LOGINPermisi ... istri dr. Abra mau lewat bahaha... Btw, akad ulang itu merujuk pada status serayu yang aslinya anak di luar nikah ya gaes. Sebenarnya ada 2 versi masalah 'boleh dan nggak boleh pakai nasab bapak' meski aku nggak tulis lafaz nya di cerita. Sebelumnya aku ambil yang 'boleh' tapi ternyata kurang/lemah. Aku menerima semua masukan dan koreksi dari kalian semua ya... semuah ituh tak lain bentuk dukungan kalian padah akuh kan? Yang mau kasih GEM, aku terima sekali dengan lapang dada. Abra lagi nangkring top 11 di laman peringkat pilihan pembaca (GEM)-rumah tangga- berkat kalian hihi... terima kasih untuk dukungannya...
“Siapa, Mas?” tanya Serayu begitu Abra masuk ke dalam mobil. “Serius sekali.” Abra tidak menjawab. Ia hanya tersenyum kaku, lalu mengusap puncak kepala kesayangannya. Setelah itu, ia pun menyalakan mesin mobil. “Kita berangkat sekarang ya,” katanya, jelas sekali mengalihkan pembicaraan. Serayu menangkap hal itu. Ia tahu suaminya sengaja menghindar, tapi memilih diam. Jalan yang Abra pilih terasa lebih jauh, berputar dan sedikit memakan waktu. Lampu-lampu kota berderet seperti garis samar di balik kaca jendela. Hingga akhirnya mereka tiba di sebuah restoran yang tidak terlalu ramai. Abra melangkah lebih dulu, memilih meja yang agak jauh dari pintu utama. “Di sini saja, Sayang,” sarannya. Serayu duduk dan langsung membuka buku menu, matanya menyapu daftar hidangan. Di seberangnya, Abra justru sibuk dengan ponselnya. Wajahnya serius, membuat alis Serayu mengernyit. Tak lama kemudian, ponsel itu berdering. Abra sontak berdiri. “Sayang, tunggu di sini sebentar ya. Saya terima telep
Ara menyentuh pelipisnya, jari-jarinya sedikit gemetar meski napasnya sudah jauh lebih teratur dibanding beberapa menit lalu. “Dok… bisa ke RS Husada saja?” pintanya pelan, suaranya terdengar lebih stabil. “Saya sudah lebih baik. Di sana ada kenalan saya.” Abra melirik sekilas, memastikan perempuan itu benar-benar sadar dan tidak tampak semakin lemah. Ia mengangguk tanpa banyak tanya. Dalam pikirannya, yang penting perempuan itu mendapat penanganan medis secepatnya, di mana pun tempatnya. “Baik,” jawab Abra singkat. Ia membelokkan setir, mengubah arah menuju RS Husada. Tidak ada niat lain, semua ia lakukan semata karena refleks seorang dokter yang melihat orang lain terluka. Di tempat lain, di sisi jalan yang mulai lengang, Serayu duduk sendirian di halte. Ia sudah mencoba memesan taksi online berkali-kali, tapi lucunya tidak ada yang menerima pesanannya Ia menghela napas kesal, menengadah sebentar menatap langit yang berubah keemasan. “Kok bisa nggak lewat sih…,” gumamnya lir
Abra kembali ke rumah sakit lebih dulu, meninggalkan Ara dan Ryan di restoran. Bukan Abra banget yang mau basa-basi. Lelaki itu bahkan pergi tanpa berpamitan pada Ara yang sempat memperhatikan punggung tegap lelaki itu menjauh. Di kantornya, Abra langsung menutup pintu dan merebahkan punggung sebentar ke sandaran kursi. Kepalanya terasa penuh, bukan oleh pekerjaan, melainkan oleh rindu yang datang tiba-tiba. Tanpa ragu, ia meraih ponsel dan menekan video call. Layar ponselnya memperlihatkan Serayu di sana dengan kaus kebesaran yang ia kenali. Wanita itu mengenakan celana pendek sederhana, rambut diikat asal. Wajahnya segar, tanpa riasan, tapi justru itu yang membuat Abra tersenyum lebar. “Hai… Mas sayang …,” sapa Serayu ceria. “Mana boleh cantik tiap hari,” kata Abra sambil menyandarkan kepala, matanya menyapu layar dengan puas. Serayu mendengus kecil. “Cantik tiap hari buat suami, kan?” “Bagus,” jawab Abra singkat, tapi nadanya penuh bangga. “Pakai kaos saya?” Serayu menganggu
