Share

Bab 548

Author: Ayesha
Namun, dia berpikir Raka mungkin hanya menghibur putrinya. Karena di dalam hati Raka, Devina sudah jauh lebih penting daripada putrinya.

Brielle berjongkok dan merapikan kerah baju putrinya. "Papamu sangat sibuk, mungkin ada urusan kerja mendadak."

Anya manyun, jelas terlihat kecewa. "Aku kira Papa benar-benar akan pulang! Ternyata dia bohong padaku!"

Brielle mengusap kepalanya. "Terus, hari ini kamu senang nggak?"

Anya mengedipkan mata, lalu mengangguk. "Senang."

"Ayo kita makan! Hari ini Mama
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Merry Ongko
lgs syok 2 gadis tadi...janda anak 1 terdepan...wkwkwk
goodnovel comment avatar
Suryat
good Niro..gitu dong tegas..
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1248

    Devina berpura-pura malu dan menurunkan suaranya. "Malam itu kakakmu sangat bersemangat, bahkan bilang aku lebih mengerti dia dibanding Brielle ....""Diam." Raline menggertakkan gigi dan menatapnya tajam. "Devina, kamu benar-benar membuatku muak.""Muak?" Devina tertawa ringan. "Dulu waktu kamu berharap aku jadi kakak iparmu, kenapa nggak merasa muak?"Saat itu pegawai menyerahkan kotak hadiah. Raline menerimanya lalu berbalik pergi.Devina menatap punggung Raline yang menjauh. Mood belanjanya langsung hilang. Sebaliknya, dia teringat ada satu hal yang harus segera dia urus, yaitu soal meminta hadiah dari Raka. Tidak mungkin dia menyia-nyiakan hadiah bernilai miliaran begitu saja."Nggak jadi belanja, temani aku ke Grup Pramudita," kata Devina pada Freyna."Devina, mau ngapain kamu ke sana?" Freyna sedikit terkejut. Bukankah Raka sudah tidak mau menemuinya?"Tentu saja untuk menemui Raka." Devina mengeluarkan kacamata hitam dan memakainya, menutupi ambisi dan keserakahan di matanya.S

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1247

    Devina tiba-tiba merasa bosan. Ignas tidak punya waktu menemaninya, tapi memberinya sebuah kartu kredit untuk berbelanja. Batasnya tidak disebutkan, jadi sayang kalau tidak dimanfaatkan.Devina menghubungi Freyna untuk membawa mobil van menjemputnya. Mereka berdua menuju pusat perbelanjaan paling mewah di pusat kota. Di perjalanan, Freyna sudah mengecek bahwa tas edisi terbatas yang diincar Devina sudah resmi dijual.Sorot mata Devina langsung dipenuhi ambisi. Begitu turun dari mobil, mereka berdua langsung menuju butik mewah itu.Dengan sepatu hak tinggi, Devina melangkah masuk ke dalam toko. Sekilas saja, dia langsung melihat tas itu dipajang di posisi paling mencolok. Matanya berbinar. Tepat saat itu, terdengar langkah kaki dari belakang. Dia langsung menoleh, karena jelas banyak orang yang datang demi tas tersebut.Saat melihat siapa yang datang, mata Devina sempat terkejut, lalu dia segera menampilkan senyum khasnya. "Lama nggak ketemu, Raline."Raline datang bersama seorang teman

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1246

    Memasuki proses pelepasan jahitan, dokter berkata, "Akan sedikit sakit, tahan ya."Saat benang pertama dilepas, Brielle langsung menggigit bibirnya erat-erat dan memejamkan mata karena sakit.Tangannya refleks meraih ke sana kemari, hingga akhirnya mencengkeram lengan Raka di sampingnya. Rasa sakit membuatnya tidak peduli lagi, kukunya menekan masuk ke kulit lengan pria itu.Raka membiarkannya mencengkeram, lalu menenangkannya dengan suara rendah, "Sebentar lagi selesai, tahan sedikit lagi."Dokter melepas jahitan satu per satu dengan hati-hati. Setiap tarikan membuat keringat muncul di dahi Brielle. Dia menggigit bibirnya dengan kuat agar tidak bersuara, hanya bisa melampiaskan rasa sakit lewat genggaman tangannya.Akhirnya, jahitan terakhir berhasil dilepas. Brielle langsung menghela napas panjang, lalu segera melepaskan cengkeramannya. Dia menoleh melihat lengannya, tiga bekas luka panjang tampak seperti jejak lipan.Luka itu akan meninggalkan bekas, tapi Brielle sudah tidak peduli

