Masuk“Kamu tidak diizinkan mengintervensi saya, Serayu!” pekik Abra, egonya tersentil.
Serayu tidak menanggapi lagi, ia langsung berjalan ke arah kamarnya. Sesampainya di kamar, ia bersandar pada pintu dengan jantung yang berdegup tak karuan. Ia akui, dirinya lancang kali ini.
Namun bukankah ia juga manusia yang memiliki hati?
Tidak bisakah, setidaknya sekali saja, ibu dan anak itu berhenti menekannya?
Ia menanggung beban dan tuntutan, lantas siapa yang menanggung hatinya?
Lagipula, dalam kontrak pernikahannya juga jelas tidak diperbolehkan adanya orang ketiga.
___
Pagi itu, Serayu mengintip ke dapur. Abra sibuk menyiapkan sarapan dengan gerakan yang sudah sangat terbiasa.
Serayu hanya bisa diam melihatnya. Sejak kecil ia jarang masuk dapur. Ia hanya sibuk belajar dan bekerja membantu orang tuanya, dan saat kuliah waktunya habis untuk tugas serta freelance.
Masak tidak pernah benar-benar menjadi bagian hidup Serayu. Pernah sekali mencoba memasak untuk Abra ketika mereka baru menikah, tapi gagal total. Sejak itu ia tak diperbolehkan lagi menyentuh dapur oleh Abra.
Serayu menarik napas, lalu keluar kamar.
Abra menoleh, sedikit terkejut melihat Serayu sudah rapi. “Duduk. Saya siapkan—”
“Saya tidak sarapan,” potong Serayu. “Permisi.”
Serayu berjalan pergi tanpa menoleh, pintu tertutup sedikit keras.
Abra terdiam.
“Marah?” gumam Abra bingung. Padahal menurutnya, ia yang seharusnya marah karena Serayu semalam terlalu ikut campur.
Di balik pintu, Serayu menahan napas panjang. Ia lega sudah menghindar. Setelah pertengkaran semalam, wajah Abra saja sulit ia hadapi.
Ini hanya pernikahan kontrak, tapi kenapa ia merasa seperti menuntut lebih?
Ketika sudah berada di rumah sakit, Serayu juga berusaha keras menghindari Abra.
Saat jam istirahat, dari kejauhan ia melihat lelaki itu berjalan ke arahnya. Jantungnya langsung melonjak.
Refleks, ia meraih lengan Sedanu, dokter residen yang sedang lewat. Sedanu terkejut, hampir kehilangan keseimbangan.
“Dok, anak-anak ngajak makan di kantin. Let’s go!” ucap Serayu terburu-buru, menyeretnya tanpa penjelasan.
Abra melihatnya sekilas dari kejauhan, lalu mengernyit. Sikap Serayu jelas berbeda hari ini. Ya meskipun memang tidak ada yang tahu bahwa mereka suami istri karena pernikahan mereka terlalu tertutup. Bahkan desas-desus sekalipun tidak pernah jelas.
Serayu terus menarik Sedanu hingga memastikan Abra tak lagi terlihat. Begitu yakin aman, ia melepas pegangan sambil menghela napas lega.
Namun detik berikutnya, Sedanu justru merangkul lengannya balik, membuat Serayu menegang.
“Kenapa berhenti? Ayo jalan,” ajak Sedanu santai.
“Eh… itu, Dok. Hmm… kayaknya nggak jadi deh. Lihat, kantinnya sepi,” alasan Serayu, menunjuk kantin yang memang tampak lengang. “Mungkin mereka makan di ruangan.”
Sedanu mengikuti arah pandangnya, lalu menatap Serayu. “Kalau begitu kita saja yang makan berdua. Saya sudah lapar,” ujarnya tenang sambil menuntun Serayu ke arah kantin.
“Eh?” Serayu tersentak, terseok-seok menyeimbangkan langkahnya mengikuti Sedanu.
