مشاركة

Bab 5

مؤلف: Jinu
Aku tak pulang ke rumah, melainkan langsung menuju properti milikku yang lain.

Itu adalah apartemen kecil yang kubeli dengan uang hasil kerjaku sendiri, baik Nathan maupun Keluarga Soman tidak ada yang tahu.

Aku butuh lingkungan yang benar-benar tenang untuk merencanakan langkahku selanjutnya.

...

Keesokan harinya, aku menerima telepon dari Ayahku. Suaranya terdengar lelah sekaligus marah.

“Yuna, apa sebenarnya yang kamu lakukan pada Nathan? Beberapa kerja sama perusahaan yang sedang kita negosiasikan batal semua dalam waktu satu malam! Pihak kerja sama bilang ini karena Pak Nathan yang memberi instruksi!”

“Sekarang juga pergi temui dia dan mohon maaf! Kalau nggak, seluruh keluarga kita bisa mati kelaparan!”

Aku mendengarkan raungannya di telepon dengan perasaan datar.

Trik ini sudah pernah digunakan Nathan di kehidupan sebelumnya.

Setiap kali aku "tak patuh", dia akan menggunakan perusahaan Ayahku untuk menekan dan memberiku pelajaran.

Dan Ayahku pun akan selalu menjadi orang pertama yang melimpahkan semua tekanan itu padaku.

“Itu perusahaanmu, bukan perusahaanku,” ujarku dengan dingin. “Cari jalan keluar sendiri.”

“Kamu!” Sangking marahnya, Ayahku sampai kehabisan kata-kata. “Aku ini Ayahmu!”

“Kamu baru ingat dirimu Ayahku hanya saat butuh aku berkorban demi perusahaan.”

Aku pun mematikan telepon dan memblokir nomor itu langsung.

Tak lama kemudian, sebuah nomor asing mengirimkan pesan singkat.

[Yuna, jangan paksa aku.]

Itu pesan dari Nathan.

[Temui aku di tempat biasa, ini kesempatan terakhirmu.]

Tempat biasa yang dimaksud adalah sebuah klub kelas atas di dekat perusahaannya. Di sana jugalah, di kehidupan sebelumnya, aku berkali-kali menundukkan kepala mengakui kesalahan dan memohon maaf darinya.

Dia kira dengan menggunakan taktik yang sama, dia bisa membuatku tunduk seperti dulu.

Aku menatap pesan itu dan tersenyum.

Lalu kubalas dengan dua kata: [Tunggu saja.]

...

Jam tujuh malam, aku muncul tepat waktu di depan pintu ruangan VIP klub tersebut.

Begitu pintu kubuka, Nathan terlihat sedang duduk di sofa dengan postur angkuh. Saat melihatku masuk, dia bahkan tak mengangkat kelopak matanya.

Di sampingnya, ada Karin yang sedang duduk.

Melihatku, Karin langsung menunjukkan ekspresi cemas dan serba salah, lalu menyapa dengan suara pelan yang ragu, “Yuna ….”

Barulah saat itu, Nathan menatapku dengan tatapan dingin.

“Sudah tahu salahmu?”

Aku mengabaikannya, berjalan lurus ke arah seberangnya dan duduk. Kemudian mengeluarkan sebuah USB dari tas dan meletakkannya di atas meja.

“Ini barang yang kamu minta.”

Nathan menaikkan sebelah alisnya, sepertinya agak terkejut karena aku begitu "tahu diri".

Dia mengambil USB itu dengan tatapan penuh penghinaan, merasa seperti pemenang.

“Bukannya lebih baik begini dari awal saja? Nggak perlu sampai begitu memalukan.”

Karin juga menimpali, memerankan sosok penengah yang baik hati, “Yuna, jangan marah-marah lagi dengan Kak Nathan. Dia melakukan ini juga demi kebaikan perusahaan. Cepatlah berbaikan.”

Melihat mereka yang saling sahut menyahut, aku merasa seperti sedang menonton sebuah drama yang menggelikan.

“Nathan,” ucapku perlahan. “Di dalam USB itu bukan hanya ada data proyek Grup Hosan, tapi ada satu hadiah lagi untukmu.”

Nathan mengerutkan kening, jelas tidak paham maksudku.

Aku tersenyum tipis. “Sebaiknya kamu lihat sekarang juga. Kalau nggak, aku takut besok pagi kamu bakal masuk berita viral di koran.”

Nada bicaraku sangat tenang, tapi membawa kekuatan yang tak bisa dibantah.

Nathan menatapku selama beberapa detik, keraguan melintas di matanya.

