ログインSmith tertegun.Ternyata Raka memang sangat memahami Brielle dan dia juga menduga Brielle pasti akan tetap melakukan tes itu. Mungkinkah Brielle benar-benar donor potensial kedua?Menjelang siang, Brielle secara pribadi menyerahkan sampel darahnya untuk dilakukan pencocokan, bahkan dia sendiri yang mengoperasikannya.Hasil analisis keluar.Sampel darah Brielle tidak memenuhi syarat untuk eksperimen.Smith terus memantau perkembangan itu dari komputernya. Saat melihat hasilnya, dia menghela napas pelan. Tingkat kecocokan darah Brielle hanya sekitar 60 persen. Jauh dari ambang yang dibutuhkan untuk efektivitas eksperimen.Brielle melakukan tes ulang tiga kali.Hasilnya tetap sama.Akhirnya, dia berhenti dan kembali ke kantornya. Di lipatan siku tangannya sudah tampak tiga bekas memar akibat pengambilan darah.Smith mengirim pesan kepada Raka.[ Bu Brielle memang melakukan pencocokan genetik. Tidak memenuhi syarat sebagai sampel eksperimen. ]Balasan di sana hanya satu kata.[ Terima kasi
"Perlu aku pergi membujuk Bu Brielle?" tanya Smith. Dia merasa Brielle mungkin masih mau mendengarkan dirinya."Nggak perlu. Biarkan dia menenangkan diri," jawab Raka dengan nada dingin.Dalam hati Smith berpikir, sampel donor ibu Brielle pasti memiliki kegunaan yang lebih penting. Kalau tidak, dalam kondisi ibunya yang sudah parah dan adiknya yang juga telah sakit, tidak mungkin Raka menolak menggunakannya.Smith lalu mulai menjelaskan secara rinci hasil eksperimen yang dilakukan terhadap sampel darah Devina tadi malam. Sementara itu, Brielle berdiri di balkon laboratorium, membiarkan angin menenangkan pikirannya.Dia tidak bisa memahami dan tidak bisa menerima keseluruhan situasi ini. Semua terasa menekan di dadanya, membuatnya sesak.Namun tak lama kemudian, dia menata kembali emosinya.Baiklah. Sampel donor ibunya akan disimpan sebagai opsi terakhir. Untuk saat ini, menggunakan sampel Devina sebagai arah penelitian tetap langkah yang benar.Di dalam ruang rapat, saat Smith sedang m
Brielle sudah memastikan hal itu hari ini.Untuk sementara, Brielle memutuskan untuk tidak memikirkannya dulu. Besok dia akan ke laboratorium dan melihat langsung.Keesokan paginya, setelah mengantar Anya, dia langsung menuju laboratorium. Begitu tiba, asistennya datang menghampiri. "Bu Brielle, Doktor Smith menunggu kamu di ruang rapat."Brielle mengenakan jas labnya dan berkata, "Aku segera ke sana."Dengan rambut panjang yang diikat rapi, auranya memancarkan ketegasan seorang akademisi.Saat dia masuk ke ruang rapat, cahaya pagi menembus dinding kaca. Raka berdiri membelakangi cahaya. Wajahnya yang tegas dan dalam terlihat semakin sulit ditebak. Dia mengangkat kepala menatap Brielle, tetapi ketika tatapan Brielle tertuju padanya, Raka malah menundukkan pandangan.Smith merasakan ketegangan di antara mereka dan segera berkata ringan, "Baiklah, mari kita mulai rapat. Pagi ini sudah keluar beberapa data baru yang bisa kita telaah bersama."Dia bisa melihat jelas, Brielle berada di posi
"Pak Raka, kabar baik. Kabar luar biasa!" Suara Smith terdengar sangat bersemangat. "Bu Brielle baru saja memastikan bahwa sampel darah mendiang ibunya memiliki kecocokan genetik tinggi dengan Bu Devina. Sepenuhnya layak dijadikan donor cadangan untuk eksperimen."Tangan Raka yang memegang ponsel langsung menegang. Berita itu menghantam jantungnya keras. Keterkejutan membuatnya lupa bernapas untuk sesaat."Kapan dia memastikan hal ini?""Itu kurang jelas. Sepertinya sekitar satu tahun lalu," jawab Smith. "Kalau kamu ingin tahu detailnya, kamu bisa langsung bertanya pada Bu Brielle."Raka menarik napas dalam, memaksa dirinya tenang dari gejolak emosi yang tiba-tiba."Doktor, jangan sentuh sampel itu dulu."Di seberang, Smith yang sudah bersemangat ingin langsung menguji besok pagi, jelas tertegun. "Kenapa? Pak Raka, semakin banyak donor, semakin besar harapan.""Tunggu kabarku sebelum bergerak. Untuk sementara, gunakan sampel Devina saja untuk penelitian."Setelah berkata demikian, Raka
Di ujung sana, Harvis berpikir beberapa detik lalu menjawab dengan sangat serius, "Iya. Waktu itu kamu mencurigai alasan Raka menyimpan sampel ibumu adalah untuk donor sel punca bagi Devina. Jadi aku membantu melakukan pencocokan. Hasilnya memang cocok.""Terima kasih. Terima kasih banyak, Kak Harvis." Suara Brielle tiba-tiba bergetar dan nyaris menangis."Kenapa? Brielle, ada apa?" tanya Harvis cemas."Nggak apa-apa. Informasi ini sangat penting bagiku. Sangat penting. Untung kamu membantuku waktu itu. Kalau nggak, mungkin aku nggak akan pernah tahu betapa pentingnya sampel ibuku bagiku."Suara Brielle bergetar penuh emosi. Dia menggenggam ponsel dengan erat, seolah sedang memegang satu peluang hidup lagi untuk putrinya.Harvis terdengar bingung di ujung sana. "Brielle, apa kamu baik-baik saja?""Bukan aku. Ini untuk penelitian yang sedang kulakukan. Kak Harvis, aku nggak akan mengganggumu lagi.""Baik, nanti aku kirimkan laporan pencocokannya padamu.""Baik, terima kasih, Kak Harvis.
Semua orang memandangi punggung Raka yang menjauh. Awalnya mereka menghela napas lega, tetapi detik berikutnya ketegangan kembali muncul.Sebelum pukul empat sore harus ada solusi. Bagaimana mungkin mereka bisa menyusunnya dalam waktu sesingkat itu?Wajah Declan pucat pasi. Tadinya dia masih berharap bisa memanfaatkan statusnya sebagai "calon mertua" untuk meminta kelonggaran. Namun barusan, dia bahkan tidak punya keberanian untuk menatap calon menantunya itu.Sekarang dia benar-benar sadar, dalam urusan kerja, Raka bertangan besi dan tidak mengenal kompromi.Tak lama kemudian, seorang konsultan dari Grup Pramudita datang. Kemunculannya membuat Declan sedikit lega. Dia tahu Grup Pramudita tidak akan sepenuhnya melepaskannya. Orang-orang dari Grup Pramudita memang punya prosedur penanganan krisis yang presisi.Konsultan itu mengeluarkan instruksi yang terstruktur dan langsung menusuk inti masalah, bekerja tanpa bertele-tele. Di bawah arahan konsultan tersebut, sebelum pukul empat, akhir







