共有

Bab 223

作者: Ayesha
Keesokan sore, saat Brielle dan Harvis datang ke MD untuk rapat, mereka langsung merasakan suasana yang berbeda. Jika sebelumnya orang-orang masih sempat bernapas di sela pekerjaan, kali ini semua orang tenggelam di meja mereka masing-masing dan sibuk bekerja tanpa henti.

Di dalam kantor Jared, suasana sama tegangnya. Dia mendorong sebuah berkas ke arah Brielle. "Bu Brielle, Pak Raka meminta kita untuk memprioritaskan penanganan masalah pada arah penelitian ini. Dia berharap kamu yang memimpin t
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター
コメント (5)
goodnovel comment avatar
Fuilang Putriani
semoga Raka yg kena leukemia, karma yg pas buat dia, sgt semena2 sm istri dan tukang selingkuh
goodnovel comment avatar
Aya Aisyah
Betul Brielle...teruskan niat Ibumu yg tulus,dan semoga kamu juga bisa legowo kalau itu juga untuk membantu Devina. Yakinlah Tuhan akan memberimu kebahagiaan yg lebih2.
goodnovel comment avatar
Iin Iin
sepertinya dugaan Brielle benar nih, dia d buat sibuk sama permintaan Raka, trs Raka ngambil Anya biar dekat sama Devina
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1412

    Brielle tertegun sejenak, lalu menerima botol air itu dan mulai minum. Setelah latihan barusan, dia mulai merasa olahraga ini tidak semembosankan yang dibayangkan.Mereka berdua berjalan ke area istirahat di dekat sana. Seorang pelayan datang mengantarkan minuman dingin dan sepiring buah potong.Melihat ekspresi Brielle yang tampak lebih santai, Raka berkata dengan santai, "Dari pihak kamar dagang, ada satu kuota untuk mengikuti konferensi pertukaran riset internasional di Negara Madagasa. Acaranya bulan depan.""Temanya berkaitan dengan perkembangan mutakhir di bidang ilmu saraf. Pak Elliot sudah bantu mengajukan berkas pendaftaranmu. Kamu bisa ikut."Brielle memang sedang memperhatikan konferensi itu. Karena itu, saat mendengar bahwa Elliot telah membantu mengajukan kuota untuknya, dia benar-benar terkejut sekaligus senang."Benarkah? Kalau begitu aku harus berterima kasih padanya."Raka mengangkat sudut bibirnya. "Ini cuma karena pihak investor optimis terhadap prospek proyek ini, j

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1411

    Brielle mengabaikan pujiannya. "Ayo berangkat."Sepanjang perjalanan, mereka tidak banyak berbicara.Setelah tiba di lapangan golf, suasananya begitu tenang dan asri. Hamparan rumput hijau membentang luas sejauh mata memandang, membuat siapa pun yang menginjaknya merasa segar dan rileks.Brielle pun merasakan hal yang sama. Sudah lama dia tidak melihat padang rumput sehijau ini. Tanpa sadar, suasana hatinya menjadi lebih rileks dan nyaman."Masih ingat gerakan yang diajari Lambert waktu itu?" tanya Raka tiba-tiba.Brielle mengingat kembali kejadian saat bermain golf sebelumnya. Saat itu, Lambert hanya mengajarinya cara memegang stik dan mengayunkannya. Namun sekarang, semuanya sudah terlupakan.Raka menyipitkan mata sambil tersenyum. "Hari ini aku yang akan ajari kamu.""Boleh nggak kalau aku nggak belajar?" tanya Brielle sambil mendongak."Karena sudah datang, kenapa nggak sekalian belajar? Setidaknya biar nggak sia-sia," bujuk Raka.Brielle berpikir sejenak. Karena ini adalah harga y

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1410

    "Nggak perlu berterima kasih." Brielle berjalan menuju pintu. Namun, tiba-tiba dia merasa perlu menegaskannya sekali lagi dengan kata-kata yang lebih berat."Mungkin sekarang kamu nggak nyesal, tapi belum tentu di masa depan nggak bakal nyesal. Toh hidupmu adalah milikmu sendiri. Kalau kamu menghabiskan waktu dan energimu untukku ...." Dia berhenti sejenak, lalu menyimpulkan dengan tiga kata, "Itu sangat bodoh."Raka menyipitkan mata sambil tersenyum. "Kamu sendiri yang bilang hidupku milikku sendiri. Kalau begitu, bukankah aku berhak menentukan gimana aku ingin menghabiskan waktu dan energiku?"Brielle langsung terdiam. Memang benar, Raka berhak menentukan jalan hidupnya, sama seperti dirinya yang berhak menentukan hidupnya sendiri."Besok masih libur?" tanya Raka tiba-tiba dengan suara rendah.Brielle mengernyit menatapnya. "Ada perlu apa?""Besok temani aku main golf.""Aku nggak bisa main golf." Brielle memang tidak tertarik dengan olahraga itu."Aku bisa ajari kamu." Raka mengangk

