Share

3. Terusik

Author: Dinis Selmara
last update Last Updated: 2025-09-13 11:50:37

“Kamu tidak diizinkan mengintervensi saya, Serayu!” pekik Abra, egonya tersentil.

Serayu tidak menanggapi lagi, ia langsung berjalan ke arah kamarnya. Sesampainya di kamar, ia bersandar pada pintu dengan jantung yang berdegup tak karuan. Ia akui, dirinya lancang kali ini.

Namun bukankah ia juga manusia yang memiliki hati?

Tidak bisakah, setidaknya sekali saja, ibu dan anak itu berhenti menekannya?

Ia menanggung beban dan tuntutan, lantas siapa yang menanggung hatinya?

Lagipula, dalam kontrak pernikahannya juga jelas tidak diperbolehkan adanya orang ketiga.

___

Pagi itu, Serayu mengintip ke dapur. Abra sibuk menyiapkan sarapan dengan gerakan yang sudah sangat terbiasa.

Serayu hanya bisa diam melihatnya. Sejak kecil ia jarang masuk dapur. Ia hanya sibuk belajar dan bekerja membantu orang tuanya, dan saat kuliah waktunya habis untuk tugas serta freelance.

Masak tidak pernah benar-benar menjadi bagian hidup Serayu. Pernah sekali mencoba memasak untuk Abra ketika mereka baru menikah, tapi gagal total. Sejak itu ia tak diperbolehkan lagi menyentuh dapur oleh Abra.

Serayu menarik napas, lalu keluar kamar.

Abra menoleh, sedikit terkejut melihat Serayu sudah rapi. “Duduk. Saya siapkan—”

“Saya tidak sarapan,” potong Serayu. “Permisi.”

Serayu berjalan pergi tanpa menoleh, pintu tertutup sedikit keras.

Abra terdiam.

“Marah?” gumam Abra bingung. Padahal menurutnya, ia yang seharusnya marah karena Serayu semalam terlalu ikut campur.

Di balik pintu, Serayu menahan napas panjang. Ia lega sudah menghindar. Setelah pertengkaran semalam, wajah Abra saja sulit ia hadapi.

Ini hanya pernikahan kontrak, tapi kenapa ia merasa seperti menuntut lebih?

Ketika sudah berada di rumah sakit, Serayu juga berusaha keras menghindari Abra.

Saat jam istirahat, dari kejauhan ia melihat lelaki itu berjalan ke arahnya. Jantungnya langsung melonjak.

Refleks, ia meraih lengan Sedanu, dokter residen yang sedang lewat. Sedanu terkejut, hampir kehilangan keseimbangan.

“Dok, anak-anak ngajak makan di kantin. Let’s go!” ucap Serayu terburu-buru, menyeretnya tanpa penjelasan.

Abra melihatnya sekilas dari kejauhan, lalu mengernyit. Sikap Serayu jelas berbeda hari ini. Ya meskipun memang tidak ada yang tahu bahwa mereka suami istri karena pernikahan mereka terlalu tertutup. Bahkan desas-desus sekalipun tidak pernah jelas.

Serayu terus menarik Sedanu hingga memastikan Abra tak lagi terlihat. Begitu yakin aman, ia melepas pegangan sambil menghela napas lega.

Namun detik berikutnya, Sedanu justru merangkul lengannya balik, membuat Serayu menegang.

“Kenapa berhenti? Ayo jalan,” ajak Sedanu santai.

“Eh… itu, Dok. Hmm… kayaknya nggak jadi deh. Lihat, kantinnya sepi,” alasan Serayu, menunjuk kantin yang memang tampak lengang. “Mungkin mereka makan di ruangan.”

Sedanu mengikuti arah pandangnya, lalu menatap Serayu. “Kalau begitu kita saja yang makan berdua. Saya sudah lapar,” ujarnya tenang sambil menuntun Serayu ke arah kantin.

“Eh?” Serayu tersentak, terseok-seok menyeimbangkan langkahnya mengikuti Sedanu.

