Share

Bab 252

Author: Ayesha
Ruang rapat seketika menjadi hening.

Brielle merasakan semua tatapan menusuk ke arahnya, termasuk tatapan mata Raka yang dalam. Tanpa sadar, Brielle menoleh. Dia melihat sikap pria itu sangat dingin dan profesional.

Frederick sudah memprediksi hal ini sejak semalam, sehingga Brielle bisa menghadapi situasi itu tanpa kesulitan. Dia menoleh ke arah Rendy dan berkata, "Kami akan kembali meninjau ulang data, bagaimanapun kerja sama kita dibangun di atas keunggulan yang saling melengkapi."

Mata Rendy
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Rina Damayanti
alurnya santuy .... kejelasan kehamilan Devina ga ada...Raka kyknya ga tau atau gmn....
goodnovel comment avatar
Suryat
ternyata valakor juga takut kalah saing...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1404

    Lastri yang berdiri di samping tersenyum melihat pemandangan itu. "Lihat saja Anya, senangnya bukan main. Pasti dia sangat merindukan Pak Raka."Brielle melangkah keluar rumah. Pada tubuh Raka masih terlihat aura lelah setelah perjalanan jauh, seolah baru saja turun dari pesawat."Pulanglah dan istirahat dulu. Aku yang antar Anya," kata Brielle. Dia bisa melihat dengan jelas bahwa pria itu tampak sedikit kelelahan."Aku ikut denganmu." Raka menggenggam tangan putrinya sambil menatap Brielle. Anya juga segera menggenggam tangannya lebih erat."Mama, aku mau Papa ikut antarin aku ke sekolah. Tolong ya, Mama."Brielle akhirnya hanya bisa mengangguk. "Baik."Di kursi belakang mobil, Anya dan Raka terus mengobrol. Topiknya tentu saja seputar perjalanan dinas Raka. Tak terasa mereka sudah sampai di sekolah. Anya masuk ke sekolah dengan riang.Setelah kembali ke mobil, Brielle menoleh ke arah pria yang masih duduk di kursi belakang. "Aku antar kamu pulang untuk istirahat.""Kamu sendiri mau k

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1403

    Di dalam kafe, Brielle sedang memegang cangkir kopi dan menyesapnya perlahan. Tatapannya penuh minat saat melihat Ferdian yang duduk di hadapannya. Kekaguman di matanya tidak pernah benar-benar hilang sepanjang percakapan mereka.Karena terlalu fokus pada diskusi, dia sama sekali tidak menyadari bahwa sesosok pria tinggi baru saja masuk ke dalam kafe. Sampai akhirnya sebuah suara rendah dan menarik terdengar dari sampingnya. "Nggak mau perkenalkan kami?"Brielle terkejut dan langsung mengangkat kepala.Saat melihat pria yang tiba-tiba muncul itu, dia tidak bisa menahan rasa herannya. "Bukannya kamu sudah berangkat ke bandara?""Kebetulan lewat. Aku masuk untuk beli kopi," jawab Raka dengan nada santai seolah tidak terjadi apa-apa. Di belakangnya, Gavin langsung memahami situasi dan segera berjalan ke meja pemesanan untuk memesan kopi.Sementara itu, tatapan Raka beralih kepada Ferdian yang duduk di seberang Brielle. Di matanya terdapat penilaian yang jelas.Brielle langsung merasakan a

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1402

    Pada saat itu, ponsel Brielle juga bergetar karena pesan masuk. Pesan itu berasal dari Raka.[ Aku akan pergi dinas selama tiga hari. Anya aku titip sama kamu. ]Brielle melirik layar ponselnya lalu membalas.[ Fokus saja sama kerjaanmu. Anya akan aku jaga dengan baik. ]Sementara itu, pria tinggi yang baru melangkah keluar dari pintu rumahnya sedang membaca pesan tersebut. Sudut bibir Raka terangkat tipis. Setidaknya sekarang Brielle tidak lagi membalas pesannya dengan jawaban singkat dan kaku seperti dulu.Di sisi lain, Gavin menoleh ke arah kafe yang berada tidak jauh dari sana. Dia sedang mempertimbangkan apakah perlu membelikan kopi untuk bosnya selama perjalanan ke bandara. Namun tanpa sengaja, pandangannya menangkap sosok yang sangat dikenalnya di dekat jendela kaca besar.Itu Brielle.Tentu saja dia tidak merasa aneh. Dia tahu Brielle sedang beristirahat di rumah akhir-akhir ini. Jadi, melihatnya berada di kafe dekat kompleks apartemen bukanlah sesuatu yang mengejutkan.Saat Ga

