MasukYang dia inginkan hanyalah menyingkirkan pebisnis penuh catatan buruk seperti Declan, agar tidak lagi berbuat semena-mena di dunia bisnis. Kebangkrutan Keluarga Datau bukan sekadar hasil, tapi juga sebuah peringatan bagi pihak luar."Baik, Pak Raka. Untuk urusan selanjutnya, kami akan memproses sesuai prosedur bisnis normal.""Mm," jawab Raka singkat.Gavin juga paham, tujuan bosnya sudah tercapai. Sisa-sisa yang ditinggalkan Keluarga Datau sudah tidak layak lagi menarik perhatiannya. Badai yang menargetkan Grup Datau ini pun bisa dihentikan.....Pagi hari, berita utama di halaman depan berita finansial langsung diisi oleh kabar tentang likuidasi kebangkrutan Grup Datau. Laporan tersebut merinci kondisi Grup Datau dengan sangat detail dan pemilihan katanya pun sangat hati-hati.Namun, orang-orang berpengaruh di dunia bisnis semua langsung paham siapa yang menggerakkan semua ini di belakang layar. Untuk sesaat, arus bawah di dunia bisnis mulai bergejolak.Tanpa diragukan lagi, sosok it
Sambil mengemudikan mobil, Faye melihat ayahnya lewat kaca spion. Di dalam hatinya, kebencian dan amarah terhadap Devina juga sangat kuat. Begitu teringat bahwa Devina telah menipu seluruh keluarga mereka, bahkan sampai menyebabkan Grup Datau bangkrut, dia benar-benar merasak menjijikkan.Kalau dari awal dia mengatakan bahwa Raka tidak bisa diandalkan, ayahnya tidak akan sampai jatuh ke titik ini. Bahkan dulu saat perusahaan belum go public, ayahnya masih tergolong kelas menengah.Saat mengingat bagaimana sikap Devina di depan dirinya, Faye semakin merasa menjijikkan dan konyol. Seolah-olah benar-benar menganggap Raka sebagai pacar, bahkan calon suami untuk dipamerkan.Padahal kenyataannya, Raka hanya memanfaatkan darah Devina untuk menyelamatkan keluarganya. Akting Devina benar-benar berhasil. Namun, kenapa pada akhirnya Raka juga bercerai dengan Brielle?Setelah berpikir beberapa saat, dia samar-samar mulai mengerti. Devina sangat mencintai Raka, bagaimana mungkin dia tidak ikut meng
Declan langsung tak bisa berkata-kata, hanya menatap putri sulungnya. Di samping, Faye juga tampak sedikit termangu."Aku kasih tahu kalian, aku nggak salah. Aku bisa sampai di titik ini karena kemampuanku sendiri. Kalian saja yang nggak becus menjaga perusahaan. Jangan coba-coba menyalahkan semuanya ke aku. Aku juga rugi 13% saham, tahu!"Faye tiba-tiba merasa Devina yang berada di depannya sangat konyol. "Kalau begitu, kenapa kamu di rumah kita pura-pura mesra dengan Pak Raka? Kenapa kamu berakting seolah-olah dia sangat menyayangimu? Kenapa membuat kita semua salah paham seakan-akan kamu bisa jadi Nyonya Pramudita?"Harus diakui, pertanyaan Faye tepat menusuk sisi paling munafik dan paling memalukan dari Devina.Devina menoleh tajam, menatap Faye dengan sorot mata dingin. Beberapa detik kemudian, dia mencibir. "Kenapa? Karena aku suka! Aku mau! Memangnya kamu bisa melarangku?""Oh! Jadi semua antara kamu dan Pak Raka itu cuma sandiwara yang kamu buat sendiri? Sampai kita semua perca
Suara Brielle terngiang di benaknya. Raka menukar sesuatu yang baginya paling tidak berharga dengan masa muda indahnya yang tak akan pernah kembali, serta tubuh yang sudah terkuras habis. Lalu, apa yang sebenarnya bisa dia banggakan?Ekspresi kagum di wajah Devina seketika berubah menjadi penuh kebencian dan ketidakrelaan. Dia menatap enam set perhiasan berkilauan di depannya, tetapi yang dia rasakan justru dingin menusuk.Perhiasan-perhiasan ini sama sekali bukan hadiah, melainkan bayaran yang diberikan Raka kepadanya, juga menjadi alat yang dia gunakan selama ini untuk berakting di depan Brielle, sekaligus simbol gengsinya.Tiba-tiba, pintunya diketuk. Devina melirik waktu. Sudah selarut ini, siapa yang datang mencarinya?Saat dia berjalan ke layar CCTV di ruang tamu dan melihat orang di luar, dia pun tertegun beberapa detik. Kenapa ayahnya yang datang?"Devina, aku tahu kamu di rumah. Buka pintu." Suara kesal Declan terdengar dari layar.Devina berbalik dan berlari ke atas dengan ce
