Se connecterSemua orang di pergaulan kami tahu kalau aku sangat bucin pada Nathan hingga titik menyedihkan. Tiga belas tahun mengejarnya, aku memaksa diriku belajar habis-habisan, dari seorang anak haram keluarga kaya yang bahkan tak lulus SMP, hingga berhasil meraih gelas master ekonomi dari kampus bergengsi, hanya demi menarik hati ibunya dan menjadi istri Nathan. Namun setelah menikah, aku tak lagi mencampuri urusan perusahaan Nathan, apalagi memasak untuknya. Saat dia bergadang mengerjakan draf proposal demi cinta idamannya, aku malah asik mengajak teman-teman keliling dunia. Saat dia menemani cinta idamannya menonton peragaan catwalk di Pars, aku santai di rumah merayakan ulang tahun kucingku. Itu semua karena aku sadar bahwa pernikahan bisnis tidak akan pernah mendatangkan perasaan tulus. Semuanya hanyalah khayalanku semata. Di kehidupan sebelumnya, aku membantunya menangani konflik internal perusahaan, tapi dia malah mengerutkan kening dan membentak, “Kamu terlalu jauh mencampuri urusanku.” Aku belajar memasak sup demi penyakit lambungnya, tapi dia malah memberikan semuanya pada si cinta idaman yang sedang lembur, sambil berkata acuh tak acuh, “Dia lebih capek daripada aku.” Hingga di hari aku kecelakaan, dia masih sibuk menyalakan kembang api di seluruh penjuru kota hanya demi membuat cinta pertamanya tersenyum. Aku berlutut memohon padanya, tapi dia malah menatapku rendah dari atas. “Yuna, hubunganmu dan aku hanyalah sebuah transaski.” Begitu membuka mata kembali, aku sudah berada di pesta pertunangan kami. Dia pergi di tengah acara demi menghibur si cinta sejati yang baru saja putus cinta. Kali ini, aku tak mengejarnya. Aku malah mengambil mikrofon di depan semua tamu undangan dan berkata, “Mohon maaf semuanya, pertunangan aku dengan Nathan dibatalkan.”
Voir plusSatu tahun kemudian.Studio investasiku telah berkembang menjadi sebuah perusahaan ekuitas swasta yang cukup ternama.Harris menjadi tamu tetap di kantorku. Hampir setiap dua atau tiga hari sekali dia mampir dengan alasan "pertukaran bisnis", padahal kenyataannya dia selalu membawakan cemilan sore dari berbagai toko berbeda.Para karyawan di kantor selalu bercanda kalau Pak Harris ini ada udang di balik batu.Bukannya aku tak tahu perasaannya, hanya saja bagi seseorang yang sudah pernah mati sekali, sangat sulit untuk membuka hati kembali dengan mudah.Hari ini, baru saja aku menyelesaikan rapat daring, Harris masuk lagi sambil menenteng kotak kue.“Kue kastanye yang baru matang, aku tahu kamu suka,” katanya dengan senyuman lebar.Aku menatapnya pasrah. “Pak Harris, kalau kamu begini terus, aku bakal mulai menagih biaya sewa tempat padamu.”“Tagih saja,” jawabnya santai sambil meletakkan kue di mejaku. “Mau ambil orangnya sekalian juga sangat dipersilakan.”Aku tertawa karena godaannya
Seketika, mata Nathan terbelalak sangat besar.Seluruh rona merah di wajahnya memudar. Bibirnya gemetar hebat, tapi tak ada satu pun kata yang keluar.Dia menatapku dengan tatapan yang dipenuhi ketakutan dan kebingungan yang luar biasa, seolah baru saja mendengar dongeng yang paling mustahil. “Nggak … nggak mungkin … ini nggak mungkin … kamu pasti bohong ….” ujarnya bergumam sendiri.“Aku bohong atau nggak, kamu bisa cari tahu sendiri.”Setelah bicara, aku menaikkan kaca jendela, lalu menginjak pedal gas dalam-dalam dan melaju pergi.Melalui kaca spion, sosoknya terlihat semakin mengecil hingga menjadi sebuah titik hitam, berdiri kaku di tempatnya seperti patung batu yang lapuk dimakan usia.Aku tahu kata-kataku tadi sudah cukup untuk menghancurkan seluruh pendangannya.Seorang wanita yang tak pernah dia anggap, yang bisa dia injak-injak sesuka hati, kini kembali membawa ingatan dan kebencian dari kehidupan sebelumnya untuk menghancurkan segala hal yang selama ini dia banggakan.Rasa
Aku dan Harris berbincang cukup lama.Dia orang yang sangat menarik, humoris, menyenangkan dan cerdas.Dia tak sekalipun mendesakku soal masa laluku dengan Nathan, sebaliknya kami bicara soal pemetaan bisnis masa depan, kecerdasan buatan, hingga soal ambisi yang lebih luas lagi.Aku baru sadar bahwa berbincang dengannya terasa sangat ringan dan menyenangkan.Tak seperti saat bersama Nathan, di mana aku selalu merasa harus terus mengejar langkahnya, menebak pikirannya dan selalu takut salah bicara atau salah berekspresi.Sebelum pulang, Harris memberiku sebuah tawaran.“Nona Yuna, tertarik bergabung dengan Grup Harris? Jabatan dan gaji, kamu bebas tentukan sendiri.”Aku tersenyum sambil menggeleng pelan.“Terima kasih atas kebaikan Pak Harris, tapi untuk sementara aku nggak ingin bekerja untuk siapapun.”Aku ingin hidup untuk diriku sendiri sekali saja.Harris tampak merasa agak sayang, tapi dia tetap menghargai pilihanku.“Baiklah kalau begitu, tapi pintu Grup Lukman akan selalu terbuk
“Ini … ini apa?” Suaranya terdengar serak dan kering.“Sebuah rencana kerja.” Aku menyesap air lemon di meja dengan santai.“Awalnya kurencanakan untuk dikirim ke beberapa musuh bebuyutanmu jam sembilan besok pagi, tapi sepertinya sekarang sudah nggak perlu lagi.”“Kamu!” Nathan mendadak berdiri dan menatapku dengan tajam. Matanya merah dan penuh rasa tak percaya. “Yuna, kamu berani?!”“Lihat saja aku berani atau nggak.” Aku meletakkan gelas, ikut berdiri dan menatapnya dengan sombong.“Sekarang juga, selesaikan masalah perusahaan Ayahku.”“Kalau nggak, aku nggak menjamin cadangan laporan ini bakal muncul di mana saja.”Karin benar-benar membeku ketakutan. Dia ternganga, melihatku dan Nathan yang pucat secara bergantian tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata pun.Dia mungkin tak pernah melihatku yang begitu dominan, dingin, bahkan sedikit kejam seperti ini.Dada Nathan bergerak naik turun dengan cepat. Dia menatapku seolah sedang melihat sosok monster yang benar-benar asing.“Apa … apa s






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.