Share

Bab 382

Penulis: Ayesha
Kali ini, demi tidak menyeret Devina ke dalam masalah, Raline sengaja menanggung seluruh kesalahan sendiri.

Saat itu, Raka turun ke bawah untuk mengambil air minum. Raline yang duduk di ruang tamu menatapnya dengan wajah penuh rasa bersalah, tapi Raka sama sekali tidak menanggapinya.

Semakin diabaikan, Raline makin gelisah. Dia bangkit dan berdiri di hadapan kakaknya. "Kak, aku tahu kali ini aku salah. Tapi Kak Devina cuma berniat baik mengantarkan gelang itu pada Brielle, malah ditampar! Kak De
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (16)
goodnovel comment avatar
Mamamimi Recipe
Nuduh brili cuma ibu rumah rangga ngabisin duit, lah meira sama raline apa kabar? Punya kemampuan apa?
goodnovel comment avatar
Antono Kastani
bukan munafik Herlina tp ingin hidup sendiri membesarkan Anya Krn trauma gagal dlm pernikahan dan mengejar karir
goodnovel comment avatar
Suryat
iya bener..hampir semua novel yg menceritakan penyesalan ceo yg katanya pandai tapi bloon makanya mudah di kibulin..
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1036

    "Kamu nggak merasa aku ikut campur terlalu jauh?" Siria bertanya balik.Jay terdiam beberapa detik. Reaksi Siria jelas bukan marah padanya. Bahkan dia malah mengusulkan untuk mengantar Devina pulang bersama. Hal itu benar-benar di luar dugaannya."Siria, kamu benar-benar ... nggak marah sama aku?" Jay kembali memastikan. Bagaimanapun juga, pemandangan di bar tadi mungkin saja membuatnya salah paham.Ekspresi Siria tetap tenang, matanya tampak jernih dan sadar."Kenapa aku harus marah? Kamu dan Bu Devina itu teman. Wajar kalau kamu bantu dia waktu mabuk."Setelah berkata demikian, dia bertanya lagi, "Bukannya dia pacar Pak Raka?"Jay tertegun. "Kenapa kamu bisa tahu?"Setelah itu, rasa terkejut bercampur gembira muncul di hatinya. Mungkinkah Siria pernah menyelidiki Devina? Apakah itu karena dirinya?Tatapan Jay yang panas membuat Siria merasa pikirannya terbaca. Wajahnya sedikit memerah, lalu dia memalingkan kepala. "Kamu masih mau antar dia nggak?""Oke. Kamu tunggu di samping mobilku

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1035

    Namun, hatinya malah terjerat oleh sosok lain. Jay mendongak dan menatap ke arah sofa di tengah. Pada saat itu, dia melihat Siria sedang berbicara dengan seorang pria. Entah apa yang mereka bicarakan, Siria tiba-tiba mengangkat tangan dan memukul ringan bahu pria itu sambil tersenyum dan memarahinya dengan nada bercanda.Hati Jay seolah tertusuk. Dia refleks menarik kembali tangannya yang sedang digenggam oleh Devina. Hati Devina seketika menjadi sedingin tangannya. Dia mengangkat kepala dan mengikuti arah tatapan Jay.Di matanya muncul kilatan gelap dan perasaan tidak senang.Kenapa Siria juga ada di sini?Namun tak lama kemudian, sudut bibir merahnya terangkat. Tatapan itu segera digantikan oleh kilatan penuh perhitungan. Saat itu Siria sedang mengambil tasnya, jelas dia berniat meninggalkan tempat itu.Pada saat itulah tatapan Siria mengarah ke tempat Jay berada.Devina langsung menangkap kesempatan itu. Dia menekan dahinya seolah pusing, lalu hampir seluruh tubuhnya bersandar ke ar

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1034

    Saat itu, ponsel Jay menyala. Ternyata Devina yang menelepon. Jay hampir lupa bahwa dia datang untuk membujuk Devina pulang. Dia segera berjalan menuju meja tempat Devina duduk.Ketika Devina melihatnya datang, wajahnya sedikit memerah di bawah sorotan lampu. Tatapannya samar dan tampak agak rapuh setelah mabuk. Bibir merahnya tersenyum menyambut Jay."Jay, kamu sudah datang, ya."Saat Jay duduk, kebetulan dia melihat ke arah Siria. Siria berdiri dan menoleh ke arahnya. Tubuh Jay langsung menegang. Padahal Siria hanya meliriknya sebentar, tetapi tatapan matanya terasa menusuk dan membuat Jay merasa tidak tenang saat duduk di sana."Devina, jangan minum lagi. Aku antar kamu pulang." Jay segera menjalankan perannya sebagai teman dan membujuk Devina pulang.Devina tersenyum sedikit."Aku suruh kamu datang untuk menemaniku minum. Kenapa kamu malah menyuruhku pulang?""Bukannya Raka melarangmu minum alkohol? Kenapa kamu malah minum?" Jay mengerutkan kening."Jay, menurutmu, apa hubunganku d

