مشاركة

Cheese Cake dari Davin

مؤلف: Rhea S
last update تاريخ النشر: 2026-07-27 11:34:10

Ayunindya ingat malam itu. Siangnya dia masih bekerja dan Davin pergi ke lokasi peluncuran produk terbaru. Tapi tiba-tiba malamnya dia pulang dalam keadaan mabuk. Rupanya dia mabuk karena frustasi memikirkan Cantika.

“Siapa di sana?”

Suara tumpukan map dokumen yang jatuh dari tangan Ayunindya membuat Davin sadar ada orang di luar pintu.

Ayunindya gelagapan. Dia tak mau ketahuan dan memilih pergi tapi tangan Davin lebih cepat memegang pergelangan tangan Ayunindya.

Tatapan mereka bertemu. Davin yang tadinya ingin marah tiba-tiba tertegun saat melihat mata Ayunindya berkaca-kaca.

“Kamu mendengar semuanya?” tanya Davin datar.

Ayunindya tersenyum keluh. Dia menahan laju air mata. “Aku hanya ingin meletakkan dokumen ini di mejamu. Tolong lepaskan tanganku.”

“Jangan diulangi lagi. Aku tidak suka ada orang yang menguping.”

Ayunindya mengangguk dan tersenyum hambar. “Seperti yang kamu mau, Pak Davin.”

Dia menarik paksa tangannya dari genggaman Davin. Nyeri di pergelangan tangan tak seberapa dibanding perih di hatinya. Dia putuskan berbalik arah dan melangkah pergi tanpa menoleh.

“Aku mengerti. Malam itu hanya sebuah kesalahan dan itu artinya calon bayi ini hanya akan jadi milikku,” gumam Ayunindya dalam hati.

Davin masih berdiri di sana. Melihat betapa rapuh tatapan istrinya membuat Davin merasa tak tenang. Tapi dia sendiri tak paham kenapa harus merasa tidak tenang. Bukankah dia sangat ingin berpisah dari Ayunindya.

Cantika menyunggingkan senyum kemenangan dari tempatnya duduk. Dia yang sengaja tidak menutup pintu dengan rapat.

“Davin!”

Suara lembut dan manja milik Cantika langsung menyadarkan Davin. Dia kembali masuk ke dalam ruangan. Kembali pada wanita yang membuatnya terpesona sejak masa kuliah.

Davin masih ingat waktu dulu mengenalkan Cantika pada keluarganya, kakeknya terlihat tak peduli. Namun saat dia serius dan ingin melamar Cantika, kakeknya langsung bereaksi. Menolak Cantika dan menikahkan dia dengan Ayunindya yang tak dia kenal sama sekali.

Sementara Ayunindya kini berada di meja kerjanya yang baru. Dia sekarang satu ruangan dengan karyawan yang lain.

Ayunindya berusaha terlihat baik-baik saja di depan semua orang meski perasaannya saat ini porak poranda dan sangat ingin menghilang ke inti bumi. Tak perlu bertemu siapa pun dan melihat apapun. Hanya berdua dengan calon buah hatinya.

“Bu Ayu,” satpam kantor memanggil. Entah berapa lama Ayunindya pura-pura mengetik di depan komputer hingga dia tak sadar ada yang memanggilnya.

“Iya Pak?”

“Ada paket buat Bu Ayu. Tadi kurir dari toko kue mengantarkan ini,” ucap satpam itu meletakkan kotak berisi cheese cake.

“Terima kasih Pak,” Ayu tersenyum hambar. Tak perlu dia tanyakan siapa pemberinya. Dari kartu pesan yang diselipkan di kotak kue dia sudah tahu kalau Davin yang mengirimkan.

“Aku membelikan cheese cake kesukaanmu.”

Ayunindya membaca deretan kata singkat yang ditulis Davin tanpa nama pengirim. Setiap kali pria itu melihat matanya berkaca-kaca maka Davin akan memberikan dia cheese cake.

Dia memilih menggeser kotak kue itu ke ujung meja. Bukan tak suka pada rasanya tapi luka di hati membuat cheese cake itu tak punya makna dan kehilangan rasa.

“Kamu membelikan dia kue, Davin!” sungut Cantika melihat dari kejauhan.

