Share

Bab 1129

Author: Ayesha
Melihat ekspresi putrinya yang begitu fokus, Brielle lalu membalas.

[ Lain kali kasih tahu aku dulu. ]

[ Raka: Oke, aku cuma bawa dia keluar untuk bersantai. ]

Brielle tidak membalas lagi. Namun di kantor pusat Grup Pramudita, suasana hati seseorang sangat baik.

"Papa, aku sudah selesai menggambar." Anya mengangkat kertas gambarnya, sebuah diagram struktur perusahaan sederhana yang tampak lucu. Raka mengusap kepala kecilnya dan memuji, "Bagus sekali."

"Aku mau bawa pulang untuk ditunjukkan ke Ma
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Suryat
kalau endingnya Raka Brielle rujuk,semoga Niro bertemu jodoh terbaik
goodnovel comment avatar
maya ros
ga rela banget kalau² Niro harus jadi sad boy
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1328

    Brielle meletakkan ponselnya, lalu mengangkat cangkir teh sambil menatap ke luar jendela tanpa daya. "Kita semua harus terus melangkah maju."Saat itu, ponselnya kembali berbunyi, bahkan berturut-turut sampai empat atau lima kali. Sepertinya ada foto yang dikirim.Brielle segera mengambil ponselnya untuk melihat. Dia yakin itu pasti foto putrinya. Benar saja, beberapa foto lucu Anya terkirim. Jelas, putrinya bermain dengan sangat senang, senyumannya cerah dan manis."Itu foto Anya ya? Coba aku lihat, sudah lama aku nggak ketemu dia."Brielle menyerahkan ponselnya agar Syahira bisa melihat foto-foto putrinya. Syahira sedang asyik melihatnya ketika sebuah pesan baru muncul.[ Anya kangen sekali sama kamu. Mau dijemput ke sini buat sekalian refreshing? ]Pesan dari Raka.Mata Syahira seketika berkedip beberapa kali. Dia menatap Brielle di depannya, lalu menyerahkan kembali ponselnya. "Raka kirim pesan lagi."Brielle mengambilnya dan melirik isi pesan itu. Alisnya langsung berkerut sedikit

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1327

    Syahira tampak agak kesal."Mana mungkin nggak penting? Luka yang terjadi itu nyata lho! Meskipun waktu itu dia memang terpaksa dan harus bekerja sama dengan Devina buat pertahankan dia, itu tetap bukan alasan buat mengabaikanmu. Toh di masa-masa sebelum Devina muncul, kalian juga pernah saling mencintai."Brielle menopang dagunya sambil berkata pelan, "Keadaan sekarang juga sudah bagus. Dia punya jalannya sendiri, aku juga punya hidupku sendiri. Kesalahpahaman diselesaikan supaya bisa kembali bersama, tapi sekarang aku sudah nggak butuh dia lagi."Syahira memandang sahabatnya lama-lama, lalu akhirnya mengerti. Dia mendekat sedikit dan bertanya, "Brie, kamu benar-benar sudah melepaskannya?"Dia bisa melihat dengan jelas, ini bukan lagi soal emosi sesaat ataupun kebencian. Brielle benar-benar sudah berdamai dengan semuanya."Sekarang aku cuma ingin menjalani hidupku dengan baik. Fokus ke pekerjaan dan Anya, sesekali bisa minum teh dan ngobrol santai sama kamu seperti ini. Aku sudah sang

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1326

    Di sebuah restoran teh sore yang tenang di pusat kota, akhirnya dua sahabat itu bertemu lagi.Syahira mengamati Brielle yang duduk di depannya. "Masih tetap seperti dulu. Aku kira sekarang kamu sudah jadi super crazy rich, terus bakal pakai barang mewah dan perhiasan berkilau."Hari ini Brielle mengenakan sweter rajut warna krem muda yang simpel dipadukan dengan celana jeans. Rambut panjangnya diikat longgar, wajahnya hanya memakai riasan tipis. Selain jam tangan di pergelangan tangannya, tidak ada aksesori lain sama sekali.Brielle tidak bisa menahan tawa kecil sambil mengaduk tehnya perlahan. "Aku ini orangnya setia, kamu juga tahu sendiri."Syahira langsung terkekeh. "Nah, itu benar."Bola matanya berputar dengan nakal, lalu dia memandang Brielle dengan tatapan menggoda. "Kalau begitu, orang yang setia ini mau gimana dengan mantannya itu? Mau terus dibiarkan jadi masa lalu begitu saja?"Tangan Brielle yang sedang mengaduk cangkir teh terhenti sesaat. Kemudian, dia mengangkat cangkir

