MasukSerayu menghentikan langkahnya, menunggu bagaimana Abra menanggapi titah ibunya. Ia takut jika ibu mertuanya benar-benar memaksa, situasinya akan semakin menekan sampai ia sendiri menyerah. Dan jika ia sampai minta cerai sebelum masa kontrak berakhir, Serayu tahu dialah yang harus menanggung dendanya.
“Cukup, Ma. Abra antar pulang sekarang,” sahut Abra tegas.
“Mama benar-benar nggak akan tinggal diam sama kalian ya,” ancam Riani.
Setelah mendengar itu, Serayu kembali melangkahkan kakinya menuju kamar. Ia tak ingin lagi mendengar ucapan menusuk ibu mertuanya.
Bohong jika Serayu tidak sakit hati atas semua ucapan ibu mertuanya. Namun, karena masih harus bertahan dalam pernikahan ini, juga tidak ingin dicap lebih tidak menghormati mertua, Serayu terpaksa menahan diri. Ia tidak ingin larut dalam kesedihan dan amarah.
Serayu melangkah masuk ke arah kamarnya. Ya, selama pernikahan ini, ia dan Abra memang tidur di kamar terpisah dan itu membuatnya kembali merasa sedikit bersyukur karena tak harus menahan canggung tidur satu ranjang dengan atasannya.
Serayu langsung mengalihkan perhatiannya pada tumpukan buku dan catatan selama koas. Esok pagi, ia harus kembali ke rumah sakit karena jadwalnya yang begitu padat.
Di tengah kesibukannya itu, beberapa kali ponselnya berbunyi. Sejenak Serayu membuka ponselnya dan mendapati pesan-pesan di grup kampusnya. Senyum getir pun tersungging, disertai tanya yang bahkan enggan ia akui.
Apa yang sebenarnya ia tunggu? Apakah diam-diam ia berharap ada pesan untuknya dari Abra?
Tubuh dan pikirannya lelah, kepala Serayu tertunduk di meja hingga akhirnya tertidur.
Saat terbangun, ruangan kamar sudah temaram. Serayu mengucek mata, lalu melirik jam di ponsel, pukul sepuluh malam. Ia refleks melangkah keluar kamar.
Apartemen itu gelap, hanya cahaya lampu dari balik jendela yang masuk, menorehkan bayangan panjang di lantai.
“Mas Abra… belum pulangkah?” bisiknya sendiri, sepi menjawab.
Sunyi menemani Serayu saat ia menyantap makan malam seorang diri, jemarinya sibuk membalas riuh ramai pesan di grup kampus, tapi tidak mengusir sepi.
Hingga detik berikutnya, layar ponsel menampilkan notifikasi baru, sebuah pesan dari Abra. Serayu terpaku menatap kalimat singkat yang suaminya tuliskan.
Ruangan yang sunyi semakin terasa mencekam membuat matanya memanas.
[Saya tidak pulang malam ini.]
Serayu hanya bisa menghela napas, lalu menyudahi makan malamnya dan pergi ke kamarnya untuk istirahat.
___
Pagi itu Serayu sudah tiba di rumah sakit sebelum matahari naik. Begitu masuk IGD, ia langsung tenggelam dalam tugas yang datang tanpa henti. Ponselnya berkali-kali bergetar, tapi ia tak sempat mengecek satu pun.
Hari berlalu cepat tanpa jeda, dan ia bahkan lupa ponsel itu ada di sakunya.
Baru malam hari, ketika Serayu tiba di apartemen hampir pukul delapan, ia akhirnya membuka tas dan meraih ponsel. Puluhan notifikasi menumpuk. Di antara semuanya, nama mertuanya langsung membuatnya berhenti.
Ia membuka ruang obrolan itu yang langsung menampilkan sebuah foto.
Abra terlihat menggenggam tangan seorang wanita di halaman rumah mertuanya. Dari siluetnya saja, Serayu bisa menebak siapa perempuan itu.
[Sampai rumah jam berapa Abra semalam?] tulis mertuanya.
