LOGINSuasana di seberang sana hening beberapa detik. Kemudian, nada suara Declan sedikit melunak. "Ayah tahu kamu punya kesulitan sendiri, tapi kondisi perusahaan kita sekarang kamu juga tahu .... Anggap saja Ayah memohon padamu. Tolong minta bantuan Raka ya.""Ayah, daripada bergantung pada orang lain, lebih baik kita cari jalan sendiri.""Begini, malam ini Ayah ada jamuan makan, kamu datang saja. Nanti Ayah kenalin kamu dengan bos perusahaan Brilliant. Dia juga sangat menghargai bakatmu," kata Declan tiba-tiba.Devina merasa tidak suka. "Ayah tahu aku nggak suka acara seperti itu.""Devina, dengarkan Ayah, anggap saja hargai Ayah. Datang makan malam saja." Nada Declan tidak memberi ruang untuk dibantah. "Lagi pula, kamu juga hadir sebagai perwakilan pemegang saham perusahaan."Devina menggenggam ponselnya. Jika perusahaan ini tidak ada hubungannya dengannya, dia memang malas menghadapi semua ini. Namun, sekarang dia adalah pemegang saham, memang tidak bisa tidak peduli."Baiklah. Kirim al
"Benar-benar nggak ada cara lain?" tanya Devina dengan tidak rela."Kecuali kamu bisa membuktikan Pak Raka melakukan penipuan. Tentu saja, itu sangat sulit."Devina merapikan rambut panjang di dahinya dengan pusing. Raka memang kejam. Apakah dia benar-benar berniat mengikatnya seumur hidup?Atau ini balasannya atas semua hal berlebihan yang pernah dia lakukan? Apakah Raka membencinya karena telah menghancurkan pernikahannya dengan Brielle?Kebencian yang kuat muncul di mata Devina. Ternyata, semua sikap beraninya di depan Raka selama ini, semuanya ada harganya.Meskipun sudah menemukan cara lain untuk menyelamatkan ibunya, Raka tetap tidak membiarkannya bebas.Devina mengakui, dulu memang dia sering bertindak terlalu jauh. Dia keras kepala, bertindak semaunya, terus-menerus menantang batas kesabaran Raka.Devina teringat bagaimana dulu dia dengan bangga memamerkan segalanya di depan Brielle, bagaimana dia sengaja menciptakan kedekatan ambigu dengan Raka, bahkan pada jamuan malam Tahun
Tangan Raka yang bertopang pada pintu sedikit bergetar. Dia menarik napas dalam-dalam. "Aku tahu aku nggak berhak ikut campur, tapi ...."Raka seolah-olah mengumpulkan seluruh keberanian saat meneruskan, "Aku peduli padamu."Brielle menatapnya dengan tenang, tanpa kebencian maupun riak emosi. "Kalau aku nikah lagi, aku akan memberitahumu."Napas Raka langsung tersendat, dadanya naik turun beberapa detik. Suaranya serak saat bertanya, "Kalian ... sudah membicarakan pernikahan?"Brielle sendiri tidak tahu kenapa emosi Raka tiba-tiba sebesar ini. Dia mengernyit. "Raka, semuanya sudah berlalu.""Nggak bisa!" Raka hampir berteriak. "Aku tahu aku nggak pantas .... Aku hanya ... hanya ingin tahu, apakah aku benar-benar sudah kehilanganmu sepenuhnya."Brielle tertegun beberapa detik. Dia refleks mundur selangkah, merasa pria di depannya tiba-tiba seperti binatang buas yang gelisah dan berbahaya.Raka mengangkat kepala menatap sosok Brielle yang mundur. Seketika, dia sadar dirinya telah menakut
Di ruang rapat, Smith menjelaskan perkembangan terbaru kondisi Meira. Karena usianya serta penyakit bawaan yang dimilikinya, dalam hal pemulihan masih perlu penyesuaian yang fleksibel. Namun, semua tanda menunjukkan bahwa kondisinya sedang membaik."Aku sudah menyusun daftar data. Beberapa titik penanda ini punya tingkat kecocokan yang tinggi dengan Bu Meira." Brielle membuka laptopnya.Raka segera berdiri dan mendekat. Dia mencondongkan tubuhnya ke layar. Bahu mereka hampir bersentuhan.Alis Brielle kembali berkerut. Dia sedikit bersandar ke kursi, lalu melanjutkan, "Aku butuh lebih banyak sampel untuk perbandingan.""Aku akan memintanya bekerja sama denganmu," jawab Raka dengan suara rendah.Saat itu, ponsel Smith berdering. Dia mengangkatnya dan memberi isyarat kepada mereka berdua sebelum keluar untuk menerima telepon.Di ruangan itu hanya tersisa dua orang. Raka memiringkan kepala, menatap wajah samping yang begitu dekat di hadapannya. Tatapannya yang dalam bergerak dari alis ke m