Sedanu sendiri adalah seorang dokter residen yang sedang menjalani pendidikan dokter spesialis. Ia dikenal murah hati dan sering membantu para koas.
Kepopuleran Sedanu di kalangan mereka membuatnya kerap dicocok-cocokkan dengan Serayu, apalagi nama mereka terdengar hampir serupa. Namun, Serayu selalu menanggapi hal itu dengan profesional, tak pernah memberi celah gosip.
“Tapi, Dok—”
“Tapi apa? Ayo, makan siang.”
Tanpa keduanya sadari, sepasang mata tajam tengah mengawasi langkah mereka dari kejauhan. Rahang lelaki itu mengeras, menyimpan sesuatu yang tak terucap.
Hari ini Serayu memang mendapat jadwal jaga malam. Tapi anehnya, ia justru merasa lega karena dengan shift panjang berarti ia bisa menghindari Abra lebih lama.
IGD dipenuhi pasien sejak awal malam. Serayu mondar-mandir membantu perawat dan mencatat status, hampir tanpa waktu bernapas.
Di tengah kesibukan itu, seorang pasien wanita yang baru siuman tiba-tiba bertindak agresif. Usai berteriak keras, pasien itu langsung meraih pisau kecil di meja insturmen dan menodongkannya ke arah Serayu yang kebetulan berada paling dekat darinya.
Serayu terjepit, tubuhnya kaku.
“Bu, tolong tenang… lepaskan saya …” suaranya nyaris tidak keluar.
Situasi kacau, tetapi sebelum Serayu benar-benar terseret lebih jauh, Sedanu muncul pertama dengan suara pelan dan sikap menenangkan, ia maju mengambil alih.
Hanya beberapa detik, namun cukup untuk membuat pasien itu goyah. Dalam celah itu, Sedanu menarik Serayu ke belakang, merengkuhnya agar menjauh dari jarak berbahaya.
“Ambil napas dulu,” gumam Sedanu, matanya memeriksa Serayu yang ada dalam dekapannya. “Kamu nggak apa-apa?”
Serayu mencoba tersenyum, padahal tangannya masih gemetar. “Saya baik-baik aja, Dok.”
Sedanu baru melepaskan pelukannya ketika ia yakin Serayu benar-benar aman. Ia langsung menuntun Serayu duduk di kursi terdekat. Ia berjongkok di hadapannya sambil menyerahkan segelas air.
“Minum dulu,” ucapnya pelan.
Serayu mengambilnya dengan tangan yang masih sedikit gemetar.
“Kamu mau ganti jadwal jaga? Saya bisa minta anak lain tukar,” lanjut Sedanu, nada suaranya penuh perhatian.
Serayu menggeleng cepat. “Tidak perlu, Dok. Saya benar-benar baik.”
“Yakin?” Sedanu menatapnya cukup lama, seolah ingin memastikan sendiri.
Serayu mengangguk sambil berusaha tersenyum meski napasnya masih belum stabil. Saat ia menurunkan gelas, matanya tak sengaja menangkap sosok yang baru saja berbalik meninggalkan IGD.
Abra.
Serayu mematung sepersekian detik. Jadi… dia melihat semuanya barusan?
“Saya tinggal dulu ya, panggil kalau kamu butuh apa-apa,” ucap Sedanu sebelum berdiri.
Serayu hanya mengangguk. Beberapa rekan menghampirinya menanyakan keadaan, dan ia membalas dengan senyum singkat.
Ketika IGD mulai tenang kembali, Serayu keluar menuju lorong. Ia ingin menghirup udara sebentar, tapi langkahnya justru terhenti melihat seseorang berdiri di ujung koridor.
Abra tampak bersiap pulang, jas dokter sudah terlipat di tangan. Serayu spontan memberi salam kecil.
“Permisi, Dok,” sapanya pelan.
Abra hanya menoleh singkat. Sebelum ia sempat membalas, ponselnya berdering.
