LOGIN"Maaf," ucap Raka dengan suara serak, lalu mundur selangkah dan berbalik, berjalan cepat menuju lift.Bibir merah Brielle bergerak sedikit. Sebenarnya dia ingin dengan tulus mengucapkan terima kasih. Terima kasih atas kehadirannya semalam yang telah menyelamatkan Niro, sekaligus menyelamatkannya juga.Malam itu, Brielle mengirim pesan kepada Niro, menanyakan kondisinya setelah pergantian perban. Niro menyuruhnya jangan khawatir, semuanya baik-baik saja.Malam hari, Brielle mengusap kepala kecil putrinya, lalu menciumnya. Dengan hati-hati, dia bertanya, "Anya suka Paman Niro nggak?"Anya yang berada dalam pelukannya mengangkat kepala kecilnya, lalu menjawab dengan wajar, "Suka!"Namun, setelah putrinya tertidur, Brielle memikirkan banyak hal, hingga akhirnya tertidur lelap.Keesokan paginya, Brielle melihat Raka di depan pintu. Matanya masih merah karena bergadang. Jelas, semalam dia kurang tidur. Dia berkata kepada Raka, "Aku yang antar Anya, kamu pulang saja dan istirahat.""Nggak apa
Pukul 5 sore, Brielle pulang ke rumah dan mandi. Niro khawatir Anya akan cemas karena sudah tidak melihat ibunya dua hari. Jadi, dia menyuruh Brielle pulang lebih dulu. Di rumah sakit ada Agnes yang menjaga.Brielle baru saja selesai mengeringkan rambutnya ketika mendengar suara ceria putrinya dari bawah. "Papa, lihat sepatu Mama! Mama sudah pulang!"Lastri tersenyum sambil menghampiri. "Ya, mamamu sudah pulang, lagi mandi di atas!"Raka melangkah masuk. Dia meletakkan tas sekolah di sofa, lalu mengusap kepala putrinya. "Papa pulang dulu.""Hmm. Besok Papa harus datang tepat waktu buat antar aku ke sekolah ya!""Papa pasti datang tepat waktu." Raka mengusap kepala kecil putrinya sebagai janji. Baru saja hendak berbalik pergi, terdengar suara langkah kaki dari tangga lantai dua.Dia tanpa sadar mengangkat kepala. Terlihat Brielle berjalan turun dengan rambut setengah kering. Setelah mandi, dia mengenakan pakaian rumah yang sederhana dan nyaman. Rambut panjangnya terurai, membuatnya terl
Brielle tersenyum. Saat itu, suasana di ruang rawat terasa rileks dan manis, sementara di luar jendela, sinar matahari bersinar hangat.Beberapa detik kemudian, Sigit mendorong pintu dan masuk. Niro menyuruh Brielle menunggu di luar terlebih dahulu. Setelah berbicara sekitar 20 menit, Sigit keluar. Di wajahnya terlihat amarah, tetapi saat melihat Brielle, ekspresinya kembali menjadi lembut."Brielle, Niro sudah menceritakan kejadian semalam kepadaku. Aku akan menanggapinya dengan serius. Kamu sudah menderita. Kamu adalah talenta penting di dunia riset. Ke depannya, aku pastikan hal seperti ini nggak akan terjadi lagi."Brielle menyahut penuh rasa terima kasih, "Terima kasih atas perhatiannya, Pak Sigit.""Aku titipkan keponakanku padamu," ujar Sigit dengan lembut. Di matanya juga tersirat senyuman penuh makna.Wajah Brielle sedikit memerah. Dia memandang sampai sosok Sigit menghilang.Setelah Brielle kembali masuk ke ruang rawat, Niro berkata padanya, "Tenang saja, pamanku akan menanga
Di ruang rawat rumah sakit, Brielle sedang mengupas buah untuk Niro. Saat mendengar ketukan pintu, dia mengira perawat datang untuk mengganti perban. Dia menoleh ke arah pintu, lalu pisau buah di tangannya hampir terlepas.Brielle menatap pria yang melangkah masuk ke ruangan. Hanya dalam semalam, rambutnya sudah sepenuhnya memutih.Dia hanya menatapnya tanpa berkata apa-apa, tetapi hatinya seperti tercekik. Sejenak, dia tidak tahu harus berkata apa.Tatapan Niro juga sempat berhenti pada rambut Raka, lalu segera mengerti.Raka berjalan dengan tenang ke sisi tempat tidur, meletakkan keranjang buah di meja samping. "Gimana kondisi Pak Niro?""Sudah jauh lebih baik, terima kasih atas perhatiannya," jawab Niro sambil mengangguk.Brielle menarik kembali pandangannya. Dia sedikit tersadar, lalu berdiri dan bertanya, "Apa terjadi sesuatu? Atau ....""Semuanya baik-baik saja," jawab Raka dengan suara rendah. Tatapannya jatuh ke wajah Brielle. Bekas tamparan memang sudah hilang, tetapi masih se
