Se connecter"Tante Alina... Tante Alina kenapa menangis...?" Suara cicitan polos Sean memecah keheningan ruang tengah rumah kontrakan. Bocah kecil itu baru saja terbangun dari tidur siangnya, mengucek kedua matanya yang masih sembap. Di sampingnya, Alina terbaring menyamping di atas karpet tebal. Wajah cantiknya pucat pasi, kedua alisnya bertaut rapat seolah sedang menahan rasa sakit yang amat sangat, dan air mata terus mengalir deras membasahi bantal busa tanpa henti. Siang itu, sepulang sekolah, Alina dan Sean memang sangat bersemangat memasak ayam goreng tepung dan saus keju bersama. Kerusuhan kecil di dapur membuat keduanya kelelahan hingga akhirnya tertidur pulas di ruang tengah. Namun, di balik tidur lelapnya, alam bawah sadar Alina mendadak ditarik paksa mundur ke masa lalu, ke lorong waktu yang penuh dengan kenangan berdarah dan rasa sakit yang tak pernah benar-benar sembuh.Beberapa tahun yang lalu... "Dasar perempuan tidak berguna! Cuma menjaga kandungan saja kau tidak becus!" Suara
"Sean, beri salam dulu pada Kakek, Nak." Suara Alina terdengar amat lembut, berusaha mengikis ketakutan yang mendadak menyelimuti tubuh mungil di sampingnya. Dengan jemari yang masih bergetar, Sean perlahan maju satu langkah, menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan pria paruh baya bertongkat kayu mahoni itu. "S-Selamat pagi... Kakek..." cicit Sean teramat lirih. Richard Dirgantara menatap cucu tunggalnya sejenak. Sorot matanya yang tadinya amat dingin perlahan melunak tipis. Pria paruh baya itu mengulurkan tangannya, mengusap puncak kepala Sean dengan gerakan kaku namun sarat akan rasa sayang yang terpendam. "Selamat pagi, Cucuku. Masuklah ke dalam kelas sekarang, belajar yang rajin," ujar Richard dengan suara berat dan berwibawa. "Iya, Kakek..." sahut Sean cepat. Bocah itu melirik Alina sekilas, mendapatkan anggukan menenangkan dari pengasuhnya, lalu melangkah setengah berlari menuju pintu area sekolah. Setelah sosok mungil Sean menghilang di balik koridor, Richard memutar
"T-Tuan... a-apa maksud Anda?" Alina tersedak ludahnya sendiri. Pertanyaan Reynard yang sangat tiba-tiba itu menghantam telinganya dengan efek yang sama mematikannya dengan petir di siang bolong. Kedua matanya mengerjap tak percaya, menatap pria di hadapannya yang kini berdiri dengan jarak yang terlalu intim. "Tinggal di sini?" lanjut Alina dengan suara yang sedikit bergetar, mencoba menstabilkan napasnya yang mendadak memburu. "Tuan, saya... saya hanya pengasuh. Jika saya tinggal di sini, apa kata orang? Tetangga-tetangga saya itu mulutnya bukan main tajamnya. Saya janda, Tuan. Status saya saja sudah cukup membuat mereka betah bergosip setiap pagi. Jika saya pindah ke rumah pria kaya dan tampan seperti Anda... reputasi saya bisa habis dalam semalam." Reynard, yang sejak tadi menatap lurus ke arah Alina, sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan. Tangan pria itu perlahan terangkat, jemarinya yang hangat menyentuh pipi Alina dengan sentuhan lembut namun tegas. "Kenapa harus peduli de
"Pagi-pagi begini belanjaanmu sudah banyak sekali, Alina? Beli daging, ikan, sampai sayuran segar begini, mau ada acara hajatan di rumah?" Suara cempreng berkecepatan tinggi itu menyapa telinga Alina tepat saat jemarinya sedang memilah-milah wortel segar di lapak tukang sayur keliling. Alina menghela napas pendek, lalu menoleh dan mendapati Bu Karin, tetangga bermulut tajam yang sejak dulu paling suka mengurusi hidup orang lain, sedang berdiri bersedekap dada di sampingnya. Alina menyunggingkan senyum tipis, berusaha tetap sopan meski dadanya menyempit. "Bukan ada acara, Bu Karin. Cuma belanja bahan makanan biasa untuk stok beberapa hari ke depan." Bu Karin tertawa kecil, suara tawa yang sengaja dikeras-keraskan agar terdengar oleh ibu-ibu kompleks lainnya yang sedang mengerubungi lapak. "Alah, biasa bagaimana? Wong belanjanya komplit dan mahal begini," cetus Bu Karin dengan kerlingan mata yang menyindir. "Pasti rasanya bahagia sekali ya, bisa kerja jadi pengasuh di rumah duda tam
Papa..." bisik Sean dengan suara serak yang bergetar hebat, air matanya menetes makin deras. "Tangan Papa kenapa luka begini...? Apakah... apakah Kakek menyakiti Papa...?" Isak mungil Sean kembali pecah di pangkuan tegap Reynard. Jemari kecilnya mengusap pelan pinggiran kulit lengan Papanya yang memar kemerahan dan sedikit berdarah, takut-takut jika sentuhannya justru menambah rasa sakit sang papa. Reynard tersenyum tipis, merengkuh tubuh kecil putranya dengan tangan kiri yang tak terluka. Sepasang mata abu-abunya menatap Sean penuh kehangatan, berusaha mengikis raut cemas di paras polos anak tunggalnya. "Tidak, Jagoan. Kakek tidak menyakiti Papa," bisik Reynard halus, menepuk-nepuk pelan punggung Sean. "Ini cuma kecelakaan kecil saja tadi. Papa kurang hati-hati. Sean tidak usah cemas, ya?" Alina mendekat membawa kotak obat, lalu berlutut di samping sofa. Jemari halusnya mulai membasahi kapas dengan cairan antiseptik, menyapu lembut luka di lengan tegap Reynard dengan sangat berha
"T-Tante Alina... hiks..." Suara cicitan mungil dan cemas itu terdengar sangat pelan di balik daun pintu kayu. Alina, yang baru saja selesai mandi dan sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil, seketika menghentikan gerakannya. Dahi cantiknya berkerut penuh rasa heran. "Sean...?" gumam Alina lirih. Dengan rasa penasaran yang mendesak, Alina bergegas memutar kunci dan menarik daun pintu rumah kontrakannya. Matanya seketika membelalak kaget saat mendapati sosok bocah kecil berpiyama gambar dinosaurus sedang berjongkok memeluk lutut di atas lantai teras yang dingin. Tubuh mungil Sean gemetaran hebat, kedua matanya sembap, dan air mata mengalir deras membasahi pipi gembilnya tanpa henti. Sebenarnya, anak itu sudah kabur lewat jendela kamar dan berlari menyeberangi jalan kecil ke kontrakan Alina sejak bentakan pertama perdebatan antara papa dan kakeknya pecah di rumah utama. "Astaga, Sean!" jerit Alina tertahan, langsung menjatuhkan handuknya dan berlutut memeluk tubuh mun







