로그인Duuuh... panas banget ya >_<
Serayu menatap layar ponselnya sambil tersenyum. Ada rasa gemas saat membaca satu per satu pesan dari suaminya.Sampai malam Abra masih mengirim pesan. Dan yang paling membuat Serayu tertawa… suaminya tidak hanya mengirim pesan tulisan saja, tapi foto selfie dirinya di atas kasur dengan wajahnya tampak merana. Seolah benar-benar kesepian.Serayu menggeleng pelan, menahan tawa.Pagi tadi ada lagi foto saat Abra baru bangun, rambutnya bahkan masih sedikit berantakan. Lalu menyusul foto lain saat ia bersiap dengan kemejanya, hingga akhirnya memotret sarapannya.Semua dikirim, tanpa diminta. Bahkan saat Serayu tidak membalasnya.Dan sampai siang ini pun, lelaki itu masih saja mengadu rindu dengan cara yang nyaris kekanak-kanakan.“Begini yang dikatai arogan?” kekeh Serayu, berbicara pada dirinya sendiri.Ia menyimpan ponselnya setelah membalas semua pesan itu.Sejujurnya Serayu pun tak kalah rindu dan sangat menantikan pertemuan dengan suaminya nanti.Dan … benar saja, begitu pulang Seray
“Mas dari kapan sampainya?” tanya Serayu. Ia sudah membawa Abra keluar, menjauh dari riuh IGD. Kini mereka di taman kecil di sudut rumah sakit yang lebih sepi dan tenang. Abra berdiri di hadapannya tanpa menjawab. Tatapannya datar sekali. Ada sesuatu yang masih tertinggal di dadanya—rasa iri yang masih mengendap. “Mas…,” panggil Serayu lagi. Tangannya terulur, meraih lengan Abra yang terlipat di depan dada. Abra menatap wajah sang istri lama-lama. Bagaimana mungkin ia bisa kesal berlama-lama, kalau yang dihadapinya seperti ini? “Udah lama, ya?” Serayu kembali bertanya. Tangannya refleks merogoh saku jas dokternya, mencari ponsel. Sayangnya kosong. “Ponsel saya di loker, deh. Mas udah lama ya—” Kalimatnya terpotong karena Abra tiba-tiba menunduk, mengecup bibirnya singkat. Serayu membeku. Matanya membulat, napasnya tercekat sesaat sebelum refleks menoleh ke sekeliling. Nasib baik tempat itu sepi san kosong. Tak ada siapa pun di sana selain mereka berdua. Ia mengembuskan n
Abra mengembuskan napas pelan, mendengar kekhawatiran ibunya mengalir dari seberang sana. Ia mengerti, sang ibu selalu begitu setiap kali menyangkut Serayu. Yakinlah … kalau boleh jujur, sebagian dari dirinya pun merasakan hal yang sama. Ia juga ingin Serayu di rumah saja. Beristirahat, tidak kelelahan, tidak harus sesibuk itu di luar rumah hingga berjaga sampai larut malam. Namun ia tidak mungkin menahan mimpi yang ingin istrinya kejar. Dunia mereka yang membuat sang istri tetap hidup dan bisa menjadi dirinya sendiri. Lagipula, Serayu terlihat nyaman. Bahagia, bahkan. Berbeda dengan waktu itu, saat Serayu harus bedrest. Rumah yang biasanya hangat justru terasa sunyi. Serayu lebih sering diam, sorot matanya kehilangan cahaya yang biasa ia lihat. “Kamu kan tahu Serayu ada riwayat keguguran. Masa seorang Abra tidak bisa melakukan apa-apa? Minta tukar atau ganti dengan rekannya kan bisa,” kata Riani kembali menekan, sarat kecemasan. Abra menatap lurus ke depan, jemarinya mengetuk
Serayu terdiam, kata-katanya seolah tertahan di tenggorokannya. Tangan Abra terulur, mengusap lembut rambut panjang yang sudah setengah kering itu.“Ribet, ya?” tanyanya pelan.Serayu mengangguk kecil, senyum tipis terselip di sudut bibirnya. Abra tentu saja paham karena selama ini, dialah yang sering membantu memasangkan sepatu istrinya.“Nanti kita beli yang lebih nyaman lagi,” ucap Abra, suaranya penuh kesungguhan.Serayu kembali mengangguk. Kali ini ia sedikit memajukan bibirnya, manja. Abra tersenyum melihat isyarat itu, lalu menunduk untuk mengecup singkat bibir istrinya.“Saya keringkan rambut kamu,” katanya kemudian.Tanpa ragu, Serayu langsung menegakkan duduknya dan menyerahkan hair dryer yang sejak tadi berada di atas meja riasnya. “Malam ini Mas bobo sendiri dulu ya,” godanya.Abra yang tadi bergerak santai mendadak diam. Tangannya berhenti, matanya menatap Serayu melalui pantulan cermin di depan mereka.“Kamu jaga malam ini?” tanyanya, suaranya lebih rendah.Serayu memi
