تسجيل الدخولKonfrontasi di depan sekolah Arthur akan menjadi hari yang paling mematikan bagi Julian Cavendish. Di bawah kepungan kilatan kamera jurnalis yang awalnya menyudutkan Kiya, tiga mobil Mercedes-Benz hitam legam milik Valerius Group datang mengepung lokasi.Kenzo Valerius keluar terlebih dahulu, disusul oleh Kiya yang melangkah dengan keanggunan seorang ratu. Di belakang mereka, tim pengacara nomor satu di negara ini langsung menyodorkan berkas pengadilan tinggi. Hak asuh darurat atas Arthur berhasil dipindahkan ke tangan Kiya atas tuduhan eksploitasi anak di bawah umur dan manipulasi publik.Julian yang mematung di tempat, tidak bisa berkutik saat polisi yang dibawa Kenzo mulai memasang borgol di tangannya. Rekeningnya dibekukan, izin bisnisnya dicabut, dan hari itu menjadi kejatuhan total bagi Cavendish.Kiya lalu berlutut di atas aspal, mencoba meraih tubuh mungil putranya."Arthur... Sayang, ini Mommy," lirih Kiya. Suaranya yang biasa terdengar sinis dan tajam di ruang rapat, kini be
Kabar tentang Kiya yang mendatangi klinik kesuburan secara rahasia pecah di media gosip keesokan paginya. Headline besar dengan judul provokatif mampir di seluruh portal berita: "Calon Nyonya Valerius Datangi Klinik Kandungan Secara Rahasia, Benarkah Rumor Piala Cacat Itu Nyata?"Di dalam ruang rapat utama Valerius Group, suasana mendadak mencekam. Beberapa jajaran direksi dari keluarga besar Valerius—yang selama ini menentang keputusan Kenzo memilih Kiya—mulai berbisik-bisik sinis."Kenzo, saham kita memang naik karena koleksi kemarin," ucap paman Kenzo, seorang pria tua berwajah masam bernama Bram Valerius. "Tapi Valerius Group butuh stabilitas moral. Kami tidak bisa membiarkan calon Nyonya Muda Valerius menjadi bahan gunjingan karena masalah... kemandulan."Kenzo, yang duduk di ujung meja panjang, hanya menatap pamannya dengan pandangan bosan. Ia tidak terlihat panik sedikit pun. Di sampingnya, Kiya duduk dengan anggun, mengenakan dress brokat hitam formal, sibuk memeriksa kukunya
Empat belas hari tersisa, dan mansion mewah Kenzo Valerius mulai terasa seperti sangkar emas yang dipenuhi bom waktu.Kiya menatap deretan botol obat kecil berlabel bahasa Jerman di atas meja riasnya. Suplemen penguat rahim, vitamin kesuburan, dan hormon. Setiap pagi, sebelum matahari sepenuhnya bangun, ia menelan semuanya dengan segelas air putih. Di cermin, ia melihat bayangannya sendiri—seorang wanita yang tampak luar biasa cantik di luar, namun menyimpan kecemasan yang menggerogoti jiwanya dari dalam.Satu bulan. Hanya satu bulan untuk membuktikan bahwa rahim ini belum mati."Kalau kau menatap botol-botol itu lebih lama lagi, mereka bisa pecah, Kiya."Suara bariton yang berat mengejutkannya. Kenzo bersandar di bingkai pintu kamar mandi, hanya mengenakan celana kain hitam longgar. Rambutnya yang sedikit basah jatuh di dahinya, memberikan kesan berantakan yang justru terlihat sangat jantan. Pria itu berjalan mendekat, langkahnya seringan predator, lalu berhenti tepat di belakang K
Julian menatap Kiya dengan pandangan menghina. "Rahimnya rusak dua tahun lalu. Dia bodoh karena melindungiku dari tikaman pisau saat aku diserang orang tak dikenal. Saat itu, dokter bilang rahminya terluka dan dia tidak akan bisa hamil lagi. Kau akan menikahi piala yang cacat, Valerius. Dia tidak akan pernah bisa memberimu pewaris yang sangat didambakan keluarga besarmu!"Keheningan yang memuakkan menyelimuti area itu. Isabella Sterling terkekeh di belakang Julian, menikmati momen di mana ia merasa Kiya akhirnya hancur. Namun, reaksi Kenzo di luar dugaan mereka.Kenzo tidak melepaskan genggamannya pada tangan Kiya. Ia justru menatap Julian dengan rasa jijik. "Kau membiarkan seorang wanita melindungi nyawamu, lalu sekarang kau menghinanya karena pengorbanan itu? Pantas saja bisnismu sedang menghadapi kehancuran, Julian. Kau bahkan bukan seorang pria. Kau hanya sampah pengecut yang kebetulan memakai jas mahal."Kenzo tidak memberi kesempatan Julian membalas. Ia menarik Kiya menuju ruang
Hari yang dinanti tiba. Ballroom hotel bintang lima tempat berlangsungnya Grand Fashion Show Valerius Group dipenuhi oleh jurnalis, kritikus mode kelas dunia, dan jajaran sosialita papan atas. Aroma kemewahan tercium di setiap sudut, namun ketegangan di balik panggung jauh lebih terasa.Kiya berdiri di depan cermin besar, mengenakan gaun sutra minimalis berwarna hitam yang menunjukkan otoritasnya sebagai otak di balik acara ini. Wajahnya masih sedikit pucat, sisa demam semalam belum sepenuhnya hilang, namun matanya menyala dengan ambisi yang tak terbendung."Nona Krystalia, sepuluh menit lagi," lapor Lucas dengan nada penuh hormat. "Semua kursi terisi penuh. Julian Cavendish dan Isabella Sterling duduk di baris ketiga."Kiya tersenyum miring, memoleskan lip gloss ke bibirnya. "Baris ketiga? Kasihan sekali. Sepertinya reputasi Cavendish benar-benar sedang merosot. Pastikan lampu sorot mengenainya saat koleksiku keluar. Aku ingin melihat wajahnya dengan jelas."***Lampu di dalam ballro
Suara deru helikopter dan teriakan tim pencari memecah kesunyian hutan yang masih basah. Matahari pagi baru saja mengintip di balik perbukitan saat Giselle Valerius — sepupu dari Kenzo yang secara kebetulan juga sahabat dari Kiya — melompat turun dari kendaraan off-road dengan wajah panik. "Kenzo! Kiya! Kalian di mana?!" teriak Giselle histeris.Di belakangnya, Lucas—asisten pribadi Kenzo yang selalu tampak rapi dan tenang—kini terlihat berantakan dengan sepatu bot penuh lumpur. "Nona Giselle, tenanglah. Tim SAR sudah melacak koordinat helikopter Tuan Kenzo."Saat mereka mencapai mulut gua, pemandangan di dalamnya membuat semua orang terpaku. Kenzo Valerius duduk bersandar di dinding batu, kemeja hitamnya sudah tidak terkancing, membungkus tubuh Kiya yang mungil di dalam dekapan dadanya yang bidang. Jas mahalnya menyelimuti bagian bawah tubuh wanitanya."Tuan!" Lucas berlari mendekat.Kenzo mengangkat tangan, memberi isyarat agar mereka diam. Wajahnya yang biasanya sedingin es kini t







