Masuk
“Dia sudah kembali!” suara Davin terdengar dingin dan tanpa ekspresi.
Ayunindya menghentikan langkah kakinya. Dia membeku dan hanya menatap punggung belakang Davin. Alat test pack masih menggantung di tangannya. Tadinya dia mau memberitahu kabar kehamilannya pada Davin tapi ucapan Davin yang ambigu membuat Ayunindya menebak-nebak. “Dia?” “Cantika kekasihku!” jawab Davin singkat. Pria itu tanpa rasa bersalah bicara jujur pada Ayunindya. Bahkan gerakannya menyemprotkan parfum terlihat begitu tenang. Tubuh Ayunindya sempat limbung. Cepat-cepat dia menyembunyikan alat test pack di punggung belakangnya. Dia pikir Davin yang akan mendapatkan kejutan pagi ini sebelum mereka berangkat kerja tapi ternyata justru dirinya yang terkejut. “Oh dia!” angguk Ayunindya lemah. Dia sadar sekarang alat test pack itu tidak ada gunanya. Kesalahan satu malam dalam pernikahan mereka yang dingin sepertinya tak membuat Davin berhenti mengejar Cantika. Pernikahan mereka bukan diawali dengan cinta tapi dengan permintaan kakek Davin sebelum sang kakek meninggal. Kakeknya bahkan membuat wasiat kalau perusahaan dan semua kekayaan milik kakeknya akan jatuh ke tangan Davin setelah menikah dengan Ayunindya. Apa alasan kakeknya sampai menikahkan Ayunindya dan Davin tak ada yang tahu sama sekali. Kakeknya memilih gadis polos dan yatim piatu seperti Ayunindya daripada Cantika yang merupakan putri pengusaha. “Kamu terlihat tampan sekali, Davin. Apa kamu suka dasinya?” tanya Puspita, mertua Ayunindya. Wanita itu menyentuh permukaan halus dasi milik putranya tapi sorot mata sinisnya menatap Ayunindya yang berdiri di belakang Davin. “Aku suka, Ma. Terima kasih,” sahut Davin. Mereka berdua baru saja turun dari tangga. Pagi ini mereka harus segera tiba di kantor. “Bukan Mama yang beli. Kemarin Mama jalan sama Cantika dan dia yang membelikan dasi ini,” Puspita tersenyum miring sambil kembali melirik tak suka pada Ayunindya yang sudah duduk di meja makan. “Sampaikan ucapan terima kasihku pada Cantika, Ma.” “Kamu sampaikan saja sendiri, Davin. Bukannya hari ini Cantika juga akan datang ke kantormu,” kali ini senyum penuh kemenangan terlihat mengembang di wajah Puspita. Dia bisa melihat perubahan wajah menantunya yang pias. “Mas mau sosis atau telur saja?” tanya Ayunindya berusaha mengalihkan pembicaraan. Sejak tadi perasaannya sudah tidak nyaman. “Ambilkan aku sosis!” Suara Davin terdengar lebih seperti perintah daripada permintaan tolong. Tapi Ayunindya tetap beranjak dari kursinya. Dia merasa lebih bisa bernapas di dapur daripada di ruang makan bersama mertua dan suaminya. Tapi sayangnya Puspita sengaja melangkah ke dapur bahkan tanpa rasa bersalah mengambil piring berisi sosis yang sudah disiapkan Ayunindya. “Kamu seharusnya pergi dari rumah ini. Tidak ada yang menginginkan kamu tetap di sini Ayunindya!” tekan mertuanya tajam. Ayunindya menelan ludahnya. Dia sudah sangat biasa menerima perlakuan buruk dan kata-kata tajam mertuanya juga kelakuan tak peduli suaminya. Terbesit rasa penyesalan dalam hatinya saat dulu memutuskan menerima pernikahan yang diatur kakek Soedjatmiko. “Davin bahkan tidak peduli padamu. Buat apa bertahan? Karena harta bukan?” tuduh Puspita menatap angkuh. “Kalau begitu kenapa Mama dan Mas Davin datang melamar