Mag-log in"Ibu, kasih sayangmu yang seharusnya menjadi peneduh, kini terasa seperti bayangan yang teramat sepi, sebab engkau lebih sering memilih kebahagiaanmu sendiri daripada merawat luka di hati putrinya..." ~Alina
"Tuan Reynard... saya betul-betul meminta maaf," cicit Alina lirih, berdiri menunduk kaku di balik pintu utama rumah mewah itu. Alina merekatkan kedua telapak tangannya di depan dada, tak berani mendongak menatap pria jangkung yang berdiri tegap di hadapannya. Rasa malu yang teramat sangat menyelimuti seluruh relung hatinya. Reynard yang sudah rapi dengan kemeja kerja dan jam tangan mewahnya menghentikan langkah. Pria itu menatap wanita di depannya dengan pandangan teduh, menyadari betapa gemetarnya bahu Alina saat ini. "Kenapa kau harus meminta maaf, Alina?" tanya Reynard pelan, suaranya terdengar begitu berat dan menenangkan. "Saya... saya sudah membuat keributan di rumah Tuan pagi-pagi begini," sahut Alina dengan suara yang makin serak menahan tangis, matanya membendung air mata. "Ibu saya juga bicaranya sangat sembarangan dan tidak sopan pada Tuan. Ditambah lagi... saya minta maaf karena Sean harus berangkat sekolah berdua saja dengan Andri tanpa ditemani oleh saya." Mendenga
"Tentu saja aku peduli padamu, Alina! Kau pikir aku melakukan semua ini untuk siapa?!" "Cukup, Ibu! Hentikan semua tuntutan ini, karena aku sudah tidak sanggup lagi mendengarkannya!" Suara Alina memecah kesunyian rumah yang pengap itu, suaranya bergetar menahan amarah yang telah tertahan selama berbulan-bulan. Di hadapannya, Mirna duduk dengan santai, menyesap teh manis dengan gerakan yang begitu tenang, seolah teriakan putrinya hanyalah angin lalu yang tidak memiliki arti. "Kau berteriak kepadaku, Alina? Setelah semua yang telah aku korbankan untuk membesarkanmu?" Mirna meletakkan cangkir itu dengan denting yang tajam di atas meja kayu. "Aku tidak meminta banyak, aku hanya meminta kau sadar diri. Usiamu sudah cukup matang, dan kecantikanmu adalah aset. Mengapa kau menyia-nyiakannya dengan menjadi keras kepala?" Alina tertawa getir, tawa yang penuh dengan kepahitan. "Aset? Kau menganggapku sebagai aset? Tentu saja, bagimu aku hanyalah komoditas, bukan seorang anak. Kau memandangku
"Ibu! Cukup! Jangan bicara sembarangan di depan Tuan Reynard!" Alina memotong ucapan ibunya dengan nada suara yang meninggi, nyaris menjerit. Wajahnya yang semula pucat kini berubah menjadi merah padam karena menahan malu dan amarah yang meluap-luap. Ia tidak bisa membiarkan Mirna terus melontarkan kalimat yang merendahkan martabatnya di hadapan pria yang kini menjadi kekasihnya itu. Mirna, yang mendapatkan teguran keras, justru tertawa sinis. Ia menyilangkan tangannya di dada dengan angkuh, menatap putrinya dengan tatapan meremehkan. "Kenapa kau marah begitu, Alina? Bukankah Ibu hanya bicara kenyataan? Statusmu memang janda, bukan? Dan kau memang bekerja di sini, bukan?" Alina tidak sanggup lagi menahan gejolak di dadanya. Ia segera menoleh ke arah Reynard, yang kini menatap Mirna dengan sorot mata yang sulit diartikan. "Tuan Reynard, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kelancangan Ibu saya," ucap Alina dengan suara bergetar, pandangannya merunduk dalam. "Saya akan membawa
"Siapa yang mengizinkanmu berteriak-teriak di rumah saya?!" Suara berat dan penuh penekanan itu menggelegar di area foyer depan, seketika menghentikan aksi saling dorong antara Andri dan Mirna. Mirna yang tadinya menggebu-gebu mendadak bungkam. Matanya yang liar terbelalak lebar saat mendongak, menatap sosok pria bertubuh jangkung dengan kemeja abu-abu yang menguarkan aura dominan nan intimidatif. Namun, bukannya takut, pandangan Mirna justru beralih pada Alina yang bersembunyi di balik punggung bidang pria itu. "Oh... jadi ini orang kaya yang menampungmu, Alina?!" bentak Mirna tanpa menyaring kalimatnya, menunjuk Alina dengan telunjuknya yang dihiasi cincin-cincin imitasi. "Bagus ya! Pantas saja kau betah di kota dan jarang pulang, ternyata kau benar-benar jadi simpanan duda kaya!" "Ibu! Cukup! Jangan bicara sembarangan!" jerit Alina dengan suara bergetar keras. Wajahnya pucat pasi, matanya berkaca-kaca menahan malu yang tak terhingga di depan Reynard dan Sean. Mirna hendak maju
"R-Resmi berpacaran...? Tuan Reynard bicara apa, sih?!" Alina menyegel bibirnya merapat, memalingkan wajahnya yang kini terasa makin panas membara. Jemari tangannya spontan mendorong pelan dada bidang Reynard yang polos tanpa atasan, mencoba memberi jarak di antara tubuh mereka yang terlalu dekat. "Saya serius, Alina," bisik Reynard dengan nada suara yang amat dalam, tidak membiarkan wanita itu menghindar. "Semalam kita sudah saling mengakui perasaan, bukan? Jadi, apa jawabanmu?" Alina menelan ludahnya yang terasa kesat. Matanya bergerak gelisah menatap ubin marmer, bertarung dengan keraguan di dalam dadanya. "Tapi... perbedaan status kita sangat jauh, Tuan. Saya hanya pengasuh Sean, sedangkan Tuan adalah pengusaha kaya raya. Bagaimana kalau orang lain tahu?" "Saya tidak peduli dengan omongan orang lain," pangkas Reynard tegas seraya menggenggam erat telapak tangan Alina. "Yang saya pedulikan hanya perasaanmu dan Sean. Tapi kalau kau khawatir, kita bisa membuat kesepakatan." Alin
"P-Papa...? Tante Alina mana? Kok suara Tante Alina ada di ranjang Papa?" Sean berdiri di ambang pintu yang terbuka sedikit. Matanya yang masih menyipit karena bangun tidur mengucek pelan, jemari kecilnya erat memeluk boneka dinosaurus kesayangannya. Alina yang berada di balik selimut tebal seketika membeku. Seluruh tubuhnya mendadak kaku, jantungnya berdebar kencang seolah mau melompat keluar dari dada. Dengan panik, ia menarik selimut lebih tinggi hingga menutupi seluruh kepala dan tubuhnya yang polos tanpa sehelai kain pun. "S-Sean... Tante... Tante tidak ada di sini!" cicit Alina dari dalam selimut, suaranya terdengar teredam dan sangat gemetar. "Lho? Tapi suara Tante Alina jelas sekali dari balik kain itu," polos Sean, melangkah dua tapak mendekati ranjang seraya memiringkan kepalanya bingung. "Kenapa Tante bersembunyi di bawah selimut besar Papa? Tante Alina semalam menginap?" Reynard yang sudah sepenuhnya terjaga melirik ke samping. Melihat gundukan selimut yang berguncang