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1033

    "Kak Freyna, kamu nggak perlu temani aku lagi di sini. Kamu pulang saja dulu," kata Devina sambil mengambil ponselnya."Dengan keadaanmu begini, mana mungkin aku bisa pergi dengan tenang?""Ada seseorang yang akan datang menemaniku." Jari Devina mulai mencari sesuatu di layar ponselnya."Maksudmu Pak Jay?" Mata Freyna langsung berbinar. Dia juga sangat tahu apa jalan mundur Devina.Kalau tidak menjadi Nyonya Pramudita, menjadi Nyonya Holden juga merupakan posisi yang diperebutkan banyak wanita.Raka memang tidak bisa dia kuasai, tetapi Jay berada dalam genggaman Devina sepenuhnya. Kekaguman Jay terhadapnya bahkan hampir sampai pada titik berani terang-terangan merebutnya dari Raka.Devina lalu menekan nomor ponsel Jay."Halo! Devina, ada apa?" Suara Jay terdengar dari seberang telepon dengan ceria."Aku ... minum sedikit alkohol, kepalaku agak pusing. Kamu bisa datang untuk jemput aku?""Apa? Bukannya kamu nggak boleh sentuh alkohol? Kenapa kamu minum?""Karena ... suasana hatiku sedan

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1032

    Mendengar suara pria yang rendah dan familier itu, Devina tiba-tiba terkekeh. "Terus kenapa? Apa yang akan kamu lakukan padaku?"Suara Raka tetap tanpa emosi saat berkata, "Hentikan tindakanmu."Tawa Devina berubah menjadi ejekan. "Bukannya kamu sudah nggak butuh aku lagi? Lalu kenapa kamu masih mengaturku?""Transaksi di antara kita belum selesai." Suara Raka tetap tenang, membawa tekanan yang tidak bisa dibantah. "Jangan menantang batas kesabaranku."Devina tiba-tiba tertawa lagi, kali ini dengan sedikit rasa puas. "Batas kesabaran? Jadi kamu masih butuh aku, 'kan? Kamu masih harus mengaturku."Seolah kembali memegang sedikit kendali, ditambah dia baru saja minum alkohol, Devina mendengar suara Raka yang tetap terdengar seksi dan memikat. Dia menggigit bibirnya lalu berkata, "Memohonlah padaku, Raka.""Asalkan kamu memohon agar aku tetap hidup dengan baik, aku akan terus mendonorkan darahku untuk memperpanjang hidup ibumu. Kalau nggak ... percaya nggak, aku benar-benar akan mati di d

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1031

    Saat berjalan sampai di depan pintu, dia tidak bisa menahan diri untuk mengatakan satu kalimat lagi, "Aku dan kakakku, juga seluruh keluargaku, semuanya harus berterima kasih padamu."Brielle tidak menjawab. Dia hanya kembali duduk di depan komputer dan fokus menatap data baru yang baru saja dikumpulkan di layar. Raline menutup pintu dengan pelan, hatinya dipenuhi perasaan yang bercampur aduk.Bahkan dia saja merasa sesakit ini. Kalau kakaknya tahu bahwa Brielle benar-benar sudah melepaskannya sepenuhnya, betapa sakitnya hati kakaknya nanti?Sekarang, Raline hanya bisa melakukan apa yang bisa dia lakukan. Dia juga tidak mampu lagi untuk membantu lebih banyak dalam hal lain.Malam hari, di bar.Devina duduk di sudut ruangan. Dia mengangkat ponselnya dan memotret meja yang penuh dengan minuman alkohol, lalu mengirimkannya kepada Raka.[ Raka, kalau kamu masih peduli sama aku, datang ke sini. Kalau nggak, semua ini akan kuhabiskan. ]Setelah pesan itu dikirim, Devina menatap layar ponseln

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 429

    Raline menghela napas dan berkata, "Kamu nggak puas pun percuma. Sekarang semua sorotan di ruangan ini sudah direbut sama Brielle."Devina melirik ke arah Raline. "Raline ...."Raline tidak melanjutkan lagi. Devina menepuk bahu Faye sambil berucap dengan lembut, "Jangan putus asa. Masih ada kesempat

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 425

    Faye mengepalkan tangannya erat-erat, lalu menggertakkan gigi. "Sekarang Raka sudah bicara langsung, kamu masih mau pura-pura sok dermawan?"Brielle meliriknya sekilas, lalu mengambil ponselnya dan langsung menekan nomor Raka, sekaligus menyalakan mode pengeras suara.Panggilan tersambung dengan cep

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 431

    Brielle menatap punggung Raka dengan amarah yang membara.Begitu menekan tombol lift, dia terkejut melihat Raka masih di dalam. Dia bersandar santai di dinding kabin sambil menatap layar ponsel. Dengan rasa jengkel, Brielle melangkah masuk. Dia sadar Raka bahkan belum menekan tombol lantai mana pun,

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 418

    Brielle tersenyum ramah dan menyapa, "Kudengar kamu sempat ke luar negeri untuk urusan bisnis. Kapan pulangnya?"Lambert sedikit terkejut. "Kok kamu tahu?"Brielle tertawa. "Waktu ketemu pengasuh Vivian di sekolah, dia kasih tahu aku."Sekilas ada kekecewaan melintas di mata Lambert. Dia sempat meng

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status