Mag-log inDuuuh... panas banget ya >_<
Bagian saat mobil itu ditabrak diputar berulang kali. Layar menampilkan detik-detik yang sama dan gerakan yang diulang dalam sudut yang sama pula. Bagi orang lain, itu cukup jelas sebagai bukti. “Ini sudah jadi bukti yang kuat, ya. Nanti akan kami tindak lanjuti,” ujar pihak kepolisian. Abra hanya mengangguk tipis. Namun, wajahnya tetap datar. Fokusnya bukan pada mobilnya yang penyok, bukan pula pada benturan yang terekam jelas di layar. Pandangannya justru terpaku pada satu momen kecil—hampir terlewat jika tidak diperhatikan dengan saksama yaitu saat Ezra bergerak cepat. Tangannya menarik lengan Serayu, memindahkannya ke sisi yang lebih aman. Jarak antara mobil Abra dan kamera dashcam memang cukup jauh, tapi tetap terlihat jelas—refleks yang sigap itu. Dan itu… cukup untuk membuat sesuatu di dalam dada Abra mengeras. Ia tidak suka, sangat tidak suka. Sampai mereka keluar dari ruangan, wajahnya masih kaku, rahangnya pun masih mengeras. “Mas antar saya ke tempat Mama, kan?” tan
Serayu meringis tipis. Matanya melirik ke arah Abra yang berdiri di sampingnya dengan wajah datar. Tepatnya Abra tidak suka dengan apa yang ibunya sampaikan. Sementara itu, tangan Rianu terulur, memeriksa menantunya m. Ia bahkan sedikit memutar tubuh Serayu ke kiri dan kanan memperhatikan. “Masuk dulu, Ma,” ujar Abra akhirnya, mengingatkan. Riani tersadar. “Oh iya, iya… ayo masuk dulu.” Ia segera memberi jalan, mempersilakan anak dan menantunya ke dalam. Mereka duduk di ruang tengah. Serayu kemudian menoleh pada Riani. “Mama gimana keadaannya?” tanyanya lembut. “Gini-gini aja. Masih susah jalan, jadi masih terapi,” jawab Riani, nada suaranya berubah sedikit kesal. “Tapi kayaknya Mama nggak cocok deh sama dokter Mama itu. Kolot banget orangnya. Nggak gaul.” Serayu menahan senyum tipis. “Mama direkomendasiin temen-temen Mama dokter ortopedi di rumah sakit Husada,” lanjut Riani. “Dokter muda dari Malaysia katanya. Dokter… siapa, ya…” Ia mengerutkan kening, mencoba mengingat. Seray
Serayu menatap layar ponselnya sambil tersenyum. Ada rasa gemas saat membaca satu per satu pesan dari suaminya. Sampai malam Abra masih mengirim pesan. Dan yang paling membuat Serayu tertawa… suaminya tidak hanya mengirim pesan tulisan saja, tapi foto selfie dirinya di atas kasur dengan wajahnya tampak merana. Seolah benar-benar kesepian. Serayu menggeleng pelan, menahan tawa. Pagi tadi ada lagi foto saat Abra baru bangun, rambutnya bahkan masih sedikit berantakan. Lalu menyusul foto lain saat ia bersiap dengan kemejanya, hingga akhirnya memotret sarapannya. Semua dikirim, tanpa diminta. Bahkan saat Serayu tidak membalasnya. Dan sampai siang ini pun, lelaki itu masih saja mengadu rindu dengan cara yang nyaris kekanak-kanakan. “Begini yang dikatai arogan?” kekeh Serayu, berbicara pada dirinya sendiri. Ia menyimpan ponselnya setelah membalas semua pesan itu. Sejujurnya Serayu pun tak kalah rindu dan sangat menantikan pertemuan dengan suaminya nanti. Dan … benar saja, begitu pula
“Mas dari kapan sampainya?” tanya Serayu. Ia sudah membawa Abra keluar, menjauh dari riuh IGD. Kini mereka di taman kecil di sudut rumah sakit yang lebih sepi dan tenang. Abra berdiri di hadapannya tanpa menjawab. Tatapannya datar sekali. Ada sesuatu yang masih tertinggal di dadanya—rasa iri yang masih mengendap. “Mas…,” panggil Serayu lagi. Tangannya terulur, meraih lengan Abra yang terlipat di depan dada. Abra menatap wajah sang istri lama-lama. Bagaimana mungkin ia bisa kesal berlama-lama, kalau yang dihadapinya seperti ini? “Udah lama, ya?” Serayu kembali bertanya. Tangannya refleks merogoh saku jas dokternya, mencari ponsel. Sayangnya kosong. “Ponsel saya di loker, deh. Mas udah lama ya—” Kalimatnya terpotong karena Abra tiba-tiba menunduk, mengecup bibirnya singkat. Serayu membeku. Matanya membulat, napasnya tercekat sesaat sebelum refleks menoleh ke sekeliling. Nasib baik tempat itu sepi san kosong. Tak ada siapa pun di sana selain mereka berdua. Ia mengembuskan na
