مشاركة

Bab 4

مؤلف: Jinu
Aku tak berlama-lama di hotel. Aku segera menyewa sebuah apartemen dan mulai menata hidupku kembali untuk sementara.

Hari ini, saat aku sedang mempelajari laporan investasi di rumah, aku menerima telepon dari orang yang tak terduga.

Dia adalah asisten Nathan, Nelson.

“Nona Yuna.” Nada bicara Nelson sangat sopan. “Pak Nathan ada rapat mendadak, tapi laporan analisis tentang proyek Grup Hosan tak bisa ditemukan. Karena kamu yang selama ini memegang proyek itu, kamu tahu di mana laporannya disimpan?”

Proyek Grup Hosan ....

Tentu saja aku ingat.

Di kehidupan sebelumnya, proyek ini adalah titik balik dalam karir Nathan, tapi di dalamnya juga terdapat jebakan yang sangat besar.

Saat itu, aku begadang selama tiga malam berturut-turut demi memeriksa dokumen yang tak terhitung jumahnya hanya untuk menemukan jebakan itu. Aku pun membantunya menghindar dengan sempurna, hingga dia meraup keuntungan luar biasa.

Berkat proyek itulah, posisinya di perusahaan benar-benar stabil.

Aku menggenggam ponselku, terdiam selama beberapa detik.

“Aku nggak ingat.” Dengan datar, aku lalu melanjutkan, “Aku sudah nggak punya hubungan apapun lagi dengan Pak Nathan. Masalah perusahaannya, kamu nggak perlu tanya-tanya padaku lagi.”

Nelson di balik telepon terdengar tersedak kata-katanya sendiri.

“Tapi, Nona Yuna, proyek ini sangat penting. Pak Nathan ….”

“Itu urusannya,” potongku langsung. “Aku sibuk, dah.”

Setelah menutup telepon, aku menatap keluar jendela dengan perasaan yang sangat tenang.

Aku bukan lagi Yuna yang bisa dipanggil dan diusir sesuka hati.

Mau Nathan hidup atau mati, apa urusannya denganku?

...

Sore harinya, aku mengajak teman-teman untuk berbelanja dan nongkrong. Aku pun mengunggah sebuah foto selfie di media sosial.

Di foto itu, aku tersenyum ceria dengan latar belakang makanan manis yang cantik dan cahaya matahari yang hangat.

Tak lama kemudian, seorang teman lama berkomentar: [Wah, sudah baikan dengan Pak Nathan? Sudah nggak sedih lagi?]

Seseorang langsung membalas komentar itu: [Mana mungkin, kamu nggak lihat berita, ya? Hari ini, Pak Nathan menemani si Karin cantik ke rumah sakit. Katanya dia pingsan karena kecapekan. Ya ampun, Pak Nathan panik sekali, sampai digendong sendiri ke UGD.]

Ada juga lampiran foto dengan kualitas tinggi.

Nathan tampak menggendong Karin yang pucat, berlari masuk ke rumah sakit dengan cemas. Sorot mata yang begitu peduli adalah sesuatu yang tak pernah kulihat selama tiga belas tahun bersamanya.

Aku memberikan tanda suka pada postingan itu, lalu mematikan ponsel.

...

Malamnya saat kembali ke apartemen, sebuah mobil yang kukenal terparkir di bawah.

Nathan sedang bersandar di pintu mobil sambil merokok. Di kakinya berserakan banyak sekali puntung rokok.

Melihatku datang, dia mematikan rokoknya dan melangkah menghampiriku. Tubuhnya tercium bau rokok yang menyengat bercampur aroma disinfektan rumah sakit.

“Di mana kamu sembunyikan dokumen proyek Grup Hosan?” Dia langsung ke intinya dengan nada yang kasar.

“Sudah kubilang, aku nggak ingat.”

“Yuna!” bentaknya rendah. Matanya merah karena kurang tidur, dia tampak sangat emosional. “Jangan main-main denganku! Kamu tahu seberapa penting proyek itu buatku! Kamu sengaja melakukan ini buat balas dendam?”

Aku menatapnya, merasa sangat konyol.

“Balas dendam? Nathan, kamu nggak merasa terlalu percaya diri?”

“Aku hanya nggak mau lagi mencampuri urusan sampahmu.”

Seketika, wajahnya berubah menjadi sangat muram.

“Hanya karena aku menemani Karin ke rumah sakit?” Dia seolah-olah sudah menyimpulkan alasannya sendiri dan mulai menjelaskan, “Tubuhnya memang kurang sehat sejak kecil. Hari ini dia pingsan di kantor, sudah sewajarnya aku mengantarnya ke rumah sakit!”

“Yuna, bisa nggak kamu jangan kekanak-kanakan dan egois gitu?!”

Egois?

Di kehidupan sebelumnya, aku sangat pengertian. Saat dia menemani Karin merayakan ulang tahun, aku menangis sendirian sampai pagi.