Abra melirik layar. Ia tidak menjawab, tapi wajahnya sedikit berubah. Sekilas, Serayu sempat melihat layar itu: sebuah panggilan video masuk. Meski nomor si penelpon tidak tersimpan, tapi wajah wanita itu terpampang jelas.
Serayu menelan ludah. Wajah wanita itu… tampak tidak asing baginya.
Lama kali geraknya, dr. Abra! Kan jadi keduluan cowok lain >_<
Hubungan Jarak jauh be like … Hari kedua Serayu mengikuti seminar. Sementara itu, Abra sudah tiba di Malaysia untuk menjalani rangkaian pemeriksaan dan pengobatan lanjutan. Baru beberapa saat lalu Serayu akhirnya bisa menghubungi suaminya. “Mas, maaf, ya… Saya hectic banget,” rajuk Serayu begitu panggilan mereka tersambung. Abra yang sedang duduk di tepi ranjang hotel hanya mengembuskan napas. “Nggak sesuai ekspektasi.” Serayu mengerjapkan mata. “Mas…” “Komunikasi kita jelek banget.” “Iya, maaf, Mas.” Serayu langsung membujuk dengan suara lembut. “Besok saya usahain lebih sering kabarin Mas yaaa….” “Ya sudah.” Abra mengalah. “Mas juga nggak bisa lama-lama. Harus cukup tidur sebelum besok pemeriksaan.” “Sedihnya…” Serayu mengerucutkan bibir. “But it's okay, Mas. Besok bangun langsung kabari, ya?” “Saya selalu kabari kamu.” Serayu terdiam sebentar, lalu buru-buru mengoreksi ucapannya. “Eh, iya. Maksudnya saya yang akan kabari Mas kalau saya sudah bangun.” Abra
“Mbak,” cegat Abra membuat Riani menoleh. “Biar istri saya yang bawa Satria ke kamar.” Hati Serayu yang sendu seketika menghangat. Ia kembali meraih buah hatinya ke dalam pelukan, lalu mengangguk pamit pada sang mertua. “Kalian ini lebay sekali. Kasihan cucu Mama. Udah kelihatan capek banget,” ujar Riani, menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah anak dan menantunya. “Serayu masih mau berlama-lama dengan Satria, Ma,” kata Abra mencoba memberi pengertian. Memanfaatkan kesempatan yang ada, Serayu menciumi seluruh wajah anaknya. Sayangnya, Satria sekali tidak terbangun. Sepertinya, bocah kecil itu benar-benar kelelahan. Serayu tidak pernah menyesali pekerjaannya. Ia mencintai profesinya dan paham tanggung jawabnya. Namun, tidak bisa di pungkiri, setiap harus meninggalkan Satria, ada rasa berat yang memenuhi dadanya. Cukup lama Serayu hanya duduk menikmati wajah lelap Satria. Ia mengusap rambut halus anaknya perlahan penuh sayang. Cukup lama serayu hanya menikmati wa
“Selalu aktifkan live location kamu. Wajib video call setiap hari, terutama sebelum tidur,” oceh Abra sambil memeluk istrinya dari belakang. Saat ini Serayu sedang duduk di pangkuan suaminya. Tangannya sibuk memasukkan pakaian Abra satu per satu ke dalam koper. “Iya... saya ingat,” jawabnya. “Tidak boleh ada rekan dokter laki-laki yang masuk ke kamar kamu,” tambah Abra. Serayu langsung menoleh. “Mau dituduh main serong atau gimana ini?” “Hanya mengingatkan.” Abra mengecup pipi istrinya. “Intinya, tidak boleh berdua-duaan dengan rekan dokter laki-laki.” “Ya kali kalau mau membahas materi?” “Harus ada yang menemani. Nggak baik berduaan dengan lawan jenis. Sayang, yang ketiganya bisa saja setan.” Abra kembali mengingatkan. “Makan yang teratur. Saya tahu kamu kalau sudah belajar bisa lupa segalanya.” Serayu melirik Abra tajam. Bukannya merasa bersalah, lelaki itu justru memajukan wajahnya dan kembali mengecup pipi sang istri. Serayu mengembuskan napas pelan. Ia masih beta
