LOGINUntuk sesaat Ayunindya kehilangan pegangan. Dia tetap saja tidak siap walau tahu dari dulu hari ini akan tiba. Hari di saat dia bertemu masa lalu suaminya. Wanita yang ingin dinikahi Davin tapi terhalang restu kakek Soedjatmiko.
“Bercerai? Kalau begitu mintalah pada Davin biar dia menceraikan aku,” ucap Ayunindya berusaha setegar mungkin. Dia lebih memilih melangkah ke pintu keluar daripada meladeni Cantika. “Kamu pasti tahu Davin terhalang oleh wasiat kakeknya. Tapi aku yakin kamu tidak pernah disentuh Davin. Dia sudah berjanji padaku.” Tangan Ayunindya menggantung di udara. Padahal hanya tersisa beberapa sentimeter lagi dari gagang pintu. Beberapa saat gemuruh di dadanya harus dia tenangkan sendiri. Potongan memori selama satu tahun ini silih berganti memenuhi ruang pikirannya. Rumah tangganya memang dingin tanpa sentuhan kecuali malam itu. Malam yang bahkan dia yakin tak pernah dianggap oleh Davin. “Jangan harap kamu akan jadi Nyonya Davin Sabiru selamanya." “Kalau begitu berjuanglah. Buat Davin menceraikan aku. Semudah itu bukan?” suara Ayunindya terdengar bergetar. Cantika menggeram kesal. Dia menghentakkan kakinya saat Ayunindya memilih keluar dari toilet. Ayunindya memilih berjalan cepat menuju ruang rapat. Pagi ini rapat berjalan alot sampai siang hari. Baru saja sedikit bernapas lega saat rapat selesai siang hari, tiba-tiba Ibu mertuanya masuk ke dalam ruangan. Dia tidak sendirian tapi bersama Cantika. “Selamat siang semuanya,” sapa Puspita yang tatapan matanya mengedar ke segala barisan karyawan yang hadir. Sorot matanya berhenti di Ayunindya. Mata Puspita memicing melihat posisi duduk Ayunindya yang berada di sebelah kursi Davin. Ayunindya memilih pura-pura tenang walau dia sadar badai rumah tangganya akan semakin besar setelah ini. Puluhan orang di ruangan itu betah sampai berdecak kagum melihat kecantikan Cantika dan hanya Ayunindya yang rasanya ingin lari dari sana. “Saya ingin mengenalkan Cantika. Dia adalah calon istri Davin sekaligus sekretaris baru di perusahaan kita,” ungkap Puspita tanpa rasa bersalah bahkan terlihat bangga memperkenalkan calon menantunya itu. Semua orang mengucapkan selamat. Tidak dengan Ayunindya yang mematung dengan wajah datar. Ada yang hancur di dalam hatinya. Dia sekilas melihat ke arah Davin. Tapi pria itu sama sekali tak menolak saat para manajer menyalami dirinya. Meski ekspresi Davin tetap datar namun pria itu tidak protes dengan ucapan mamanya. “Aku seharusnya sadar bukan aku pilihan hatimu.” “Ayu, kamu tidak apa-apa?” tanya Bu Weli. “Apa Bu?” “Kamu melamun dari tadi ya? Kamu dipindahkan ke divisi administrasi. Posisimu bakal digantikan Bu Cantika." “Oh tak apa,” Ayunindya mengulas senyum semanis mungkin. Tak ada yang perlu tahu kalau saat ini dia sangat ingin menangis. Puspita melangkah mendekat. Berdiri tepat di samping Ayunindya. Tatapannya terlihat angkuh. Satu alisnya terangkat ke atas dan mengibaskan tangannya ke udara. “Kamu menyingkir dari kursi ini. Calon