Sedanu sendiri adalah seorang dokter residen yang sedang menjalani pendidikan dokter spesialis. Ia dikenal murah hati dan sering membantu para koas.

Kepopuleran Sedanu di kalangan mereka membuatnya kerap dicocok-cocokkan dengan Serayu, apalagi nama mereka terdengar hampir serupa. Namun, Serayu selalu menanggapi hal itu dengan profesional, tak pernah memberi celah gosip.

“Tapi, Dok—”

“Tapi apa? Ayo, makan siang.”

Tanpa keduanya sadari, sepasang mata tajam tengah mengawasi langkah mereka dari kejauhan. Rahang lelaki itu mengeras, menyimpan sesuatu yang tak terucap.

Hari ini Serayu memang mendapat jadwal jaga malam. Tapi anehnya, ia justru merasa lega karena dengan shift panjang berarti ia bisa menghindari Abra lebih lama.

IGD dipenuhi pasien sejak awal malam. Serayu mondar-mandir membantu perawat dan mencatat status, hampir tanpa waktu bernapas.

Di tengah kesibukan itu, seorang pasien wanita yang baru siuman tiba-tiba bertindak agresif. Usai berteriak keras, pasien itu langsung meraih pisau kecil di meja insturmen dan menodongkannya ke arah Serayu yang kebetulan berada paling dekat darinya.

Serayu terjepit, tubuhnya kaku.

“Bu, tolong tenang… lepaskan saya …” suaranya nyaris tidak keluar.

Situasi kacau, tetapi sebelum Serayu benar-benar terseret lebih jauh, Sedanu muncul pertama dengan suara pelan dan sikap menenangkan, ia maju mengambil alih.

Hanya beberapa detik, namun cukup untuk membuat pasien itu goyah. Dalam celah itu, Sedanu menarik Serayu ke belakang, merengkuhnya agar menjauh dari jarak berbahaya.

“Ambil napas dulu,” gumam Sedanu, matanya memeriksa Serayu yang ada dalam dekapannya. “Kamu nggak apa-apa?”

Serayu mencoba tersenyum, padahal tangannya masih gemetar. “Saya baik-baik aja, Dok.”

Sedanu baru melepaskan pelukannya ketika ia yakin Serayu benar-benar aman. Ia langsung menuntun Serayu duduk di kursi terdekat. Ia berjongkok di hadapannya sambil menyerahkan segelas air.

“Minum dulu,” ucapnya pelan.

Serayu mengambilnya dengan tangan yang masih sedikit gemetar.

“Kamu mau ganti jadwal jaga? Saya bisa minta anak lain tukar,” lanjut Sedanu, nada suaranya penuh perhatian.

Serayu menggeleng cepat. “Tidak perlu, Dok. Saya benar-benar baik.”

“Yakin?” Sedanu menatapnya cukup lama, seolah ingin memastikan sendiri.

Serayu mengangguk sambil berusaha tersenyum meski napasnya masih belum stabil. Saat ia menurunkan gelas, matanya tak sengaja menangkap sosok yang baru saja berbalik meninggalkan IGD.

Abra.

Serayu mematung sepersekian detik. Jadi… dia melihat semuanya barusan?

“Saya tinggal dulu ya, panggil kalau kamu butuh apa-apa,” ucap Sedanu sebelum berdiri.

Serayu hanya mengangguk. Beberapa rekan menghampirinya menanyakan keadaan, dan ia membalas dengan senyum singkat.

Ketika IGD mulai tenang kembali, Serayu keluar menuju lorong. Ia ingin menghirup udara sebentar, tapi langkahnya justru terhenti melihat seseorang berdiri di ujung koridor.

Abra tampak bersiap pulang, jas dokter sudah terlipat di tangan. Serayu spontan memberi salam kecil.

“Permisi, Dok,” sapanya pelan.

Abra hanya menoleh singkat. Sebelum ia sempat membalas, ponselnya berdering. 

Abra melirik layar. Ia tidak menjawab, tapi wajahnya sedikit berubah. Sekilas, Serayu sempat melihat layar itu: sebuah panggilan video masuk. Meski nomor si penelpon tidak tersimpan, tapi wajah wanita itu terpampang jelas.