Abra mengembuskan napas pelan, mendengar kekhawatiran ibunya mengalir dari seberang sana. Ia mengerti, sang ibu selalu begitu setiap kali menyangkut Serayu. Yakinlah … kalau boleh jujur, sebagian dari dirinya pun merasakan hal yang sama. Ia juga ingin Serayu di rumah saja. Beristirahat, tidak kelelahan, tidak harus sesibuk itu di luar rumah hingga berjaga sampai larut malam. Namun ia tidak mungkin menahan mimpi yang ingin istrinya kejar. Dunia mereka yang membuat sang istri tetap hidup dan bisa menjadi dirinya sendiri. Lagipula, Serayu terlihat nyaman. Bahagia, bahkan. Berbeda dengan waktu itu, saat Serayu harus bedrest. Rumah yang biasanya hangat justru terasa sunyi. Serayu lebih sering diam, sorot matanya kehilangan cahaya yang biasa ia lihat. “Kamu kan tahu Serayu ada riwayat keguguran. Masa seorang Abra tidak bisa melakukan apa-apa? Minta tukar atau ganti dengan rekannya kan bisa,” kata Riani kembali menekan, sarat kecemasan. Abra menatap lurus ke depan, jemarinya meng
Serayu terdiam, kata-katanya seolah tertahan di tenggorokannya. Tangan Abra terulur, mengusap lembut rambut panjang yang sudah setengah kering itu. “Ribet, ya?” tanyanya pelan. Serayu mengangguk kecil, senyum tipis terselip di sudut bibirnya. Abra tentu saja paham karena selama ini, dialah yang sering membantu memasangkan sepatu istrinya. “Nanti kita beli yang lebih nyaman lagi,” ucap Abra, suaranya penuh kesungguhan. Serayu kembali mengangguk. Kali ini ia sedikit memajukan bibirnya, manja. Abra tersenyum melihat isyarat itu, lalu menunduk untuk mengecup singkat bibir istrinya. “Saya keringkan rambut kamu,” katanya kemudian. Tanpa ragu, Serayu langsung menegakkan duduknya dan menyerahkan hair dryer yang sejak tadi berada di atas meja riasnya. “Malam ini Mas bobo sendiri dulu ya,” godanya. Abra yang tadi bergerak santai mendadak diam. Tangannya berhenti, matanya menatap Serayu melalui pantulan cermin di depan mereka. “Kamu jaga malam ini?” tanyanya, suaranya lebih rendah. S
“Halo, Ma,” sapa Abra sambil meraih ponselnya—membuat Serayu tersentak. Dari balkon ia sempat menangkap tatapan Serayu—ada sesuatu yang tidak biasa di wajah cantik sang istri. Maka Abra pamit sebentar. Benar saja, mama yang menghubunginya.Serayu mengerjap sesaat, hendak pergi—memberi Abra ruang unt
FlashbackRyan menyusul Aileen hingga ke negara asing itu, masih dengan harapan bahwa ia bisa menebus semuanya. Namun pada akhirnya, ia menyerah. Aileen sudah membuang darah daging mereka. Di titik itu Ryan sadar—penolakan Aileen—tidak ada lagi yang bisa ia pertahankan.Beberapa tahun kemudian …Ser
“Benaran nggak apa-apa, Mas?” tanya Serayu pada suaminya.“Kalau perawatan ringan nggak masalah,” balas Abra.“Saya pilih perawatan yang aman dan nyaman untuk saya, tapi kalau untuk ibu … saya boleh ambil yang full paket?” tanya Serayu, meminta izin.Wanita itu sedang bergelayut manja di pangkuan su
Serayu tiba di apartemen bersama Abra. Ragu-ragu, wanita itu melangkah. Sepanjang jalan menuju apartemen tadi pun, ia lebih banyak diam.Begitu pintu terbuka, hal pertama yang menyambutnya adalah foto besar pernikahan mereka yang terpajang di dinding ruang tamu—foto yang sejak lama tergantung di san