Cantika tentu saja tahu karena Davin mengajaknya belanja tadi.

“Hanya cheese cake. Bukankah kamu belanja sangat banyak, Ca?”

Cantika mengatupkan bibirnya. Menyadari ada banyak kantong belanjaan di tangannya. “Davin tunggu!”

Cantika berlari menuju lift menyusul langkah kaki Davin yang lebar.

“Kenapa kamu belum menceraikan dia, Davin?” pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Cantika. Dia bisa melihat pantulan wajah Davin di pintu lift. Pria itu wajahnya terlihat datar tanpa ekspresi.

“Kamu tahu aku tidak bisa. Kakek–”

“Aku mengerti. Tapi kalau dia yang pergi meninggalkanmu bagaimana? Semua akan tetap jadi milikmu ‘kan?” Cantika benar-benar ingin tahu.

“Dia tidak mungkin pergi, Ca.” jawab Davin dingin sambil menyelipkan tangannya ke dalam saku celana. Dia tahu Ayunindya tidak punya tempat pulang selain padanya.

Cantika diam tapi kepalan tangannya mengeras. Dia sadar tak semudah itu menggeser posisi Ayunindya.

Saat pintu lift terbuka Cantika memilih pergi ke arah lain. Dia masuk ke ruangan kosong dan menelepon sebuah nomor.

“Halo, aku mau kalian melakukan sesuatu untukku.”

***

Meja makan terlihat sudah tertata rapi dengan berbagai makanan lezat. Puspita mengundang Cantika makan malam. Dia bahkan sudah memilihkan pakaian terbaik untuk Davin malam ini.

Sementara Ayunindya hanya memakai baju kaos santai dan rok panjang. Dia bahkan tidak diberitahu acara makan malam ini. Tatapannya hanya beralih ke pelayan yang sibuk bolak-balik menyalakan lilin dan membawa bunga.

“Davin, ada suara bel. Pasti Cantika sudah datang. Ayo kita ke depan,” ajak Puspita langsung beranjak dari duduknya dengan semangat. Dia pura-pura tak melihat Ayunindya yang berdiri kikuk di dekat meja makan.

“Mama saja. Aku sudah terlanjur duduk di sini.”

“Baiklah,” Puspita sedikit kecewa tapi dia melangkah juga ke ruang depan.

“Kenapa masih berdiri? Duduklah. Ini cuma makan malam biasa,” tegur Davin.

“Iya.”

Baru saja duduk, Puspita yang datang bersama Cantika langsung memintanya berdiri.

“Cantika mau makan bakso. Kamu beli di depan ya.”

“Tapi bukannya makanan sudah banyak di meja,” bantah Ayunindya.

Cantika langsung memasang wajah kecewa. “Davin, aku sudah lama di luar negeri. Malam ini entah kenapa maunya makan bakso.”

“Ayu, kamu harus menghormati keinginan tamu,” sergah Puspita dengan tatapan jengah.

Davin menghembuskan napas kasar. Dia tak mau makan malamnya diawali dengan keributan hanya karena hal sepele. “Sudahlah. Ayu kamu ke depan komplek sana. Seharusnya tidak terlalu jauh.”

Ayunindya ingin membantah lagi. Jalan di kawasan ini sangat sepi saat malam. Tapi melihat tatapan tajam mertuanya, dia akhirnya memilih menurut.

Ayunindya melangkah pergi. Dia bahkan tak diizinkan memakai supir dan kendaraan. Mertuanya beralasan pemborosan bahan bakar.

Ayunindya menatap jalanan yang lengang. Beberapa lampu jalan bahkan rusak hingga dia hanya mengandalkan penerangan dari halaman rumah-rumah orang.

“Kok sepi sekali. Seharusnya tadi aku bawa tongkat bisbol juga,” rutuknya sambil terus berjalan cepat.

Sampai di dekat pagar rumah kosong, tiba-tiba muncul mobil hitam dan keluar dua orang pria yang berusaha menariknya masuk ke dalam mobil.

“Siapa kalian? Tolong!” pekik Ayunindya berusaha sekuat tenaga melawan. Kakinya sekuat tenaga menahan tubuhnya agar tak masuk ke dalam mobil.

