مشاركة

Kamar Pengantin?

مؤلف: Nona Lee
last update تاريخ النشر: 2026-07-25 09:37:52

"T-Tuan Reynard! Tuan gila ya?!"

Alina melotot sempurna, menatap majikannya yang masih mengulas senyum miring tanpa dosa. Suara gemericik angin perbukitan di luar vila bahkan kalah bising dengan degupan dadanya yang menggila lantaran taruhan konyol tadi.

"Kenapa berteriak, Alina? Nanti Sean dengar," bisik Reynard santai, membawa dua koper mereka melangkah masuk melintasi pintu kayu jati vila yang megah. "Ayo masuk, luar dingin."

Sean yang baru saja melangkah masuk langsung berteriak girang m
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Mandi Bersama

    "M-Memancing apa?! Tuan Reynard jangan bicara sembarangan, ya!" Wajah Alina seketika memerah padam bagaikan udang rebus. Tangan rampingnya dengan gesit merapatkan kemeja tebal milik Reynard yang menyelimuti tubuh basahnya, menutupi lekuk tubuh yang tadi sempat terekspos. Jantungnya berdegup gila-gilaan, tak berani menatap langsung iris mata abu-abu sang CEO yang jaraknya begitu dekat. "Sean! Ayo kita naik ke vila sekarang, Sayang! Hari sudah makin sore, nanti Sean masuk angin!" seru Alina buru-buru, setengah berdiri sembari berpura-pura sibuk memanggil anak asuhnya demi mengalihkan suasana yang mendadak teramat intim tersebut. "Yah... kok sudah selesai sih mandi air sungainya?" keluh Sean mengerucutkan bibirnya. Namun, bocah itu tetap menurut dan berjalan menyusuri tebing rumput menuju bangunan vila bersama Alina dan Reynard. Akan tetapi, kekacauan ternyata belum berakhir di sana. Begitu sampai di lantai atas dekat kamar mandi, Sean tiba-tiba menahan tangan Alina dan mulai merenge

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Pakaian Yang Menerawang

    "Tante Alina! Cepat ke sini! Ada ikan kecil warna perak!" Teriakan riang Sean menggema di antara tebing batu perbukitan, memecah kesunyian sore di tepi sungai. Bocah mungil itu mengepakkan kakinya di air jernih, tertawa lebar saat cipratan air mengenai kemeja putih yang dikenakan Alina. Alina ikut tertawa renyah, melipat sedikit ujung celana pendeknya lalu menyeburkan kedua kakinya ke dalam sungai yang dingin menyegarkan. "Mana ikannya, Sean? Wah, lincah sekali dia!" "Itu di dekat batu besar! Papa, ayo tangkap ikannya!" panggil Sean, melambaikan tangannya pada Reynard yang masih berdiri di pinggir air. Reynard menelan ludahnya yang terasa kering, melangkah mendekati mereka. Sepasang mata abu-abunya tidak bisa dipalingkan sedikit pun dari sosok wanita di hadapannya. Tawa lepas Alina, binar matanya yang diterpa sinar matahari sore, serta ketulusannya saat mengusap pipi Sean yang kecipratan air benar-benar melumpuhkan pertahanan sang CEO. *Rasa ingin memiliki ini... sungguh gila,* b

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Kamar Pengantin?

    "T-Tuan Reynard! Tuan gila ya?!" Alina melotot sempurna, menatap majikannya yang masih mengulas senyum miring tanpa dosa. Suara gemericik angin perbukitan di luar vila bahkan kalah bising dengan degupan dadanya yang menggila lantaran taruhan konyol tadi. "Kenapa berteriak, Alina? Nanti Sean dengar," bisik Reynard santai, membawa dua koper mereka melangkah masuk melintasi pintu kayu jati vila yang megah. "Ayo masuk, luar dingin." Sean yang baru saja melangkah masuk langsung berteriak girang melihat interior vila bernuansa kayu hangat itu. "Wah! Bagus sekali! Tante Alina, Sean mau lihat kamar Sean!" "I-Iya, Sayang. Ayo Tante antarkan," sahut Alina buru-buru menuntun Sean menuju lorong kamar anak. Kamar khusus Sean berukuran sedang, berhias pernak-pernik kartun kayu dan satu tempat tidur empuk. Sean langsung melompat ke atas ranjang sembari tertawa heboh sendirian, sibuk menjelajahi setiap sudut kamar barunya. Setelah memastikan Sean aman, Alina melangkah menyusuri koridor untuk me