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1401

    Saat mereka kembali dari alun-alun, waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Sesampainya di depan rumah, Anya berlari masuk lebih dulu. Brielle menoleh ke belakang dan memandang pria yang masih berdiri di sana."Terima kasih untuk malam ini."Raka menatap ekspresi sopan dan berjarak di wajahnya, lalu tersenyum tipis. "Sudah seharusnya.""Selamat malam."Setelah mengatakan itu, Raka berbalik dan pergi lebih dulu. Brielle juga menutup pintu lalu masuk ke rumah. Anya sudah dipanggil Lastri untuk mandi.Brielle meletakkan tasnya. Saat itu, ponselnya berdering. Dia melirik layar dan melihat nomor yang tidak dikenalnya."Halo, siapa ini?""Brielle, ini Paman Adnan."Dari seberang telepon terdengar suara yang hangat dan ramah. Mata Brielle langsung berbinar karena terkejut sekaligus senang. "Paman Adnan! Apa kabar? Paman baik-baik saja?""Aku baik.""Begini, aku punya cucu keponakan yang baru lulus dari fakultas kedokteran. Kondisinya cukup baik dalam berbagai aspek. Aku ingin dia magang

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1400

    Namun sekarang?Cherlina memiliki pekerjaan yang stabil. Posisinya di sisi Brielle juga semakin penting dari hari ke hari.Sedangkan dirinya? Dia kini menjadi putri seorang pembunuh.Mungkin kehidupan Cherlina tidak akan dipenuhi kekayaan luar biasa. Akan tetapi, hidupnya akan stabil, tenang, dan perlahan menjadi semakin baik. Sedangkan dirinya harus memikul noda dan beban yang ditinggalkan ayahnya. Masa depannya terasa suram.Faye refleks menegakkan punggungnya dan menjawab dengan nada dingin, "Aku baik-baik saja."Cherlina tersenyum. "Kalau begitu syukurlah."Setelah mengatakan itu, Cherlina memesan dua cangkir kopi. Tak lama kemudian, beberapa karyawan datang dan berinisiatif menyapanya. Cherlina pun tampak semakin disukai oleh rekan-rekan kerjanya.Faye menggigit bibirnya dengan erat. Dulu, dia dikenal sebagai dewi dingin yang dikagumi banyak orang. Namun, sekarang ... siapa lagi yang peduli padanya?"Itu Faye, 'kan? Ketua Grup Datau yang masuk berita hari ini itu ayahnya, ya?""Iy

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1399

    "Aku baru saja menerima pemberitahuan. Uang perusahaan yang diselewengkan ayahmu ... sudah ditemukan oleh pihak berwenang. Sekarang seluruhnya akan disita kembali ...."Suara Flora terdengar hampir putus asa. "Seluruh aset atas namaku sudah dibekukan. Bahkan apartemen yang terdaftar atas namaku juga sudah disegel .... Sekarang aku bahkan nggak bisa pulang."Faye langsung berdiri dari kursinya. "Apa?""Kenapa mereka bisa tahu?""Dengar-dengar Windy sudah ditangkap. Dia dan ayahmu bekerja sama memindahkan uang itu. Mereka ternyata sudah lama merencanakan untuk hidup di luar negeri. Kalau saja ayahmu nggak tertangkap, mereka pasti sudah lama hidup bebas tanpa tersentuh hukum."Meskipun suara Flora mengandung sedikit kepuasan karena akhirnya mengetahui kebenaran, tak lama kemudian dia kembali menangis. "Faye ... apa yang harus kita lakukan sekarang?"Faye memejamkan mata. Ayahnya memang sudah masuk penjara. Namun, dia juga meninggalkan kekacauan besar yang kini harus ditanggung oleh diriny

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 783

    Lambert tersenyum. "Boleh. Kalau rekomendasi darimu, aku pasti harus mencobanya."Brielle menarik kembali pandangannya dan menatap ke depan sambil memberi arahan, "Belok kiri di depan."Sebelum mobil Lambert melaju, sebuah Maybach hitam melintas di depan mobil mereka. Itu adalah mobil Raka."Raka ha

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 769

    Devina menatap pesan itu, lalu mengerutkan kening sedikit dan membalas.[ Oke, besok kamu jemput aku. ]Setelah itu, Devina mengirimkan lokasi hotelnya.Keesokan paginya, Brielle dan Niro sudah sepakat berangkat pukul delapan menuju Universitas Medis Militer. Brielle mengenakan mantel lalu keluar da

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 770

    "Paman Levo sudah berpesan agar aku menjamu kamu dengan baik. Tentu saja aku nggak boleh bersikap lalai," ujar Niro sambil tersenyum lagi.Di area parkir, Devina duduk di dalam mobil untuk beristirahat, tetapi Raka tidak ikut naik. Dia sedang menelepon di luar mobil. Kebetulan, mobil Niro terparkir

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 761

    Namun, saat ini dia malah menempatkan dirinya sebagai pacar Brielle. Dia memang tidak bisa melihat ekspresi Brielle, tetapi jelas Brielle seolah mengiyakan hal itu.Raka duduk di kursi dekat jendela, satu baris dengan Brielle. Pandangannya yang dalam dan rumit juga mengarah ke sini. Setelah Niro dud

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status