Inicio / Romansa / Terjerat Pesona Duda Tampan / Efek Pergulatan Semalam

Compartir

Efek Pergulatan Semalam

Autor: Nona Lee
last update Fecha de publicación: 2026-10-06 14:06:50

"Mas... pelan-pelan, paha dan pinggangku rasanya mau patah," ringis Alina seraya memegangi lengan tegap Reynard erat-erat. Setiap kali kakinya melangkah menuruni anak tangga, rasa nyeri dan pegal yang luar biasa menjalar di bagian bawah tubuhnya.

Reynard merangkul pinggang Alina posesif, menahan tumpuan badan istrinya agar tidak terjatuh. Senyum jahil tertancap sempurna di wajah tampannya. "Makanya, jangan memancing singa yang sedang lapar kalau tidak mau kehabisan tenaga sampai pagi, cantik."
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Jangan Salahkan Dirimu

    "Kau ingin punya adik atau tidak, Sean?" tanya Reynard memotong kehebohan anaknya di ambang pintu, matanya menatap tajam bocah kecil itu. Sean mengangguk cepat tanpa ragu, kedua tangan mungilnya makin erat bertengger di pinggang. "Tentu saja mau! Sean mau adik yang lucu!" "Kalau begitu, dengarkan Papa baik-baik," ujar Reynard seraya menegakkan tubuhnya di atas sofa, menunjuk tepat ke muka anaknya dengan wajah sangat serius. "Mulai besok, kalau mau punya adik, kau tidak boleh mengganggu waktu Papa dan Mama. Jangan suka ketuk-ketuk pintu kamar malam-malam, dan jangan minta tidur bertiga lagi. Paham?" Sean mengedipkan matanya polos, keningnya berkerut bingung. "Kenapa tidak boleh mengganggu? Apa hubungannya sama adik Sean?" "Pokoknya jangan mengganggu!" tegas Reynard tidak mau memberi penjelasan lebih jauh. "Tidur saja di kamarmu sendiri dengan tenang. Kalau kau menurut, baru adiknya bisa datang. Mengerti?" Sean tampak berpikir sejenak, lalu akhirnya mengangguk pasrah walau wajahnya

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Aku Ingin Punya Anak

    "Tenang, Alina. Napasmu terlalu cepat sejak dari dalam mobil," bisik Reynard seraya mengusap lembut punggung tangan istrinya yang terasa dingin dan basah oleh keringat. Alina menyandarkan punggungnya pada kursi tunggu koridor rumah sakit swasta tersebut. Suara mesin pendingin ruangan dan aroma antiseptik yang khas mendadak membuat dadanya sesak. Bayang-bayang masa lalu saat dirinya terbaring tak berdaya di ruang operasi seolah berputar kembali di kepalanya, memancing kepanikan yang berusaha ia tekan mati-matian. "Aku tidak apa-apa, Mas," sahut Alina dengan nada bergetar, mencoba menyunggingkan senyum tipis walau paras mewahnya tampak agak pucat. "Aku cuma... sedikit gugup." "Jika kau merasa tidak sanggup, kita bisa pulang sekarang," tegas Reynard, menatap lekat manik mata istrinya dengan raut wajah yang diliputi kecemasan. "Aku tidak akan memaksamu, Alina." Alina menggeleng pelan, meremas balik jemari tegap suaminya. "Tidak. Kita sudah di sini. Aku melakukan ini demi Sean, dan jug

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Keputusan Alina

    "Iya, Mama... Sean benar-benar ingin punya adik," cicit Sean lirih, mengusap sisa air mata di pipinya dengan punggung tangan mungilnya. Alina menatap lekat-lekat paras polos anak sambungnya. Ditatapnya mata bulat yang masih basah itu dengan perasaan haru yang membuncah. Ia membelai lembut pipi Sean, mencoba mencerna setiap kata yang keluar dari bibir mungil anak tujuh tahun tersebut. "Kenapa Sean mendadak ingin punya adik?" tanya Alina lembut, suaranya mengalun bagai bisikan penenang di tengah heningnya malam. "Bukankah selama ini ada Mama di rumah yang selalu menemani Sean bermain?" Sean terdiam sejenak. Jemari kecilnya meremas ujung selimut antariksa miliknya. Bocah itu tampak kebingungan mencari alasan yang pas untuk menjawab pertanyaan ibunya. "Tapi... tapi kan Mama itu Mama," sahut Sean dengan kepolosan khas anak kecil. "Mama kan dewasa. Kalau adik... adik bisa Sean ajak main rumah-rumahan, main mobil-mobilan di lantai sampai malam, terus... terus kalau Ethan dan Leo pamer ad

