تسجيل الدخولSejak kejadian pertama itu, Thoriq beberapa kali lagi memaksa Faye memenuhi permintaannya. Faye sebenarnya sangat ingin melapor ke polisi. Namun saat itu, Thoriq tidak hanya memegang bukti tentang ayahnya, tetapi juga menggunakan kejadian ketika dia melindungi Faye di MD sebagai ancaman.Faye tahu Thoriq adalah orang gila. Dia tidak berani memprovokasi Thoriq dan hanya bisa berusaha menjauhinya sebisa mungkin.Akan tetapi, malam ini berbeda. Dia harus mendapatkan informasi tentang anak di luar nikah ayahnya. Dia harus tahu siapa wanita yang bisa melahirkan anak diam-diam di bawah pengawasan ketat ibunya.Setelah makan malam yang sama sekali tidak bisa dinikmatinya, Faye akhirnya mengikuti Thoriq kembali ke apartemen yang sangat dia benci. Di bawah tatapan yang setengah mengisyaratkan dan setengah mengancam dari pria itu, dia tidak punya banyak pilihan.Setelah semuanya selesai, Faye menahan rasa tidak nyaman dan mual di seluruh tubuhnya. Dia segera mengenakan pakaiannya lalu bertanya,
Setelah menenangkan ibunya beberapa saat melalui telepon, Faye menarik napas dalam-dalam lalu menelepon Thoriq, "Di mana kita bertemu?"Faye menahan emosinya dan memutuskan untuk menemui Thoriq guna mencari tahu tentang urusan ayahnya. Thoriq pernah bekerja di perusahaan ayahnya selama setahun. Dia pasti tahu cukup banyak rahasia pribadi ayahnya.Di seberang sana, Thoriq tampak sedikit terkejut dengan kesediaannya. Lalu, dia menyebutkan nama sebuah restoran yang berada tidak jauh dari rumahnya."Jam tujuh malam. Jangan sampai nggak datang."Setelah telepon ditutup, Faye kembali duduk di kursinya. Tampaknya informasi dari Thoriq memang benar. Dia tidak menyangka ayahnya benar-benar memiliki anak di luar nikah. Bahkan demi anak itu, ayahnya sekarang rela meninggalkan keluarganya sendiri.Memang benar.Terlahir dalam keluarga yang lebih mengutamakan anak laki-laki, sekeras apa pun dia berusaha, dia tetap tidak akan pernah mendapatkan perhatian khusus dari ayahnya.Saat itu juga, ponselnya
Brielle sama sekali tidak memperhatikan keberadaan Faye. Rombongan mereka juga segera berjalan menuju area lift."Ya ampun, itu Brielle, 'kan? Keren sekali.""Memang hebat. Dia membuktikan semuanya dengan kemampuan nyata.""Di dunia riset, nggak akan ada yang dengarin kamu kalau nggak ada kemampuan yang nyata.""Benar juga."Faye mendengarkan komentar rekan-rekannya sambil menggenggam erat dokumen di tangannya.Dulu, dia selalu berpikir bahwa Brielle berhasil karena ayahnya, karena Harvis, karena Raka, atau karena keberuntungan. Dia tidak pernah mau mengakui bahwa Brielle berhasil karena kemampuannya sendiri.Namun, pemandangan hari ini seperti tamparan keras yang menghantam wajahnya. Perbedaan yang begitu besar membuat dadanya terasa sesak."Faye? Faye." Seorang rekan kerja memanggilnya."Ada apa?" Faye tersadar. Raut wajahnya tampak kurang baik.Rekan kerjanya meliriknya sambil berkata, "Kita harus naik ke atas."Faye mengikuti mereka sambil membawa dokumen.Saat itu salah seorang re
"Profesor Louie, silakan duduk di tempat utama." Jared dengan sigap segera menyambut Profesor Louie. Karena tidak enak menolak antusiasmenya, Profesor Louie akhirnya duduk di kursi utama.Brielle dengan santai menarik sebuah kursi dan duduk di samping Jared.Pada saat itu, setelah selesai menyambut tim Frans, Raka menarik kursi di sebelah Brielle dan duduk di sana dengan alami. Semua orang yang hadir memahami situasinya tanpa perlu dijelaskan. Mereka tahu bahwa kursi di samping Raka memang milik Brielle. Kursi di samping Brielle juga bukan sesuatu yang berani direbut orang lain."Anya patuh, 'kan?"Raka sedikit memiringkan kepala. Aroma segar khas dirinya samar-samar tercium. Dari jarak sedekat itu, Brielle dapat melihat beberapa garis merah di matanya. Tampaknya, Raka tidak beristirahat dengan baik selama perjalanan dinas kali ini."Ya." Brielle menjawab pelan sambil menundukkan kepala.Sepanjang jamuan makan, topik pembicaraan masih berpusat pada proyek tersebut.Raka tidak banyak bi
