-09-13 11:48:41

Serayu menghentikan langkahnya, menunggu bagaimana Abra menanggapi titah ibunya. Ia takut jika ibu mertuanya benar-benar memaksa, situasinya akan semakin menekan sampai ia sendiri menyerah. Dan jika ia sampai minta cerai sebelum masa kontrak berakhir, Serayu tahu dialah yang harus menanggung dendanya.

“Cukup, Ma. Abra antar pulang sekarang,” sahut Abra tegas.

“Mama benar-benar nggak akan tinggal diam sama kalian ya,” ancam Riani.

Setelah mendengar itu, Serayu kembali melangkahkan kakinya menuju kamar. Ia tak ingin lagi mendengar ucapan menusuk ibu mertuanya.

Bohong jika Serayu tidak sakit hati atas semua ucapan ibu mertuanya. Namun, karena masih harus bertahan dalam pernikahan ini, juga tidak ingin dicap lebih tidak menghormati mertua, Serayu terpaksa menahan diri. Ia tidak ingin larut dalam kesedihan dan amarah.

Serayu melangkah masuk ke arah kamarnya. Ya, selama pernikahan ini, ia dan Abra memang tidur di kamar terpisah dan itu membuatnya kembali merasa sedikit bersyukur karena tak harus menahan canggung tidur satu ranjang dengan atasannya.

Serayu langsung mengalihkan perhatiannya pada tumpukan buku dan catatan selama koas. Esok pagi, ia harus kembali ke rumah sakit karena jadwalnya yang begitu padat.

Di tengah kesibukannya itu, beberapa kali ponselnya berbunyi. Sejenak Serayu membuka ponselnya dan mendapati pesan-pesan di grup kampusnya. Senyum getir pun tersungging, disertai tanya yang bahkan enggan ia akui.

Apa yang sebenarnya ia tunggu? Apakah diam-diam ia berharap ada pesan untuknya dari Abra?

Tubuh dan pikirannya lelah, kepala Serayu tertunduk di meja hingga akhirnya tertidur.

Saat terbangun, ruangan kamar sudah temaram. Serayu mengucek mata, lalu melirik jam di ponsel, pukul sepuluh malam. Ia refleks melangkah keluar kamar.

Apartemen itu gelap, hanya cahaya lampu dari balik jendela yang masuk, menorehkan bayangan panjang di lantai.

“Mas Abra… belum pulangkah?” bisiknya sendiri, sepi menjawab.

Sunyi menemani Serayu saat ia menyantap makan malam seorang diri, jemarinya sibuk membalas riuh ramai pesan di grup kampus, tapi tidak mengusir sepi.

Hingga detik berikutnya, layar ponsel menampilkan notifikasi baru, sebuah pesan dari Abra. Serayu terpaku menatap kalimat singkat yang suaminya tuliskan.

Ruangan yang sunyi semakin terasa mencekam membuat matanya memanas.

[Saya tidak pulang malam ini.]

Serayu hanya bisa menghela napas, lalu menyudahi makan malamnya dan pergi ke kamarnya untuk istirahat.

___

Pagi itu Serayu sudah tiba di rumah sakit sebelum matahari naik. Begitu masuk IGD, ia langsung tenggelam dalam tugas yang datang tanpa henti. Ponselnya berkali-kali bergetar, tapi ia tak sempat mengecek satu pun.

Hari berlalu cepat tanpa jeda, dan ia bahkan lupa ponsel itu ada di sakunya.

Baru malam hari, ketika Serayu tiba di apartemen hampir pukul delapan, ia akhirnya membuka tas dan meraih ponsel. Puluhan notifikasi menumpuk. Di antara semuanya, nama mertuanya langsung membuatnya berhenti.

Ia membuka ruang obrolan itu yang langsung menampilkan sebuah foto.

Abra terlihat menggenggam tangan seorang wanita di halaman rumah mertuanya. Dari siluetnya saja, Serayu bisa menebak siapa perempuan itu.

[Sampai rumah jam berapa Abra semalam?] tulis mertuanya.

Perut Serayu langsung mengeras. Sekarang ia tahu kenapa Abra tidak pulang semalam.