waktu itu? Kalau tidak menginginkan aku seharusnya jangan aku yang dijadikan istri Mas Davin, Ma,” tegas Ayunindya tak terima. Mata Puspita sampai melotot. “Seharusnya kamu menolak waktu itu. Kasihan putraku harus menikahi wanita tak berguna sepertimu. Orang tuamu hanya orang biasa bukan pengusaha seperti Cantika." “Tolong jangan bawa-bawa ibu dan ayahku. Mereka sudah tiada,” pinta Ayunindya kali ini sendu. Dia benar-benar merasa sendirian di rumah itu. Tak ada lagi orang tua tempatnya pulang dari segala resah. “Andai bukan karena perintah kakeknya Davin, aku tidak akan pernah menerimamu di rumah ini,” sudut bibir Puspita terangkat. Tatapan matanya masih angkuh. Dengan cepat dia membawa piring sosis ke ruang makan. Bahu Ayunindya melorot. Tarikan napasnya terasa panjang kali ini. Hari-harinya berat semenjak menikah dengan Davin. “Ini sosisnya, Davin. Mama yang terpaksa mengambilkan untukmu. Ayu malah asyik mengobrol dengan pelayan.” Suara mertuanya terdengar dari balik dinding. Ayunindya berhenti sejenak dan memejamkan mata sesaat. Bahkan hanya sekedar sosis sudah bisa jadi alasan mertuanya untuk menjelekkan dirinya. Davin tak bereaksi sama sekali. Dia tetap makan dengan tenang. Hingga Puspita mendengus kesal. “Jangan terlambat pagi ini. Aku ada rapat,” titah Davin saat selesai makan. “Baiklah,” Ayunindya hanya mengangguk. Satu lagi permintaan dari kakek Soedjatmiko waktu itu, yaitu menjadikan Ayunindya sekretaris Davin. Mobil Davin akhirnya melaju meninggalkan pelataran rumah mewah itu. Sementara Ayunindya masih berdiri di depan pintu utama sambil memesan ojek online di ponselnya. “Cih, kalau aku jadi kamu pasti aku akan menuntut perceraian. Buat apa jadi istri yang tak dianggap sama sekali?” mertuanya berdecih lalu meninggalkan Ayunindya sendirian di luar pintu rumah. Ayunindya membeku. Ucapan mertuanya langsung menampar dirinya. “Bercerai? Tapi bagaimana dengan ini?” tanya Ayunindya sambil mengelus perutnya. * Napas Ayunindya terengah-engah saat akhirnya sampai pintu utama kantor. Keringat membanjiri keningnya. Dia berlari cepat setelah turun dari mobil bus tadi. Pagi ini dia tidak mendapatkan ojek online hingga terpaksalah dia menunggu mobil bus di halte. Baru saja membuka pintu kaca tebal itu, kaki Ayunindya urung melangkah. Davin sudah berdiri tak jauh dari pintu, matanya menyorot tajam ke arah Ayunindya sambil melihat jam tangannya. “Maaf Pak, aku terlambat,” ucap Ayunindya tertunduk. Napasnya bahkan belum kembali normal. “Jam berapa ini, Ayu? Kamu tahu rapat dimulai sepuluh menit lagi!” sergah Davin tanpa peduli kalau saat ini banyak karyawan di lobi yang memperhatikan mereka. Tak ada yang tahu Ayunindya adalah istri Davin. Hingga semua orang menganggap layak kemarahan Davin saat menegur Ayunindya. Ayunindya menggigit bibirnya. Dia hanya bisa mengeluh dalam hati. Andai saja Davin mengajaknya satu mobil, mana mungkin dia terlambat. “Aku–” “Jangan ulangi!” Davin tak mau mendengar alasan Ayunindya. Sorot mata Ayunindya mengikuti arah langkah Davin hingga dia sedikit kaget saat melihat ada Cantika sudah duduk manis di sofa. Wanita itu bahkan sudah melihatnya sejak pertama kali membuka pintu kantor. “Hai Ayu,” sapa Cantika tersenyum manis. Tapi Ayunindya tahu kalau Cantika hanya pura-pura