Setelah selesai membaca semua informasi itu, Brielle kembali melamun beberapa saat. Dia tahu bahwa selama penelitiannya memiliki nilai, dia akan mendapatkan dukungan pasar. Perasaan bisa berdiri tegak dengan mengandalkan kemampuan sendiri benar-benar membuatnya merasa tenang dan mantap.Sedangkan mengenai Raka, Brielle memutuskan untuk terus mempertahankan batas yang jelas seperti sekarang.Ayah dari putrinya.Pendukung proyek penelitiannya.Dan untuk masa depan ....Brielle menggelengkan kepala. Entah kenapa, dia tidak ingin memikirkannya lagi. Dia mematikan lampu ruang kerja dan kembali ke kamar tidur.Putrinya sedang tidur dengan nyenyak. Wajah mungilnya merona kemerahan, bahkan masih membawa aroma susu yang samar. Hati Brielle langsung luluh melihatnya. Dia menggesekkan ujung hidungnya ke pipi lembut putrinya yang harum.Mungkin memang begitulah kebiasaan para ibu.Sejak Anya lahir, Brielle merasa ingin menciumnya ratusan kali setiap hari. Begitu melihat Anya, dia langsung ingin me
Raline benar-benar berharap waktu bisa diputar kembali.Kalau begitu, dia tidak akan melakukan hal sebodoh itu."Sudahlah, biarkan masa lalu tetap menjadi masa lalu. Kalau kalian benar-benar merasa bersalah sama Brielle, mulai sekarang lebih hormati dia dan bantu dia. Sekali lihat saja sudah jelas kalau anak itu bukan orang yang pendendam," ujar Emily dengan tenang."Benar."Meira mengangguk."Aku dan Raline sama-sama berutang budi besar sama Brielle. Raka juga sedang berusaha menebus semuanya. Yang bisa kita lakukan adalah membantu mereka sebisa mungkin dan jangan membuat masalah lagi.""Kak Raka dan Kak Brielle masih punya kesempatan untuk rujuk, 'kan?" Raline bertepuk tangan kecil dengan wajah penuh harap.Emily meliriknya."Rujuk itu nggak semudah yang kamu bayangkan. Kakakmu memang orang yang pikirannya dalam, tapi setidaknya kali ini arahnya sudah benar.""Kalau Raka ingin Brielle kembali, hanya mengandalkan perhitungan dan materi saja jelas nggak cukup. Dia harus menggunakan hat
Gavin adalah orang yang cekatan dan sangat efisien. Dalam waktu setengah jam, dia sudah mengirimkan informasi lengkap tentang unit-unit yang tersedia di Cloudwave Residence."Pak Raka, untuk Blok 12 Unit 1 saat ini ada dua unit yang dijual. Satu di lantai 27, nomor 2701, tepat di bawah unit baru Bu
Di depan konter sebuah toko perhiasan mewah di pusat kota, tampak sesosok pria berpakaian kasual sedang membungkuk memilih sesuatu.Sejak dia masuk, seluruh pramuniaga di toko itu langsung terpikat oleh auranya. Bukan hanya tampan, posturnya juga tegap, dengan kesan gagah dan maskulin yang terbentuk
Brielle awalnya memang khawatir pada Niro, tetapi kemudian dia merasa Niro tidak benar-benar kesakitan, melainkan hanya berpura-pura menunjukkan ekspresi tidak nyaman. Saat itu juga dia mengerti. Dia menghela napas pelan. "Sudahlah, jangan berpura-pura lagi."Tangan Niro yang menekan dadanya sempat
Ini pesan yang dikirim dari nomor tak dikenal. Namun dari nada bicaranya, Brielle langsung tahu itu berasal dari Devina.Brielle menatap pesan itu beberapa detik.[ Kalau begitu, jaga saja anjingmu sendiri. ]Nomor itu segera membalas.[ Brielle, kamu nggak takut aku meneruskan pesan ini ke Raka? ]







