MasukDuuuh... panas banget ya >_<
Serayu meringis tipis. Matanya melirik ke arah Abra yang berdiri di sampingnya dengan wajah datar. Tepatnya Abra tidak suka dengan apa yang ibunya sampaikan.Sementara itu, tangan Rianu terulur, memeriksa menantunya m. Ia bahkan sedikit memutar tubuh Serayu ke kiri dan kanan memperhatikan.“Masuk dulu, Ma,” ujar Abra akhirnya, mengingatkan.Riani tersadar. “Oh iya, iya… ayo masuk dulu.” Ia segera memberi jalan, mempersilakan anak dan menantunya ke dalam.Mereka duduk di ruang tengah. Serayu kemudian menoleh pada Riani.“Mama gimana keadaannya?” tanyanya lembut.“Gini-gini aja. Masih susah jalan, jadi masih terapi,” jawab Riani, nada suaranya berubah sedikit kesal. “Tapi kayaknya Mama nggak cocok deh sama dokter Mama itu. Kolot banget orangnya. Nggak gaul.” Serayu menahan senyum tipis. “Mama direkomendasiin temen-temen Mama dokter ortopedi di rumah sakit Husada,” lanjut Riani. “Dokter muda dari Malaysia katanya. Dokter… siapa, ya…”Ia mengerutkan kening, mencoba mengingat.Serayu langs
Serayu menatap layar ponselnya sambil tersenyum. Ada rasa gemas saat membaca satu per satu pesan dari suaminya.Sampai malam Abra masih mengirim pesan. Dan yang paling membuat Serayu tertawa… suaminya tidak hanya mengirim pesan tulisan saja, tapi foto selfie dirinya di atas kasur dengan wajahnya tampak merana. Seolah benar-benar kesepian.Serayu menggeleng pelan, menahan tawa.Pagi tadi ada lagi foto saat Abra baru bangun, rambutnya bahkan masih sedikit berantakan. Lalu menyusul foto lain saat ia bersiap dengan kemejanya, hingga akhirnya memotret sarapannya.Semua dikirim, tanpa diminta. Bahkan saat Serayu tidak membalasnya.Dan sampai siang ini pun, lelaki itu masih saja mengadu rindu dengan cara yang nyaris kekanak-kanakan.“Begini yang dikatai arogan?” kekeh Serayu, berbicara pada dirinya sendiri.Ia menyimpan ponselnya setelah membalas semua pesan itu.Sejujurnya Serayu pun tak kalah rindu dan sangat menantikan pertemuan dengan suaminya nanti.Dan … benar saja, begitu pulang Seray
“Mas dari kapan sampainya?” tanya Serayu. Ia sudah membawa Abra keluar, menjauh dari riuh IGD. Kini mereka di taman kecil di sudut rumah sakit yang lebih sepi dan tenang. Abra berdiri di hadapannya tanpa menjawab. Tatapannya datar sekali. Ada sesuatu yang masih tertinggal di dadanya—rasa iri yang masih mengendap. “Mas…,” panggil Serayu lagi. Tangannya terulur, meraih lengan Abra yang terlipat di depan dada. Abra menatap wajah sang istri lama-lama. Bagaimana mungkin ia bisa kesal berlama-lama, kalau yang dihadapinya seperti ini? “Udah lama, ya?” Serayu kembali bertanya. Tangannya refleks merogoh saku jas dokternya, mencari ponsel. Sayangnya kosong. “Ponsel saya di loker, deh. Mas udah lama ya—” Kalimatnya terpotong karena Abra tiba-tiba menunduk, mengecup bibirnya singkat. Serayu membeku. Matanya membulat, napasnya tercekat sesaat sebelum refleks menoleh ke sekeliling. Nasib baik tempat itu sepi san kosong. Tak ada siapa pun di sana selain mereka berdua. Ia mengembuskan n
Abra mengembuskan napas pelan, mendengar kekhawatiran ibunya mengalir dari seberang sana. Ia mengerti, sang ibu selalu begitu setiap kali menyangkut Serayu. Yakinlah … kalau boleh jujur, sebagian dari dirinya pun merasakan hal yang sama. Ia juga ingin Serayu di rumah saja. Beristirahat, tidak kelelahan, tidak harus sesibuk itu di luar rumah hingga berjaga sampai larut malam. Namun ia tidak mungkin menahan mimpi yang ingin istrinya kejar. Dunia mereka yang membuat sang istri tetap hidup dan bisa menjadi dirinya sendiri. Lagipula, Serayu terlihat nyaman. Bahagia, bahkan. Berbeda dengan waktu itu, saat Serayu harus bedrest. Rumah yang biasanya hangat justru terasa sunyi. Serayu lebih sering diam, sorot matanya kehilangan cahaya yang biasa ia lihat. “Kamu kan tahu Serayu ada riwayat keguguran. Masa seorang Abra tidak bisa melakukan apa-apa? Minta tukar atau ganti dengan rekannya kan bisa,” kata Riani kembali menekan, sarat kecemasan. Abra menatap lurus ke depan, jemarinya mengetuk
