LOGINSetelah rapat berakhir, Brielle baru saja merapikan dokumen dan bersiap pergi ketika Gavin melangkah cepat mendekat. "Bu Brielle, Pak Raka meminta Anda datang ke kantornya sebentar."Brielle mengernyit. "Ada urusan apa?""Pak Raka hanya menyampaikan agar Anda datang ke sana."Brielle mengatupkan bibirnya. Pada akhirnya, dia tetap mengikuti Gavin menuju kantor direktur utama.Begitu pintu dibuka, Raka berdiri di depan jendela kaca besar. Saat mendengar langkah kaki, dia berbalik, tatapan matanya yang dalam tertuju pada Brielle. "Duduk," katanya sambil memberi isyarat ke arah sofa.Brielle tidak bergerak. "Kalau ada urusan, katakan saja. Aku harus kembali ke laboratorium."Sorot mata Raka meredup sesaat. "Laporan penelitian terbaru dari Laboratorium Smith, sudah kamu lihat?"Brielle memang sudah membacanya. Perkembangan riset di laboratorium itu terus menunjukkan terobosan baru."Ada satu hal terkait dana hasil pencairan pribadiku yang perlu aku jelaskan padamu," timpal Raka sambil menga
Ruang kantor eksekutif Grup Pramudita.Raka berdiri di depan jendela kaca besar, memandang seluruh kota dari ketinggian.Gavin mengetuk pintu lalu masuk, menyerahkan sebuah berkas. "Pak Raka, dana hasil pencairan opsi saham sudah seluruhnya masuk. Setelah dipotong denda, laba bersihnya delapan triliun."Raka menerima berkas itu dan melirik sekilas, lalu berkata datar, "Transfer semuanya ke rekening laboratorium luar negeri."Gavin tidak banyak bertanya. "Baik."Pukul delapan malam, Brielle kembali menerima telepon dari Frederick. Frederick mengatakan bahwa dirinya mendapat panggilan dari Gavin, yang meminta semua direktur hadir secara langsung dalam rapat besok.Dalam hati, Brielle menduga mungkin akan ada perubahan di jajaran direksi atau pengumuman penting dari dewan. Dia pun memutuskan untuk ikut hadir.Keesokan paginya, Brielle mengantar putrinya ke sekolah. Di gerbang sekolah, dia bertemu Lambert. Lambert baru saja pulang dari perjalanan dinas selama hampir seminggu, dan hari itu
Brielle menutup pintu, lalu menelepon Frederick, menyampaikan apa yang baru saja dikatakan Raka, serta memintanya menyiapkan rencana penanganan terbaik.Di seberang sana, Frederick juga menghela napas lega. "Aku juga percaya Pak Raka pasti punya cara untuk mengatasinya.""Rapat sore dibatalkan. Kamu fokus mengikuti kasusnya. Kalau ada masalah, segera beri tahu aku," instruksi Brielle."Baik, Bu Brielle, tenang saja. Aku akan mewakili Bu Brielle menghadiri rapat di Grup Pramudita.""Baik."Berita tentang Grup Pramudita terus bertengger di berbagai tajuk utama dan menuai banyak keraguan.Keesokan hari, Komisi Sekuritas masuk ke Grup Pramudita. Berbagai media besar berjaga sepanjang hari di luar gedung, melaporkan perkembangan badai ini secara real time.Dalam beberapa hari terakhir, harga saham Grup Pramudita terus merosot. Pasar pun gempar.Menurut kabar yang beredar, Raka diminta bekerja sama dalam penyelidikan selama 48 jam. Namun, ada juga yang mengatakan bahwa Raka datang secara suk
Brielle mengernyit sejenak, lalu meletakkan ponselnya dan lanjut gosok gigi serta cuci muka.Belum sempat Brielle menghubungi Frederick, Frederick sudah lebih dulu menghubunginya."Bu Brielle sudah melihat berita soal Grup Pramudita?" Nada suara Frederick terdengar jelas agak cemas. Bagaimanapun juga Raka adalah pemegang saham terbesar kedua di perusahaannya."Sudah. Apa akan berdampak pada kita?""Untuk saat ini dampaknya nggak besar, tapi kita perlu menyiapkan rencana antisipasi lebih awal." Suara Frederick terdengar hati-hati. "Anjloknya harga saham Grup Pramudita bisa memicu efek berantai."Brielle mengeringkan air di wajahnya, lalu berkata, "Sore nanti adakan rapat manajemen, evaluasi dampaknya terhadap perusahaan."Setelah menutup telepon, waktu masih menunjukkan pukul 7 pagi. Brielle membiarkan putrinya tidur lagi sejenak. Saat dia turun untuk minum segelas air, bel pintu tiba-tiba berbunyi.Dia melangkah cepat untuk mengecek. Melalui layar interkom, sosok Raka terlihat berdiri
Saat makan malam, Raline turun dengan enggan. Sepanjang waktu dia menunduk, tidak berkata apa-apa, dan sama sekali tidak menatap Raka.Raka berkata dengan nada datar, "Besok Gavin akan membawamu melihat rumah di Emerald Bay.""Aku nggak mau." Raline memalingkan wajahnya."Kalau begitu, pulang saja ke rumah lama." Raka meletakkan sendoknya.Di bawah meja, Meira menendang kaki putrinya dengan pelan. "Sudahlah, Raline, dengarkan kata kakakmu."Raline sebenarnya sudah memikirkannya. Dia tidak akan bisa melawan. Perkataan kakaknya tetap harus dituruti. Kalau tidak, ke depannya dia tidak akan bisa hidup nyaman."Baiklah! Aku mau lantai terbaik, penthouse!" Raline mendengus dengan kesal."Harga penthouse itu 1 triliun. Kamu tinggal sendiri di rumah sebesar itu untuk apa?" Meira melotot dengan kesal ke arah putrinya."Bukannya Kakak nggak mau aku mempermalukannya di depan Lambert? Kalau begitu, tunjukkan sedikit ketulusan dong!" Raline memang tahu bagaimana caranya menyulut emosi kakaknya.Rak
"Sudah lewat 20 tahun, tapi masih saja nggak dewasa. Ayahmu meninggal muda, kakakmu yang mengurusmu. Apa salahnya?""Hmph! Kalian semua memihak Brielle saja! Dia itu cucu kesayangan kalian, bukan aku!" Raline menangis sambil berlari naik ke lantai atas.Meira hendak menyusul ke atas, tetapi Emily menghentikannya. "Biarkan dia memikirkan semuanya sendiri dengan baik."Emily melirik menantunya dengan penuh makna, lalu berkata, "Urusan anak-anak muda, biarkan mereka selesaikan sendiri. Kita jangan ikut campur. Kalau belum pernah terluka, mereka nggak akan tahu rasa sakit. Raline begitu, Raka juga begitu."Meira tertegun. Kalau kehidupan putrinya berantakan, mungkin masih bisa dimaklumi, tetapi putranya tidak sebodoh itu!"Anak itu sejak kecil sudah penuh pikiran, keras kepala, dan suka menjaga gengsi. Jelas-jelas peduli, tapi nggak mau mengaku. Hais!"Meira memahami maksud ibu mertuanya, lalu berkata dengan tenang, "Bu, rasanya nggak mungkin. Raka sejak kecil selalu tahu apa yang dia ingi