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Taruhan Konyol

    "C-Cemburu?! Tuan bercanda ya?!" Alina refleks menepis pelan tangan Reynard yang bersandar di sandaran kursi. Wajah wanita itu seketika membara merah padam, panas sampai ke ujung telinganya. Ia buru-buru memalingkan wajah ke luar jendela, berpura-pura sangat sibuk merapikan tatanan rambutnya yang sama sekali tidak berantakan. "Saya cuma... cuma heran saja!" lanjut Alina gugup, beralih menatap ujung sepatunya sendiri. "Tuan itu pengusaha sukses, tampan, kaya raya. Sangat tidak cocok kalau mengobrol akrab dengan wanita biasa seperti saya di depan umum. Lebih pantas berpasangan dengan wanita kelas atas seperti Ibu Victoria tadi." Reynard yang melihat kepanikan luar biasa dari pengasuh anaknya justru semakin terkekeh puas. Pria tegap itu tidak kembali memutar tubuhnya ke depan, melainkan makin mencondongkan wajahnya ke celah di antara dua kursi depan, mendekati Alina di kursi belakang. "Benarkah hanya itu alasannya?" bisik Reynard dengan nada suara rendah nan menggoda, sepasang mata a

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Kau Cemburu?

    "T-Tuan Reynard! Bisanya Tuan mengingat hal itu!" Wajah Alina seketika memerah padam hingga ke balik tengkuknya. Kenangan malam saat ia salah mengenakan piyama tidur tipis di rumah Reynard seketika berputar liar di kepalanya. Tanpa menunggu balasan lagi dari sang majikan yang sedang terkekeh puas, Alina membalikkan badan dan setengah berlari menuju rumah kontrakannya di seberang jalan. Keesokan harinya, sinar matahari pagi menyambut perjalanan mereka menuju sekolah baru Sean. Mobil sedan mewah Reynard membelah jalanan kota yang masih lengang. Saat kendaraan itu memasuki gerbang sekolah yang baru, Alina dibuat terpana. Bangunan sekolah itu jauh lebih megah, asri, dan teratur. Orang-orang di sekitarnya, baik para pengajar maupun wali murid, tampak bersikap amat sopan dan ramah. "Wah, tempatnya besar sekali, Papa!" seru Sean antusias dari kursi belakang, menempelkan wajahnya pada kaca jendela. "Iya, Jagoan. Di sini lingkungannya jauh lebih baik," sahut Reynard lembut sembari memarkir

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Persiapan Liburan

    "T-Tuan Reynard! Jangan bicara sembarangan!" Wajah Alina yang tadinya merah muda kini sudah memerah padam bagaikan tomat matang. Tanpa berpikir panjang, kedua tangan rampingnya refleks mendorong dada bidang Reynard cukup kuat. Pria tegap itu terdorong mundur dua langkah, membiarkan celah bagi Alina untuk meloloskan diri. Dengan napas tersengal-sengal dan jantung yang berdegup bagaikan genderang perang, Alina langsung kabur melintasi pintu dapur menuju ruang makan. "Hahaha!" Tawa renyah nan tulus dari Reynard menggema halus di dalam dapur yang sepi. Pria tegap itu menggelengkan kepalanya melihat punggung Alina yang menghilang cepat di balik belokan koridor, menyisakan kehangatan yang langka di dalam hatinya. Malam harinya, suasana kamar Sean dipenuhi kesibukan yang menyenangkan. Sebuah koper berukuran sedang terbuka lebar di atas ranjang. Alina tampak cekatan melipat baju-baju hangat, kaus santai, hingga celana pendek milik anak asuhnya itu. Sebab, sesuai janji Reynard, setelah me

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status