ramah. “Hai!” Ayunindya tetap membalas sapaan itu sambil tersenyum. Dia berusaha terlihat baik-baik saja. Hingga akhirnya dia memilih ke toilet. Merapikan pakaian dan riasannya. Baru beberapa saat dia di depan kaca toilet, di sampingnya sudah berdiri Cantika yang menatapnya dari kaca. Udara langsung terasa menipis seiring ketegangan di ruang toilet itu. Tapi Cantika terlihat sangat percaya diri. Satu tarikan di sudut bibirnya langsung membuat Ayunindya merasa terintimidasi. “Aku sudah kembali, Ayu. Jadi bercerailah dengan Davin.”Ayunindya menatap tak percaya. Dia tak menyangka Damar akan membujuk dirinya untuk Davin. Padahal selama ini Damar adalah orang yang menentang dirinya kembali pada Davin. “Ayu, aku hanya ingin kamu bahagia. Aku awalnya begitu marah saat bertemu dirinya. Tapi setelah berhari-hari aku lihat usahano, aku mulai sadar dia memang sudah berubah. Dia bahkan tak melawan sama sekali saat aku pukuli. Percayalah, dia terluka parah. Kamu tahu kan sekeras apa pukulanku,” Damar meyakinkan Ayunindya.Ayunindya tak langsung menjawab. Dia kembali merenung dalam.“Ayu, Ardam akan semakin besar. Dia butuh ayahnya. Bagaimana kalau ada anak lain yang mengejek Ardam karena tak punya ayah?” “Kamu ayahnya!” tegas Ayunindya.“Ah kamu benar. Tapi bicara masa depan, aku tak mau egois. Davin punya segalanya untuk kamu dan Ardam. Siapalah aku ini? Bahkan hadiah-hadiah yang aku bawa sebenarnya dari Davin. Dia memaksa aku membawanya untukmu,” jujur Damar akhirnya.“Damar, kenapa kamu berpikir seperti itu? Aku dan
Damar sampai melongo saat melihat Davin dengan totalitas jadi orang gila siang ini. Setelah memakai pakaian compang-camping dan memakai tas kantong plastik. Davin juga memakai rambut palsu agak panjang yang acak-acakan.Wajah Davin dan tubuh Davin juga sudah dibuat kotor. Dia bahkan tak memakai sandal. Davin keliling pasar sambil bernyanyi-nyanyi tak jelas. Kadang tiba-tiba loncat sendiri dan kadang menyapa daun bahkan langit.“Dia benar-benar mau?” Damar melongo. Padahal dia hanya iseng menyebutkan meminta Davin jadi orang gila. “Iya, Pak Damar. Kasihan bukan,” ucap Adit dengan wajah pura-pura memelas. “Ah, cuma segini. Ayu lebih menderita lagi selama beberapa bulan ini. Apalagi kalau melahirkan, memangnya Davin sanggup?” cibirnya. Adit dan Kenzo saling pandang. Mereka berdua garuk-garuk kepala. Ternyata sulit meyakinkan seorang Damar.Damar diam-diam merekam kegiatan Davin di pasar. Davin benar-benar totalitas. Dia memilih menghilangkan rasa malunya dan terus keliling pasar. Bahk
Adit dengan cepat menutup pintu ruangan itu. Dia sigap berdiri di depan pintu agar Damar tak bisa lari. Sementara Davin dengan tatapan memohon melangkah pelan mendekati Damar.Damar menatap ke arah Kenzo lalu ke arah Davin. Dia akhirnya sadar kalau dia sedang dijebak. Tangan Damar mengepal kuat. Urat di lehernya menyembul. Matanya tajam menatap Davin.“Jadi kalian menjebakku? Apa mau kalian?” geram Damar. Dia sungguh menyesal tadi cerita tentang Ayunindya dan Ardam. Dia tak sangka Kenzo punya tujuan lain. Kenzo langsung membuka kumis penyamaran juga kaca matanya. Membuat Damar makin meradang.“Tenanglah, kami memang mau membeli apartemen darimu. Ayo duduk dulu, Pak Damar. Kita bicarakan baik-baik,” bujuk Kenzo.“Damar, aku ingin bicara denganmu. Aku mohon duduklah dulu,” pinta Davin penuh harap.Damar justru menggelengkan kepala. “Lebih baik batal saja pembelian apartemennya. Aku tidak masalah. Tapi aku ingin keluar dari sini. Awas minggir!” sembur Damar pada Adit. Adit masih berdir