“Cepat masuk, Cantik. Ayo kita bersenang-senang. Sayang sekali suamimu tidak mau denganmu ya, jadi biar kita saja yang membuatmu senang, hahaha!” dua pria itu tertawa terbahak.

Tapi Ayunindya malah membeku. Dunia rasanya berhenti memberinya oksigen saat mendengar nama suaminya disebut.

“Apa dia yang memberi kalian perintah?”

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • (Bukan) Istri Pilihan Tuan Davin    Kejadian di Terminal

    Tak ada yang menyadari pagi tadi Ayunindya keluar rumah sambil membawa koper. Sekarang dia sudah duduk di salah satu sudut halte bus. Kening Ayunindya masih bertaut bingung menentukan rute perjalanannya kali ini. “Mau pergi ke mana, Mbak?” seorang calo tiket mendekati Ayunindya hingga membuat wanita itu memilih waspada.Aynindya memilih menggeser duduknya dan memalingkan wajah. Dia tak mau menunjukan jejak air mata dan kelopak matanya yang bengkak. “Kalau mau pergi jauh, malam ini bus ke Yogyakarta bakal berangkat. Satu jam lagi, Mbak,” calo tiket itu sepertinya paham kalau Ayunindya saat ini sedang dalam masalah.“Yogyakarta?” “Iya, kota yang tenang dan indah. Kalau mau, aku bawakan tiketnya sekarang?” Ayunindya menghela napas panjang. Membayangkan indahnya Yogyakarta dari foto-foto wisata yang sering dia lihat di internet. “Mungkin aku bakal hidup tenang di sana.” “Iya, aku mau satu tiket,” angguk Ayunindya akhirnya.Calo tiket itu langsung mengacungkan kedua jempolnya. Berlari

  • (Bukan) Istri Pilihan Tuan Davin    Memilih Pergi

    Suara gerbang yang dibuka oleh satpam membuat tatapan keduanya bertemu. Davin dengan tatapan penuh emosi dan Ayunindya dengan tatapan penuh luka. Dinginnya fajar tak mampu menghangatkan suasana yang terlanjur memanas.“Apa mau kuantar sampai dalam rumah?” tawar Kenzo memapah Ayunindya dengan santai. Dia satu-satunya orang yang tahu rahasia Davin yang menikahi Ayunindya setahun lalu. Kenzo memilih acuh walau tatapan Davin berkilat marah padanya. “Apa yang kalian lakukan? Ayu, kamu pulang jam segini?” tanya Davin dingin.“Apa harus aku jelaskan lagi?” Ayunindya membalas kali ini. Bukankah seharusnya Davin tahu kalau rencananya sudah gagal?“Apa kamu tidak berniat membantu, Davin? Atau perlu aku ajarkan dulu caranya memperlakukan wanita?” sindir Kenzo.Davin mendengus kesal. Dia langsung menarik tangan Ayunindya hingga istrinya terhuyung dan menabrak dada Davin. “Tidak usah pura-pura kesakitan!” sinis Davin saat Ayunindya meringis kesakitan.“Aku bukan artis yang pintar akting,” banta

  • (Bukan) Istri Pilihan Tuan Davin    Masuk Perangkap

    Ayunindya yang kehilangan fokus membuat dua pria itu dengan mudah menariknya ke dalam mobil. Dia kembali memberontak meski tangan dan kakinya terasa nyeri luar biasa. Energinya terkuras habis. “Lepaskan!” teriaknya berusaha mendorong dengan tangannya tapi sayang pintu mobil sudah tertutup dan mobil sudah melaju kencang.Ayunindya tetap tak menyerah. Meski napasnya terengah-engah, tangannya sudah merah bahkan sandalnya sudah lepas. Dia tetap berontak. “Hei diam! Kamu mau aku habisi, hah?” ancam pria itu. Nyali Ayunindya sedikit menciut. Tapi detik berikutnya dia tiba-tiba menggigit tangan pria itu.“Ada apa di mobil itu? Apa ada orang bertengkar?” Kenzo yang sedang berhenti di lampu merah mengernyitkan kening saat melihat mobil di sebelahnya. Ada siluet bayangan dari kaca gelap. Rasa penasaran membawa pria itu mengikuti mobil dari belakang. Cukup jauh dia mengikuti hingga sampai di gudang tua yang terbengkalai. “Tolong!” pekik Ayunindya.“Percuma kamu teriak, Cantik. Di sini tidak