Melihat tatapan Serayu, Abra langsung melepas bajunya. Lekuk tubuhnya terlihat jelas di bawah cahaya kamar. “Seperti ini?” gumamnya. Ia tersenyum tipis–mata menyipit segaris—saat melihat anggukan manja dari istrinya. Gemes … sekali, Abra mencubit dagu Serayu. “Saya tetap harus membersihkan diri, Sayang. Tidak lama,” ujarnya lembut. Ia memberikan kecupan di kening Serayu lebih lama, berusaha menenangkan sang istri. Benar saja, tak lama Abra kembali tanpa atasan dengan rambut yang masih sedikit basah, ia bersandar di kusen pintu. Lengannya terlipat di depan dada menatap Serayu yang sudah kembali terlelap. Senyum tipis terbit di wajahnya. Perlahan, ia mendekat. Ikut masuk ke dalam selimut, meraih tubuh istrinya dari belakang memeluknya hangat. Namun kali ini, Serayu benar-benar tenggelam dalam tidurnya. Wanita itu tak terusik sama sekali. “Mana boleh ditinggal tidur,” bisik Abra di ceruk lehernya, suaranya penuh kehangatan. “Padahal tadi tidak mau dilepas, hmm.” Serayu mendesah
Serayu refleks menarik kakinya mundur, tapi geraknya tertahan karena Ezra menahan ujung sepatunya. “Nanti kamu bisa jatuh. Ibu hamil agak susah kalau harus mengikat tali sepatu sendiri.” Tangannya bergerak cepat, merapikan simpul yang sempat lepas. Beberapa detik saja. Namun cukup untuk membuat Serayu diam di tempatnya. Ezra lalu berdiri, menepuk tangannya seraya tersenyum kecil. “Sudah.” Serayu mengangguk singkat. “Terima kasih, Dok.” Ia segera melangkah pergi. Begitu keluar dari lobi, mobil supir sudah terparkir di depan pintu masuk. Sang supir membukakan pintu untuknya. “Terima kasih, Pak,” ucap Serayu pelan. Ia masuk ke dalam mobil, lalu menoleh ke arah dalam lobi. Ezra masih berdiri di sana. Jantung Serayu berdegup sedikit berisik, seberisik pikirannya. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar menyadari sesuatu dari tatapan Ezra. Sesuatu yang tidak seharusnya. Serayu pikir, katakanlah ia terlalu percaya diri, tapi tatapan Ezra tadi jelas bukan sekadar tatapan biasa. Sera
Serayu tidak langsung membalas pesan dari Riani. Sebaliknya, ia dan Abra memilih menelepon sang ibu. Abra yang lebih dulu membuka percakapan, barulah Serayu menyapa. Kali ini, Riani terdengar berbeda—datar, biasa saja tanpa nada ketus atau acuh seperti biasanya.Dengan hati-hati, Abra menjelaskan ba
Serayu meringkuk, menahan denyut yang sejak tadi menggerogoti perutnya. Rasa sakit itu datang tiba–tiba, tajam, menusuk sampai ia dipaksa membungkuk. Keringat dingin merayap di sepanjang pelipis, membuat kulitnya terasa lembap dan pucat. Dengan tangan gemetar ia meraih botol minum di samping tempat
Serayu nyaris terjatuh kalau saja tangan Ryan tidak cepat menangkap lengannya. Tubuhnya sempat condong ke depan–nyaris tersungkur. Napasnya terenggah, jantungnya mencelos seperti akan melompat dari tempatnya. “Wow,” ucap Ryan ikut terkejut. Lelaki itu berjalan dari arah berlawanan dan refleks be
Serayu menatap testpack itu lama-lama, jemarinya ragu menyentuh plastik bening yang membungkusnya. Jantungnya berdebar tak karuan. “Nggak mungkinlah, Mas… kita baru saja…,” kalimatnya menggantung, wajahnya memerah terlalu malu meneruskan. Abra mendekat santai, membawa segelas air. Ia duduk di sisi







