LOGINDuuuh... panas banget ya >_<
Melihat tatapan Serayu, Abra langsung melepas bajunya. Lekuk tubuhnya terlihat jelas di bawah cahaya kamar. “Seperti ini?” gumamnya. Ia tersenyum tipis–mata menyipit segaris—saat melihat anggukan manja dari istrinya. Gemes … sekali, Abra mencubit dagu Serayu. “Saya tetap harus membersihkan diri, Sayang. Tidak lama,” ujarnya lembut. Ia memberikan kecupan di kening Serayu lebih lama, berusaha menenangkan sang istri. Benar saja, tak lama Abra kembali tanpa atasan dengan rambut yang masih sedikit basah, ia bersandar di kusen pintu. Lengannya terlipat di depan dada menatap Serayu yang sudah kembali terlelap. Senyum tipis terbit di wajahnya. Perlahan, ia mendekat. Ikut masuk ke dalam selimut, meraih tubuh istrinya dari belakang memeluknya hangat. Namun kali ini, Serayu benar-benar tenggelam dalam tidurnya. Wanita itu tak terusik sama sekali. “Mana boleh ditinggal tidur,” bisik Abra di ceruk lehernya, suaranya penuh kehangatan. “Padahal tadi tidak mau dilepas, hmm.” Serayu mendesah
Serayu refleks menarik kakinya mundur, tapi geraknya tertahan karena Ezra menahan ujung sepatunya. “Nanti kamu bisa jatuh. Ibu hamil agak susah kalau harus mengikat tali sepatu sendiri.” Tangannya bergerak cepat, merapikan simpul yang sempat lepas. Beberapa detik saja. Namun cukup untuk membuat Serayu diam di tempatnya. Ezra lalu berdiri, menepuk tangannya seraya tersenyum kecil. “Sudah.” Serayu mengangguk singkat. “Terima kasih, Dok.” Ia segera melangkah pergi. Begitu keluar dari lobi, mobil supir sudah terparkir di depan pintu masuk. Sang supir membukakan pintu untuknya. “Terima kasih, Pak,” ucap Serayu pelan. Ia masuk ke dalam mobil, lalu menoleh ke arah dalam lobi. Ezra masih berdiri di sana. Jantung Serayu berdegup sedikit berisik, seberisik pikirannya. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar menyadari sesuatu dari tatapan Ezra. Sesuatu yang tidak seharusnya. Serayu pikir, katakanlah ia terlalu percaya diri, tapi tatapan Ezra tadi jelas bukan sekadar tatapan biasa. Sera
Untuk kedua kalinya, Riani menyayangkan Serayu yang tidak memakan bandeng. Perasaan itu tidak berhenti di situ. Usai bertukar pesan dengan menantunya, ia akhirnya memutuskan untuk menghubungi Abra.Abra yang baru saja meraih ponselnya, bersiap keluar dari ruangan sedikit mengernyit saat melihat nama ibunya tertera di layar.Ia menoleh sebentar pada Aksa.“Saya ada pertemuan dengan beberapa dokter di ruang dokter kepala,” pamitnya singkat.Aksa mengangguk paham.Abra pun segera menerima panggilan itu.“Halo, Ma?” sapanya lebih dulu.“Abra, Mama ganggu, nggak?” Suara di seberang terdengar teduh, lebih hati-hati.Abra tersenyum tipis. “Saya lagi jalan ke pertemuan, Ma.”“Sebentar saja. Mama minta waktu kamu, boleh?”“Tentu.”Ada jeda kecil sebelum Riani melanjutkan.“Serayu… kayaknya nggak suka ya Mama kirim makanan untuknya?”Nada itu berubah. Tidak lagi sekadar bertanya, tapi lebih seperti menyimpan kekhawatiran yang tak sempat diucapkan langsung. Apa kali kisah masa lalunya yang kelam
Ada jeda sebelum Abra membalas pesan dari asistennya. Jarinya sempat menggantung di atas layar, bahkan untuk sesaat ia mengabaikan lawan bicaranya yang masih menunggu respons di hadapannya. ‘Kamu di sana saja,’ tulisnya, akhirnya. Di kafe, Aksa menghembuskan napas kecil saat membaca balasan itu. Entah kenapa, ia justru menyukai tugas ini. Ada sesuatu yang mengusiknya, tapi entah apa. Sekilas ia melirik Ezra yang tampak tenang di kursinya, seolah tak terusik oleh apa pun. “Hati-hati, Dok,” ujar Amalia pada Ezra. ‘Baik, Pak,’ balas Aksa, sebelum menyimpan ponselnya. Ia merapikan duduk, mencoba kembali menyatu dengan suasana meja. Aksa berdeham kecil. “Ehem… saya sudah lapar. Sebaiknya kita mulai pesan makanan dulu,” ucapnya tiba-tiba. Amalia menoleh, lalu mengangguk setuju. Sementara itu, Ezra hanya mengangguk pelan dalam diamnya. Tak lama kemudian, benar saja yang ditunggu akhirnya muncul. Serayu datang dengan wajah teduhnya. Langkahnya ringan, matanya langsung mencari sese