Serayu menelan ludah. Wajah wanita itu… tampak tidak asing baginya.

Dinis Selmara

Lama kali geraknya, dr. Abra! Kan jadi keduluan cowok lain >_<

| 37
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   204. Pesan Meresahkan

    Tentu saja Abra tidak menyukai apa yang ia lihat. Lama ia menatap layar ponselnya, rahangnya mengeras pelan sebelum akhirnya ia mengetik sebuah pesan.“Saya mau ketemu,” tulisnya.Pesan itu ia kirim pada seseorang. Balasannya datang lebih cepat dari yang ia perkirakan.“Bisa saja. Kapan?”***Keesokan harinya …Pagi sekali Abra sudah kembali. Ia langsung menuju apartemen, meski tahu istrinya belum pulang. Dari rumah, ia melanjutkan pekerjaannya. Di sela waktu yang ada, ia bahkan menyiapkan makan malam untuk mereka. Ia juga menyiapkan hal-hal kecil untuk melihat senyum istrinya.Seharian Serayu tenggelam dalam kesibukan di rumah sakit. Menjelang sore, ia berdiri menunggu sopir menjemput. Namun pandangannya terhenti ketika melihat mobil Abra terparkir sedikit menjauh. Lelaki itu berdiri di samping mobilnya.Serayu terkejut lalu wajahnya berbinar. Ia berjalan cepat menghampiri setelah berpamitan pada rekan-rekannya.“Mas? Kok nggak bilang mau jemput?”“Sengaja. Mau lihat wajah girang kam

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   203. Hang Out #2

    Sedanu keluar dari mobil untuk menyapa Ara yang menyunggingkan senyum kecil. Amalia sebelumnya sudah menyampaikan rencana sore itu, berburu makanan di kafe baru yang sedang ramai dibicarakan.“Di dalam ada dua temanku,” ujar Sedanu ketika Ara mendekat.Wajah Ara sempat berubah tipis saat melihat kursi depan sudah ditempati seorang lelaki. Sedanu membukakan pintu belakang tepat di belakang kursi kemudi.Wanita itu masuk dan kembali tersenyum kecil ketika menyadari dua dokter yang duduk di dalam mobil. Tidak akrab, tetapi mereka pernah bertemu dan saling bertegur sapa.Sepanjang perjalanan tidak canggung, tapi Ara memilih lebih banyak diam. Sesekali Sedanu mengajaknya berbicara dan ia hanya menjawab seperlunya.Kini mobil Sedanu sudah terparkir di depan kafe. Lagi-lagi, lelaki itu membukakan pintu untuk Ara lalu berjalan berdampingan memasuki kafe.Mereka masuk bersamaan. Ara tersenyum saat melihat Amalia melambaikan tangan. Namun senyum itu perlahan memudar ketika matanya menangkap sos

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   202. Hang Out #1

    “Mau makan dulu nggak sebelum pulang?” ajak Sedanu pada Ara begitu mereka berpisah dari Amalia. Ara terdiam sepersekian detik. Otaknya menolak, tapi hatinya justru mengiyakan. “Mobil kamu tinggal di klinik aja. Kita makan bareng. Pulangnya aku antar,” lanjut Sedanu.Nada suaranya tak memberi ruang untuk menolak. Tanpa menunggu jawaban, Sedanu meraih tangan Ara membawanya menuju mobil wanita itu.“Aku …”“Ketemu di sana, ya,” kata Sedanu lagi, melepaskan tangan itu saat mereka sampai.Ara akhirnya mengangguk. Sedanu sudah lebih dulu membukakan pintu untuknya. Sederhana, tapi cukup membuat dada Ara bergetar. Ia pun masuk ke dalam mobilnya.Sementara, di apartemen suasananya jauh berbeda.Serayu duduk bersandar di sofa kamarnya, semangat sekali saat bercerita. Ia menceritakan hari yang padat, pasien-pasiennya, juga pertemuan singkatnya dengan Amalia dan Sedanu di kafetaria rumah sakit.“Amalia niat banget, Mas. Sampai masak sendiri. Effort sekali sepupumu,” katanya terkekeh geli usai mema