Perut Serayu langsung mengeras. Sekarang ia tahu kenapa Abra tidak pulang semalam.
Serayu menutup ponsel, menarik napas yang rasanya berat, dan belum sempat duduk ketika suara pintu terbuka.
Abra baru pulang dari rumah sakit. Langkahnya terhenti saat melihat wajah Serayu.
Serayu menatap suami kontraknya sejenak, lalu bergumam lirih dengan ekspresi getir, “Jadi, itu ya orangnya?”
Abra mengernyitkan dahinya, “Apa yang kamu bicarakan, Serayu?”
Serayu menggelengkan kepalanya, tak ingin memancing keributan karena tubuhnya juga terlampau lelah. Sampai akhirnya, ia bersuara, “Kenapa semalam kamu nggak pulang?”
Gerakan Abra sempat terhenti sesaat. Namun, ia kembali meneguk habis isi gelas sebelum meletakkannya di atas meja.
“Ada panggilan dari rumah sakit. Tindakan berlangsung sampai larut malam,” jawabnya tenang, tanpa menoleh sedikitpun ke arah Serayu.
‘Bohong,’ tuduh Serayu dalam hati, meski bibirnya terkatup rapat.
“Bagaimana dengan hari ini? Sibuk juga?” tanya Serayu lagi, berusaha terdengar biasa.
Abra mengerutkan kening, menoleh. Tatapan Serayu terasa berbeda malam ini—terlalu dalam dan penuh selidik.
“Tentu saja. Saya lelah, ingin segera beristirahat,” jawab Abra singkat, lalu melangkah menuju kamar.
“Oh, ya? Lelah? Kamu baru saja bersenang-senang bersama wanita itu?” tanya Serayu semakin lancang.
Langkah Abra terhenti. Ia berbalik, menatap Serayu lurus tanpa berkedip. Sorot mata keduanya beradu, sarat ketegangan.
Perlahan Abra mendekat, suaranya dingin. “Apa maksudmu?”
Serayu menggigit bibir. Kata-kata yang awalnya ingin ia simpan rapat, kini meluncur tanpa bisa ditahan. Melihat wajah Abra tanpa rasa bersalah itu, Serayu ingin sekali melemparkan ponselnya, memperlihatkan bukti foto kiriman mertuanya. Tapi… untuk apa?
Akhirnya ia hanya mengedikkan bahu, memilih bersikap acuh dan melangkah pergi meninggalkan Abra dengan tatapan penuh tanya. Namun, tangan Serayu tiba-tiba ditahan.
“Ada apa dengan kamu?” suara Abra terdengar tegas.
“Ada apa dengan saya? Apa tidak salah pertanyaannya? Kamu yang kenapa, kenapa kamu berbohong saat menemui wanita itu?”
Itu adalah kalimat terpanjang yang meluncur begitu saja dari bibir Serayu membuat Abra kian mengernyit.
“Kamu mengikuti saya?” tuduh Abra dingin. “Kamu tidak dibenarkan ikut campur dalam urusan saya.”
Abra menekan kalimat terakhirnya, tatapannya menusuk ke arah Serayu.
Serayu terdiam. Ia tertampar kenyataan bahwa ia tidak boleh menuntut apa pun. Bukankah sejak awal mereka sepakat, pernikahan ini hanya kontrak?
Abra benar, tak seorang pun dari mereka berhak menuntut atau mengurusi urusan pribadi masing-masing.
“Kenapa diam?” tanya Abra pada Serayu.
Serayu masih diam.
“Jangan lupa, Serayu,” suara Abra rendah, tapi tegas dan menusuk. “Pernikahan kita ada batasannya. Sebagaimana dalam pasal perjanjian kita. Saya tidak akan menjelaskan apa-apa.”
Serayu membeku. Kata-kata itu menamparnya lebih keras daripada apa pun. Dan di titik itu, ia baru sadar bahwa ia sudah melangkah terlalu jauh.