Aku sangat pengertian, sampai-sampai saat dia menemani Karin pergi keluar negeri untuk melepas penat, aku sendirian menandatangani surat persetujuan operasi Ibuku.

Dan akhirnya, aku mati dengan sangat pengertian dalam kecelakaan itu.

Aku menarik napas dalam-dalam, menatapnya dan berkata perlahan, “Nathan, kalau tubuhnya nggak sehat, itu urusan orang tuanya. Kalau dia pingsan, seharusnya kamu telepon ambulans, bukan malah menggendongnya untuk cari perhatian.”

“Lalu, biar kubilang untuk terakhir kalinya, hubungan kita sudah berakhir. Mulai sekarang, urusanmu atau urusannya, itu nggak ada hubungannya denganku.”

“Kalau kamu berani menggangguku lagi, aku akan lapor polisi.”

Selesai bicara, aku berbalik untuk naik ke apartemen.

Namun, pergelangan tanganku kembali dicengkeram. Kali ini lebih keras dari sebelumnya.

“Yuna, kamu benar-benar mau begini?”

Untuk pertama kalinya, ada emosi dalam suaranya yang tak kumengerti, seperti rasa frustasi atau mungkin sesuatu yang lain.

“Bukannya kamu hanya mau aku merendahkan diri padamu?”

“Iya.” Dia menatap mataku, lalu berkata pelan, “Berikan dokumennya padaku dan aku akan minta maaf padamu.”

“Minta maaf karena aku nggak mengejarmu dan minta maaf karena aku menemani Karin. Aku minta maaf.”

Aku menatapnya.

Ini pertama kalinya dalam tiga belas tahun, aku mendengar kata "maaf" keluar dari mulutnya.

Dulu, ini adalah sesuatu yang kuidam-idamkan.

Namun sekarang ... aku hanya merasa jijik.

“Permintaan maafmu nggak bernilai sepeser pun.”

Aku menghempaskan tanganku hingga lepas, lalu berjalan masuk ke gedung apartemen tanpa menoleh lagi.
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Bukan Lagi Budak Cintanya   Bab 9

    Satu tahun kemudian.Studio investasiku telah berkembang menjadi sebuah perusahaan ekuitas swasta yang cukup ternama.Harris menjadi tamu tetap di kantorku. Hampir setiap dua atau tiga hari sekali dia mampir dengan alasan "pertukaran bisnis", padahal kenyataannya dia selalu membawakan cemilan sore dari berbagai toko berbeda.Para karyawan di kantor selalu bercanda kalau Pak Harris ini ada udang di balik batu.Bukannya aku tak tahu perasaannya, hanya saja bagi seseorang yang sudah pernah mati sekali, sangat sulit untuk membuka hati kembali dengan mudah.Hari ini, baru saja aku menyelesaikan rapat daring, Harris masuk lagi sambil menenteng kotak kue.“Kue kastanye yang baru matang, aku tahu kamu suka,” katanya dengan senyuman lebar.Aku menatapnya pasrah. “Pak Harris, kalau kamu begini terus, aku bakal mulai menagih biaya sewa tempat padamu.”“Tagih saja,” jawabnya santai sambil meletakkan kue di mejaku. “Mau ambil orangnya sekalian juga sangat dipersilakan.”Aku tertawa karena godaannya

  • Bukan Lagi Budak Cintanya   Bab 8

    Seketika, mata Nathan terbelalak sangat besar.Seluruh rona merah di wajahnya memudar. Bibirnya gemetar hebat, tapi tak ada satu pun kata yang keluar.Dia menatapku dengan tatapan yang dipenuhi ketakutan dan kebingungan yang luar biasa, seolah baru saja mendengar dongeng yang paling mustahil. “Nggak … nggak mungkin … ini nggak mungkin … kamu pasti bohong ….” ujarnya bergumam sendiri.“Aku bohong atau nggak, kamu bisa cari tahu sendiri.”Setelah bicara, aku menaikkan kaca jendela, lalu menginjak pedal gas dalam-dalam dan melaju pergi.Melalui kaca spion, sosoknya terlihat semakin mengecil hingga menjadi sebuah titik hitam, berdiri kaku di tempatnya seperti patung batu yang lapuk dimakan usia.Aku tahu kata-kataku tadi sudah cukup untuk menghancurkan seluruh pendangannya.Seorang wanita yang tak pernah dia anggap, yang bisa dia injak-injak sesuka hati, kini kembali membawa ingatan dan kebencian dari kehidupan sebelumnya untuk menghancurkan segala hal yang selama ini dia banggakan.Rasa

