Share

89 : Kilas Masa Lalu

Penulis: Dinis Selmara
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-13 22:51:35
Malam itu, Serayu memandangi foto seorang anak kecil—wajah yang belakangan ini terus membayangi pikirannya tanpa henti. Begitu sadar usai operasi, entah mengapa, ingatan tentang janji manis masa kecil itu kembali menyeruak. Janji polos yang dulu terasa indah, tapi kini justru menyakitkan, karena ia sadar tak mungkin bisa menepatinya—ia telah menjadi milik lelaki lain.

Namun siapa sangka, lelaki yang kini menjadi suaminya ternyata adalah sosok yang sama—anak kecil yang pernah berjanji akan menikahinya di masa depan. Air mata Serayu jatuh tanpa bisa ia tahan. Satu per satu kenangan acak berloncatan dalam pikirannya bagai puzzle. Semuanya muncul sekaligus, seperti pusaran cahaya yang terlalu terang.

Pandangan Serayu memutih, kabur oleh cahaya yang menyilaukan—seputih kabut tebal yang saat itu menyelubungi pikirannya. Dalam kabut itu, ia berjalan perlahan, dan di sana… semua tentang Abra hadir begitu jelas.

Namun kenangan yang datang bertubi-tubi itu terlalu kuat, terlalu membahagiakan hin
Dinis Selmara

Permisi ... istri dr. Abra mau lewat bahaha... Btw, akad ulang itu merujuk pada status serayu yang aslinya anak di luar nikah ya gaes. Sebenarnya ada 2 versi masalah 'boleh dan nggak boleh pakai nasab bapak' meski aku nggak tulis lafaz nya di cerita. Sebelumnya aku ambil yang 'boleh' tapi ternyata kurang/lemah. Aku menerima semua masukan dan koreksi dari kalian semua ya... semuah ituh tak lain bentuk dukungan kalian padah akuh kan? Yang mau kasih GEM, aku terima sekali dengan lapang dada. Abra lagi nangkring top 11 di laman peringkat pilihan pembaca (GEM)-rumah tangga- berkat kalian hihi... terima kasih untuk dukungannya...

| 36
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (18)
goodnovel comment avatar
~•°Putri Nurril°•~
nahh kannnn bener tebakan aku kalau mereka udah terikat oleh benang merah sejak kecil.
goodnovel comment avatar
Eany Luphdieya
jadi udah sama2 lega dan merasa gk bersalah ya kan karena janji masa kecilnya terealisasikan
goodnovel comment avatar
Ovy Mamanya Arum
owalah... ternyata bener mereka tmn masa kecil yg telah mengikat janji ya. dan akhirnya di tepati jg
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   158. Menunggu

    Sementara itu di rumah sakit, Abra akhirnya keluar dari ruang operasi malam sudah pekat saja. Ia sedang bertukar pesan dengan Serayu yang memamerkan hidangan malam itu. Serayu mengambil alih dapur dari Bibi sengaja ingin memanjakan suaminya.Sudut bibir Abra terangkat tipis. Ia membalas pesan singkat itu mengatakan akan segera pulang, lalu menyimpan ponselnya di saku jaketnya. Tadi ia sudah meminta Aksa lebih dulu meninggalkan rumah sakit.Langkahnya baru beberapa meter menuju area parkir seketika sebuah suara lembut memanggil namanya.“Dokter Abra.”Abra menoleh. Wajahnya tetap datar meski mengenali sosok yang berdiri tak jauh darinya. Ia hanya mengangguk singkat, sekadar membalas sapaan tanpa bersuara.“Masih ingat saya, kan?” tanya wanita itu, kini berdiri di sampingnya.Abra tidak menjawab pertanyaan itu, hanya mengangguk saja. “Ryan sudah pulang sejak tadi,” katanya datar.Ara tertawa kecil, mememarkan lesung pipinya yang membuat wajahnya makin cantik. “Saya tidak sedang mencari

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   157. Teman Lama

    “Dokter Sedanu?” “Twin?” Keduanya terkejut bersamaan, mata mereka membulat dengan ekspresi yang nyaris serupa. Sepersekian detik kemudian, Serayu tersenyum. Senyum yang entah bagaimana berhasil menggetarkan hati Sedanu. Usai menuntaskan PPDS, Sedanu baru beberapa bulan mengabdi di rumah sakit ini. Ia tak menyangka, di antara hiruk pikuk rutinitas barunya, ia justru bertemu dengan wajah ini lagi. “Kenal?” tanya Amran heran menatap keduanya bergantian. “Oh, jelas. Ini playboy cap kapak. Semua cewek kenal dia,” canda Amran disusul tawa yang lain. Sedanu hanya menggeleng malas. Sejak bergabung di rumah sakit ini, memang banyak perempuan yang mendekatinya setelah identitasnya terbuka sebagai bagian dari keluarga besar yang namanya cukup disegani di dunia kedokteran. Namun tak satu pun yang benar-benar mampu menarik hatinya. Itu pula alasan ia memilih tidak melanjutkan karier di rumah sakit milik keluarga Abra, meski punya bagian di sana. Ia tak ingin disangka menumpang nama besar kelua

