Share

Bab 626

Author: Ayesha
Niro sempat tertegun. Dia sama sekali tidak bisa membantah ucapan Brielle. Saat ini, Brielle bahkan terlihat seperti seorang kakak yang sedang menasihati adiknya dengan sangat serius.

Niro menelan ludah. Instingnya mengatakan bahwa jika dia terus membantah, dengan sifat Brielle, mungkin perempuan itu akan langsung mengabaikannya.

Akhirnya, Niro hanya tersenyum kecil dan bersandar kembali pada bantal. "Baiklah, aku dengar kata-katamu."

Saat itu, dua perawat masuk untuk memberinya obat dan juga su
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Antono Kastani
BP edan CEO arogan Angkuh tp KL ditelp Davina lari terbirit birit lupa segalanya cuma keloni Davina alasan sama anak istri dinas wk wk wk CEO gemblong
goodnovel comment avatar
Merry Ongko
ya Krn bapaknya lagi asik pacaran sama selingkuhannya jd ga tau anaknya sampoi sakit keras....kalau tau nti baru nyesal
goodnovel comment avatar
Suryat
kenapa gak jujur sj sm Raka..bu lastri..
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1124

    Saat hendak pergi, Devina juga sempat memotret rumah sakit serta sosok Lambert saat naik ke mobil. Setelah duduk di dalam mobil, dia kembali mengambil selfie di dalam mobil.Lambert tahu tempat tinggal Devina. Bagaimanapun, dulu dia dan Raka juga pernah tinggal di kawasan vila yang sama. Dua puluh menit kemudian, mobil Lambert berhenti di depan vila Devina.Lambert turun dari mobil dan membuka pintu, lalu memberi isyarat agar Devina turun dengan sikap diam dan dingin. Setelah turun sambil berpegangan pada pintu mobil, tatapan Devina kembali memancarkan godaan. "Lambert, mau masuk sebentar?""Nggak perlu," tolak Lambert dengan tegas.Melihat sosoknya yang hendak kembali ke mobil, Devina tiba-tiba berkata, "Lambert, gimana kalau aku bilang aku menyukaimu?"Lambert berbalik menatapnya. Meski mata Devina dipenuhi perasaan, itu sama sekali tidak menggoyahkan dirinya. Tatapannya hanya dingin, seolah melihat semuanya dengan jelas."Aku benar-benar pernah menyukaimu. Hanya saja dulu kamu menol

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1123

    Lambert membuka pintu mobil dan masuk. Devina langsung mengetuk pintu mobilnya, "Lambert, biarkan aku selesaikan kata-kataku. Kalau nggak, kamu jangan harap bisa pergi ...."Lambert menyalakan mobil. Saat dia hendak memutar arah, tiba-tiba terdengar teriakan kesakitan dari luar, "Ah!"Lambert langsung menginjak rem. Meski dia tidak melihat bagian depan mobilnya menyentuh Devina, dia tetap harus turun untuk memastikan.Benar saja, dia melihat Devina memegangi perutnya sambil jatuh terduduk di tanah. Beberapa pelayan restoran yang tidak tahu situasinya segera berlari mendekat, "Nona, kamu nggak apa-apa?"Lambert memandang Devina yang terduduk di tanah, mengernyit lalu bertanya, "Kamu nggak apa-apa?"Devina mengangkat wajahnya yang dipenuhi air mata karena sakit, "Nggak apa-apa, kamu nggak perlu peduli sama aku.""Pak, sepertinya dia tertabrak. Apakah Anda mau mengantarnya ke rumah sakit untuk diperiksa?" tanya seorang pelayan wanita.Lambert membuka pintu kursi belakang mobil, lalu berka

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1122

    Fernandes tampak sedikit kecewa. Saat dia hendak mencari alasan untuk kembali mendekati Devina, tiba-tiba pintu sebuah ruang privat terbuka. Devina melihat sosok yang tidak asing keluar dari dalam. Orang itu adalah Lambert.Sepertinya Lambert juga baru selesai dari jamuan. Di sampingnya ada beberapa rekan bisnis. Jantung Devina langsung berdebar. Dibandingkan Fernandes yang berusia lebih dari 40 dan sudah agak berisi, Lambert tampak tampan dan berpostur tegap di bawah cahaya lampu.Lambert melihat Devina, lalu langkahnya terhenti. Dia melirik Devina dengan dingin, lalu sekilas melihat Fernandes di sampingnya. Seketika, Lambert langsung memahami situasinya.Tatapan singkat Lambert itu membuat wajah Devina langsung memerah karena malu. Dia menggigit bibirnya, lalu menyapa, "Lambert, kebetulan sekali."Fernandes di sampingnya juga tidak berani bersikap sembarangan dan segera menyapa, "Pak Lambert, kebetulan sekali." Lalu dia memandang Devina dengan heran, "Bu Devina kenal dengan Pak Lambe

