แชร์

bab 64

ผู้เขียน: Noah harun
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-02 12:43:00

Beberapa prajurit malam itu berkumpul di sebuah tempat yang tersembunyi jauh dari pusat kota.

Mereka duduk bersama sambil membahas perintah Jendral Huang.

Suasana begitu sunyi.

Masing-masing tampak memikirkan rencana yang akan mereka jalankan.

Tak lama kemudian.

Salah seorang di antara mereka membuka pembicaraan.

" Bagaimana pendapat kalian semua tentang Plan B Jendral Huang?"

Seorang prajurit lainnya menghela napas pelan.

Lalu menjawab dengan nada ragu.

" Menurutku... Plan B
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Bukan Istri Pajangan Sang Jenderal    Bab 83

    Jendral Huang masih mengunci tubuh Zhang Ziyi dengan erat. Pedangnya menempel di leher sang kaisar, sementara matanya terus mengawasi keadaan di sekelilingnya. Ia tahu bahwa para pengawal istana maupun pasukan Zhang Xin tidak akan berani menyerang selama Zhang Ziyi masih berada dalam genggamannya. Zhang Ziyi yang tidak dapat bergerak leluasa terus mencari celah untuk melepaskan diri. Ia kemudian mencoba mengalihkan perhatian Jendral Huang dengan berbicara kepadanya. "Huang, jika kau melepaskan aku, aku akan memberikan mahkota kerajaan ini kepadamu. Kau bisa mendapatkan apa yang selama ini kau inginkan. Tetapi jika kau membunuhku, kau tidak akan pernah bisa keluar dari istana ini karena pasukan Zhang Xin sudah mengepung tempat ini." Mendengar perkataan itu, Jendral Huang tidak bergeming. Ia justru semakin marah dan membentak, "Diam! Kau kaisar bodoh! Seharusnya akulah yang duduk di atas takhta itu, bukan kau!" Dalam kemarahannya, perhatian Jendral Huang teralihkan dan tekanannya te

  • Bukan Istri Pajangan Sang Jenderal    Bab 82

    Ketika para pengawal istana bergerak menyerang, Jendral Huang segera mencabut pedangnya."Sreeeng!"Beberapa pengawal langsung menyerbu dari berbagai arah.Jendral Huang dengan tenang menangkis setiap serangan yang datang.Trang! Trang! Trang!Suara benturan pedang bergema memenuhi aula istana.Pertempuran sengit pun tak terhindarkan.Meski para pengawal merupakan prajurit pilihan kerajaan yang memiliki ilmu bela diri tinggi, Jendral Huang tetap mampu mengimbangi mereka.Namun...Jumlah lawannya terlalu banyak.Sedikit demi sedikit Jendral Huang mulai terdesak.Tatapannya menyapu seluruh ruangan.Tiba-tiba...Matanya tertuju kepada Kaisar Zhang Ziyi yang masih berdiri memperhatikan jalannya pertarungan.Senyum licik pun muncul di sudut bibirnya."Kalau begitu...""Jangan salahkan aku!"Dengan gerakan yang sangat cepat, Jendral Huang

  • Bukan Istri Pajangan Sang Jenderal    Bab 81

    Wajah Kaisar Zhang Ziyi seketika memucat. Kini ia semakin yakin bahwa Jendral Huang benar-benar telah merencanakan kudeta terhadapnya. Tanpa membuang waktu, ia segera memerintahkan para pengawal istana. "Segera panggil seluruh pasukan kerajaan yang masih setia kepadaku!" "Perketat penjagaan di setiap pintu istana!" "Baik, Yang Mulia!" jawab para pengawal serempak sebelum berlari melaksanakan perintah. Setelah itu, Zhang Ziyi bergegas menemui Zhuang Ling di halaman istana. Meski berusaha tetap tenang, sorot matanya tak mampu menyembunyikan kegelisahan. "Nyonya Zhuang Ling..." "Keadaan semakin genting." "Jendral Huang telah membawa pasukannya menuju istana." Mendengar kabar itu, wajah Zhuang Ling langsung berubah pucat. "B... bagaimana dengan suamiku, Yang Mulia?" tanyanya dengan suara bergetar. Zhang Ziyi menarik napas panjang. "Jangan khawatir." "Hari ini juga aku akan mengirimkan pengawal untuk mengantarmu menemui Kaisar Zhang Xin." "Kau harus segera m

  • Bukan Istri Pajangan Sang Jenderal    bab 80

    Setelah menerima surat dari Zhuang Ling, Zhang Xin akhirnya memutuskan memasuki Kota Nangking bersama utusan Kaisar Zhang Ziyi. Berbeda dengan yang ia bayangkan, penjagaan di gerbang kota tidak terlalu ketat. Para prajurit yang berjaga segera membuka jalan setelah melihat utusan kerajaan membawa surat perintah dari Kaisar Zhang Ziyi. Rombongan mereka pun perlahan memasuki Kota Nangking. Tak jauh dari gerbang utama, Zhang Xin melihat seorang pria telah menunggu di pinggir jalan. Tubuhnya tinggi dan tegap. Pakaiannya sederhana, sama sekali tidak menunjukkan kemewahan seorang kaisar. Namun begitu rombongan berhenti, pria itu melangkah maju dan membungkukkan badan dengan sopan. "Salam hormat, Kaisar Zhang Xin. Aku adalah Zhang Ziyi." Zhang Xin turun dari kudanya lalu membalas penghormatan itu. "Kaisar Zhang Ziyi." Keduanya saling menatap beberapa saat. Dari sorot mata Zhang Xin, ia dapat melihat wajah Zhang Ziyi tampak pucat. Senyum yang menghiasi bibirnya pun seolah menye