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1325

    Niro mengangguk. Sesaat sebelum keluar dari ruangan, dia menoleh kembali ke arah Brielle, lalu tiba-tiba bersuara, "Brie."Dia kembali memanggil nama panggilan itu dengan lembut.Brielle sedikit tertegun, lalu mengangkat kepala menatapnya.Dari lorong seberang, seberkas sinar matahari jatuh tepat ke tubuh Niro, membuat sosoknya seolah-olah diselimuti cahaya keemasan.Dia memandang Brielle dengan tatapan jernih dan tulus. "Walaupun sekarang kita cuma teman, kalau suatu hari nanti kamu butuh apa pun, kapan pun itu, aku akan selalu ada."Suaranya tidak keras, tetapi mengandung ketegasan dan kekuatan khas seorang tentara. Itu bukan pengakuan cinta yang ambigu, melainkan sebuah janji yang melampaui hubungan pria dan wanita. Lebih dalam dan lebih berat.Brielle menatap pria di hadapannya yang berdiri tegap dengan sorot mata tegas dan jujur itu. Hidungnya terasa agak perih. Dia mengangguk pelan, matanya agak memerah tetapi tetap tersenyum."Aku tahu. Terima kasih, Niro."Niro juga tersenyum.

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1324

    Tiga hari kemudian, Brielle datang ke rumah sakit. Niro akan segera kembali ke Kyoza untuk menjalani pemulihan, jadi dia datang untuk berpamitan.Di dalam ruang rawat yang tenang, Niro mengenakan pakaian pasien rumah sakit. Kondisinya jelas jauh lebih baik dibanding sebelumnya.Rambutnya dipangkas sangat pendek, sementara di sisi kanan kepalanya ada bagian yang dicukur habis. Itu adalah lokasi penanaman cip.Lukanya juga sudah pulih dengan baik, hanya meninggalkan bekas samar tipis. Kalau rambutnya sudah panjang sedikit, bekas itu pasti tidak akan terlihat lagi."Di Kyoza ada Pak Justin dan Dokter Zidan, jadi aku juga lebih tenang," kata Brielle sambil menatap Niro.Niro juga memandangnya. Beberapa hari terakhir istirahat Brielle cukup, jadi wajahnya juga jauh lebih segar."Dia masih belum kembali?" tanya Niro.Brielle tahu Niro selalu ingin mengucapkan terima kasih langsung kepada Raka. Walaupun utang budi ini sebenarnya milik ayahnya, Niro adalah orang yang sangat jelas dalam urusan

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1323

    Kecantikan Brielle bukan tipe yang mencolok, tetapi justru mampu mengguncang hati orang tanpa disadari.Sambil menopang dagu, tiba-tiba dia teringat pada ayahnya, pria keras kepala dan berpendirian teguh itu ....Kalau ayahnya masih hidup dan melihat dirinya yang sekarang, apakah ayahnya akan merasa bangga walau hanya sedikit?Sejak kecil, dalam ingatan Brielle, ayahnya selalu tegas, juga seperti sosok yang bisa melakukan segalanya.Ibunya pernah berkata, saat Brielle berusia tiga tahun, ayahnya sudah menggendongnya sambil membacakan buku kedokteran, ingin menanamkan ilmu sejak dini.Brielle hampir bisa membayangkan pemandangan itu. Dirinya yang masih kecil pasti hanya menatap ayahnya dengan polos tanpa mengerti apa-apa, sementara sang ayah begitu serius, penuh harapan terhadap putrinya.Kalau saja ....Kalau saja dulu dia tidak bertemu Raka, akan seperti apa hidupnya sekarang? Mungkin dia akan berkuliah dengan normal, lanjut S2 dan S3, lalu masuk ke dunia riset.Mungkin di suatu kesem

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 659

    Raka berdiri di luar gerbang halaman. Angin malam menyapu wajahnya yang tegang. Dia menoleh ke arah jendela lantai dua yang masih menyala, lalu membuka pintu mobil dan duduk di kursi pengemudi.Di kamar lantai dua, Brielle berbaring miring di sisi putrinya. Sesekali dia menyentuh kening Anya. Anya t

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 671

    Setelah turun dari pelukan Raka, Anya langsung menggenggam tangan Brielle. Pelukan Raka pun mendadak kosong, alisnya sedikit berkerut.Brielle menggandeng putrinya berdiri sejenak. Anya teringat mainannya yang masih berada di sofa di samping Raka, lalu berkata, "Mama, mainanku masih ada di sofa sebe

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 690

    "Kak Harvis, ini kenapa?" tanya Brielle dengan nada khawatir."Tadi waktu menahan babinya, aku nggak sengaja tergores kukunya. Bukan masalah besar kok.""Aku bantu bersihkan dan perban ya," kata Brielle sambil pergi mengambil kotak P3K.Saat Brielle duduk di laboratorium untuk membersihkan dan memba

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 666

    Lambert juga melihat Brielle datang. Dia membuka pintu dan turun dari mobil, lalu tersenyum. "Kamu sudah sampai.""Gimana tanganmu?" tanya Brielle dengan khawatir."Sudah jauh lebih baik. Selain nggak boleh angkat barang berat untuk sementara, pada dasarnya nggak memengaruhi aktivitas sehari-hari,"

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status