Serayu menutup ponsel, menarik napas yang rasanya berat, dan belum sempat duduk ketika suara pintu terbuka.

Abra baru pulang dari rumah sakit. Langkahnya terhenti saat melihat wajah Serayu.

Serayu menatap suami kontraknya sejenak, lalu bergumam lirih dengan ekspresi getir, “Jadi, itu ya orangnya?”

Abra mengernyitkan dahinya, “Apa yang kamu bicarakan, Serayu?”

Serayu menggelengkan kepalanya, tak ingin memancing keributan karena tubuhnya juga terlampau lelah. Sampai akhirnya, ia bersuara, “Kenapa semalam kamu nggak pulang?”

Gerakan Abra sempat terhenti sesaat. Namun, ia kembali meneguk habis isi gelas sebelum meletakkannya di atas meja.

“Ada panggilan dari rumah sakit. Tindakan berlangsung sampai larut malam,” jawabnya tenang, tanpa menoleh sedikitpun ke arah Serayu.

‘Bohong,’ tuduh Serayu dalam hati, meski bibirnya terkatup rapat.

“Bagaimana dengan hari ini? Sibuk juga?” tanya Serayu lagi, berusaha terdengar biasa.

Abra mengerutkan kening, menoleh. Tatapan Serayu terasa berbeda malam ini—terlalu dalam dan penuh selidik.

“Tentu saja. Saya lelah, ingin segera beristirahat,” jawab Abra singkat, lalu melangkah menuju kamar.

“Oh, ya? Lelah? Kamu baru saja bersenang-senang bersama wanita itu?” tanya Serayu semakin lancang.

Langkah Abra terhenti. Ia berbalik, menatap Serayu lurus tanpa berkedip. Sorot mata keduanya beradu, sarat ketegangan.

Perlahan Abra mendekat, suaranya dingin. “Apa maksudmu?”

Serayu menggigit bibir. Kata-kata yang awalnya ingin ia simpan rapat, kini meluncur tanpa bisa ditahan. Melihat wajah Abra tanpa rasa bersalah itu, Serayu ingin sekali melemparkan ponselnya, memperlihatkan bukti foto kiriman mertuanya. Tapi… untuk apa?

Akhirnya ia hanya mengedikkan bahu, memilih bersikap acuh dan melangkah pergi meninggalkan Abra dengan tatapan penuh tanya. Namun, tangan Serayu tiba-tiba ditahan.

“Ada apa dengan kamu?” suara Abra terdengar tegas.

“Ada apa dengan saya? Apa tidak salah pertanyaannya? Kamu yang kenapa, kenapa kamu berbohong saat menemui wanita itu?”

Itu adalah kalimat terpanjang yang meluncur begitu saja dari bibir Serayu membuat Abra kian mengernyit.

“Kamu mengikuti saya?” tuduh Abra dingin. “Kamu tidak dibenarkan ikut campur dalam urusan saya.”

Abra menekan kalimat terakhirnya, tatapannya menusuk ke arah Serayu.

Serayu terdiam. Ia tertampar kenyataan bahwa ia tidak boleh menuntut apa pun. Bukankah sejak awal mereka sepakat, pernikahan ini hanya kontrak?

Abra benar, tak seorang pun dari mereka berhak menuntut atau mengurusi urusan pribadi masing-masing.

“Kenapa diam?” tanya Abra pada Serayu.

Serayu masih diam. 

“Jangan lupa, Serayu,” suara Abra rendah, tapi tegas dan menusuk. “Pernikahan kita ada batasannya. Sebagaimana dalam pasal perjanjian kita. Saya tidak akan menjelaskan apa-apa.”

Serayu membeku. Kata-kata itu menamparnya lebih keras daripada apa pun. Dan di titik itu, ia baru sadar bahwa ia sudah melangkah terlalu jauh.

“Well, kalau begitu, jangan lupakan pula pasal bahwa dalam pernikahan ini tidak boleh ada skandal orang ketiga. Bukankah dokter Abra Wijaya Utomo yang terhormat tidak ingin personal branding-nya rusak?” ujarnya, mendekat lalu mengusap pundak Abra seolah membersihkan sesuatu, sebelum berlalu meninggalkan lelaki itu yang terpaku di tempatnya.

