Share

Bab 376

Author: Ayesha
Raka menyapu pandangannya ke seluruh ruangan. Di dalam ruang makan pribadi itu, semua adalah teman-teman dari kalangan Devina. Di atas meja ada kue besar bertuliskan ucapan selamat. Jelas ini pesta kecil untuk merayakan penghargaan yang baru saja diraihnya.

"Kak, maaf ya! Aku benar-benar nggak bermaksud bikin panik. Aku Cuma ...." Wajah Raline memerah penuh rasa bersalah. Dia hanya ingin bercanda, tidak menyangka kalau Raka akan langsung datang secepat itu.

Melihat wajah Raline yang tampak menye
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Mimi Asawala
cepat dong nenek Emily liat gelang yg di pke Devina, Hhhhh ceritany bikin greget
goodnovel comment avatar
Dian Anggraeni
ko ceritanya bikin males baca ya Thor...
goodnovel comment avatar
Yantii Daok
dasar perempuan gatal
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1056

    Brielle mengerutkan kening dan berkata, "Asistenmu nggak bisa menghubungimu. Dia sangat khawatir, jadi menyuruhku datang melihatmu."Raka mengusap pelipisnya yang terasa berdenyut, lalu bersandar pada kusen pintu. "Nggak apa-apa, hanya sedikit ... demam."Melihat keadaannya, Brielle memang merasa dia seperti sedang demam."Suruh orang antar kamu ke rumah sakit," usul Brielle."Nggak perlu. Setelah tidur sebentar juga akan membaik." Raka menggeleng. Setelah itu, dia juga tidak menutup pintu dan langsung berjalan menuju ruang tamu.Brielle mengernyit. Cara pria ini menghadapi sakit masih saja begitu asal-asalan. Namun, Brielle tidak ingin ikut campur. Kemungkinan besar panggilan Gavin tidak diangkat hanya karena tadi dia sedang mandi dan tidak mendengarnya.Brielle berbalik hendak pergi. Tiba-tiba, dari dalam rumah terdengar suara kaca pecah. Langkahnya langsung terhenti. Dia kembali ke pintu dan melangkah masuk ke area foyer.Di ruang tamu, Raka menahan tubuhnya dengan satu tangan di me

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1055

    [ Jadi, ini berarti kamu setuju? ][ Setuju apa? ][ Setuju jadi pacarku. ]Jay menarik napas dalam-dalam lalu menekan kirim.Satu menit, dua menit, tiga menit berlalu, Jay tidak mendapat balasan. Dia langsung menekan nomor Siria dan meneleponnya."Halo!" Terdengar suara Siria dari seberang."Siria." Suara Jay begitu bersemangat sampai sedikit serak. "Aku ... aku menyukaimu. Kamu mau jadi pacarku?""Jay, sekarang sudah hampir jam 2 pagi. Kamu mabuk ya? Jangan-jangan kamu salah orang lagi?" Siria bertanya dengan nada serius.Kepala Jay langsung berdengung. Dia teringat malam ketika dia pernah salah mengira Siria sebagai Devina. Dengan nada cemas tetapi tulus, dia berkata, "Nggak. Siria, aku nggak salah orang.""Aku ingin mengatakan langsung padamu kalau yang kusukai adalah kamu. Kamu, Siria. Aku ingin secara resmi dan sungguh-sungguh memintamu menjadi pacarku."Di sana, Siria terdengar tertawa. Akhirnya, dengan sedikit nada tak berdaya tetapi juga geli, dia berkata, "Aku belum pernah de

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1054

    Lambert bersandar di sofa. Kepahitan di matanya semakin dalam. Pada perjalanan ke Kyoza waktu itu, dia benar-benar merasakan perasaan Niro terhadap Brielle. Perasaan yang membara, terang-terangan, tanpa disembunyikan sedikit pun.Tidak seperti dirinya, yang terlalu banyak pertimbangan dan tidak berani melangkah maju. Sementara Niro, selama Brielle hanya mengangguk, dia adalah orang yang bisa langsung memberinya sebuah rumah.Melihat kesuraman di mata Lambert, Jay menggaruk kepalanya. "Kalau begitu, bukankah kamu dan Raka sama sekali sudah nggak punya kesempatan lagi?"Lambert mengusap pelipisnya, lalu menggeleng."Nggak bisa juga dibilang begitu. Semuanya tergantung pilihan Brielle. Dia bukan orang yang menilai seseorang dari latar belakang keluarga.""Tapi dengan kondisi Niro seperti itu, kalau dia yang mengejar lebih dulu, menurutku Brielle akan sulit untuk nggak tergoda." Jay memiliki pandangan lain."Aku sudah nggak punya kesempatan. Kita lihat saja kemampuan Raka." Setelah mengata

