Share

Bab 164

Penulis: Ayesha
Meskipun surat perjanjian cerai sudah ditandatangani, karena masalah pembagian harta, akta cerai belum bisa diproses. Jawaban yang diberikan Farel adalah, setidaknya butuh waktu enam bulan untuk menyelesaikan urusan ini.

Jadi untuk sekarang, Brielle hanya bisa berpisah rumah dengan Raka.

Setengah jam kemudian, Brielle melihat mobil mewah milik Raka sudah terparkir di depan rumahnya. Itu seharusnya adalah tempat mobilnya sendiri. Namun karena sudah terisi, dia terpaksa memarkirkan mobil di hotel
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Merry Ongko
dtg bukannya ktmu anak tp pengen tau sampel sumsum utk pelakor....mmg cocoknya ditendang jauh2
goodnovel comment avatar
Jihan Dwi Annisa
dasar suami gak punya hati,gengsi di gedein..
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1396

    Saat Brielle melangkah masuk ke lobi gedung apartemen, tanpa diduga dia berpapasan langsung dengan pria yang baru keluar dari lift. Raka mengenakan kemeja gelap dengan jas tersampir di lengannya. Rambutnya juga ditata dengan rapi dan elegan. Jelas dia hendak pergi keluar.Langkah Raka tanpa sadar terhenti.Setelah bercerai, penampilan Brielle yang paling sering dilihatnya adalah saat mengenakan jas laboratorium putih di ruang penelitian, sosoknya yang penuh percaya diri di atas podium, atau penampilannya yang anggun di berbagai jamuan makan malam.Namun, sudah sangat lama dia tidak melihat Brielle seperti sekarang. Penuh semangat hidup.Sinar matahari pagi menyinari dari belakang tubuhnya. Dengan tinggi sekitar 168 cm, pakaian olahraga ketat yang dikenakannya membentuk siluet tubuh yang ramping tetapi tetap proporsional. Beberapa helai rambut yang basah oleh keringat menempel di pipinya.Entah mengapa, pemandangan itu memancarkan daya tarik yang sulit dijelaskan. Raka langsung merasa t

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1395

    Raka mengulurkan tangan menerima obat itu. Dia menelan tablet tersebut dengan bantuan air hangat, lalu mengangkat pandangan ke wajah Brielle."Terima kasih." Suaranya terdengar pelan.Brielle membuang gelas kertas bekas pakai, lalu menyerahkan kotak obat itu kepadanya. "Nanti bawa pulang dan lanjutkan minumnya di rumah."Setelah itu, Brielle kembali masuk ke mobil dan melanjutkan perjalanan menuju area parkir bawah tanah apartemen.Raka kembali memejamkan mata, seolah tertidur. Ketika Brielle selesai memarkir mobil, Raka perlahan membuka mata. Rasa sakit di lambungnya tampaknya sudah sedikit mereda. Dia membuka pintu dan turun dari mobil. Keduanya berjalan berdampingan menuju lift."Brielle, terima kasih untuk malam ini," kata Raka akhirnya dengan nada rendah dan sungguh-sungguh."Nggak usah berterima kasih."Brielle mengatupkan bibirnya pelan. Baginya, tidak peduli apakah itu Raka, Kak Harvis, atau siapa pun yang sedang dia antar, dia tetap akan melakukan hal yang sama.Raka menatapny

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1394

    Pria itu mengikuti dari belakang. Dia membuka pintu kursi penumpang depan, lalu membungkuk dan masuk ke dalam mobil. Saat Brielle hendak menyalakan mobil, dia menoleh dan menyadari bahwa Raka belum mengenakan sabuk pengaman. Dia bersandar di kursi dengan mata sedikit terpejam, seolah lupa."Sabuk pengaman," ucap Brielle mengingatkan.Raka perlahan membuka mata dan menoleh ke arahnya. Tatapannya tampak sedikit kabur karena pengaruh alkohol. Dia mencoba menarik sabuk pengaman, tetapi setelah beberapa kali mencoba, tetap tidak berhasil menguncinya.Brielle mengernyit. Dia tidak punya pilihan selain membungkuk mendekat untuk membantunya.Raka membiarkannya memasangkan sabuk pengaman.Namun tepat saat Brielle hendak menarik kembali tangannya, telapak tangan pria itu tiba-tiba menggenggam pergelangan tangannya dengan lembut. Hawa panas dari telapak tangannya membuat napas Brielle sedikit tertahan. Dia langsung mengangkat kepala dan menatapnya dengan alis berkerut."Jangan macam-macam."Raka