Dinis Selmara

dr. Abra dengan personal brandingnya ceunah :)

| 38
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (30)
goodnovel comment avatar
Nining Mulyaningsi
lagian kamu ini Abra kalau emang gak cinta sama Serayu ya udah cerai ajja balik lagi sama mantan bau mu.
goodnovel comment avatar
Nining Mulyaningsi
yaaa kalau janga. ikut campur urusan masing-masing bolehh juga dong c Serayu Deket sama cowok lain.
goodnovel comment avatar
Yhara_18
kapan ni mertua kena stroke biar gak bisa kata2in Serayu lagi.
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   155. Sweet Abra

    “Siapa, Mas?” tanya Serayu begitu Abra masuk ke dalam mobil. “Serius sekali.” Abra tidak menjawab. Ia hanya tersenyum kaku, lalu mengusap puncak kepala kesayangannya. Setelah itu, ia pun menyalakan mesin mobil. “Kita berangkat sekarang ya,” katanya, jelas sekali mengalihkan pembicaraan. Serayu menangkap hal itu. Ia tahu suaminya sengaja menghindar, tapi memilih diam. Jalan yang Abra pilih terasa lebih jauh, berputar dan sedikit memakan waktu. Lampu-lampu kota berderet seperti garis samar di balik kaca jendela. Hingga akhirnya mereka tiba di sebuah restoran yang tidak terlalu ramai. Abra melangkah lebih dulu, memilih meja yang agak jauh dari pintu utama. “Di sini saja, Sayang,” sarannya. Serayu duduk dan langsung membuka buku menu, matanya menyapu daftar hidangan. Di seberangnya, Abra justru sibuk dengan ponselnya. Wajahnya serius, membuat alis Serayu mengernyit. Tak lama kemudian, ponsel itu berdering. Abra sontak berdiri. “Sayang, tunggu di sini sebentar ya. Saya terima telep

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   154. Istri Seorang Dokter

    Ara menyentuh pelipisnya, jari-jarinya sedikit gemetar meski napasnya sudah jauh lebih teratur dibanding beberapa menit lalu. “Dok… bisa ke RS Husada saja?” pintanya pelan, suaranya terdengar lebih stabil. “Saya sudah lebih baik. Di sana ada kenalan saya.” Abra melirik sekilas, memastikan perempuan itu benar-benar sadar dan tidak tampak semakin lemah. Ia mengangguk tanpa banyak tanya. Dalam pikirannya, yang penting perempuan itu mendapat penanganan medis secepatnya, di mana pun tempatnya. “Baik,” jawab Abra singkat. Ia membelokkan setir, mengubah arah menuju RS Husada. Tidak ada niat lain, semua ia lakukan semata karena refleks seorang dokter yang melihat orang lain terluka. Di tempat lain, di sisi jalan yang mulai lengang, Serayu duduk sendirian di halte. Ia sudah mencoba memesan taksi online berkali-kali, tapi lucunya tidak ada yang menerima pesanannya Ia menghela napas kesal, menengadah sebentar menatap langit yang berubah keemasan. “Kok bisa nggak lewat sih…,” gumamnya lir

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   153. Salah Paham

    Abra kembali ke rumah sakit lebih dulu, meninggalkan Ara dan Ryan di restoran. Bukan Abra banget yang mau basa-basi. Lelaki itu bahkan pergi tanpa berpamitan pada Ara yang sempat memperhatikan punggung tegap lelaki itu menjauh. Di kantornya, Abra langsung menutup pintu dan merebahkan punggung sebentar ke sandaran kursi. Kepalanya terasa penuh, bukan oleh pekerjaan, melainkan oleh rindu yang datang tiba-tiba. Tanpa ragu, ia meraih ponsel dan menekan video call. Layar ponselnya memperlihatkan Serayu di sana dengan kaus kebesaran yang ia kenali. Wanita itu mengenakan celana pendek sederhana, rambut diikat asal. Wajahnya segar, tanpa riasan, tapi justru itu yang membuat Abra tersenyum lebar. “Hai… Mas sayang …,” sapa Serayu ceria. “Mana boleh cantik tiap hari,” kata Abra sambil menyandarkan kepala, matanya menyapu layar dengan puas. Serayu mendengus kecil. “Cantik tiap hari buat suami, kan?” “Bagus,” jawab Abra singkat, tapi nadanya penuh bangga. “Pakai kaos saya?” Serayu menganggu