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Sean Minta Adik

    "Ma, ayo cepat! Nanti Sean terlambat sampai di sekolah!" seru Sean seraya menarik-narik ujung gaun kasual yang dikenakan Alina. Alina tertawa halus, merapikan letak kerah seragam merah-putih yang membungkus tubuh mungil anak tujuh tahun itu. "Iya, sayang. Ini sudah mau berangkat. Bekal makanan dan botol minumnya sudah masuk ke dalam tas, kan?" "Sudah semua, Ma! Sean mau pamer bekal bekal pancake buatan Mama ke Ethan dan Leo!" sahut Sean riang, matanya berbinar-binar penuh kebanggaan. Setelah menghabiskan masa liburan keluarga yang riuh di Bali, kehidupan mereka kembali berjalan normal. Pagi itu, Alina bertugas mengantarkan Sean ke sekolah sekolah dasarnya. Di depan gerbang sekolah, beberapa anak seusia Sean tampak berkumpul bersama orang tua mereka. Begitu melihat kehadiran Sean, dua kawan akrabnya langsung berlari menghampiri. "Sean! Kau sudah pulang dari Bali?" tanya Ethan, seorang bocah berkacamata bulat. "Sudah dong! Aku dibelikan robot dinosaurus besar sama Papa!" pamer Sean

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Efek Pergulatan Semalam

    "Mas... pelan-pelan, paha dan pinggangku rasanya mau patah," ringis Alina seraya memegangi lengan tegap Reynard erat-erat. Setiap kali kakinya melangkah menuruni anak tangga, rasa nyeri dan pegal yang luar biasa menjalar di bagian bawah tubuhnya. Reynard merangkul pinggang Alina posesif, menahan tumpuan badan istrinya agar tidak terjatuh. Senyum jahil tertancap sempurna di wajah tampannya. "Makanya, jangan memancing singa yang sedang lapar kalau tidak mau kehabisan tenaga sampai pagi, cantik." Alina melotot tajam, mencubit pelan pinggang Reynard yang keras bagai batu. "Mas Rey! Ini semua kan gara-gara kau yang tidak tahu waktu! Sudah kubilang cukup, tapi malah berlanjut sampai ronde entah ke berapa. Sekarang lihat, berjalan saja aku kesulitan!" "Tapi kau menikmati setiap detiknya, bukan?" goda Reynard tepat di telinga Alina dengan suara serak yang memikat. "Reynard!" cicit Alina dengan wajah memerah padam, menyembunyikan paras mewahnya di balik bahu tegap suaminya saat mereka maki

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Memanjakan Suami

    "Kau yakin sanggup mengambil alih kendali malam ini, Alina?" bisik Reynard, suaranya serak dan bergetar di tengah kegelapan kamar yang hanya diterangi lampu tidur temaram. Alina tidak menjawab dengan kata-kata. Wanita itu hanya menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan godaan, lalu perlahan merayapkan jemarinya dari dada tegap Reynard turun menuju perut berotot suaminya. Tatapan matanya yang biasanya lembut kini berkilat liar, memancarkan pendar gairah yang belum pernah Reynard lihat sebelumnya. "Kenapa, Mas? Kau ragu padaku?" sahut Alina berbisik lembut tepat di depan bibir Reynard. Tanpa memberi kesempatan pada Reynard untuk merespons, Alina menunduk dan menyapu bibir tebal suaminya dengan ciuman yang lambat namun menuntut. Ia menyesap bibir atas dan bawah Reynard bergantian, memainkan lidahnya dengan begitu lihai hingga membuat Reynard menggeram rendah. Pria itu mencoba memegang pinggang Alina untuk memegang kendali, namun Alina dengan cepat menepis halus tangan besar itu dan

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status