Akhirnya, dia mengambil USB itu dan mencolokkannya ke laptop di samping.

Pertama, dia membuka berkas proyek Grup Hosan. Dia memeriksanya dengan cepat dan setelah memastikan semuanya benar, raut wajahnya agak melunak.

Kemudian, dia melihat berkas lain dengan nama file: [Hadiah besar untuk Pak Nathan.]

Dia sempat ragu, tapi tetap membukanya.

Di dalam berkas itu, terdapat laporan short selling yang sangat rinci dan lengkap.

Targetnya adalah perusahaan Nathan sendiri.

Laporan itu menganalisis secara detail kebocoran keuangan perusahaan tersebut dalam beberapa tahun terakhir, operasi ilegal, hingga risiko tersembunyi dari sejumlah proyek inti mereka. Semuanya adalah analisis yang bersifat menghancurkan.

Bahkan terlampir sebuah skema lengkap yang bisa membuat harga saham perusahaannya hancur total dalam waktu tiga hari.

Tingkat profesionalitas dan akurasi laporan ini jauh melampaui standar firma investasi papan atas mana pun.

Karena ini adalah rencana mitigasi risiko yang kubuat sendiri di kehidupan sebelumnya untuk membantunya melawan musuh dari luar.

Di dunia ini, tidak ada orang yang lebih tahu letak kelemahan fatal perusahaannya selain aku.

Wajah Nathan berubah drastis, dari yang awalnya menghina, menjadi bingung, lalu terkejut dan akhirnya menjadi memucat.

Tangannya yang memegang mouse tampak gemetar pelan.
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Bukan Lagi Budak Cintanya   Bab 9

    Satu tahun kemudian.Studio investasiku telah berkembang menjadi sebuah perusahaan ekuitas swasta yang cukup ternama.Harris menjadi tamu tetap di kantorku. Hampir setiap dua atau tiga hari sekali dia mampir dengan alasan "pertukaran bisnis", padahal kenyataannya dia selalu membawakan cemilan sore dari berbagai toko berbeda.Para karyawan di kantor selalu bercanda kalau Pak Harris ini ada udang di balik batu.Bukannya aku tak tahu perasaannya, hanya saja bagi seseorang yang sudah pernah mati sekali, sangat sulit untuk membuka hati kembali dengan mudah.Hari ini, baru saja aku menyelesaikan rapat daring, Harris masuk lagi sambil menenteng kotak kue.“Kue kastanye yang baru matang, aku tahu kamu suka,” katanya dengan senyuman lebar.Aku menatapnya pasrah. “Pak Harris, kalau kamu begini terus, aku bakal mulai menagih biaya sewa tempat padamu.”“Tagih saja,” jawabnya santai sambil meletakkan kue di mejaku. “Mau ambil orangnya sekalian juga sangat dipersilakan.”Aku tertawa karena godaannya

  • Bukan Lagi Budak Cintanya   Bab 8

    Seketika, mata Nathan terbelalak sangat besar.Seluruh rona merah di wajahnya memudar. Bibirnya gemetar hebat, tapi tak ada satu pun kata yang keluar.Dia menatapku dengan tatapan yang dipenuhi ketakutan dan kebingungan yang luar biasa, seolah baru saja mendengar dongeng yang paling mustahil. “Nggak … nggak mungkin … ini nggak mungkin … kamu pasti bohong ….” ujarnya bergumam sendiri.“Aku bohong atau nggak, kamu bisa cari tahu sendiri.”Setelah bicara, aku menaikkan kaca jendela, lalu menginjak pedal gas dalam-dalam dan melaju pergi.Melalui kaca spion, sosoknya terlihat semakin mengecil hingga menjadi sebuah titik hitam, berdiri kaku di tempatnya seperti patung batu yang lapuk dimakan usia.Aku tahu kata-kataku tadi sudah cukup untuk menghancurkan seluruh pendangannya.Seorang wanita yang tak pernah dia anggap, yang bisa dia injak-injak sesuka hati, kini kembali membawa ingatan dan kebencian dari kehidupan sebelumnya untuk menghancurkan segala hal yang selama ini dia banggakan.Rasa