Serayu menyeringai tipis, jelas tak suka saat tahu Aksa yang mengganti perban suaminya. Padahal suaminya sudah menjelaskan kalau Aksa hanya membantu, tetap Abra sendiri yang membersihkan lukanya. Ia terpaksa mengganti karena perbannya basah. Panggilan itu berakhir membuat Abra tak nyaman. Tanpa menunda, Abra kembali menunduk pada pekerjaannya. Ia mempercepat ritme, menyelesaikan berkas-berkas yang tersisa. Yang ia pikirkan, ia harus segera pulang untuk membujuk istri semata wayangnya. “Pesankan saya buket bunga mawar,” ucapnya saat Aksa yang baru saja masuk ke ruangannya. Aksa melirik jam di pergelangan tangannya. Sudah pukul sembilan malam. Ia menatap tak percaya pada atasannya. “Saya harus memastikan dulu toko mana yang masih buka, Pak,” jawabnya hati-hati. Abra ikut melirik jam digital di atas meja. Benar juga. Sudah terlalu malam untuk berharap banyak pada toko bunga segar. Ia memijat pangkal hidungnya pelan, menahan lelah yang mulai terasa. Sementara itu, Aksa sudah sibuk
Siang itu, Serayu menatap isi kotak makan yang baru saja ia terima. Ia menatap tak selera sayuran rebus yang dilengkapi saus khusus. Ada pula gurame goreng yang membuatnya menghela napas pelan. Tanpa banyak pikir, Serayu mengangkat ponselnya, memotret makanan itu dari atas, lalu mengirimkannya pada Abra. “Merasa jadi kambing makan sayuran full begini,” tulisnya, lengkap dengan emot sedih. Tak lama, ia menambahkan pesan lagi. “Mas sesibuk itu sampai lupa saya nggak makan gurame?” Ia menambahkan stiker gambar seseorang menangis merana di lantai yang banjir air mata. Di tempat lain, Abra yang tengah sibuk dengan berkas di mejanya melirik notifikasi itu. Tangannya berhenti, lalu meraih ponsel. Ia tersenyum tipis saat melihat stiker yang dikirim istrinya. Namun senyum itu berubah menjadi garis samar saat matanya kembali pada foto makanan. Tanpa berpikir panjang, ia langsung menekan tombol panggilan. Serayu yang masih menatap kotak makan itu mengangkat telepon dengan wajah murung.
Serayu nyaris terjatuh kalau saja tangan Ryan tidak cepat menangkap lengannya. Tubuhnya sempat condong ke depan–nyaris tersungkur. Napasnya terenggah, jantungnya mencelos seperti akan melompat dari tempatnya. “Wow,” ucap Ryan ikut terkejut. Lelaki itu berjalan dari arah berlawanan dan refleks be
Serayu menatap testpack itu lama-lama, jemarinya ragu menyentuh plastik bening yang membungkusnya. Jantungnya berdebar tak karuan. “Nggak mungkinlah, Mas… kita baru saja…,” kalimatnya menggantung, wajahnya memerah terlalu malu meneruskan. Abra mendekat santai, membawa segelas air. Ia duduk di sisi
Abra segera pulang, tak sabar ingin menikmati makan malam dengan sang istri dan mertuanya.Begitu pintu terbuka, Serayu menyembulkan kepalanya dari dapur sambil mengeringkan tangannya dengan handuk kecil. Wajahnya tampak cerah, ada kilau bahagia yang sulit disembunyikan saat mendekati suaminya.“Mas
Sepulang bertugas, Serayu kembali merasakan tubuhnya meriang. Demam itu tidak setinggi sebelumnya, namun membuat kulitnya terasa hangat dan wajahnya memerah. Yang melegakan, kali ini tidak disertai muntah. Ia hanya merasa lelah—lebih cepat lelah dari biasanya.Abra siaga meski hatinya tidak tenang.