menantuku mau duduk!” Puspita memberi titah seakan Ayunindya hanya orang asing. “Tapi aku—” “Kamu bawahan dan aku pemegang saham. Aku tidak menerima bantahan Ayunindya!” Ayunindya meremas kuat ujung hijabnya. Semua mata kini tertuju padanya. Ruangan itu hening menunggu dia terusir dari kursi sekretaris. Malu bercampur sakit hati, rasanya dia tak terima perlakuan ini. Tapi apalah daya Ayunindya. Siapa yang akan membelanya? Kakek Soedjatmiko sudah tiada. Ibu dan ayahnya bahkan sudah lama pergi selamanya. Dia sendirian tanpa sandaran. “Pak…” Baru akan meminta keadilan pada Davin, pria itu sudah memalingkan muka. Ayunindya akhirnya bungkam lalu memilih beranjak dari kursinya. “Terima kasih Mama.” Cantika langsung tersenyum dan bergelayut manja di bahu Puspita. “Apapun untukmu, Cantik. Sekarang kamu duduk ya. Mama sudah siapkan makan siang buat semuanya. Kita akan mengadakan syukuran kecil-kecilan dulu di sini sebelum akhirnya kalian menikah,” tutur Puspita tanpa peduli perasaan Ayunindya. Saat semua orang sibuk menata makanan di meja, Ayunindya justru mual. Aroma ayam bakar membuat isi perutnya bergejolak. Diam-diam dia memilih pergi dari ruang rapat. Cukup lama dia ke toilet. Menangis sepuasnya sambil membekap mulutnya agar tak ada yang tahu betapa hancurnya dia saat ini. “Kakek, aku tahu maksud Kakek baik menikahkan aku dengan Mas Davin. Tapi pernikahan ini menyakitiku,” ucapnya saat kembali ke meja kerja. Ayunindya mengusap foto kakek Soedjatmiko yang berdiri di sampingnya saat menikah. Itu adalah satu-satunya foto pernikahan yang dia punya. Satu minggu sebelum meninggal, Kakek Soedjatmiko masih sempat hadir di pernikahannya. “Ayu kamu di sini? Bu Puspita minta kamu membereskan barang-barangmu dan pindah sekarang,” Tania sahabatnya datang dan memandang iba. “Baiklah. Aku ambil kotak dulu,” Ayunindya segera menyimpan foto. Dia pikir tak perlu ada yang tahu pernikahannya dengan Davin kalau akhirnya nanti mereka hanya akan jadi masa lalu dan asing. “Biar aku bantu. Sebenarnya tadi kami semua kaget tapi mau bagaimana lagi, dia calon istri Pak Davin. Maafkan aku ya, aku tidak bisa membelamu padahal kinerjamu sangat baik." Ayunindya tersenyum getir. Mulutnya ingin jujur dan mengatakan pada semua bahwa dialah istri sah Davin Sabiru. Tapi dia sadar semua percuma dia katakan. Pernikahan ini tanpa ikatan rasa. Tania dengan sigap membawa kotak berisi barang-barang Ayunindya. “Itu laporan apa? Mau dimasukkan ke kotak ini?” “Oh tidak usah. Tadi aku terlambat datang. Seharusnya laporan itu aku serahkan ke meja Pak Davin. Aku ke ruangannya sekarang.” Ayunindya pikir anggap saja ini pekerjaan terakhirnya sebagai sekretaris. Setelah ini dia tidak perlu sering melihat wajah Davin. Sejujurnya satu minggu ini dia sering merasa mual saat melihat wajah suaminya. Baru saja akan mengetuk pintu ruangan direktur, Ayunindya memilih mengurungkan niatnya. Pintu itu sedikit terbuka hingga suara orang mengobrol dari dalam bisa kedengaran. “Jangan