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1409

    Ekspresi Brielle yang tiba-tiba menjadi serius membuat Raka tertegun sesaat. Tak lama kemudian, dia bergeser ke samping memberi jalan."Kita bicara di dalam."Brielle ragu sejenak, tetapi akhirnya tetap melangkah masuk ke rumahnya. Ruang tamu yang luas dan terang itu diterangi sinar matahari yang masuk dari luar, tetapi tetap terasa dingin.Raka meletakkan obat di atas meja, lalu pergi mengambilkan minuman untuk Brielle. "Mau kopi, teh, atau air hangat?""Kopi." Brielle mendongak dan menjawab. Dia ingin pikirannya lebih jernih.Raka kembali dengan secangkir kopi dan segelas air hangat. Setelah duduk, dia memandang Brielle dengan tenang, menunggu wanita itu memulai pembicaraan terlebih dahulu.Brielle mengangkat cangkir kopi dan menyesapnya sedikit. Dalam hati, dia menyusun kata-kata yang ingin disampaikan.Kemudian, dia mengangkat kepala. "Ada beberapa hal yang kurasa lebih baik kita bicarakan dengan jelas. Seharusnya ini baik untuk kita berdua ... atau lebih tepatnya ... untukmu."Rak

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1408

    Kali ini, Harvis merasa perlu menyadarkan Brielle.Ucapan Harvis bagaikan sebuah kerikil yang jatuh ke permukaan danau di hati Brielle. Jemarinya yang menggenggam cangkir sedikit mengencang. Bulu matanya yang panjang terkulai, menutupi emosi di balik sorot matanya.Bagaimana mungkin dia tidak merasakannya?Awalnya Raka berinvestasi di laboratorium tanpa memperhitungkan biaya, lalu sekarang pria itu perlahan-lahan terlibat dalam setiap aspek kehidupannya. Banyak hal sudah melampaui batas sewajarnya.Brielle menghela napas pelan, lalu menatap Harvis dengan tatapan yang jernih dan tenang. "Kak Harvis, aku tahu apa yang harus kulakukan."Harvis ikut menghela napas. "Sebenarnya aku juga nggak seharusnya ikut campur. Aku cuma mengatakan beberapa hal sebagai seorang teman.""Aku tahu apa maksudnya, tapi mengetahui dan cara menanggapi adalah dua hal yang jauh berbeda." Brielle menoleh ke luar jendela."Aku berterima kasih atas dukungannya dalam karierku. Demi Anya, aku juga bersedia menjaga hu

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1407

    Saat pintu lift menuju lantai 27 menutup, Raka mengucapkan satu kalimat kepada Brielle, "Terima kasih."Brielle memandangi pintu lift yang telah tertutup. Hatinya bukannya tanpa gejolak sama sekali. Dia bisa merasakan permintaan maaf dan sikap mengalah dari Raka.Namun, luka masa lalu terlalu dalam. Banyak hal telah kehilangan kesempatan untuk diulang kembali.Misalnya cinta Brielle kepadanya, antusiasmenya terhadapnya, serta hati yang sejak lama telah padam untuknya.Mereka bisa menjadi teman, bisa menjadi rekan, bisa menjadi investor dan pihak yang menerima investasi. Namun, satu hal yang mustahil adalah menjadi suami istri lagi.Setelah kembali ke rumah, Brielle memberi tahu Lastri untuk tidak menyiapkan makan siangnya. Setelah itu, dia naik ke lantai atas untuk bekerja.Pukul 11.30 siang, Brielle menerima pesan dari Harvis. Dia turun ke lantai bawah. Ketika sedang memikirkan pekerjaan, tiba-tiba dia melihat sosok yang dikenalnya berjalan dari arah depan. Itu adalah Savana, ibu Lamb

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 269

    "Bu Brielle, boleh bicara sebentar?" Suara bariton yang dalam dan berwibawa terdengar dari belakangnya.Brielle menoleh. Melihat itu Lambert, dia mengangguk sopan. "Pak Lambert."Lambert mengambil alih institut milik Chiva. Di dunia farmasi, dia juga merupakan sosok berpengaruh. Ditambah lagi, aura

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 287

    Madeline menatap punggung Raka yang bergegas pergi. Dia lalu berbalik, melihat Brielle yang masih sibuk memimpin timnya di laboratorium dan hanya bisa menghela napas dalam hati.Di dalam ruangan, Brielle sedang membimbing tim menyesuaikan parameter. Dia menyadari Madeline melambaikan tangan dari lua

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 309

    Cherlina tak tahan mendekat ke arah Faye. "Faye, kamu tahu siapa dia?"Faye menatap sosok Niro, lalu menggeleng. "Nggak tahu.""Sepertinya dia cukup dekat dengan Brielle." Cherlina masih penasaran setengah mati, jadi dia memohon, "Coba deh kamu tanya ke kakakmu! Siapa tahu dia kenal."Faye sendiri j

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 305

    Meira hanya menemani sekitar satu jam, lalu dia pun pergi.Sore harinya, kondisi Anya mulai stabil, bahkan semangatnya sudah kembali normal. Besok pagi dia sudah bisa keluar dari rumah sakit."Malam ini biar aku yang temani Anya, kamu pulang saja untuk istirahat." Raka menatap wajah pucat Brielle."

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status