“Well, kalau begitu, jangan lupakan pula pasal bahwa dalam pernikahan ini tidak boleh ada skandal orang ketiga. Bukankah dokter Abra Wijaya Utomo yang terhormat tidak ingin personal branding-nya rusak?” ujarnya, mendekat lalu mengusap pundak Abra seolah membersihkan sesuatu, sebelum berlalu meninggalkan lelaki itu yang terpaku di tempatnya.
dr. Abra dengan personal brandingnya ceunah :)
Tentu saja Abra tidak menyukai apa yang ia lihat. Lama ia menatap layar ponselnya, rahangnya mengeras pelan sebelum akhirnya ia mengetik sebuah pesan.“Saya mau ketemu,” tulisnya.Pesan itu ia kirim pada seseorang. Balasannya datang lebih cepat dari yang ia perkirakan.“Bisa saja. Kapan?”***Keesokan harinya …Pagi sekali Abra sudah kembali. Ia langsung menuju apartemen, meski tahu istrinya belum pulang. Dari rumah, ia melanjutkan pekerjaannya. Di sela waktu yang ada, ia bahkan menyiapkan makan malam untuk mereka. Ia juga menyiapkan hal-hal kecil untuk melihat senyum istrinya.Seharian Serayu tenggelam dalam kesibukan di rumah sakit. Menjelang sore, ia berdiri menunggu sopir menjemput. Namun pandangannya terhenti ketika melihat mobil Abra terparkir sedikit menjauh. Lelaki itu berdiri di samping mobilnya.Serayu terkejut lalu wajahnya berbinar. Ia berjalan cepat menghampiri setelah berpamitan pada rekan-rekannya.“Mas? Kok nggak bilang mau jemput?”“Sengaja. Mau lihat wajah girang kam
Sedanu keluar dari mobil untuk menyapa Ara yang menyunggingkan senyum kecil. Amalia sebelumnya sudah menyampaikan rencana sore itu, berburu makanan di kafe baru yang sedang ramai dibicarakan.“Di dalam ada dua temanku,” ujar Sedanu ketika Ara mendekat.Wajah Ara sempat berubah tipis saat melihat kursi depan sudah ditempati seorang lelaki. Sedanu membukakan pintu belakang tepat di belakang kursi kemudi.Wanita itu masuk dan kembali tersenyum kecil ketika menyadari dua dokter yang duduk di dalam mobil. Tidak akrab, tetapi mereka pernah bertemu dan saling bertegur sapa.Sepanjang perjalanan tidak canggung, tapi Ara memilih lebih banyak diam. Sesekali Sedanu mengajaknya berbicara dan ia hanya menjawab seperlunya.Kini mobil Sedanu sudah terparkir di depan kafe. Lagi-lagi, lelaki itu membukakan pintu untuk Ara lalu berjalan berdampingan memasuki kafe.Mereka masuk bersamaan. Ara tersenyum saat melihat Amalia melambaikan tangan. Namun senyum itu perlahan memudar ketika matanya menangkap sos
“Mau makan dulu nggak sebelum pulang?” ajak Sedanu pada Ara begitu mereka berpisah dari Amalia. Ara terdiam sepersekian detik. Otaknya menolak, tapi hatinya justru mengiyakan. “Mobil kamu tinggal di klinik aja. Kita makan bareng. Pulangnya aku antar,” lanjut Sedanu.Nada suaranya tak memberi ruang untuk menolak. Tanpa menunggu jawaban, Sedanu meraih tangan Ara membawanya menuju mobil wanita itu.“Aku …”“Ketemu di sana, ya,” kata Sedanu lagi, melepaskan tangan itu saat mereka sampai.Ara akhirnya mengangguk. Sedanu sudah lebih dulu membukakan pintu untuknya. Sederhana, tapi cukup membuat dada Ara bergetar. Ia pun masuk ke dalam mobilnya.Sementara, di apartemen suasananya jauh berbeda.Serayu duduk bersandar di sofa kamarnya, semangat sekali saat bercerita. Ia menceritakan hari yang padat, pasien-pasiennya, juga pertemuan singkatnya dengan Amalia dan Sedanu di kafetaria rumah sakit.“Amalia niat banget, Mas. Sampai masak sendiri. Effort sekali sepupumu,” katanya terkekeh geli usai mema