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1393

    Brielle kembali menoleh dan meliriknya sekilas, lalu dengan santai mengangkat cangkir teh dan menyesapnya. Rekan-rekan kerja di sekitarnya tidak memperhatikan hal itu sama sekali. Di meja makan, perhatian seperti itu terlihat terlalu biasa dan wajar.Setelah itu, Raka benar-benar tidak menyentuh gelas anggurnya lagi. Dia hanya mengambil beberapa suap makanan dengan tenang dan perlahan.Tak lama kemudian, Harvis kembali dari toilet. Jelas terlihat bahwa dia sudah cukup mabuk, tetapi kesadarannya masih terjaga. Dia menoleh kepada Brielle dan bertanya, "Sudah kenyang?"Brielle mengangguk. "Sudah. Kamu juga makan sedikit lagi."Harvis mengangguk. Seseorang di sampingnya menyerahkan sebotol air mineral. Harvis menerimanya dan mulai minum.Di bawah cahaya lampu, aura lembut dan berwibawa yang dimilikinya tampak semakin menonjol, membuat beberapa rekan kerja wanita muda diam-diam melirik ke arahnya. Di perusahaan, sebenarnya tidak sedikit orang yang menyukai Harvis.Hanya saja, selama ini Har

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1392

    Setelah itu, para anggota tim kembali bergantian datang untuk bersulang dengan Harvis.Bagaimanapun juga, dia adalah pemimpin tim sekaligus salah satu kontributor terbesar proyek ini.Harvis jelas tidak pandai menolak. Sambil tersenyum, dia terus melayani ajakan bersulang satu demi satu. Ditambah lagi, dia memang tidak terlalu kuat minum alkohol dan wajahnya mudah memerah. Tak lama kemudian, pipinya mulai terlihat kemerahan.Saat melihat masih ada orang yang hendak datang untuk bersulang, Brielle teringat bahwa kemampuan minum Harvis jelas tidak sebaik Raka yang duduk di seberang. Dia pun tersenyum kepada rekan yang hendak mengangkat gelas dan berkata, "Sudahlah, jangan paksa Kak Harvis lagi."Kalimat itu belum sempat diproses oleh Harvis. Namun, jari-jari pria di seberang yang sedang menggenggam gelas anggur langsung menegang.Tatapan dalam Raka terkunci pada wajah Brielle. Dia melihat senyum lembut di wajah wanita itu saat membela Harvis dan membantunya menolak minuman, seperti seora

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1391

    Tatapan Raka menyapu kerumunan orang, lalu berhenti tepat pada Brielle yang duduk di ujung kiri meja panjang dekat jendela. Rambut panjangnya tergerai, senyum tipis menghiasi bibirnya, dan ekspresinya tampak sangat rileks. Di bawah cahaya lampu bernuansa hangat, seluruh dirinya seolah diselimuti lapisan cahaya lembut.Raka memandangnya selama beberapa detik sebelum akhirnya melangkah ke arahnya."Pak Raka sudah datang, ya." Seorang karyawan paruh baya menjadi orang pertama yang menyadarinya dan segera berdiri menyambut.Tak lama kemudian, seluruh karyawan yang duduk di meja panjang itu ikut berdiri menyambut sang bos besar.Kecuali Brielle.Brielle tampak sedikit terkejut. Dia sama sekali tidak tahu bahwa Raka akan datang."Pak Raka, silakan cari tempat duduk." Harvis berdiri dan menyapanya, lalu menoleh kepada Gavin. "Pak Gavin, silakan duduk juga."Gavin tersenyum dan mengangguk sebelum menarik sebuah kursi dan duduk.Di seberang Brielle ada satu kursi kosong. Di sebelahnya duduk Har

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 534

    Dalam proses peluncuran obat baru ini, seluruh penelitian tim dihentikan sementara untuk fokus sepenuhnya pada proyek tersebut. Sekarang setelah uji coba mulai stabil, Madeline memutuskan untuk mengambil alih pengawasan utama, agar Brielle bisa mengembangkan kemampuannya dan masuk ke topik penelitia

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 511

    Setelah itu, Madeline mengirimkan data kelompok pertama para peserta uji kepada Brielle. Saat melihat daftar itu, Brielle menemukan satu nama yang membuatnya tertegun. Melisa, ibu dari dua anak yang pernah dia temui sebelumnya, wanita yang waktu itu begitu putus asa.Brielle masih ingat betapa dia d

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 524

    Keesokan harinya pukul satu siang, Brielle sedang merapikan laporan data di ruang kerjanya ketika seorang perawat mengetuk pintu kantornya."Dokter Brielle, Dokter Karyo memanggil Anda ke ruang rapat di lantai atas."Brielle mengangguk. "Baik, saya segera ke sana."Meskipun Brielle sebenarnya adalah

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 537

    Setelah Faye selesai beres-beres, dia menggigit bibir merahnya. "Brielle, suatu hari aku pasti akan mengalahkanmu."Brielle bukan satu-satunya orang yang tak tergantikan di laboratorium. Masih ada dirinya.Setelahnya, Madeline mendengar dari asisten bahwa Raka datang tadi. Dia kira-kira bisa menebak

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status