  • (Bukan) Istri Pilihan Tuan Davin    Cheese Cake dari Davin

    Ayunindya ingat malam itu. Siangnya dia masih bekerja dan Davin pergi ke lokasi peluncuran produk terbaru. Tapi tiba-tiba malamnya dia pulang dalam keadaan mabuk. Rupanya dia mabuk karena frustasi memikirkan Cantika.“Siapa di sana?” Suara tumpukan map dokumen yang jatuh dari tangan Ayunindya membuat Davin sadar ada orang di luar pintu. Ayunindya gelagapan. Dia tak mau ketahuan dan memilih pergi tapi tangan Davin lebih cepat memegang pergelangan tangan Ayunindya. Tatapan mereka bertemu. Davin yang tadinya ingin marah tiba-tiba tertegun saat melihat mata Ayunindya berkaca-kaca.“Kamu mendengar semuanya?” tanya Davin datar.Ayunindya tersenyum keluh. Dia menahan laju air mata. “Aku hanya ingin meletakkan dokumen ini di mejamu. Tolong lepaskan tanganku.” “Jangan diulangi lagi. Aku tidak suka ada orang yang menguping.” Ayunindya mengangguk dan tersenyum hambar. “Seperti yang kamu mau, Pak Davin.” Dia menarik paksa tangannya dari genggaman Davin. Nyeri di pergelangan tangan tak sebe

  • (Bukan) Istri Pilihan Tuan Davin    Akhirnya Bertemu

    Untuk sesaat Ayunindya kehilangan pegangan. Dia tetap saja tidak siap walau tahu dari dulu hari ini akan tiba. Hari di saat dia bertemu masa lalu suaminya. Wanita yang ingin dinikahi Davin tapi terhalang restu kakek Soedjatmiko.“Bercerai? Kalau begitu mintalah pada Davin biar dia menceraikan aku,” ucap Ayunindya berusaha setegar mungkin. Dia lebih memilih melangkah ke pintu keluar daripada meladeni Cantika.“Kamu pasti tahu Davin terhalang oleh wasiat kakeknya. Tapi aku yakin kamu tidak pernah disentuh Davin. Dia sudah berjanji padaku.” Tangan Ayunindya menggantung di udara. Padahal hanya tersisa beberapa sentimeter lagi dari gagang pintu. Beberapa saat gemuruh di dadanya harus dia tenangkan sendiri. Potongan memori selama satu tahun ini silih berganti memenuhi ruang pikirannya. Rumah tangganya memang dingin tanpa sentuhan kecuali malam itu. Malam yang bahkan dia yakin tak pernah dianggap oleh Davin.“Jangan harap kamu akan jadi Nyonya Davin Sabiru selamanya."“Kalau begitu berjuan

  • (Bukan) Istri Pilihan Tuan Davin    Masa Lalu Kembali

    “Dia sudah kembali!” suara Davin terdengar dingin dan tanpa ekspresi. Ayunindya menghentikan langkah kakinya. Dia membeku dan hanya menatap punggung belakang Davin. Alat test pack masih menggantung di tangannya. Tadinya dia mau memberitahu kabar kehamilannya pada Davin tapi ucapan Davin yang ambigu membuat Ayunindya menebak-nebak. “Dia?” “Cantika kekasihku!” jawab Davin singkat. Pria itu tanpa rasa bersalah bicara jujur pada Ayunindya. Bahkan gerakannya menyemprotkan parfum terlihat begitu tenang. Tubuh Ayunindya sempat limbung. Cepat-cepat dia menyembunyikan alat test pack di punggung belakangnya. Dia pikir Davin yang akan mendapatkan kejutan pagi ini sebelum mereka berangkat kerja tapi ternyata justru dirinya yang terkejut. “Oh dia!” angguk Ayunindya lemah. Dia sadar sekarang alat test pack itu tidak ada gunanya. Kesalahan satu malam dalam pernikahan mereka yang dingin sepertinya tak membuat Davin berhenti mengejar Cantika. Pernikahan mereka bukan diawali dengan cin

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status