Mobil akhirnya sampai di sebuah gedung bertingkat tempat lokasi apartemen itu berada. Kenzo turun bersama Damar. Sejauh ini Damar sama sekali tak curiga. Dia terlalu senang bisa dapat klien baru. “Di sini penjagaan dua puluh empat jam, Pak. Lokasi bebas banjir dan sangat dekat dengan pusat perbelanjaan juga rumah sakit dan hanya lima belas menit menuju sekolah internasional,” papar Damar masih dengan semangat yang menggebu-gebu.“Kamu semangat sekali ya. Seperti seorang pria yang baru saja menjadi seorang ayah,” pancing Kenzo.Damar tertawa kecil. “Hahaha…bisa dibilang seperti itu, Pak!” angguknya.“Oh, jadi kamu sudah menikah? Dan sekarang punya seorang anak ya? Pantas semangat sekali,” Kenzo kembali memancing pembicaraan.“Bukan, Pak. Saya belum menikah. Tapi adik saya sudah punya seorang bayi. Bulan ini saya senang sudah melampaui target penjualan. Mungkin rezeki bayi adik saya. Kebetulan saya sedang menabung untuk masa depan adik saya dan bayinya,” ungkapnya jujur. “Oh maaf kala
Davin sampai beranjak dari duduknya saat menerima kabar kalau lokasi Ayunindya sudah ditemukan. Rasanya dia sudah tak sabar untuk bertemu istrinya itu.“Aku akan ke sana sekarang. Tunggulah aku di situ!” jawab Davin penuh semangat.“Pak, sebaiknya jangan sekarang,” sahut Adit di seberang telepon.Kening Davin berkerut dalam. “Apa maksudmu?” “Pak, apa Bapak lupa selama ini Bu Ayu selalu menghindar? Aku takutnya setelah Bapak menemui Bu Ayu tiba-tiba, tahu-tahu Bu Ayu lari!” jelas Adit.Davin langsung terhenyak. Dia baru menyadari ucapan Adit memang benar. Bisa saja Ayunindya minggat lagi. “Tapi aku sangat ingin bertemu dengannya dan bagaimana dengan anakku?” lirih Davin yang kini benar-benar seperti orang yang kehilangan semangat. “Aku tahu Pak. Kita akan cari jalan keluarnya. Aku sempat mengambil beberapa foto dan mungkin Bapak mau melihat fotonya.”“Tentu saja. Kirim fotonya sekarang. Dan sewa orang yang bisa memantau Ayu dua puluh empat jam. Aku tidak mau kehilangan istriku lagi!
Ayunindya menonton potongan video yang viral. Cantika yang sedang digiring dari mobil tahanan menuju gedung persidangan. Lalu Davin yang didatangi wartawan dan ditanya-tanya.“Apa benar Bapak membatalkan pertunangan dengan Nona Cantika? Bukankah kalian digadang-gadang akan menikah dan menyatukan dua perusahaan kalian?” “Tidak benar. Pertunangan itu hanya kabar angin. Saya sudah menikah, istri saya namanya Ayunindya. Tapi Cantika sudah menculik istri saya. Sampai hari ini saya sedang mencari istri saya,” jelas Davin di kamera wartawan.“Bapak sepertinya sangat mencintai istri Bapak?” tanya wartawan lagi.“Tentu saja. Saya sangat mencintai istri saya. Bagi siapa pun yang menemukan keberadaan istri saya, maka saya akan memberikan hadiah yang besar. Seratus juta rupiah!” ungkap Davin serius.“Wah menarik sekali, Pak. Ke mana harus menghubungi Bapak?” tanya wartawan lagi.“Langsung ke staff saya. Adit!” Adit kemudian memberikan nomor yang bisa dihubungi apabila ada yang melihat atau mene