Hari kedua MPASI, Serayu sendiri yang menyiapkan makanan untuk Satria. Seantusias itu istri Dokter Abra. Pagi-pagi sekali ia sudah sibuk di dapur, memastikan makanan sang buah hati siap sebelum dirinya berangkat ke rumah sakit. “Masakan mamanya juga nggak kalah enak,” kata Abra sambil memperhatikan Satria yang tampak bersemangat menyantap makanan di hadapannya. “Lucu banget sih, Mas. Cepat banget anaknya gede. Udah makan aja.” Serayu merajuk dengan nada manja. “Padahal kemarin masih nemplok terus, nen.” Abra menatap Satria dengan senyum bangga. Rasanya baru kemarin ia masih menggendong bayi kecil yang hanya bisa menangis dan menyusu. Kini, anak itu sudah mulai belajar menikmati makanan pertamanya. “Kamu sudah mulai cicil perlengkapan yang mau dibawa saat seminar nanti?” tanya Abra kali ini, mengalihkan perhatian kepada istrinya. Serayu mengangguk. “Iya. Nggak banyak juga kok bawaannya.” “Bawa baju hangat juga.” “Ada, kok, Mas. Nanti saya bantuin Mas packing juga ya malam
Jangan tanya seperti apa kekhawatiran Riani ketika mengetahui cucunya yang baru berusia enam bulan akan ditinggal kedua orang tuanya karena pekerjaan. Kegagalan yang pernah dialaminya di masa lalu membuatnya tak ingin hal serupa terjadi pada cucunya. “Satria sama Mama saja, ya?” pintanya. Entah sudah untuk yang keberapa kalinya Riani mengajukan permintaan itu, tetapi tidak pernah dikabulkan Abra. Abra tidak pernah melarang sang nenek menemui cucunya. Riani bebas datang kapan saja. Mereka pun beberapa kali berkunjung ke rumah Oma dan Opanya untuk bermain. Namun, Abra belum pernah terpikir untuk benar-benar menitipkan Satria kepada Riani. Menurutnya, semua yang sudah dipersiapkannya di rumah jauh lebih dari cukup. Orang-orang yang bekerja di rumah pun sudah dianggapnya seperti keluarga sendiri. Ia sangat mempercayai mereka untuk menjaga Satria. “Soal menu MPASI, Serayu aja yang siapin. Nanny juga ikut aja bersama Satria dan Mama.” Kepala Abra langsung dipenuhi berbagai pertimbangan.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bahkan bulan pun berlalu silih berganti. Tanpa disadari, waktu ternyata berlalu sesingkat itu. Ini bukan kali pertama Serayu meninggalkan suami dan anaknya untuk menjalani dinas malam. Jangan tanya seberapa gundahnya ia tetap harus melewati semuanya. Serayu selalu menyempatkan diri melakukan video call meski hanya sekejap sudah cukup untuk sedikit mengobati rasa rindunya. Pagi kembali menyapa setelah malam yang tidak terlalu padat, tetapi juga tidak bisa disebut lengang. Serayu masih harus melanjutkan tugasnya hingga sore nanti. Sebelum memulai tugas berikutnya, ia segera meraih ponselnya lalu duduk di salah satu bangku taman rumah sakit. Dering panggilan dari seberang membuat jantungnya berdebar. Tak lama kemudian, wajah Abra memenuhi layar, lengkap dengan senyum hangat yang langsung membuat Serayu ikut tersenyum. Lalu, raut wajahnya berubah. “Sayang,” sapa Abra lebih dulu. “Saya tahu sekali wajah kamu akan seperti itu.” “Sedih nggak bis