dekat-dekat Kenzo lagi. Aku tidak rela kamu bersamanya.” Jantung Ayunindya berdetak. Itu suara Davin suaminya. “Benarkah? Jadi perasaanmu masih sama seperti dulu? Bagaimana dengan Ayu?” suara Cantika terdengar manja. “Kenapa harus membahas Ayu? Kenapa tidak bilang kalau sudah pulang ke Indonesia dari sebulan yang lalu. Aku hampir gila karena melihatmu jalan dengan Kenzo.” Suara tawa kemenangan Cantika terdengar menyakitkan bagi Ayunindya. Wanita itu benar-benar menikmati dicintai oleh seorang Davin. “Pantas saja di hari peluncuran produk bulan lalu kamu justru tidak ada,” ucap Cantika bahagia Davin masih mengingatnya. “Hari itu aku mabuk! Itu semua karena aku melihatmu dengan Kenzo. Kamu tahu aku tidak pernah minum alkohol, aku sampai mengira orang lain itu kamu!” suara Davin terdengar serius. Kaki Ayunindya terhuyung ke belakang. Matanya berkaca-kaca. Terkejut mendengar pengakuan suaminya. “Jadi sebulan yang lalu Mas Davin menyentuhku karena mengira aku Cantika?”Tubuh Ayunindya rasanya lemas seketika saat mendengar ucapan dari balik dinding. Jelas ada namanya disebut. Hingga Ayunindya memberanikan diri mengintip ke arah sumber suara.“Cantika!” gumam Ayunindya dalam hati hingga matanya melebar sanking kagetnya. “Selama kalian tidak mengatakan pada siapapun kalau yang menyuruh melenyapkan Ayunindya adalah aku, aku akan tetap mentransfer uang ke kalian,” suara Cantika kembali terdengar. Ayunindya syok mendengarnya. Dia sampai menutup mulutnya dengan tangan. Sekarang dia benar-benar yakin kalau orang yang berada di balik semua kejadian yang terjadi padanya adalah Cantika. Selama ini Ayunindya sudah menebaknya namun dia tak berani mengatakan pada siapa pun. Dia takut salah menduga.“Johan aman di penjara. Kalian bebas membesuknya. Ingat jangan pernah menyebut namaku. Apa kalian mengerti?” tekan Cantika di telepon.“Mulai sekarang aku akan menjalani hidup yang tenang dengan Davin karena sudah tidak ada lagi Ayu.” Suara tawa Cantika terdengar sa
Degup jantung Davin berdebar lebih kencang. Meski pelaku sudah tertangkap dan menyatakan istrinya sudah tiada, tapi Davin kembali berharap. Apalagi sampai hari ini dia belum menemukan jasad istrinya.“Kamu benar-benar yakin kalau itu Ayu?” tanya Davin tak mau kecewa.“Iya Pak. Wajahnya sempat terekam di kamera. Ibu Ayu dibawa dalam keadaan tidak sadar dan tangannya terikat!” ungkap detektif.“Apa?” jantung Davin berdenyut sakit saat mendengarnya. “Saya akan kirimkan file rekaman cctv-nya ke surel Pak Davin.”“Baiklah, segera kirimkan padaku!” titah Davin.“Tapi apa Bapak sedang sendirian di situ? Atau sedang bersama seseorang?” tanya detektif khawatir. “Aku sendirian dan sedang di kamar. Memangnya kenapa?” tanya Davin heran.“Maaf Pak, aku hanya khawatir saja. Karena mungkin Bapak akan emosi sekaligus sedih melihat rekaman ini,” jujur detektif itu.Bahu Davin melorot. Dia sampai menggigit bibirnya. Emosinya saat ini memang tidak stabil apalagi dia melihat Ayunindya di jendela kapal.