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1053

    Mata Lambert berkilat sejenak, seolah-olah memahami sesuatu."Raka memang lebih kuat menahan beban daripada kita, itu nggak diragukan lagi. Hanya saja, dia benar-benar menyakiti Brielle."Jay tiba-tiba mengangkat kepalanya. Seolah-olah teringat sesuatu, dia meninju meja dengan keras. "Kalau bicara soal menyakiti Brielle, aku juga pernah melakukan kebodohan itu."Sekilas rasa bersalah melintas di mata Jay. Dia merasa saat itu pasti seperti kerasukan setan. Dia benar-benar menuruti setiap perkataan Devina, bahkan sempat mengatakan beberapa kata kasar yang seharusnya tidak dia ucapkan kepada Brielle.Tatapan Lambert beralih kepadanya. "Yang kamu maksud adalah kejadian saat ulang tahun Vivian hari itu?""Benar, malam itu. Sebenarnya aku nggak ingin ganggu kalian, tapi dia bilang hadiahnya sudah dibeli dan setelah menyerahkannya langsung pergi, jadi aku bawa dia ke sana." Jay berhenti sejenak, lalu berkata dengan menyesal, "Aku benar-benar pantas mati. Aku rasa perceraian Raka dan Brielle i

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1052

    Telepon itu berdering selama tujuh detik sebelum akhirnya diangkat. Dari seberang terdengar suara Devina yang biasa, sedikit malas dan manja."Halo, Jay? Sudah selarut ini, kenapa meneleponku?"Jika setengah jam yang lalu mendengar suara ini, hati Jay pasti akan langsung melunak. Namun sekarang, yang dia rasakan hanya rasa mual.Begitu mual sampai dia tiba-tiba mengepalkan tangan, menarik ponsel dari telinganya, lalu menekan tombol putus dengan keras dan langsung mengakhiri panggilan itu.Di seberangnya, Lambert melihat semuanya dan tidak merasa terkejut. Dia tahu sifat Jay. Jika disuruh memaki Devina habis-habisan lewat telepon, dia pasti tidak bisa melakukannya. Sebaliknya, memutuskan semuanya dengan bersih seperti ini justru lebih sesuai dengan gayanya."Kenapa? Nggak mau minta penjelasan darinya?" Lambert mengangkat alis dan bertanya."Menjijikkan. Sekarang setiap memikirkan dia, aku hanya merasa jijik." Jay melempar ponselnya ke samping, lalu menjatuhkan diri kembali ke sofa.Dia

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1051

    Di bawah cahaya lampu, wajah Jay tampak sedikit pucat. Selama tujuh tahun ini, Devina selalu menunjukkan keterikatan penuh kepada Raka di hadapannya, lalu berbalik memperlakukannya dengan sikap ambigu. Kadang dekat, kadang jauh.Setiap kali dia hampir menyerah, Devina selalu memberinya sedikit harapan. Ditambah lagi dengan sikap dan kata-katanya yang seolah-olah tidak disengaja, tetapi di setiap kesempatan menampilkan sisi rapuhnya.Semakin Jay mengingat semuanya, semakin dia merasakan ketidakberdayaan karena dipermainkan dan ditipu. Dia tiba-tiba meneguk habis minuman di dalam gelasnya. Detik berikutnya, amarah yang tak diketahui asalnya membuatnya melempar gelas itu dengan keras ke lantai."Sialan, aku benar-benar orang bodoh." Jay menggeram pelan. Suaranya penuh ejekan terhadap dirinya sendiri dan rasa sakit.Dia bisa menerima kenyataan bahwa Devina mencintai Raka, tetapi tidak mendapat balasan. Namun, ternyata tujuh tahun lalu Devina bahkan pernah memberi isyarat kepada Lambert. It

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 424

    Brielle tertegun. "Pak Jared, bukannya aku sudah menyerahkan kesempatan itu pada Faye?""Aku tahu. Faye juga sudah menyiapkan naskah presentasinya, tapi ...." Jared ragu sejenak sebelum akhirnya berkata, "Barusan Pak Raka meneleponku. Dia secara khusus minta kamu yang naik panggung untuk presentasi.

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 427

    Devina tersenyum tipis. "Sudah dong. Dia nggak akan mengecewakanku."Tak lama kemudian, seorang staf masuk ke belakang panggung dan memberi tahu Faye bahwa Raka sudah tiba. Faye menarik napas panjang, menggenggam naskah pidatonya erat-erat. Jantungnya berdebar kencang.Hitungan mundur acara peluncur

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 450

    Lambert, pria sekelas itu, pria luar biasa yang bisa mendapatkan wanita mana pun yang diinginkannya, kenapa justru terus berputar di sekitar seorang wanita yang sudah pernah menikah seperti Brielle?Malam ini, Anya akan makan malam di rumah Keluarga Pramudita. Sebelum pulang kerja, Brielle sudah jan

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 431

    Brielle menatap punggung Raka dengan amarah yang membara.Begitu menekan tombol lift, dia terkejut melihat Raka masih di dalam. Dia bersandar santai di dinding kabin sambil menatap layar ponsel. Dengan rasa jengkel, Brielle melangkah masuk. Dia sadar Raka bahkan belum menekan tombol lantai mana pun,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status