แชร์

Bab 3

ผู้เขียน: Jinu
Aku menginap di sebuah hotel di pusat kota.

Baru saja selesai mandi, telepon di hotel berdering.

Aku mengangkatnya dan suara tajam, serta sinis Ibu Nathan langsung terdengar dari balik telepon.

“Yuna, kamu sudah hebat sekarang! Berani-beraninya mempermalukan anakku di pesta pertunangan! Emangnya kamu pikir kamu siapa?! Hanya anak haram rendahan. Kalau bukan karena Nathan, kamu bahkan nggak pantas melayani Keluarga Jihan!”

“Dengarkan baik-baik, sebelum besok pagi, kalau kamu belum datang ke sini, berlutut dan minta maaf, jangan harap Keluarga Soman bisa tetap bertahan di Kota Gatam.”

Aku mendengar omelannya dengan tenang, sampai dia puas meluapkan emosinya, lalu hanya menyahut pelan, “Oh.”

“Bu Harti, sudah selesai bicaranya?”

“Kalau sudah, biar kututup. Aku mau pakai masker.”

Tanpa menunggu reaksinya, aku langsung menutup telepon.

Mendengar nada sibuk di telepon, aku bisa membayangkan betapa murkanya Ibu Nathan.

Di kehidupan sebelumnya, demi menyenangkannya, aku membuang semua hobiku. Aku belajar seni menyeduh teh, merangkai bunga, bahkan belajar opera yang dia sukai. Aku membuat diriku sendiri menjadi sosok yang dia inginkan.

Namun, dia tak pernah sekalipun memandangku dengan tulus.

Di matanya, setinggi apapun pendidikanku, sehebat apapun kemampuanku, aku tak akan pernah bisa menghapus status "anak haram" itu.

Dia menyetujui pernikahanku dengan Nathan hanya karena dia melihatku bisa membantu mengurus perusahaan Nathan dan aku cukup "penurut" sehingga tak akan menjadi ancaman bagi putranya.

Sambil memakai masker, aku membuka ponsel dan mulai mengurus berbagai aset yang bertahun-tahun ini bercampur dengan urusan Nathan.

Sebuah yayasan amal atas nama kami berdua langsung kuajukan proses likuidasi dan pengunduran diri tanpa ragu.

Beberapa lembar saham perdana perusahaannya yang ada di bawah namaku langsung kupasang di harga terendah, siap untuk kujual habis.

Setelah melakukan itu, rasanya seluruh badanku jadi ringan.

...

Keesokan paginya, pintu kamarku diketuk.

Kupikir itu pelayan hotel, tapi saat kubuka, malah terlihat wajah Karin yang tampak rapuh dan kasihan.

Dia memakai gaun putih, matanya merah seolah habis menangis semalaman.

“Yuna ….” Begitu dia bicara, suaranya terdengar gemetar ingin menangis. “Kamu dan Kak Nathan kenapa sebenarnya? Kemarin dia mencarimu semalaman, sampai hampir gila sangking khawatirnya.”

“Apa karena aku? Kalau memang karena aku, biar aku … yang jelaskan. Aku nggak akan ketemu dia lagi!”

Sambil bicara, air matanya mulai jatuh. Dia berakting seolah-olah rela mengorbankan dirinya demi hubungan ini.

Sayang sekali kalau bakat akting ini disia-siakan.

Di kehidupan sebelumnya, dia menggunakan wajah ini untuk berakting di depanku selama belasan tahun.

Setiap kali ada masalah, dia selalu menyalahkan kesalahan pada dirinya sendiri agar terlihat polos dan baik hati, yang justru membuatku terlihat seperti istri yang pencemburu.

Aku bersandar di kusen pintu, menatapnya dengan santai.

“Bukan karena kamu.”

Karin terdiam sejenak, sepertinya tak menyangka aku akan menjawab begitu.

Aku tersenyum dan melanjutkan, “Aku tiba-tiba sadar saja, memaksakan sesuatu itu nggak baik. Nathan itu mencintaimu. Jadi, nggak ada gunanya aku terus mengejarnya. Lebih baik kulepaskan, biar kalian bisa bersama.”

“Karin, semoga kalian bahagia.”

Nada bicaraku tulus, tatapanku juga tampak jujur.

Karin benar-benar bengong.

Semua kalimat manipulatif yang sudah dia siapkan di kepala jadi tak terpakai sama sekali.

