مشاركة

Bab 2

مؤلف: Jinu
Aku kembali ke rumahku, mengabaikan raungan Ayahku di ruang tamu dan langsung berjalan menuju lantai atas.

“Yuna! Dasar anak durhaka! Berhenti kamu!”

“Kamu tahu nggak berapa banyak tenaga yang kukeluarkan demi pertunangan ini?! Sekarang kamu batalkan begitu saja hanya dengan satu kalimat, kamu mau menghancurkan Keluarga Soman?!”

Aku menutup telinga, membanting pintu kamar dan mengabaikan suaranya di luar.

Aku pun menarik koper paling besar dari ruang ganti, lalu mulai mengemasi barangku dengan tanpa ekspresi.

Gaun-gaun panjang berwarna kalem yang kubeli hanya demi menyesuaikan selera Nathan, kubuang semua.

Perhiasan pemberian ibunya yang digunakan untuk memamerkan statusku sebagai "calon menantu Keluarga Jihan", juga kubuang.

Semua benda yang kukumpulkan dengan susah payah, yang berhubungan dengan dirinya, juga kubuang semua.

Ponselku bergetar hebat, nama Nathan berkedip di layar.

Aku menekan tombol senyap dengan santai, lalu melempar ponsel itu ke atas ranjang.

Di kehidupan sebelumnya, aku mati dalam penantian yang tak berujung dan penyiksaan diri sendiri.

Hanya karena satu telepon darinya, aku sanggup terbang dari belahan bumi lain.

Hanya karena dia mengerutkan kening saja, aku akan langsung merenung apakah ada yang salah dengan perbuatanku.

Sekarang, aku tak mau menunggu lagi.

Aku juga tak mau merenung lagi.

Setelah mengemas dua koper penuh, aku menyeretnya turun ke bawah.

Melihat keadaanku, Ayahku hampir saja pingsan karena sangking marahnya. Dia menunjukku sambil memaki, “Kamu mau pergi? Kalau kamu pergi, bagaimana dengan Keluarga Jihan? Cepat pergi ke ke Keluarga Jihan, berlutut dan minta maaf!”

Aku menatapnya dengan dingin. “Sejak hari ibu meninggal dan kamu membawaku pulang, di matamu aku hanyalah alat untuk mendapatkan keuntungan. Sekarang alat ini sudah nggak mau bekerja lagi, jadi kamu panik?”

Ayahku terdiam seribu bahasa, wajahnya berubah-ubah dari pucat ke merah.

“Kamu … kamu ….”

Aku tak memedulikannya lagi, lalu menyeret koperku keluar.

Di depan pintu, sebuah mobil bentley hitam menghalangi jalanku.

Pintu mobil terbuka, Nathan turun dengan wajah yang lebih muram dari saat di pesta tadi.

Dia mencengkeram pergelangan tanganku dengan kuat, seolah ingin meremukkan tulangku.

“Yuna, sudah cukup main-mainnya?”

“Ikut aku pulang, aku bisa anggap kejadian tadi nggak pernah ada.”

Nada bicaranya terdengar sangat sombong, seolah dia sedang memberikan sedekah padaku.

Aku menghempaskan tangannya dengan kuat hingga terlepas, lalu menatapnya dengan dingin.

“Pak Nathan, kurasa aku sudah bicara dengan sangat jelas.”

“Selain itu, jangan sentuh aku. Aku merasa jijik.”

Mata Nathan langsung melotot.

Dia mungkin tak pernah membayangkan kalau Yuna yang selalu patuh dan sangat khawatir setiap kali dia mengerutkan kening, bakal menggunakan kata "jijik" untuk mendeskripsikannya.

Dia menatapku tajam, seolah sedang mencari celah di wajahku.

“Hanya karena aku pergi sebentar, kamu jadi gini?” Dia mendengus dingin, nadanya penuh ejekan. “Yuna, sejak kapan kamu jadi sepicik ini? Karin hanya lagi sedih karena putus cinta, aku sebagai temannya menghiburnya sebentar, apa masalahnya?”

Lagi-lagi si Karin.

Selalu saja si Karin.

Di kehidupan sebelumnya, demi menghibur Karin yang "sedang sedih", Nathan absen di hari peringatan pernikahan kami.