Tidak dibenci oleh Riani, tapi mertuanya hanya malu memiliki menantu miskin. Nyatanya Itu bukan penolakan terhadap Serayu, tapi pengakuan atas luka Riani yang belum sembuh di masa lalu. Abra meminta Serayu untuk tidak memikirkan hal itu lagi. Tidak perlu memikirkan apa yang Riani katakan. *** Hari ini Abra kembali bekerja dan Serayu hanya akan menghabiskan seharian di rumah saja. Entah kenapa, pikiran itu membuat dadanya terasa sedikit kosong. Saat Abra bersiap merapikan kemeja dan jam tangannya, Serayu mendekat dari belakang. Ia memeluk suaminya erat, pipinya menempel di punggung Abra. Pelukan itu bukan manja biasa, tapi lebih seperti permohonan agar waktu berjalan sedikit lebih lambat saja. “Saya beneran nggak ke rumah sakit kalau kamu seperti ini,” kata Abra sambil tertawa kecil. Serayu langsung melepas pelukannya. “Yaudah,” katanya cepat, lalu mendengus pelan. Abra berbalik menghadapnya. “Ikut saya ke rumah sakit saja, ya,” ajaknya, entah sudah yang keberapa kali. “Ng
Riani terdiam cukup lama setelah pertanyaan itu meluncur dari bibir Serayu. Matanya menatap ke depan, jarinya bergerak pelan, seolah meraba ingatan yang tercerai-berai.“Saya tidak benci,” katanya akhirnya, suaranya rendah. “Saya malu,” akunya.Serayu mengerutkan keningnya halus. Kata malu membuatnya kian penasaran.“Sejak kecil,” lanjut Riani, “hidup saya selalu kekurangan. Punya ayah miskin. Kami dihina, diremehkan. Saya tumbuh dengan rasa ingin menghilang saja setiap hari.” Ia tertawa kecil, namun terdengar pahit. “Sampai hari di mana… ibu saya tidak kuat. Kamu pergi meninggalkan ayah saya, lalu beliau menikah dengan laki-laki kaya. Hidup kami berubah. Terpandang. Kami … kami baik-baik saja setelah itu. Dipuja-puji, saya tumbuh cantik dan pintar karena perawatan dan Pendidikan yang bagus.” Riani menghela napas, matanya berkabut. “Kemiskinan tidak lagi menjadi momok yang menakutkan. Tidak takut tidak makan. Tidak ada yang berani menghina lagi.”Serayu menahan napas. Dadanya terasa se
Pesan yang masuk malam itu ternyata penting. Pesan dari Aksa, berisi jadwal Abra untuk satu minggu ke depan. Ada beberapa perubahan, membuat kepulangan mereka esok hari justru terasa tepat. Mereka akan kembali, lalu datang lagi lain waktu untuk melihat progres rumah orang tua Serayu yang tengah direnovasi. Waktu yang dimaksud tepat untuk Abra. Sementara Serayu masih menunggu penugasan berikutnya. Siang harinya, keduanya berpamitan pada orang tua Serayu. Pelukan dan doa mengiringi kepergian mereka. “Aslinya masih pengen lama-lama,” kata Serayu jujur. “Dua hari ternyata nggak cukup.” “Ya mau bagaimana lagi,” jawab Abra santai, sama sekali tanpa rasa bersalah. “Saya nggak bisa jauh dari kamu walau sebentar.” Serayu terkekeh geli mendengarnya. “Saya sudah bilang ke ibu dan ayah, selama renovasi pindah dulu ke apartemen saja.” “Mana mau ayah sama ibu,” sambung Serayu. “Nggak mau merepotkan.” “Padahal saya senang dikunjungi,” kata Abra lagi, lalu menoleh ke istrinya dengan senyum