  • Bukan Lagi Budak Cintanya   Bab 7

    Aku dan Harris berbincang cukup lama.Dia orang yang sangat menarik, humoris, menyenangkan dan cerdas.Dia tak sekalipun mendesakku soal masa laluku dengan Nathan, sebaliknya kami bicara soal pemetaan bisnis masa depan, kecerdasan buatan, hingga soal ambisi yang lebih luas lagi.Aku baru sadar bahwa berbincang dengannya terasa sangat ringan dan menyenangkan.Tak seperti saat bersama Nathan, di mana aku selalu merasa harus terus mengejar langkahnya, menebak pikirannya dan selalu takut salah bicara atau salah berekspresi.Sebelum pulang, Harris memberiku sebuah tawaran.“Nona Yuna, tertarik bergabung dengan Grup Harris? Jabatan dan gaji, kamu bebas tentukan sendiri.”Aku tersenyum sambil menggeleng pelan.“Terima kasih atas kebaikan Pak Harris, tapi untuk sementara aku nggak ingin bekerja untuk siapapun.”Aku ingin hidup untuk diriku sendiri sekali saja.Harris tampak merasa agak sayang, tapi dia tetap menghargai pilihanku.“Baiklah kalau begitu, tapi pintu Grup Lukman akan selalu terbuk

  • Bukan Lagi Budak Cintanya   Bab 6

    “Ini … ini apa?” Suaranya terdengar serak dan kering.“Sebuah rencana kerja.” Aku menyesap air lemon di meja dengan santai.“Awalnya kurencanakan untuk dikirim ke beberapa musuh bebuyutanmu jam sembilan besok pagi, tapi sepertinya sekarang sudah nggak perlu lagi.”“Kamu!” Nathan mendadak berdiri dan menatapku dengan tajam. Matanya merah dan penuh rasa tak percaya. “Yuna, kamu berani?!”“Lihat saja aku berani atau nggak.” Aku meletakkan gelas, ikut berdiri dan menatapnya dengan sombong.“Sekarang juga, selesaikan masalah perusahaan Ayahku.”“Kalau nggak, aku nggak menjamin cadangan laporan ini bakal muncul di mana saja.”Karin benar-benar membeku ketakutan. Dia ternganga, melihatku dan Nathan yang pucat secara bergantian tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata pun.Dia mungkin tak pernah melihatku yang begitu dominan, dingin, bahkan sedikit kejam seperti ini.Dada Nathan bergerak naik turun dengan cepat. Dia menatapku seolah sedang melihat sosok monster yang benar-benar asing.“Apa … apa s

  • Bukan Lagi Budak Cintanya   Bab 5

    Aku tak pulang ke rumah, melainkan langsung menuju properti milikku yang lain.Itu adalah apartemen kecil yang kubeli dengan uang hasil kerjaku sendiri, baik Nathan maupun Keluarga Soman tidak ada yang tahu.Aku butuh lingkungan yang benar-benar tenang untuk merencanakan langkahku selanjutnya....Keesokan harinya, aku menerima telepon dari Ayahku. Suaranya terdengar lelah sekaligus marah.“Yuna, apa sebenarnya yang kamu lakukan pada Nathan? Beberapa kerja sama perusahaan yang sedang kita negosiasikan batal semua dalam waktu satu malam! Pihak kerja sama bilang ini karena Pak Nathan yang memberi instruksi!”“Sekarang juga pergi temui dia dan mohon maaf! Kalau nggak, seluruh keluarga kita bisa mati kelaparan!”Aku mendengarkan raungannya di telepon dengan perasaan datar.Trik ini sudah pernah digunakan Nathan di kehidupan sebelumnya.Setiap kali aku "tak patuh", dia akan menggunakan perusahaan Ayahku untuk menekan dan memberiku pelajaran.Dan Ayahku pun akan selalu menjadi orang pertama

  • Bukan Lagi Budak Cintanya   Bab 4

    Aku tak berlama-lama di hotel. Aku segera menyewa sebuah apartemen dan mulai menata hidupku kembali untuk sementara.Hari ini, saat aku sedang mempelajari laporan investasi di rumah, aku menerima telepon dari orang yang tak terduga.Dia adalah asisten Nathan, Nelson.“Nona Yuna.” Nada bicara Nelson sangat sopan. “Pak Nathan ada rapat mendadak, tapi laporan analisis tentang proyek Grup Hosan tak bisa ditemukan. Karena kamu yang selama ini memegang proyek itu, kamu tahu di mana laporannya disimpan?” Proyek Grup Hosan ....Tentu saja aku ingat.Di kehidupan sebelumnya, proyek ini adalah titik balik dalam karir Nathan, tapi di dalamnya juga terdapat jebakan yang sangat besar.Saat itu, aku begadang selama tiga malam berturut-turut demi memeriksa dokumen yang tak terhitung jumahnya hanya untuk menemukan jebakan itu. Aku pun membantunya menghindar dengan sempurna, hingga dia meraup keuntungan luar biasa.Berkat proyek itulah, posisinya di perusahaan benar-benar stabil.Aku menggenggam ponse

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status