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   152. Kerja Setelah Liburan

    Tidak dibenci oleh Riani, tapi mertuanya hanya malu memiliki menantu miskin. Nyatanya Itu bukan penolakan terhadap Serayu, tapi pengakuan atas luka Riani yang belum sembuh di masa lalu. Abra meminta Serayu untuk tidak memikirkan hal itu lagi. Tidak perlu memikirkan apa yang Riani katakan. *** Hari ini Abra kembali bekerja dan Serayu hanya akan menghabiskan seharian di rumah saja. Entah kenapa, pikiran itu membuat dadanya terasa sedikit kosong. Saat Abra bersiap merapikan kemeja dan jam tangannya, Serayu mendekat dari belakang. Ia memeluk suaminya erat, pipinya menempel di punggung Abra. Pelukan itu bukan manja biasa, tapi lebih seperti permohonan agar waktu berjalan sedikit lebih lambat saja. “Saya beneran nggak ke rumah sakit kalau kamu seperti ini,” kata Abra sambil tertawa kecil. Serayu langsung melepas pelukannya. “Yaudah,” katanya cepat, lalu mendengus pelan. Abra berbalik menghadapnya. “Ikut saya ke rumah sakit saja, ya,” ajaknya, entah sudah yang keberapa kali. “Ng

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   151. Tidak Dibenci

    Riani terdiam cukup lama setelah pertanyaan itu meluncur dari bibir Serayu. Matanya menatap ke depan, jarinya bergerak pelan, seolah meraba ingatan yang tercerai-berai.“Saya tidak benci,” katanya akhirnya, suaranya rendah. “Saya malu,” akunya.Serayu mengerutkan keningnya halus. Kata malu membuatnya kian penasaran.“Sejak kecil,” lanjut Riani, “hidup saya selalu kekurangan. Punya ayah miskin. Kami dihina, diremehkan. Saya tumbuh dengan rasa ingin menghilang saja setiap hari.” Ia tertawa kecil, namun terdengar pahit. “Sampai hari di mana… ibu saya tidak kuat. Kamu pergi meninggalkan ayah saya, lalu beliau menikah dengan laki-laki kaya. Hidup kami berubah. Terpandang. Kami … kami baik-baik saja setelah itu. Dipuja-puji, saya tumbuh cantik dan pintar karena perawatan dan Pendidikan yang bagus.” Riani menghela napas, matanya berkabut. “Kemiskinan tidak lagi menjadi momok yang menakutkan. Tidak takut tidak makan. Tidak ada yang berani menghina lagi.”Serayu menahan napas. Dadanya terasa se

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   150. Pertemuan Setelah Sekian Lama

    Pesan yang masuk malam itu ternyata penting. Pesan dari Aksa, berisi jadwal Abra untuk satu minggu ke depan. Ada beberapa perubahan, membuat kepulangan mereka esok hari justru terasa tepat. Mereka akan kembali, lalu datang lagi lain waktu untuk melihat progres rumah orang tua Serayu yang tengah direnovasi. Waktu yang dimaksud tepat untuk Abra. Sementara Serayu masih menunggu penugasan berikutnya. Siang harinya, keduanya berpamitan pada orang tua Serayu. Pelukan dan doa mengiringi kepergian mereka. “Aslinya masih pengen lama-lama,” kata Serayu jujur. “Dua hari ternyata nggak cukup.” “Ya mau bagaimana lagi,” jawab Abra santai, sama sekali tanpa rasa bersalah. “Saya nggak bisa jauh dari kamu walau sebentar.” Serayu terkekeh geli mendengarnya. “Saya sudah bilang ke ibu dan ayah, selama renovasi pindah dulu ke apartemen saja.” “Mana mau ayah sama ibu,” sambung Serayu. “Nggak mau merepotkan.” “Padahal saya senang dikunjungi,” kata Abra lagi, lalu menoleh ke istrinya dengan senyum

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status