Tangan Sedanu terulur tampak hendak menyentuh puncak kepala Serayu. Namun wanita itu refleks mundur setapak, menjaga jarak. “Saya cuma mau ambil sesuatu di rambut kamu,” kekeh Sedanu, mencoba mencairkan suasana. Serayu buru-buru merapikan rambutnya dengan jemari yang sedikit kaku. Ia lalu mengambil ponsel dari tasnya, menyalakan kamera depan dan mengarahkannya ke wajah sendiri. Dari pantulan layar, ia melihat helai tipis seperti benang kecil tersangkut di sela rambutnya. Sedanu memperhatikan, tatapannya jatuh pada wajah Serayu dalam-dalam. “Dok, jangan diambil hati, ya,” ucap Serayu, masih menatap layar ponselnya. Bukan ia tidak tahu Sedanu menatapnya terus. “Saya cuma nggak mau suami saya salah paham sama kedekatan kita. Padahal… kita juga nggak sedekat itu, kan?” Kalimat terakhirnya menggantung. Ia sempat melirik Sedanu sekilas sebelum kembali memastikan benang kecil itu terlepas. “Wah, sakit hati saya dengarnya. Ternyata kita nggak sedekat itu,” kekeh Sedanu, santai. Serayu m
Abra segera membawa Serayu menjauh dari suasana yang mendadak menegang itu. Tangannya tetap melingkar di pinggang istrinya hingga mereka tiba di mobil.Dari balik jendela, Serayu masih sempat melihat Sedanu dan Ara berdiri berhadapan. Ada kecanggungan di antara keduanya. Terlihat jeda untuk dua orang yang seharusnya saling mengenal. Sesuatu yang ia sendiri sulit jelaskan.“Mas, lihat nggak tadi tatapan Dokter Ara ke Dokter Sedanu?” tanya Serayu saat mobil sudah meninggalkan area rumah sakit.Abra yang tengah mengemudi melirik sekilas, lalu menggeleng. “Nggak terlalu merhatiin.”“Sayang banget sih,” gumam Serayu. “Kalau dilihat-lihat, kayaknya Dokter Ara suka sama Dokter Sedanu, deh.”Mobil berhenti di lampu merah. Abra mengembuskan napas tipis, lalu satu tangannya terlepas dari setir, meraih tangan Serayu di pangkuannya. Jemarinya menggenggam hangat.“Lalu,” katanya santai, “dari hasil pengamatan kamu… bagaimana dengan dokter residen itu?”Sebelum Serayu sempat menjawab, Abra mengecup
Sore itu Serayu diminta Amalia untuk menunggunya. Abra masih terjebak macet di jalan, katanya lalu lintas padat. Ia diminta sedikit bersabar.Sambil menunggu, Serayu teringat pada anak kecil yang tadi ia tenangkan. Ada dorongan halus di dadanya untuk memastikan keadaan bocah itu. Ia pun melangkah menuju ruang perawatan.Baru saja jemarinya menyentuh gagang pintu di mana kamar perawatan anak kecil itu, langkahnya terhenti. Pintu terbuka dari dalam dan Dokter Sedanu keluar. Serayu tersentak, refleks mundur setapak.“Twin?” ujar Sedanu kaget, tangannya spontan meraih kedua lengan Serayu agar ia tak kehilangan keseimbangan.“Dokter… maaf,” lirih Serayu, perlahan melepaskan diri. Ada rasa canggung yang tipis, seperti bayangan yang lewat sebentar lalu hilang.“Kamu mau apa ke sini?” tanya Sedanu.“Saya… saya mau menjenguk anak kecil yang di kamar ini,” jawabnya pelan.“Kamu kenal Leo?” alis Sedanu terangkat.Serayu menceritakan kejadian tadi, tentang bagaimana ia bertemu dengan bocah itu. Ce







