LOGIN"Alina, jawab aku! Kenapa wajahmu tiba-tiba pucat begitu?!" desak Reynard, jemarinya mengusap pipi Alina yang terasa makin dingin bagaikan es. Alina buru-buru memalingkan wajahnya, menepis secara halus usapan tangan Reynard. Wanita itu menghembuskan napas panjang, berusaha keras menetralkan rasa panik yang meremas dadanya. "S-saya hanya merasa sedikit pusing, Tuan," alibi Alina lirih, memegang keningnya dengan jari-jari yang masih gemetaran. "Mungkin... mungkin saya belum sempat sarapan dengan benar tadi pagi. Ditambah cuaca di taman belakang tadi cukup terik." Reynard menyipitkan matanya tajam. Pria tegap itu melangkah satu titik lebih dekat, menatap lurus ke dalam manik mata Alina yang terus menghindari tatapannya. "Pusing karena belum sarapan?" ulang Reynard dengan nada suara yang perlahan berubah dingin dan penuh skeptisisme. "Atau... kau pusing karena mendengar keinginanku untuk menikah dan punya anak darimu?" "Bukan begitu, Tuan—" "Lalu kenapa reaksimu berlebihan sekali, A
"Sean sudah tidur, Alina?" bisik Reynard pelan seraya melangkah masuk dan menutup pintu kamar anak itu rapat-rapat. Alina mendongak dari tepi tempat tidur, tangan kanannya masih telaten mengusap lembut kepala Sean yang sudah terlelap pulas. "Sudah, Tuan. Sean sepertinya sangat lelah setelah main di taman tadi. Pudingnya juga sudah habis dimakan." Reynard melangkah mendekat, menghentikan tubuh tegapnya tepat di samping Alina. Pandangannya sempat tertuju pada wajah polos putranya yang bernapas teratur, sebelum akhirnya beralih sepenuhnya menatap wanita di hadapannya. "Bagaimana... dengan pertemuan Tuan bersama Nyonya Anna dan Tuan Gunawan tadi?" tanya Alina ragu-ragu, mencoba memecah keheningan seraya menatap manik mata Reynard. Ada nada cemas yang tak sanggup ia sembunyikan sepenuhnya. Reynard tersenyum tipis, lalu menarik kursi kecil di dekat meja belajar Sean dan duduk di hadapan Alina. "Kau tidak perlu khawatir lagi, Alina. Mulai sekarang, Anna tidak akan pernah menemuiku atau
"Kau ini terlalu polos, Richard," potong Nyonya Ella cepat, menyerobot omongan Reynard sebelum putranya sempat membuka suara. Wanita paruh baya itu menyunggingkan senyum tipis seraya meletakkan cangkir tehnya. "Aku tadi cuma bergurau agar Anna dan Gunawan berhenti mengganggu Reynard." Tuan Richard menepuk dahi, matanya membelalak tak percaya menatap istrinya. "Apa?! Jadi kau cuma berbohong?!" "Tentu saja," sahut Nyonya Ella santai. "Kalau tidak dipotong seperti itu, Gunawan akan terus-menerus mendesak perjodohan itu. Lebih baik kita mengunci mulut mereka rapat-rapat, bukan?" "Astaga, Ella... kenapa harus berbohong seperti itu?" keluh Tuan Richard seraya memijat pelipisnya, menghembuskan napas kecewa. "Padahal aku sudah senang sekali mendengar ucapanmu tadi. Aku pikir Reynard benar-benar sudah menemukan wanita yang dia cintai. Aku bahkan sudah tidak sabar ingin segera melihat siapa wanita yang berhasil meluluhkan hati putra kita." Di sofa tunggal, Reynard hanya bisa terdiam memb
"A-apa maksud Ibu?" tanya Reynard terbata-bata, matanya membelalak menatap Nyonya Ella dengan keterkejutan yang tidak bisa ia sembunyikan. Jantung pria tegap itu berdegup kencang secara abnormal. Apakah ibunya benar-benar sudah tahu tentang hubungan rahasianya bersama Alina selama ini? Tapi... bagaimana mungkin? Kapan ibunya tahu, dan dari mana wanita itu mendapatkan buktinya? Melihat reaksi putranya yang linglung, Nyonya Ella melotot tajam, sebuah isyarat tak kasatmata yang seolah menegaskan, 'Katakan iya saja, bodoh!' Reynard langsung menangkap kode dari balik sorot mata ibunya. Pria itu menyapu rasa gugupnya dalam hitungan detik, membenarkan posisi duduknya seraya berdehem singkat untuk menguasai diri. "I-iya, benar apa kata Ibu," bohong Reynard seraya memasang raut wajah seserius mungkin. "Aku sudah memiliki wanita yang sangat aku cintai, Pak Gunawan. Kami sudah cukup lama dekat, dan... aku hanya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk memperkenalkannya secara resmi pada Ayah
"Sean... Apa pengasuh ini melarang Sean dekat-dekat Tante, ya?" sergah Anna dengan suara yang kian tajam, melayangkan tatapan penuh permusuhan pada Alina. Alina tersentak kaget, wajahnya mendadak pucat mendengar tuduhan tak berdasar itu. "M-Maaf, Nyonya Anna... Saya tidak pernah melarang Sean atau mengajarinya hal seperti itu. Mas Sean hanya—" "Jangan asal melontarkan tuduhan tanpa bukti, Anna," potong Reynard dingin, melangkah maju untuk berdiri di antara Anna dan Alina. Tatapan mata pria itu menghunus lurus ke arah Anna. "Alina bekerja profesional. Anakku menjauh karena dia belum terbiasa padamu, jadi jangan berspekulasi yang tidak-tidak pada pengasuh putraku." Atmosfer di ruang tengah seketika berubah tegang. Anna mengepalkan tangannya, hendak membalas ucapan Reynard, namun Pak Gunawan dengan cepat merangkul bahu putrinya dan berdehem keras. "Maafkan sikap putri saya, Reynard, Richard," ujar Pak Gunawan meminta maaf dengan senyum canggung. "Anna hanya terlalu gemas dan ingin ak
"Papa tidak jajan es krim atau permen di luar, Sean. Maksud Kakek itu... Papa kadang suka beli kopi pahit di luar rumah," sahut Reynard cepat seraya menepuk-nepuk dadanya yang masih terasa agak sesak akibat tersedak. Wajah pria tegap itu memerah, berusaha keras mempertahankan nada suara seolah semuanya masuk akal. "Benar, Jagoan," timpal Tuan Richard buru-buru, membenarkan posisi duduknya seraya berdehem beberapa kali untuk menutupi rasa canggung. "Kakek cuma bilang kalau Papa suka jajan makanan orang dewasa yang rasanya pahit. Tidak cocok untuk anak kecil seperti Sean." Sean memiringkan kepalanya, menatap kakek dan ayahnya bergantian dengan raut penuh kecurigaan. "Tapi kata Kakek tadi jajan sembarangan? Memangnya Papa beli kopi di pinggir jalan yang banyak debunya?" Nyonya Ella hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya pelan menatap suami dan putranya yang tampak kepayahan merangkai alasan konyol demi membendung kepolosan sang cucu. Istri Tuan Richard itu menghembuskan napas pende