Serayu terdiam, kata-katanya seolah tertahan di tenggorokannya. Tangan Abra terulur, mengusap lembut rambut panjang yang sudah setengah kering itu.“Ribet, ya?” tanyanya pelan.Serayu mengangguk kecil, senyum tipis terselip di sudut bibirnya. Abra tentu saja paham karena selama ini, dialah yang sering membantu memasangkan sepatu istrinya.“Nanti kita beli yang lebih nyaman lagi,” ucap Abra, suaranya penuh kesungguhan.Serayu kembali mengangguk. Kali ini ia sedikit memajukan bibirnya, manja. Abra tersenyum melihat isyarat itu, lalu menunduk untuk mengecup singkat bibir istrinya.“Saya keringkan rambut kamu,” katanya kemudian.Tanpa ragu, Serayu langsung menegakkan duduknya dan menyerahkan hair dryer yang sejak tadi berada di atas meja riasnya. “Malam ini Mas bobo sendiri dulu ya,” godanya.Abra yang tadi bergerak santai mendadak diam. Tangannya berhenti, matanya menatap Serayu melalui pantulan cermin di depan mereka.“Kamu jaga malam ini?” tanyanya, suaranya lebih rendah.Serayu memi
Melihat tatapan Serayu, Abra langsung melepas bajunya. Lekuk tubuhnya terlihat jelas di bawah cahaya kamar. “Seperti ini?” gumamnya. Ia tersenyum tipis–mata menyipit segaris—saat melihat anggukan manja dari istrinya. Gemes … sekali, Abra mencubit dagu Serayu. “Saya tetap harus membersihkan diri, Sayang. Tidak lama,” ujarnya lembut. Ia memberikan kecupan di kening Serayu lebih lama, berusaha menenangkan sang istri. Benar saja, tak lama Abra kembali tanpa atasan dengan rambut yang masih sedikit basah, ia bersandar di kusen pintu. Lengannya terlipat di depan dada menatap Serayu yang sudah kembali terlelap. Senyum tipis terbit di wajahnya. Perlahan, ia mendekat. Ikut masuk ke dalam selimut, meraih tubuh istrinya dari belakang memeluknya hangat. Namun kali ini, Serayu benar-benar tenggelam dalam tidurnya. Wanita itu tak terusik sama sekali. “Mana boleh ditinggal tidur,” bisik Abra di ceruk lehernya, suaranya penuh kehangatan. “Padahal tadi tidak mau dilepas, hmm.” Serayu mendesah
“Sayang? Berapa lama lagi di kamar mandi, sayang?” seru Abra untuk ketiga kalinya. Di dalam, Serayu menatap dirinya di cermin. Ia menatap dirinya bak jalang dengan baju kurang bahan ini. Gaun merah bertali spaghetti tipis itu membalut tubuhnya, potongan dadanya rendah, dan robekannya menjalar sampa
Malam itu, Abra memutuskan untuk tetap mengajak Serayu menghadiri acara keluarga. Katanya, sejak awal pernikahan, ia memang selalu membawa Serayu ke setiap pertemuan. Rasanya tidak ada alasan untuk tidak mengajak sang istri. Jika dulu semuanya terasa seperti sandiwara, kini mereka hadir apa adanya ‘
Malam itu, Abra dan Serayu datang dengan busana senada. Abra mengenakan kemeja hitam, lengan digulung sedikit, memperlihatkan tangan kekarnya. Serayu melangkah di sisinya dengan dress hitam yang jatuh anggun, tidak berlebihan, justru memancarkan aura cantik luar biasa. Keduanya tampak serasi, seolah
“Dilihat-lihat, dr. Ryan dekat juga dengan dr. Aileen,” gumam Serayu, sekadar mengamati reaksi Abra. Suaminya hanya mengangguk, terlihat jelas enggan melanjutkan topik itu. “Dokter Ryan—hmmpphh—” Ucapan Serayu terputus ketika Abra menutup bibir mungil yang terus berisik itu dengan ciuman singkat