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1245

    Teringat masa nifas dulu, Brielle sering mengalami sumbatan ASI. Anya masih terlalu kecil dan tidak bisa mengisap dengan baik. Dia sampai menangis keras dan bahkan tidak mau meminum susu formula.Jadi, Raka akan selalu masuk ke kamar lebih dulu untuk mengatasi sumbatan ASI. Saat Lastri kemudian membawa Anya masuk, wajah Brielle sudah merah padam. Lastri sudah berpengalaman, jadi hal seperti itu tidak lagi membuatnya heran.Karena tinggal di bawah satu atap, pemandangan seperti itu tentu bukan hanya sekali dua kali disaksikannya. Bahkan di tengah malam, dia sering mendengar Raka menggendong Brielle dari kamar utama ke kamar sebelah. Sebisa mungkin dia selalu menghindar agar tidak mengganggu kebahagiaan pasangan muda itu.Empat tahun pertama pernikahan mereka penuh kebahagiaan. Sampai sekarang saat Lastri mengingatnya, dia masih bisa merasakan kehangatan itu. Setelah anak tertidur, Brielle paling suka bersandar di bahu Raka sambil membaca buku. Raka merangkulnya dengan satu tangan, semen

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1244

    Ekspresi Raka seketika membeku beberapa detik, tapi hampir secara refleks dia menolak, "Nggak bisa."Reaksi itu sudah diduga Brielle. Dia lebih memilih melewatkan kesempatan berdamai daripada mengungkapkannya, ya?"Kenapa?" Brielle menatap lurus ke matanya, suaranya tenang tapi tidak memberi ruang untuk menghindar. "Sebenarnya apa yang disembunyikan di dalamnya? Sampai kamu rela membiarkan aku terus membencimu demi merahasiakannya?"Jakun Raka kembali bergerak, sorot matanya rumit dan sulit dibaca. "Kamu bisa mengajukan syarat lain untuk ditukar, tapi yang ini nggak bisa. Tapi aku bisa jamin, rahasia ini nggak ada hubungannya dengan kamu, dan nggak akan menyakiti siapa pun."Brielle menggigit bibirnya. Meskipun sudah bercerai dan Brielle sudah tumbuh lebih dewasa, setiap kali berhadapan langsung dengan Raka, sudut matanya tetap saja memerah."Raka, kamu selalu seperti ini. Kamu merasa berhak menentukan apa yang boleh aku tahu dan apa yang harus kamu sembunyikan dariku. Ini masalah terb

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1243

    "Tuan Raka, kecap di rumah habis, aku mau ke supermarket untuk beli. Tolong jaga Nyonya, ya!" Setelah berkata demikian, Lastri meletakkan hadiah di atas lemari, lalu berjalan ke arah pintu. Tak lama kemudian, dia sudah keluar.Brielle mengernyit. Lastri jelas sengaja mencari alasan untuk pergi. Tiba-tiba dia merasa canggung, lalu menutup laptopnya. Raka duduk di sofa seberangnya, tatapannya masih tertuju pada lengan Brielle yang dibalut perban. "Lukanya masih sakit?""Nggak lagi," jawab Brielle sambil menunduk."Rapat kali ini berjalan sangat lancar, aku juga dapat banyak hal." Raka menatapnya. "Jadi, kamu nggak perlu khawatir soal investasi selanjutnya."Brielle memalingkan wajah, melihat ke arah pemandangan di luar jendela, lalu menjawab pelan, "Aku tahu."Raka menunduk. "Aku tahu sekarang aku sudah nggak punya hak untuk menjelaskan apa pun kepadamu, tapi ada beberapa hal yang tetap harus aku katakan."Brielle menoleh kembali menatapnya. Dia tidak tahu apa yang ingin dijelaskan Raka,

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 454

    Sore itu, Brielle berada di laboratorium selama dua jam. Zondi dengan sungguh-sungguh meminta pendapatnya tentang beberapa persoalan sulit. Brielle pun dengan sabar memberinya penjelasan.Mengingat apa yang pernah dilakukan Faye sebelumnya, Zondi sebenarnya ingin memperingatkan Brielle agar berhati-

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 426

    "Acara peluncuran sebesar ini, mana mungkin kulewatkan! Kamu lagi cari tempat duduk? Yuk, duduk bareng aku," kata Lambert sambil tersenyum.Brielle mengangguk, lalu akhirnya duduk di baris ketiga.Lambert tersenyum. "Aku kira kamu yang bakal naik ke panggung untuk presentasi hari ini."Brielle membu

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 437

    Namun Niro juga tahu, seberapa pun dia menyukai Brielle, dia tidak bisa memaksa Brielle untuk menyukainya kembali. Semua yang dia lakukan untuk Brielle adalah atas kemauannya sendiri, tanpa menuntut balasan. Dia mulai menantikan pertemuan besok. Rasanya waktu berjalan begitu cepat akhir-akhir ini.K

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 413

    Meskipun Brielle tahu undangannya barusan terdengar sekadar basa-basi, mata Niro tetap saja berbinar. "Benarkah nggak merepotkan?" tanyanya hati-hati."Nggak sama sekali, Pak Niro. Semua bahan sudah saya beli, tinggal tambah sedikit nasi saja," sahut Lastri sambil tersenyum ramah.Sudut bibir Niro s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status