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1121

    Di jamuan makan pukul sembilan, Devina sedang berada di acara makan malam ayahnya. Meski saat datang dia sangat enggan, demi menjaga klien besar perusahaan ayahnya, dia terpaksa memainkan perannya dengan baik."Pak Declan, Anda benar-benar beruntung! Kudengar dua putri Anda sama-sama cantik luar biasa. Hari ini setelah ketemu Bu Devina, ternyata pujian itu memang benar, ya!" puji seorang pria setingkat manajer.Saat itu, seorang pria paruh baya berusia sekitar 40 tahun yang duduk di sisi Devina mengangkat gelasnya, "Pak Hiro benar. Bu Devina bukan hanya cantik, tapi juga pianis internasional, kemampuannya juga sangat hebat. Aku sangat mengaguminya."Devina tersenyum tipis, lalu mengangkat gelas dan menyentuh gelas pria di sampingnya dengan ringan, "Pak Fernandes terlalu memuji."Declan juga tersenyum sambil mengangkat gelas, "Pak Fernandes, kali ini aku bersulang untukmu."Fernandes masih berusia sekitar 40 tahun, tubuhnya sedikit berisi karena sering menghadiri jamuan. Namun sebagai p

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1120

    Suasana di seberang sana hening beberapa detik. Kemudian, nada suara Declan sedikit melunak. "Ayah tahu kamu punya kesulitan sendiri, tapi kondisi perusahaan kita sekarang kamu juga tahu .... Anggap saja Ayah memohon padamu. Tolong minta bantuan Raka ya.""Ayah, daripada bergantung pada orang lain, lebih baik kita cari jalan sendiri.""Begini, malam ini Ayah ada jamuan makan, kamu datang saja. Nanti Ayah kenalin kamu dengan bos perusahaan Brilliant. Dia juga sangat menghargai bakatmu," kata Declan tiba-tiba.Devina merasa tidak suka. "Ayah tahu aku nggak suka acara seperti itu.""Devina, dengarkan Ayah, anggap saja hargai Ayah. Datang makan malam saja." Nada Declan tidak memberi ruang untuk dibantah. "Lagi pula, kamu juga hadir sebagai perwakilan pemegang saham perusahaan."Devina menggenggam ponselnya. Jika perusahaan ini tidak ada hubungannya dengannya, dia memang malas menghadapi semua ini. Namun, sekarang dia adalah pemegang saham, memang tidak bisa tidak peduli."Baiklah. Kirim al

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1119

    "Benar-benar nggak ada cara lain?" tanya Devina dengan tidak rela."Kecuali kamu bisa membuktikan Pak Raka melakukan penipuan. Tentu saja, itu sangat sulit."Devina merapikan rambut panjang di dahinya dengan pusing. Raka memang kejam. Apakah dia benar-benar berniat mengikatnya seumur hidup?Atau ini balasannya atas semua hal berlebihan yang pernah dia lakukan? Apakah Raka membencinya karena telah menghancurkan pernikahannya dengan Brielle?Kebencian yang kuat muncul di mata Devina. Ternyata, semua sikap beraninya di depan Raka selama ini, semuanya ada harganya.Meskipun sudah menemukan cara lain untuk menyelamatkan ibunya, Raka tetap tidak membiarkannya bebas.Devina mengakui, dulu memang dia sering bertindak terlalu jauh. Dia keras kepala, bertindak semaunya, terus-menerus menantang batas kesabaran Raka.Devina teringat bagaimana dulu dia dengan bangga memamerkan segalanya di depan Brielle, bagaimana dia sengaja menciptakan kedekatan ambigu dengan Raka, bahkan pada jamuan malam Tahun

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 451

    Di rumah Keluarga Pramudita.Meira sedang menemani cucunya bermain di sofa sambil meminta dapur menyiapkan beberapa hidangan favorit Anya. Saat itu, Raka sedang menyelesaikan pekerjaannya di ruang kerja di lantai dua.Raline sudah pergi makan malam bersama teman-temannya, sementara Emily dengan sena

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 452

    Raka menyipitkan mata. Di kedalaman tatapannya tampak berkilat sedikit rasa penyesalan.Anya berlari kecil ke halaman rumah, lalu menoleh ke belakang. Kakinya yang mungil kembali berlari ke depan gerbang, menatap ayahnya yang berdiri di bawah cahaya lampu jalan. Dia bertanya, "Papa, kenapa nggak mas

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 440

    "Ya, kami harus kembali ke kota dulu," jawab Jared."Ada masalah di perusahaan?" tanya Brielle."Bukan," Jared menggeleng. "Seorang teman dekat Pak Raka masuk ICU. Dia ingin segera pulang untuk memastikan keadaannya."Dari nada suara dan reaksi Raka saat tadi menelpon, dia bisa menebak bahwa satu-sa

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 445

    Meira tadi hanya sempat melihat sekilas cucunya, tapi sampai sekarang bayangan itu masih teringat jelas di benaknya. Dia mengeluarkan ponsel dan menekan nomor putranya."Raka, tadi di sekolah aku melihat Brielle dan Anya. Bisakah kamu minta dia mengantar Anya ke rumah malam ini untuk makan malam ber

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status