Dia menatapku dengan tatapan penuh selidik dan kebingungan, seolah ingin memastikan apakah aku sedang menyindir atau tidak.

“Yuna, kamu … kamu jangan bicara begitu, aku dan Kak Nathan hanya teman ….”

“Teman atau bukan, kamu sendiri yang tahu.” Aku memotongnya. “Mulai sekarang, jangan cari aku lagi. Aku nggak mau berhubungan lagi dengan kalian.”

Aku pun menutup pintu, memutus pandangan dari wajahnya yang masih terkejut.

Tak lama kemudian, ponselku menerima pesan baru dari Nathan.

[Yuna, sebenarnya apa maumu? Kamu bicara sembarangan ke Karin?]

[Kuperingatkan, jangan seret dia ke masalah ini. Dia nggak ada hubungannya dengan urusan di antara kita.]

Melihat kalimat "urusan di antara kita", rasanya sangat ironis.

Kapan pernah ada "kita" di antara aku dan dia?

Selama ini yang ada hanyalah dia dan Karin, si pujaan hatinya itu.

Aku langsung memblokir nomornya.

Dunia ini ... akhirnya terasa tenang.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Bukan Lagi Budak Cintanya   Bab 9

    Satu tahun kemudian.Studio investasiku telah berkembang menjadi sebuah perusahaan ekuitas swasta yang cukup ternama.Harris menjadi tamu tetap di kantorku. Hampir setiap dua atau tiga hari sekali dia mampir dengan alasan "pertukaran bisnis", padahal kenyataannya dia selalu membawakan cemilan sore dari berbagai toko berbeda.Para karyawan di kantor selalu bercanda kalau Pak Harris ini ada udang di balik batu.Bukannya aku tak tahu perasaannya, hanya saja bagi seseorang yang sudah pernah mati sekali, sangat sulit untuk membuka hati kembali dengan mudah.Hari ini, baru saja aku menyelesaikan rapat daring, Harris masuk lagi sambil menenteng kotak kue.“Kue kastanye yang baru matang, aku tahu kamu suka,” katanya dengan senyuman lebar.Aku menatapnya pasrah. “Pak Harris, kalau kamu begini terus, aku bakal mulai menagih biaya sewa tempat padamu.”“Tagih saja,” jawabnya santai sambil meletakkan kue di mejaku. “Mau ambil orangnya sekalian juga sangat dipersilakan.”Aku tertawa karena godaannya

  • Bukan Lagi Budak Cintanya   Bab 8

    Seketika, mata Nathan terbelalak sangat besar.Seluruh rona merah di wajahnya memudar. Bibirnya gemetar hebat, tapi tak ada satu pun kata yang keluar.Dia menatapku dengan tatapan yang dipenuhi ketakutan dan kebingungan yang luar biasa, seolah baru saja mendengar dongeng yang paling mustahil. “Nggak … nggak mungkin … ini nggak mungkin … kamu pasti bohong ….” ujarnya bergumam sendiri.“Aku bohong atau nggak, kamu bisa cari tahu sendiri.”Setelah bicara, aku menaikkan kaca jendela, lalu menginjak pedal gas dalam-dalam dan melaju pergi.Melalui kaca spion, sosoknya terlihat semakin mengecil hingga menjadi sebuah titik hitam, berdiri kaku di tempatnya seperti patung batu yang lapuk dimakan usia.Aku tahu kata-kataku tadi sudah cukup untuk menghancurkan seluruh pendangannya.Seorang wanita yang tak pernah dia anggap, yang bisa dia injak-injak sesuka hati, kini kembali membawa ingatan dan kebencian dari kehidupan sebelumnya untuk menghancurkan segala hal yang selama ini dia banggakan.Rasa

  • Bukan Lagi Budak Cintanya   Bab 7

    Aku dan Harris berbincang cukup lama.Dia orang yang sangat menarik, humoris, menyenangkan dan cerdas.Dia tak sekalipun mendesakku soal masa laluku dengan Nathan, sebaliknya kami bicara soal pemetaan bisnis masa depan, kecerdasan buatan, hingga soal ambisi yang lebih luas lagi.Aku baru sadar bahwa berbincang dengannya terasa sangat ringan dan menyenangkan.Tak seperti saat bersama Nathan, di mana aku selalu merasa harus terus mengejar langkahnya, menebak pikirannya dan selalu takut salah bicara atau salah berekspresi.Sebelum pulang, Harris memberiku sebuah tawaran.“Nona Yuna, tertarik bergabung dengan Grup Harris? Jabatan dan gaji, kamu bebas tentukan sendiri.”Aku tersenyum sambil menggeleng pelan.“Terima kasih atas kebaikan Pak Harris, tapi untuk sementara aku nggak ingin bekerja untuk siapapun.”Aku ingin hidup untuk diriku sendiri sekali saja.Harris tampak merasa agak sayang, tapi dia tetap menghargai pilihanku.“Baiklah kalau begitu, tapi pintu Grup Lukman akan selalu terbuk