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   201. Batu Api

    Tangan Sedanu terulur tampak hendak menyentuh puncak kepala Serayu. Namun wanita itu refleks mundur setapak, menjaga jarak. “Saya cuma mau ambil sesuatu di rambut kamu,” kekeh Sedanu, mencoba mencairkan suasana. Serayu buru-buru merapikan rambutnya dengan jemari yang sedikit kaku. Ia lalu mengambil ponsel dari tasnya, menyalakan kamera depan dan mengarahkannya ke wajah sendiri. Dari pantulan layar, ia melihat helai tipis seperti benang kecil tersangkut di sela rambutnya. Sedanu memperhatikan, tatapannya jatuh pada wajah Serayu dalam-dalam. “Dok, jangan diambil hati, ya,” ucap Serayu, masih menatap layar ponselnya. Bukan ia tidak tahu Sedanu menatapnya terus. “Saya cuma nggak mau suami saya salah paham sama kedekatan kita. Padahal… kita juga nggak sedekat itu, kan?” Kalimat terakhirnya menggantung. Ia sempat melirik Sedanu sekilas sebelum kembali memastikan benang kecil itu terlepas. “Wah, sakit hati saya dengarnya. Ternyata kita nggak sedekat itu,” kekeh Sedanu, santai. Serayu m

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   200. Dinas Luar Kota

    Abra segera membawa Serayu menjauh dari suasana yang mendadak menegang itu. Tangannya tetap melingkar di pinggang istrinya hingga mereka tiba di mobil.Dari balik jendela, Serayu masih sempat melihat Sedanu dan Ara berdiri berhadapan. Ada kecanggungan di antara keduanya. Terlihat jeda untuk dua orang yang seharusnya saling mengenal. Sesuatu yang ia sendiri sulit jelaskan.“Mas, lihat nggak tadi tatapan Dokter Ara ke Dokter Sedanu?” tanya Serayu saat mobil sudah meninggalkan area rumah sakit.Abra yang tengah mengemudi melirik sekilas, lalu menggeleng. “Nggak terlalu merhatiin.”“Sayang banget sih,” gumam Serayu. “Kalau dilihat-lihat, kayaknya Dokter Ara suka sama Dokter Sedanu, deh.”Mobil berhenti di lampu merah. Abra mengembuskan napas tipis, lalu satu tangannya terlepas dari setir, meraih tangan Serayu di pangkuannya. Jemarinya menggenggam hangat.“Lalu,” katanya santai, “dari hasil pengamatan kamu… bagaimana dengan dokter residen itu?”Sebelum Serayu sempat menjawab, Abra mengecup

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   199. Kembali Bertugas #2

    Sore itu Serayu diminta Amalia untuk menunggunya. Abra masih terjebak macet di jalan, katanya lalu lintas padat. Ia diminta sedikit bersabar.Sambil menunggu, Serayu teringat pada anak kecil yang tadi ia tenangkan. Ada dorongan halus di dadanya untuk memastikan keadaan bocah itu. Ia pun melangkah menuju ruang perawatan.Baru saja jemarinya menyentuh gagang pintu di mana kamar perawatan anak kecil itu, langkahnya terhenti. Pintu terbuka dari dalam dan Dokter Sedanu keluar. Serayu tersentak, refleks mundur setapak.“Twin?” ujar Sedanu kaget, tangannya spontan meraih kedua lengan Serayu agar ia tak kehilangan keseimbangan.“Dokter… maaf,” lirih Serayu, perlahan melepaskan diri. Ada rasa canggung yang tipis, seperti bayangan yang lewat sebentar lalu hilang.“Kamu mau apa ke sini?” tanya Sedanu.“Saya… saya mau menjenguk anak kecil yang di kamar ini,” jawabnya pelan.“Kamu kenal Leo?” alis Sedanu terangkat.Serayu menceritakan kejadian tadi, tentang bagaimana ia bertemu dengan bocah itu. Ce

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status