"Hmm." Raka menggandeng tangan putrinya menuju meja makan.Saat itu, ponselnya berbunyi. Sebuah pesan masuk.[ Pak Raka, Bu Brielle mengalami luka luar dan pergelangan kakinya terkilir, sedangkan Pak Niro mengalami luka tembus di bahu dan perlu dirawat di rumah sakit untuk observasi. ]Raka menghela napas pelan, lalu membalas.[ Lindungi mereka dengan baik. ]Di ruang rawat rumah sakit, Brielle duduk di samping tempat tidur, menatap perban tebal di bahu Niro. Air matanya kembali jatuh. "Ini semua salahku. Kalau bukan karena menyelamatkanku, kamu nggak akan terluka separah ini."Niro mengangkat tangan yang tidak terluka untuk menghapus air mata Brielle. Senyumannya lembut dan menenangkan. "Luka sekecil ini bukan apa-apa. Waktu aku di militer, luka yang lebih parah dari ini juga pernah kualami."Niro mencoba menggodanya, "Lagi pula, kalau bisa jadi pahlawan yang menyelamatkan gadis cantik, pengorbanan sekecil ini sangat sepadan kok."Brielle langsung melotot padanya. "Di saat seperti ini
Brielle tiba-tiba mencengkeram kerah bajunya, lalu memohon dengan panik, "Raka, selamatkan dia. Cepat bawa dia ke rumah sakit.""Brielle, aku nggak apa-apa." Niro berusaha menenangkannya, jelas terlihat Brielle sangat ketakutan.Raka berbalik dan memberi isyarat cepat pada anak buahnya, "Kotak obat."Para pengawal yang terlatih segera mengambil kotak obat dan melakukan penanganan darurat pada Niro. Niro juga bekerja sama, karena yang terpenting saat ini adalah menghentikan pendarahan.Tatapan Raka tertuju pada wajah dan tubuh Brielle, diam-diam memeriksa apakah dia terluka. Akhirnya, dengan suara serak dia bertanya, "Kamu terluka?"Brielle menggeleng. Tatapannya tetap terpaku pada Niro, tanpa menyembunyikan rasa khawatir dan sakit hatinya.Tatapan Niro juga tertuju pada Brielle. Keduanya saling menatap."Lukamu ...," tanya Brielle dengan pelan dan suara bergetar."Cuma luka luar." Niro tersenyum tipis, lalu tatapannya bertemu dengan Raka di udara.Pada saat itu, dua pria itu seolah men
Brielle sedang merapikan dokumen. Kemeja putih berbahan sutra yang dikenakannya tampak bersih tanpa noda. Rambut hitamnya diikat rapi ke belakang kepala, kulitnya seputih salju. Di dalam ruang rapat sore itu, kehadirannya tampak sangat mencolok.Harvis mendorong pintu masuk. Dia sempat terpana beber
Di foto kedua, Anya tampak duduk di atas kuda poni berwarna merah, tertawa riang sambil membentuk tanda peace dengan jarinya ke arah kamera Devina.Foto-foto itu membuat dada Brielle terasa sesak dan sakit. Baru sehari dia tidak di rumah, Raka sudah membawa putri mereka bertemu dengan Devina.Briell
"Aku lagi kerja. Kalau nggak ada hal penting, jangan ganggu aku." Brielle menutup telepon Raka dengan dingin.Saat ini, dia benar-benar sibuk. Sampel hidup yang telah dia kembangkan selama dua jam itu harus terus dipantau. Dia tidak boleh kehilangan fokus sedetik pun.Brielle meletakkan ponselnya di
Brielle menatap Meira dan berkata, "Bu, di sini terlalu pengap. Aku mau ajak Anya main di luar.""Konsernya sebentar lagi akan dimulai," Meira mengingatkan.Brielle bertindak seolah tidak mendengar. Raline yang duduk di sebelah langsung menunjukkan wajah kesal. "Kakak Ipar, acaranya sudah mau mulai.