  • Bukan Lagi Budak Cintanya   Bab 6

    “Ini … ini apa?” Suaranya terdengar serak dan kering.“Sebuah rencana kerja.” Aku menyesap air lemon di meja dengan santai.“Awalnya kurencanakan untuk dikirim ke beberapa musuh bebuyutanmu jam sembilan besok pagi, tapi sepertinya sekarang sudah nggak perlu lagi.”“Kamu!” Nathan mendadak berdiri dan menatapku dengan tajam. Matanya merah dan penuh rasa tak percaya. “Yuna, kamu berani?!”“Lihat saja aku berani atau nggak.” Aku meletakkan gelas, ikut berdiri dan menatapnya dengan sombong.“Sekarang juga, selesaikan masalah perusahaan Ayahku.”“Kalau nggak, aku nggak menjamin cadangan laporan ini bakal muncul di mana saja.”Karin benar-benar membeku ketakutan. Dia ternganga, melihatku dan Nathan yang pucat secara bergantian tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata pun.Dia mungkin tak pernah melihatku yang begitu dominan, dingin, bahkan sedikit kejam seperti ini.Dada Nathan bergerak naik turun dengan cepat. Dia menatapku seolah sedang melihat sosok monster yang benar-benar asing.“Apa … apa s

  • Bukan Lagi Budak Cintanya   Bab 5

    Aku tak pulang ke rumah, melainkan langsung menuju properti milikku yang lain.Itu adalah apartemen kecil yang kubeli dengan uang hasil kerjaku sendiri, baik Nathan maupun Keluarga Soman tidak ada yang tahu.Aku butuh lingkungan yang benar-benar tenang untuk merencanakan langkahku selanjutnya....Keesokan harinya, aku menerima telepon dari Ayahku. Suaranya terdengar lelah sekaligus marah.“Yuna, apa sebenarnya yang kamu lakukan pada Nathan? Beberapa kerja sama perusahaan yang sedang kita negosiasikan batal semua dalam waktu satu malam! Pihak kerja sama bilang ini karena Pak Nathan yang memberi instruksi!”“Sekarang juga pergi temui dia dan mohon maaf! Kalau nggak, seluruh keluarga kita bisa mati kelaparan!”Aku mendengarkan raungannya di telepon dengan perasaan datar.Trik ini sudah pernah digunakan Nathan di kehidupan sebelumnya.Setiap kali aku "tak patuh", dia akan menggunakan perusahaan Ayahku untuk menekan dan memberiku pelajaran.Dan Ayahku pun akan selalu menjadi orang pertama

  • Bukan Lagi Budak Cintanya   Bab 4

    Aku tak berlama-lama di hotel. Aku segera menyewa sebuah apartemen dan mulai menata hidupku kembali untuk sementara.Hari ini, saat aku sedang mempelajari laporan investasi di rumah, aku menerima telepon dari orang yang tak terduga.Dia adalah asisten Nathan, Nelson.“Nona Yuna.” Nada bicara Nelson sangat sopan. “Pak Nathan ada rapat mendadak, tapi laporan analisis tentang proyek Grup Hosan tak bisa ditemukan. Karena kamu yang selama ini memegang proyek itu, kamu tahu di mana laporannya disimpan?” Proyek Grup Hosan ....Tentu saja aku ingat.Di kehidupan sebelumnya, proyek ini adalah titik balik dalam karir Nathan, tapi di dalamnya juga terdapat jebakan yang sangat besar.Saat itu, aku begadang selama tiga malam berturut-turut demi memeriksa dokumen yang tak terhitung jumahnya hanya untuk menemukan jebakan itu. Aku pun membantunya menghindar dengan sempurna, hingga dia meraup keuntungan luar biasa.Berkat proyek itulah, posisinya di perusahaan benar-benar stabil.Aku menggenggam ponse

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status