"Apa? Kenapa dia melakukan ini? Kapan Keluarga Datau pernah menyinggungnya?" Flora juga terkejut dan tidak percaya."Aku ini bahkan menganggapnya calon menantu, tapi dia justru menusuk dari belakang seperti ini." Dada Declan naik turun dengan hebat. Mengingat bagaimana dulu dia menghormati dan menjilat Raka, kini yang tersisa hanya kebencian dan amarah.Kalau dipikir-pikir, sejak dulu Raka membantunya go public, lalu membantunya mengurus investasi luar negeri, setiap langkah seperti jebakan yang dirancang rapi. Dari awal sampai akhir, semuanya adalah bagian dari rencananya, hanya untuk membuat Grup Datau bangkrut."Bagaimana bisa Pak Raka melakukan ini? Bukankah dia dan Devina ...." Mata Flora memancarkan amarah besar. "Jangan-jangan semua ini disuruh oleh gadis sialan itu, Devina?"Baru saat itu Declan teringat pada putrinya, anak haramnya, orang yang dulu menjadi penghubung antara Keluarga Datau dan Raka.Declan langsung mengambil jaketnya dan keluar. Dia harus menanyakan semuanya de
Di rumah Keluarga Datau.Declan duduk di sofa, dalam semalam seolah-olah menua sepuluh tahun. Rambutnya berantakan, matanya cekung, sebatang rokok terselip di mulutnya, sementara sorot matanya dipenuhi amarah dan ketidakrelaan.Flora turun dari lantai dua. Sampai sekarang dia masih belum bisa menerima kenyataan. Bagaimana mungkin perusahaan yang tadinya baik-baik saja tiba-tiba jatuh ke jurang kehancuran?Declan sedang menelepon. Begitu panggilan tersambung, dia langsung merendahkan sikapnya dan memohon, "Halo! Akhirnya kamu angkat juga. Bisa nggak kasih aku dana talangan jangka pendek? Begitu perusahaanku pulih, pasti langsung aku kembalikan.""Maaf sekali, kali ini aku benar-benar nggak bisa bantu.""Demi hubungan kita ....""Maaf ya, Pak Declan."Telepon langsung ditutup.Brak! Declan menggebrak meja dan meraung, "Dasar sekumpulan pengkhianat! Dulu sok akrab panggil saudara, sekarang satu per satu nggak angkat telepon atau bilang nggak punya uang! Sialan!"Dia masih ingat beberapa b
Brielle kembali ke kantor. Cherlina masuk dengan membawa dua gelas kopi. "Nih, aku bawain satu buat kamu sekalian."Brielle menerima kopinya. "Terima kasih.""Bunga ini cantik juga ya." Cherlina mengagumi buket itu.Namun bagi Brielle, bunga itu terasa sangat menjengkelkan. Dia berkata kepada Cherli
Seiring musik pengiring mengalun, jari-jari kecil Anya menari lincah di atas tuts hitam-putih. Alunan nada mengalir mulus dan merdu memenuhi seluruh aula.Brielle diam-diam mengikuti ritme dan menghitung ketukan putrinya. Dia mendapati bahwa kali ini Anya bermain sangat stabil. Malah Brielle sendiri
Derrick mengangguk, "Dari luar, tampaknya cuma sebatas kerja sama komersial dalam bidang teknologi. Tapi pertukaran teknologi yang lebih mendalam, tentu akan terbentuk secara alami di dalam kerja sama tersebut."Selesai berbicara, dia menatap Brielle secara khusus.Brielle langsung memahami pola ker
"Alasan aku mengumpulkan semua orang hari ini adalah untuk mengumumkan sebuah kabar baik." Suara Madeline terdengar jelas dan lantang. "Melalui keputusan bulat dewan universitas, diputuskan untuk memberikan gelar profesor secara khusus kepada Brielle, juga merekrutnya sebagai dosen tamu di universit