Devina menggigit bibir merahnya kuat-kuat. Kata-kata Brielle membuatnya tak mampu membalas."Pokoknya dia melakukan semua itu untukku. Memangnya dia pernah melakukan hal yang sama untukmu?" Devina masih belum menyerah, mencoba memancing emosi Brielle.Brielle mencibir dingin. "Aku bukan objek penelitian yang dia atur. Dia nggak perlu melakukan hal-hal itu untukku."Makna di balik ucapannya jelas, Devina sejak awal hanyalah objek penelitian. Semua yang dilakukan Raka hanyalah cara agar dia mau bekerja sama dalam eksperimen.Kilatan kesal melintas di mata Devina. Sejak kapan pikiran Brielle menjadi sejernih ini? Bukankah emosinya seharusnya terpancing?"Kalau kamu masih ingin mengakhiri semuanya dengan baik, hanya ada satu jalan. Selesaikan apa yang harus kamu lakukan dengan patuh. Itu baik untuk kita berdua." Brielle mengingatkannya dengan dingin.Devina menggenggam tasnya, menatap tajam Brielle. "Brielle, kamu kira kalau sekarang kamu berdiri di pihaknya, dia akan benar-benar tulus pad
Devina menggigit bibirnya, mengingat hari ketika Raka membicarakan soal saham dengannya. Raka secara pribadi menjelaskan setiap klausul kepadanya, seolah-olah menyuapinya seteguk demi seteguk racun dengan tangan sendiri, sementara dia menerimanya dengan penuh kebahagiaan.Padahal dia sebenarnya bisa saja menyuruh pengacara atau asistennya yang membahasnya, tetapi karena Raka sendiri yang melakukannya, bagi Devina itu terasa sangat berarti.Siapa sangka, yang dia berikan bukanlah sesendok madu, melainkan segelas racun.Sekarang ketika dipikirkan kembali, pasti ada klausul jebakan dalam kontrak itu, memastikan bahwa Raka bisa menarik kembali semuanya kapan saja, memaksanya untuk terus berkompromi.Wajah Devina sedikit memucat. Tiba-tiba, dia teringat Brielle. Sekarang Brielle bekerja di laboratorium milik Raka, mungkinkah Brielle sedang membalas dendam padanya?Asal ada alasan apa pun, mereka bisa memaksanya datang untuk pengambilan darah. Pasti begitu, pasti Brielle sedang membalas keja
"Di perjalanan, Anya meletakkan pialanya di samping dan kembali bermain dengan mainannya. Brielle menoleh ke belakang dan melihat putrinya sama sekali tidak terlalu menggantungkan diri pada rasa bangga itu. Dia malah merasa sedikit lega, anak-anak seharusnya tetap memiliki sifat polos dan alami mere
Lebih-lebih lagi, dunia bisnis penuh dengan tipu muslihat."Brielle, aku nggak punya niat apa pun. Aku hanya berharap bisa memberi Anya jaminan untuk masa depannya." Raka tetap berwajah tenang seperti biasa.Brielle mengerutkan kening. Cara laki-laki ini menghitung dan menekan orang lain sudah lama
Pandangan Lambert jatuh pada Brielle. Dia sedang menatap kedua anak yang bermain piano. Cahaya matahari senja membungkus mereka dengan lembut.Lambert sempat kehilangan fokus. Andai suatu hari mereka bisa menjadi keluarga berempat seperti yang dibicarakan orang, itu pasti luar biasa.Pukul 8 malam,
Saat itu, dua pria paruh baya yang berdiri di samping Hubert juga memperhatikan Raka dan Brielle. Salah satu dari mereka menghela napas dan berkata, "Pak Raka benar-benar masih muda. Berani mempertaruhkan masa depan bisnis MD pada seorang ilmuwan muda, bukankah itu terlalu ceroboh?""Belakangan ini