Suara ponsel kembali berbunyi untuk kedua kalinya. Membuat jantung Cantika makin berdegup kencang. Belum lagi wajah penuh penasaran milik Puspita, benar-benar membuatnya merasa tersudut. “Bu…bukan, Ma!” jawab Cantika terbata.“Bukan?” Puspita kembali mengerutkan keningnya.Cantika menelan ludahnya dengan payah. “Dia teman kuliahku dulu. Mungkin cuma mau pinjam uang. Biar aku angkat, Ma.” “Oh begitu!” Puspita segera menyerahkan ponsel itu pada Cantika. “Halo!” untuk meyakinkan Puspita dia segera mengangkat telepon itu namun dia sedikit menjauh dari Puspita. “Halo Cantik…apa maksudmu kirim foto alat test pack? Apa kamu sedang hamil?” tanya Bobby di seberang telepon.“Hei, Bobby. Kenapa sih selalu telepon pinjam uang? Aku sudah lelah meminjamimu uang. Jadi tolong jangan telepon aku lagi. Apa kamu mengerti?” Cantika bicara agak besar. Dia sempat melirik ke arah Puspita yang masih memperhatikan dirinya. “Hah…kamu bicara apa, Cantik? Apa kamu mabuk?” Bobby kebingungan.“Tidak, aku tida
Perasaan Cantika berdebar cemas. Hanya menunggu sesaat tapi rasanya sewindu. Dia berkali-kali menghela napas berat. Hingga mata Cantika membulat saat garisnya mulai terlihat. Dari samar menjadi terang. Bukan satu garis tapi dua garis.“Tidak mungkin. Ini pasti salah! Alat ini pasti rusak!” Cantika menggelengkan kepala. Dia sampai melempar alat itu ke lantai. Cantika panik. Dia jalan mondar-mandir di kamarnya. Hingga tangannya menyugar rambut dan berkali-kali telapak tangannya menutupi wajahnya. “Aduh, aku harus apa? Pasti salah bukan? Aku tidak boleh hamil. Davin bisa membatalkan rencana pernikahan kami!” ucap Cantika yang wajahnya terlihat pias.“Aku harus cek ulang. Alat kedua pasti hanya satu garis!” yakin Cantika.Tangan Cantika gemetaran saat membuka bungkus test pack yang kedua. Dia menelan ludahnya saat menatap alat yang dia pegang. Hingga kakinya refleks ke kamar mandi lagi. Hingga akhirnya Cantika keluar dan meletakkan benda itu di atas meja. Cantika kembali menunggu denga
Wajah Ayunindya sudah memucat. Dia tak mau Davin sampai tahu keberadaannya. Sudah cukup semua luka batin yang dia dapatkan selama ini. Dia bahkan terus merapatkan tubuhnya ke dinding. “Tunggu dulu!” Damar mengintip ke arah anjungan kapal. Davin masih belum berhasil masuk ke dalam kapal. Masih ditahan oleh anak buahnya. “Aku harus sembunyi, Damar.” pinta Ayunindya dengan suara kecil.“Ayo ikut aku!” Damar mengajak Ayunindya ke bagian lambung kapal. Tempat mesin berada.Ayunindya memperhatikan tempat itu. Tempat itu sedikit panas tapi tak masalah bagi Ayunindya. “Tetaplah di sini. Aku akan arahkan dia ke tempat lain!” Damar mengingatkan.“Baiklah, aku mengerti!” Angguk Ayunindya segera berjongkok di tempat yang menurutnya tak terlihat.Damar segera naik ke atas lalu menutup tempat itu. Dia bahkan mendorong karung beras agar pintu ke ruang mesin tak terlihat. “Ada apa ini?” tanya Damar akhirnya keluar dan menemui Davin.Davin sedikit senang karena bertemu Damar yang dia kenal sebagai
Perahu yang dipakai Davin dan Cantika ternyata mengalami kebocoran kecil. Tapi mereka tak menyadari hingga sampai keliling pulau dan akhirnya Davin yang panik sampai tenggelam. Kakinya mengalami kram.Perahu akhirnya tak terlihat lagi di permukaan air sementara Cantika terus berteriak meminta pertolongan sambil terus berusaha berenang ke tepian.“Tolong! Aku mohon tolong aku!” pekik Cantika panik. Dia mulai lelah sedari tadi berusaha mencari Davin dan akhirnya tenaga Cantika hampir habis. Tak lama Damar dan dua anak buahnya akhirnya keluar dari kapal. Mereka langsung berenang ke arah yang ditunjuk Cantika. “Di sana! Davin ada di sana!” Pekik Cantika dari tepian menunjuk ke arah Davin tenggelam. Ayunindya hanya bisa mengintip dari jendela di kapal. Dia sedikit lega karena akhirnya berhasil membujuk Damar untuk menyelamatkan Davin. “Davin, aku harap kamu selamat!” ucap Ayunindya penuh harap. Damar menyelam bersama dua anak buahnya. Mereka tak terlihat untuk beberapa saat. Hanya ada