Demi merawat Karin yang "sakit", dia meninggalkan aku sendirian di jalan tol.

Bahkan demi membuat Karin tersenyum, dia menyalakan kembang api di seluruh penjuru kota pada hari aku tewas kecelakaan.

Aku hanya menatapnya, tiba-tiba merasa ini sangat konyol.

“Nggak masalah.” Dengan tenang, aku melanjutkan, “Makanya sekarang aku memberikanmu padanya. Bukankah itu artinya aku membantu mewujudkan keinginan kalian?”

“Harusnya kamu berterima kasih padaku.”

Usai bicara, aku tak melihatnya lagi. Aku melewati mobilnya, menghentikan taksi dan pergi begitu saja.

Melalu kaca spion, sosok Nathan terlihat semakin mengecil. Dia berdiri diam di tempatnya, masih dengan ekspresi tak percaya yang sama.
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Bukan Lagi Budak Cintanya   Bab 9

    Satu tahun kemudian.Studio investasiku telah berkembang menjadi sebuah perusahaan ekuitas swasta yang cukup ternama.Harris menjadi tamu tetap di kantorku. Hampir setiap dua atau tiga hari sekali dia mampir dengan alasan "pertukaran bisnis", padahal kenyataannya dia selalu membawakan cemilan sore dari berbagai toko berbeda.Para karyawan di kantor selalu bercanda kalau Pak Harris ini ada udang di balik batu.Bukannya aku tak tahu perasaannya, hanya saja bagi seseorang yang sudah pernah mati sekali, sangat sulit untuk membuka hati kembali dengan mudah.Hari ini, baru saja aku menyelesaikan rapat daring, Harris masuk lagi sambil menenteng kotak kue.“Kue kastanye yang baru matang, aku tahu kamu suka,” katanya dengan senyuman lebar.Aku menatapnya pasrah. “Pak Harris, kalau kamu begini terus, aku bakal mulai menagih biaya sewa tempat padamu.”“Tagih saja,” jawabnya santai sambil meletakkan kue di mejaku. “Mau ambil orangnya sekalian juga sangat dipersilakan.”Aku tertawa karena godaannya

  • Bukan Lagi Budak Cintanya   Bab 8

    Seketika, mata Nathan terbelalak sangat besar.Seluruh rona merah di wajahnya memudar. Bibirnya gemetar hebat, tapi tak ada satu pun kata yang keluar.Dia menatapku dengan tatapan yang dipenuhi ketakutan dan kebingungan yang luar biasa, seolah baru saja mendengar dongeng yang paling mustahil. “Nggak … nggak mungkin … ini nggak mungkin … kamu pasti bohong ….” ujarnya bergumam sendiri.“Aku bohong atau nggak, kamu bisa cari tahu sendiri.”Setelah bicara, aku menaikkan kaca jendela, lalu menginjak pedal gas dalam-dalam dan melaju pergi.Melalui kaca spion, sosoknya terlihat semakin mengecil hingga menjadi sebuah titik hitam, berdiri kaku di tempatnya seperti patung batu yang lapuk dimakan usia.Aku tahu kata-kataku tadi sudah cukup untuk menghancurkan seluruh pendangannya.Seorang wanita yang tak pernah dia anggap, yang bisa dia injak-injak sesuka hati, kini kembali membawa ingatan dan kebencian dari kehidupan sebelumnya untuk menghancurkan segala hal yang selama ini dia banggakan.Rasa

  • Bukan Lagi Budak Cintanya   Bab 7

    Aku dan Harris berbincang cukup lama.Dia orang yang sangat menarik, humoris, menyenangkan dan cerdas.Dia tak sekalipun mendesakku soal masa laluku dengan Nathan, sebaliknya kami bicara soal pemetaan bisnis masa depan, kecerdasan buatan, hingga soal ambisi yang lebih luas lagi.Aku baru sadar bahwa berbincang dengannya terasa sangat ringan dan menyenangkan.Tak seperti saat bersama Nathan, di mana aku selalu merasa harus terus mengejar langkahnya, menebak pikirannya dan selalu takut salah bicara atau salah berekspresi.Sebelum pulang, Harris memberiku sebuah tawaran.“Nona Yuna, tertarik bergabung dengan Grup Harris? Jabatan dan gaji, kamu bebas tentukan sendiri.”Aku tersenyum sambil menggeleng pelan.“Terima kasih atas kebaikan Pak Harris, tapi untuk sementara aku nggak ingin bekerja untuk siapapun.”Aku ingin hidup untuk diriku sendiri sekali saja.Harris tampak merasa agak sayang, tapi dia tetap menghargai pilihanku.“Baiklah kalau begitu, tapi pintu Grup Lukman akan selalu terbuk