  • Bukan Lagi Budak Cintanya   Bab 7

    Aku dan Harris berbincang cukup lama.Dia orang yang sangat menarik, humoris, menyenangkan dan cerdas.Dia tak sekalipun mendesakku soal masa laluku dengan Nathan, sebaliknya kami bicara soal pemetaan bisnis masa depan, kecerdasan buatan, hingga soal ambisi yang lebih luas lagi.Aku baru sadar bahwa berbincang dengannya terasa sangat ringan dan menyenangkan.Tak seperti saat bersama Nathan, di mana aku selalu merasa harus terus mengejar langkahnya, menebak pikirannya dan selalu takut salah bicara atau salah berekspresi.Sebelum pulang, Harris memberiku sebuah tawaran.“Nona Yuna, tertarik bergabung dengan Grup Harris? Jabatan dan gaji, kamu bebas tentukan sendiri.”Aku tersenyum sambil menggeleng pelan.“Terima kasih atas kebaikan Pak Harris, tapi untuk sementara aku nggak ingin bekerja untuk siapapun.”Aku ingin hidup untuk diriku sendiri sekali saja.Harris tampak merasa agak sayang, tapi dia tetap menghargai pilihanku.“Baiklah kalau begitu, tapi pintu Grup Lukman akan selalu terbuk

  • Bukan Lagi Budak Cintanya   Bab 6

    “Ini … ini apa?” Suaranya terdengar serak dan kering.“Sebuah rencana kerja.” Aku menyesap air lemon di meja dengan santai.“Awalnya kurencanakan untuk dikirim ke beberapa musuh bebuyutanmu jam sembilan besok pagi, tapi sepertinya sekarang sudah nggak perlu lagi.”“Kamu!” Nathan mendadak berdiri dan menatapku dengan tajam. Matanya merah dan penuh rasa tak percaya. “Yuna, kamu berani?!”“Lihat saja aku berani atau nggak.” Aku meletakkan gelas, ikut berdiri dan menatapnya dengan sombong.“Sekarang juga, selesaikan masalah perusahaan Ayahku.”“Kalau nggak, aku nggak menjamin cadangan laporan ini bakal muncul di mana saja.”Karin benar-benar membeku ketakutan. Dia ternganga, melihatku dan Nathan yang pucat secara bergantian tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata pun.Dia mungkin tak pernah melihatku yang begitu dominan, dingin, bahkan sedikit kejam seperti ini.Dada Nathan bergerak naik turun dengan cepat. Dia menatapku seolah sedang melihat sosok monster yang benar-benar asing.“Apa … apa s

  • Bukan Lagi Budak Cintanya   Bab 5

    Aku tak pulang ke rumah, melainkan langsung menuju properti milikku yang lain.Itu adalah apartemen kecil yang kubeli dengan uang hasil kerjaku sendiri, baik Nathan maupun Keluarga Soman tidak ada yang tahu.Aku butuh lingkungan yang benar-benar tenang untuk merencanakan langkahku selanjutnya....Keesokan harinya, aku menerima telepon dari Ayahku. Suaranya terdengar lelah sekaligus marah.“Yuna, apa sebenarnya yang kamu lakukan pada Nathan? Beberapa kerja sama perusahaan yang sedang kita negosiasikan batal semua dalam waktu satu malam! Pihak kerja sama bilang ini karena Pak Nathan yang memberi instruksi!”“Sekarang juga pergi temui dia dan mohon maaf! Kalau nggak, seluruh keluarga kita bisa mati kelaparan!”Aku mendengarkan raungannya di telepon dengan perasaan datar.Trik ini sudah pernah digunakan Nathan di kehidupan sebelumnya.Setiap kali aku "tak patuh", dia akan menggunakan perusahaan Ayahku untuk menekan dan memberiku pelajaran.Dan Ayahku pun akan selalu menjadi orang pertama

  • Bukan Lagi Budak Cintanya   Bab 4

    Aku tak berlama-lama di hotel. Aku segera menyewa sebuah apartemen dan mulai menata hidupku kembali untuk sementara.Hari ini, saat aku sedang mempelajari laporan investasi di rumah, aku menerima telepon dari orang yang tak terduga.Dia adalah asisten Nathan, Nelson.“Nona Yuna.” Nada bicara Nelson sangat sopan. “Pak Nathan ada rapat mendadak, tapi laporan analisis tentang proyek Grup Hosan tak bisa ditemukan. Karena kamu yang selama ini memegang proyek itu, kamu tahu di mana laporannya disimpan?” Proyek Grup Hosan ....Tentu saja aku ingat.Di kehidupan sebelumnya, proyek ini adalah titik balik dalam karir Nathan, tapi di dalamnya juga terdapat jebakan yang sangat besar.Saat itu, aku begadang selama tiga malam berturut-turut demi memeriksa dokumen yang tak terhitung jumahnya hanya untuk menemukan jebakan itu. Aku pun membantunya menghindar dengan sempurna, hingga dia meraup keuntungan luar biasa.Berkat proyek itulah, posisinya di perusahaan benar-benar stabil.Aku menggenggam ponse

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status