  • Bukan Istri Pajangan Sang Jenderal    Bab 79 Jendral Huang memberontak

    Di halaman kediaman Jendral Huang, kedua pasukan kini saling berhadapan. Tidak ada satu pun yang bersedia mengalah. Pedang-pedang telah terhunus, tombak diarahkan ke depan, dan setiap prajurit bersiap menghadapi kemungkinan terburuk. Suasana begitu mencekam. Hanya suara angin yang berembus pelan di antara dua barisan pasukan yang saling menatap dengan tajam. Pasukan kerajaan yang datang atas perintah Kaisar Zhang Ziyi menganggap Jendral Huang telah terang-terangan membangkang terhadap titah Kaisar. Di sisi lain, Jendral Huang merasa Kaisar Zhang Ziyi tidak lagi layak memimpin Kerajaan Nangking. Baginya, semua keputusan Kaisar hanya menghalangi ambisinya. Beberapa saat berlalu dalam keheningan. Tiba-tiba, kepala pasukan kerajaan mengangkat tangannya tinggi-tinggi. "Pasukan!" "Mundur!" Perintah itu menggema di seluruh halaman. Para prajurit kerajaan perlahan menurunkan senjata mereka, lalu mundur beberapa langkah dengan tetap menjaga kewaspadaan. Sebelum pergi, kepala

  • Bukan Istri Pajangan Sang Jenderal    Bab 78 Jendral Huang terkurung di dalam rumahnya

    Mata-mata yang mengawasi kediaman Jendral Huang semakin penasaran. Ia memutuskan untuk tidak terburu-buru kembali ke perbatasan. Selama beberapa hari berikutnya, mereka diam-diam terus memperhatikan setiap gerak-gerik yang terjadi di rumah sang Jendral. Setelah merasa tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan, mereka sepakat untuk kembali ke perbatasan Kota Nangking dan melaporkan semua hasil pengamatan mereka kepada Kaisar Zhang Xin. Sementara itu, di kediaman Jendral Huang, suasana tampak berjalan seperti biasa. Di paviliunnya, Lie Ming sedang merawat Shao Yang dengan ditemani beberapa pelayan. Tidak ada seorang pun yang menyangka bahwa ketenangan itu akan segera berubah. Tiba-tiba, puluhan prajurit kerajaan yang setia kepada Kaisar Zhang Ziyi berhenti di depan gerbang kediaman Jendral Huang. Tanpa membuang waktu, mereka segera memasuki halaman rumah dengan langkah tergesa-gesa. Wajah mereka tampak tegang, seolah sedang menjalankan perintah yang sangat penting. Para pelaya

  • Bukan Istri Pajangan Sang Jenderal    Bab 6 Kepulangan Zhuang Ling

    Pintu benar-benar terbuka. Cahaya dari luar menyelinap masuk, memotong kegelapan kamar seperti bilah tipis. Zhang Xin tidak menurunkan pedangnya. Tangannya tetap siaga, matanya tajam mengunci setiap gerakan di ambang pintu. Liu berdiri diam di sisi lain. Napasnya pelan, tapi seluruh tubuhny

  • Bukan Istri Pajangan Sang Jenderal    Bab 5 lolos dari penjara

    “Hei! Bangun!” Teriakan prajurit menggema di dalam sel. Air dingin disiramkan ke wajah Zhuang Ling. Seketika tubuhnya tersentak, wajahnya basah kuyup. Zhuang Ling membuka mata perlahan. Tubuhnya terasa nyeri di setiap bagian, akibat siksaan semalam. Pandangan matanya masih kabur. Samar-

  • Bukan Istri Pajangan Sang Jenderal    Bab 4 Zhuang Ling minta cerai

    Zhuang Ling melangkah keluar dari kamarnya disertai beberapa pelayannya yang setia, Quang Ling, Shen Ming, dan Zhuang Liu ikut menemaninya. Mereka membawa sebuah peti kayu yang berisi perhiasan serta barang berharga pemberian Jenderal Huang selama ia menjadi istrinya. Langkah mereka terdengar t

  • Bukan Istri Pajangan Sang Jenderal    Bab 3 Lie Ming Hamil

    Jenderal Huang terkejut sejenak ketika istrinya, Zhuang Ling, ingin bercerai. “Cerai?!… kau mau cerai denganku… gara-gara aku bersama Lie Ming?” seru Jenderal Huang kaget. “Zhuang Ling… jika kau ingin cerai, aku tak keberatan. Tapi… jangan harap kau mendapat apa pun dariku!” ancam Jenderal Huan

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status