  • Bukan Lagi Budak Cintanya   Bab 6

    “Ini … ini apa?” Suaranya terdengar serak dan kering.“Sebuah rencana kerja.” Aku menyesap air lemon di meja dengan santai.“Awalnya kurencanakan untuk dikirim ke beberapa musuh bebuyutanmu jam sembilan besok pagi, tapi sepertinya sekarang sudah nggak perlu lagi.”“Kamu!” Nathan mendadak berdiri dan menatapku dengan tajam. Matanya merah dan penuh rasa tak percaya. “Yuna, kamu berani?!”“Lihat saja aku berani atau nggak.” Aku meletakkan gelas, ikut berdiri dan menatapnya dengan sombong.“Sekarang juga, selesaikan masalah perusahaan Ayahku.”“Kalau nggak, aku nggak menjamin cadangan laporan ini bakal muncul di mana saja.”Karin benar-benar membeku ketakutan. Dia ternganga, melihatku dan Nathan yang pucat secara bergantian tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata pun.Dia mungkin tak pernah melihatku yang begitu dominan, dingin, bahkan sedikit kejam seperti ini.Dada Nathan bergerak naik turun dengan cepat. Dia menatapku seolah sedang melihat sosok monster yang benar-benar asing.“Apa … apa s

  • Bukan Lagi Budak Cintanya   Bab 5

    Aku tak pulang ke rumah, melainkan langsung menuju properti milikku yang lain.Itu adalah apartemen kecil yang kubeli dengan uang hasil kerjaku sendiri, baik Nathan maupun Keluarga Soman tidak ada yang tahu.Aku butuh lingkungan yang benar-benar tenang untuk merencanakan langkahku selanjutnya....Keesokan harinya, aku menerima telepon dari Ayahku. Suaranya terdengar lelah sekaligus marah.“Yuna, apa sebenarnya yang kamu lakukan pada Nathan? Beberapa kerja sama perusahaan yang sedang kita negosiasikan batal semua dalam waktu satu malam! Pihak kerja sama bilang ini karena Pak Nathan yang memberi instruksi!”“Sekarang juga pergi temui dia dan mohon maaf! Kalau nggak, seluruh keluarga kita bisa mati kelaparan!”Aku mendengarkan raungannya di telepon dengan perasaan datar.Trik ini sudah pernah digunakan Nathan di kehidupan sebelumnya.Setiap kali aku "tak patuh", dia akan menggunakan perusahaan Ayahku untuk menekan dan memberiku pelajaran.Dan Ayahku pun akan selalu menjadi orang pertama

  • Bukan Lagi Budak Cintanya   Bab 4

    Aku tak berlama-lama di hotel. Aku segera menyewa sebuah apartemen dan mulai menata hidupku kembali untuk sementara.Hari ini, saat aku sedang mempelajari laporan investasi di rumah, aku menerima telepon dari orang yang tak terduga.Dia adalah asisten Nathan, Nelson.“Nona Yuna.” Nada bicara Nelson sangat sopan. “Pak Nathan ada rapat mendadak, tapi laporan analisis tentang proyek Grup Hosan tak bisa ditemukan. Karena kamu yang selama ini memegang proyek itu, kamu tahu di mana laporannya disimpan?” Proyek Grup Hosan ....Tentu saja aku ingat.Di kehidupan sebelumnya, proyek ini adalah titik balik dalam karir Nathan, tapi di dalamnya juga terdapat jebakan yang sangat besar.Saat itu, aku begadang selama tiga malam berturut-turut demi memeriksa dokumen yang tak terhitung jumahnya hanya untuk menemukan jebakan itu. Aku pun membantunya menghindar dengan sempurna, hingga dia meraup keuntungan luar biasa.Berkat proyek itulah, posisinya di perusahaan benar-benar stabil.Aku menggenggam ponse

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status