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   156. First Day of Intership

    Serayu duduk di depan meja rias memoles wajahnya tipis. Sementara Abra menatap istrinya dengan tatapan tak suka. “Mau tugas apa mau ngapain kamu?” tanya Abra sinis. Hari ini akhirnya tiba, hari pertama internship yang sudah lama Serayu tunggu. “Ayo, Mas. Saya sudah siap,” ajaknya sambil meraih lengan suaminya yang berjalan sedikit malas. Serayu sudah rapi mengenakan setelan intern. Wajahnya tampak tegang, gugupnya tidak bisa disembunyikan. Tangannya berkali-kali merapikan name tag. Di sampingnya, Abra mengemudi dengan santai, meski sesekali matanya melirik ke arah istrinya yang gelisah. “Waktu koas dulu kamu se-excited ini juga?” tanya Abra sinis. Serayu mengerutkan kening, berpikir sejenak. “Iya… iya juga sih.” “Sih?” ulang Abra, tidak puas. “Maksudnya deg-degannya sama, Mas,” jawab Serayu. Abra tetap saja tidak puas dengan jawaban istrinya. Mobil yang dikemudikan Abra akhirnya berhenti tepat di depan rumah sakit. Serayu menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri, lalu b

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   155. Sweet Abra

    “Siapa, Mas?” tanya Serayu begitu Abra masuk ke dalam mobil. “Serius sekali.” Abra tidak menjawab. Ia hanya tersenyum kaku, lalu mengusap puncak kepala kesayangannya. Setelah itu, ia pun menyalakan mesin mobil. “Kita berangkat sekarang ya,” katanya, jelas sekali mengalihkan pembicaraan. Serayu menangkap hal itu. Ia tahu suaminya sengaja menghindar, tapi memilih diam. Jalan yang Abra pilih terasa lebih jauh, berputar dan sedikit memakan waktu. Lampu-lampu kota berderet seperti garis samar di balik kaca jendela. Hingga akhirnya mereka tiba di sebuah restoran yang tidak terlalu ramai. Abra melangkah lebih dulu, memilih meja yang agak jauh dari pintu utama. “Di sini saja, Sayang,” sarannya. Serayu duduk dan langsung membuka buku menu, matanya menyapu daftar hidangan. Di seberangnya, Abra justru sibuk dengan ponselnya. Wajahnya serius, membuat alis Serayu mengernyit. Tak lama kemudian, ponsel itu berdering. Abra sontak berdiri. “Sayang, tunggu di sini sebentar ya. Saya terima

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   154. Istri Seorang Dokter

    Ara menyentuh pelipisnya, jari-jarinya sedikit gemetar meski napasnya sudah jauh lebih teratur dibanding beberapa menit lalu. “Dok… bisa ke RS Husada saja?” pintanya pelan, suaranya terdengar lebih stabil. “Saya sudah lebih baik. Di sana ada kenalan saya.” Abra melirik sekilas, memastikan perempuan itu benar-benar sadar dan tidak tampak semakin lemah. Ia mengangguk tanpa banyak tanya. Dalam pikirannya, yang penting perempuan itu mendapat penanganan medis secepatnya, di mana pun tempatnya. “Baik,” jawab Abra singkat. Ia membelokkan setir, mengubah arah menuju RS Husada. Tidak ada niat lain, semua ia lakukan semata karena refleks seorang dokter yang melihat orang lain terluka. Di tempat lain, di sisi jalan yang mulai lengang, Serayu duduk sendirian di halte. Ia sudah mencoba memesan taksi online berkali-kali, tapi lucunya tidak ada yang menerima pesanannya Ia menghela napas kesal, menengadah sebentar menatap langit yang berubah keemasan. “Kok bisa nggak lewat sih…,” gumamnya lir

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   153. Salah Paham

    Abra kembali ke rumah sakit lebih dulu, meninggalkan Ara dan Ryan di restoran. Bukan Abra banget yang mau basa-basi. Lelaki itu bahkan pergi tanpa berpamitan pada Ara yang sempat memperhatikan punggung tegap lelaki itu menjauh. Di kantornya, Abra langsung menutup pintu dan merebahkan punggung sebentar ke sandaran kursi. Kepalanya terasa penuh, bukan oleh pekerjaan, melainkan oleh rindu yang datang tiba-tiba. Tanpa ragu, ia meraih ponsel dan menekan video call. Layar ponselnya memperlihatkan Serayu di sana dengan kaus kebesaran yang ia kenali. Wanita itu mengenakan celana pendek sederhana, rambut diikat asal. Wajahnya segar, tanpa riasan, tapi justru itu yang membuat Abra tersenyum lebar. “Hai… Mas sayang …,” sapa Serayu ceria. “Mana boleh cantik tiap hari,” kata Abra sambil menyandarkan kepala, matanya menyapu layar dengan puas. Serayu mendengus kecil. “Cantik tiap hari buat suami, kan?” “Bagus,” jawab Abra singkat, tapi nadanya penuh bangga. “Pakai kaos saya?” Serayu menganggu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status