LOGINMaafkan author ya baru up date, seharian sibuk ngurisin suami manjaku yang lagi sakit🤧 sehat-sehat ya kalian🫶 terima kasih selalu setia sama novel ini
"Memangnya... ada posisi rahasia seperti itu, Yah?" tanya Reynard berbisik dengan raut wajah memerah canggung, matanya berbinar penasaran. Tuan Richard menepuk dadanya bangga. "Tentu saja ada! Kau pikir bagaimana dulu Ayah bisa—" Klek! Pintu ruang kerja mendadak terdorong terbuka lebar. Nyonya Ella berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan bertengger mantap di pinggangnya, menatap dua pria Dirgantara itu dengan pandangan menelisik penuh curiga. Secara refleks, Reynard dan Tuan Richard langsung menarik tubuh mereka mundur, duduk tegak lurus dengan jarak saling menjauh seolah tidak terjadi apa-apa. "Sedang apa kalian berdua berbisik-bisik seperti itu?" tanya Nyonya Ella memicingkan mata, melangkah masuk ke dalam ruangan. "Kelihatannya serius sekali sampai pintu harus ditutup rapat." "Eh... tidak ada apa-apa, Bu!" sahut Reynard cepat, membenarkan letak kerah bajunya yang sama sekali tidak miring. "Kami cuma membicarakan... bisnis! Iya, bisnis investasi terbaru." "Iya, Ella, bena
"Tidak mau! Sean mau adik bayi, bukan bayi kucing!" seru Sean lantang, menolak mentah-mentah penawaran ayahnya seraya menghentakkan kedua tangan mungilnya di atas meja makan. Reynard menghela napas panjang, mengusap wajahnya yang tampak lelah. "Sean, mendengarkanmu bertanya soal adik bayi setiap hari itu membuat telinga Papa panas. Bisakah kau berhenti bertanya sehari saja?" "Mas Rey!" tegur Alina cepat, menepuk lengan suaminya dengan raut wajah tidak senang. "Kenapa malah menawarkan bayi kucing pada Sean? Jangan mempermainkan anak sendiri begitu." "Aku tidak mempermainkannya, Alina," sahut Reynard, memutar tubuhnya memandang sang istri sebelum beralih menatap anak tunggalnya dengan raut wajah serius. "Dengar ya, Sean. Papa mengatakannya sekali lagi, jangan terus-menerus menanyakan kapan adik bayi datang pada Mamamu." Sean mengerutkan keningnya, matanya mulai berkaca-kaca karena merasa disalahkan. "Tapi Sean kan cuma bertanya, Pa..." "Pertanyaanmu itu bisa bikin Mama Alina se
"Kau ingin punya adik atau tidak, Sean?" tanya Reynard memotong kehebohan anaknya di ambang pintu, matanya menatap tajam bocah kecil itu. Sean mengangguk cepat tanpa ragu, kedua tangan mungilnya makin erat bertengger di pinggang. "Tentu saja mau! Sean mau adik yang lucu!" "Kalau begitu, dengarkan Papa baik-baik," ujar Reynard seraya menegakkan tubuhnya di atas sofa, menunjuk tepat ke muka anaknya dengan wajah sangat serius. "Mulai besok, kalau mau punya adik, kau tidak boleh mengganggu waktu Papa dan Mama. Jangan suka ketuk-ketuk pintu kamar malam-malam, dan jangan minta tidur bertiga lagi. Paham?" Sean mengedipkan matanya polos, keningnya berkerut bingung. "Kenapa tidak boleh mengganggu? Apa hubungannya sama adik Sean?" "Pokoknya jangan mengganggu!" tegas Reynard tidak mau memberi penjelasan lebih jauh. "Tidur saja di kamarmu sendiri dengan tenang. Kalau kau menurut, baru adiknya bisa datang. Mengerti?" Sean tampak berpikir sejenak, lalu akhirnya mengangguk pasrah walau wajahnya
"Tenang, Alina. Napasmu terlalu cepat sejak dari dalam mobil," bisik Reynard seraya mengusap lembut punggung tangan istrinya yang terasa dingin dan basah oleh keringat. Alina menyandarkan punggungnya pada kursi tunggu koridor rumah sakit swasta tersebut. Suara mesin pendingin ruangan dan aroma antiseptik yang khas mendadak membuat dadanya sesak. Bayang-bayang masa lalu saat dirinya terbaring tak berdaya di ruang operasi seolah berputar kembali di kepalanya, memancing kepanikan yang berusaha ia tekan mati-matian. "Aku tidak apa-apa, Mas," sahut Alina dengan nada bergetar, mencoba menyunggingkan senyum tipis walau paras mewahnya tampak agak pucat. "Aku cuma... sedikit gugup." "Jika kau merasa tidak sanggup, kita bisa pulang sekarang," tegas Reynard, menatap lekat manik mata istrinya dengan raut wajah yang diliputi kecemasan. "Aku tidak akan memaksamu, Alina." Alina menggeleng pelan, meremas balik jemari tegap suaminya. "Tidak. Kita sudah di sini. Aku melakukan ini demi Sean, dan jug
"Iya, Mama... Sean benar-benar ingin punya adik," cicit Sean lirih, mengusap sisa air mata di pipinya dengan punggung tangan mungilnya. Alina menatap lekat-lekat paras polos anak sambungnya. Ditatapnya mata bulat yang masih basah itu dengan perasaan haru yang membuncah. Ia membelai lembut pipi Sean, mencoba mencerna setiap kata yang keluar dari bibir mungil anak tujuh tahun tersebut. "Kenapa Sean mendadak ingin punya adik?" tanya Alina lembut, suaranya mengalun bagai bisikan penenang di tengah heningnya malam. "Bukankah selama ini ada Mama di rumah yang selalu menemani Sean bermain?" Sean terdiam sejenak. Jemari kecilnya meremas ujung selimut antariksa miliknya. Bocah itu tampak kebingungan mencari alasan yang pas untuk menjawab pertanyaan ibunya. "Tapi... tapi kan Mama itu Mama," sahut Sean dengan kepolosan khas anak kecil. "Mama kan dewasa. Kalau adik... adik bisa Sean ajak main rumah-rumahan, main mobil-mobilan di lantai sampai malam, terus... terus kalau Ethan dan Leo pamer ad
"Ma, ayo cepat! Nanti Sean terlambat sampai di sekolah!" seru Sean seraya menarik-narik ujung gaun kasual yang dikenakan Alina. Alina tertawa halus, merapikan letak kerah seragam merah-putih yang membungkus tubuh mungil anak tujuh tahun itu. "Iya, sayang. Ini sudah mau berangkat. Bekal makanan dan botol minumnya sudah masuk ke dalam tas, kan?" "Sudah semua, Ma! Sean mau pamer bekal bekal pancake buatan Mama ke Ethan dan Leo!" sahut Sean riang, matanya berbinar-binar penuh kebanggaan. Setelah menghabiskan masa liburan keluarga yang riuh di Bali, kehidupan mereka kembali berjalan normal. Pagi itu, Alina bertugas mengantarkan Sean ke sekolah sekolah dasarnya. Di depan gerbang sekolah, beberapa anak seusia Sean tampak berkumpul bersama orang tua mereka. Begitu melihat kehadiran Sean, dua kawan akrabnya langsung berlari menghampiri. "Sean! Kau sudah pulang dari Bali?" tanya Ethan, seorang bocah berkacamata bulat. "Sudah dong! Aku dibelikan robot dinosaurus besar sama Papa!" pamer Sean







