Share

Bab 981

Author: Ayesha
Langkah Raka terhenti di depan pintu. Punggungnya sedikit menegang. Dia tidak langsung menjawab.

"Katakan padaku. Kamu sedang dekatin dia lagi?" Lambert terus bertanya. Dadanya terlihat naik turun jelas.

Raka perlahan berbalik. Tatapannya jatuh pada wajah Lambert. "Apa itu penting?"

Lambert menatap balik dengan pahit, sudut bibirnya terangkat getir. "Bagi aku sangat penting."

Dia menarik napas dalam-dalam lagi. "Raka, kalau kamu memang memutuskan untuk rujuk dengannya, perlakukan dia dengan baik
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Henny Yanuartati
Ya ampun kocak banget sih Jaaay….
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 983

    Hal itu membuat Raline memberi label jahat pada Brielle. Ditambah lagi citra Brielle sebagai ibu rumah tangga setelah menikah, membuatnya mengira Brielle hanya tahu menikmati kenyamanan. Dari lubuk hatinya, dia semakin meremehkan Brielle.Dibandingkan Devina, Brielle hanyalah ibu rumah tangga biasa yang malas di mata Raline. Dia beranggapan bahwa Brielle hanya mengandalkan status sebagai Nyonya Pramudita untuk menerima uang setiap tahunnya.Baru sekarang dia sadar, Brielle bukan hanya membesarkan putrinya setelah menikah, tetapi juga terus berkembang. Dulu dia pernah mengejek Brielle yang membaca novel di rumah untuk menghabiskan waktu, padahal kenyataannya Brielle sedang belajar ilmu kedokteran.Semakin dia mengingat perbuatan buruknya dulu, Raline semakin merasa malu. Selama ini dia hidup dalam prasangka dan kesombongannya sendiri. Dia bukan hanya salah menilai Brielle, tetapi juga pernah memperlakukannya dengan sangat buruk.Seperti kejadian pesta di kolam renang waktu itu.Malam it

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 982

    Keesokan paginya, Raka muncul tepat waktu di depan pintu untuk mengantar Anya ke sekolah. Brielle mengantar putrinya sampai depan, lalu kembali masuk untuk bersiap ke laboratorium. Saat dia turun dan berjalan ke mobil, dia melihat seseorang sudah menunggunya di sana.Lambert.Brielle agak tertegun, lalu berjalan mendekat dengan tenang. "Kamu baik-baik saja?"Lambert teringat saat dia memegang Brielle dalam keadaan mabuk semalam dan mengatakan hal-hal yang seharusnya tidak diucapkan. Wajahnya langsung menunjukkan rasa canggung dan bersalah."Selamat pagi." Suaranya serak, matanya masih sedikit merah. "Aku sengaja datang untuk minta maaf. Semalam aku ... minum terlalu banyak dan mengatakan hal-hal yang nggak jelas. Jangan kamu pikirkan."Brielle malah memperhatikannya dengan khawatir. "Nggak apa-apa. Tapi kondisi kamu terlihat kurang baik. Lain kali jangan minum sebanyak itu. Nggak baik untuk kesehatan.""Ya, aku tahu." Lambert mengangguk. Dia menatap Brielle seolah ingin mengatakan sesu

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 981

    Langkah Raka terhenti di depan pintu. Punggungnya sedikit menegang. Dia tidak langsung menjawab."Katakan padaku. Kamu sedang dekatin dia lagi?" Lambert terus bertanya. Dadanya terlihat naik turun jelas.Raka perlahan berbalik. Tatapannya jatuh pada wajah Lambert. "Apa itu penting?"Lambert menatap balik dengan pahit, sudut bibirnya terangkat getir. "Bagi aku sangat penting."Dia menarik napas dalam-dalam lagi. "Raka, kalau kamu memang memutuskan untuk rujuk dengannya, perlakukan dia dengan baik. Jangan lagi menyakitinya. Tapi kalau kamu nggak punya niat itu ...."Dia berhenti sejenak, suaranya seperti menyiratkan sedikit permohonan. "Berikan kesempatan pada orang lain, boleh?"Raka menatap sahabatnya yang tampak begitu terluka di sofa, lalu berkata perlahan, "Lambert, Brielle sudah menyukai seseorang."Saat Lambert tiba-tiba mengangkat kepala, suara Raka terdengar rendah dan tenang, tetapi malah terasa lebih menyakitkan."Orang itu bukan kamu."Mata Lambert yang dipenuhi urat merah me

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 980

    Brielle menenangkannya, "Aku nggak pergi."Namun pada saat itu, Lambert tiba-tiba berdiri. Tubuhnya oleng. Brielle refleks memeluk pinggangnya agar dia tidak jatuh.Lambert memejamkan mata, dahinya kembali bersandar di bahu Brielle. Dengan suara rendah dia berkata, "Maaf ... maaf, Brielle."Brielle sebenarnya hendak mendorongnya menjauh, tetapi dia bingung kenapa Lambert sampai dua kali meminta maaf. Lalu, terdengar suara serak Lambert di dekat telinganya, "Aku memilih perusahaan, jadi nggak bisa memilih kamu ... aku bodoh sekali."Brielle mematung beberapa detik.Apa maksudnya? Apa arti memilih perusahaan berarti tidak bisa memilihnya?Tepat pada saat itu, adegan itu dilihat oleh seorang pria yang baru saja keluar dari lobi gedung.Raka menyipitkan mata. Dia melangkah cepat mendekat. Saat Brielle hampir terhuyung mundur karena berat tubuh Lambert, sebuah tangan yang kuat langsung menggenggam lengan Lambert dan memindahkannya ke bahunya sendiri.Brielle terkejut dan menoleh. 'Kenapa di

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 979

    Pukul sembilan, mereka masing-masing memanggil sopir untuk mengantar pulang.Setelah Lambert turun dari mobil, asistennya, Luna, segera menghampiri dan memapahnya. "Pak Lambert, saya antar Anda pulang.""Nggak perlu. Kamu pulang saja." Lambert berpegangan pada pintu mobil. Jelas sekali dia benar-benar mabuk."Pak Lambert, Anda yakin tidak perlu saya antar?" Luna tetap khawatir. Ini pertama kalinya dia melihat bosnya mabuk separah ini."Nggak perlu."Setelah asisten pergi, Lambert tidak langsung pulang. Dia berjalan masuk ke area kompleks, ingin berjalan sebentar untuk menyadarkan diri.Tanpa sadar, langkahnya membawanya sampai ke bawah gedung tempat tinggal Brielle. Dia mendongak melihat lantai apartemen Brielle. Lampunya masih menyala.Lambert menghela napas. Baru saja hendak berbalik, dia melihat sosok yang sangat dikenalnya muncul dari sudut jalan.Itu Brielle.Seperti biasa, dia diantar pulang oleh Gavin. Wajahnya tampak lelah saat berjalan mendekat."Brielle?" gumam Lambert pelan.

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 978

    Jay tertegun, lalu menepuk meja. "Maksud kamu, Raka lagi dekatin Brielle lagi dan ingin rujuk?"Lambert memejamkan mata. Wajahnya dipenuhi kepahitan. Dia tidak menjawab.Tangan Jay langsung mengepal. "Kalau Raka benar-benar ingin rujuk dengan Brielle, lalu bagaimana dengan Devina?"Tiba-tiba Jay mengerti mengapa suasana hati Devina tampak buruk tadi. Pasti dia sudah melihat tanda-tanda Raka ingin rujuk dengan Brielle dan ingin mencari sedikit penghiburan. Pantas saja kata-katanya tadi melukai Devina.Tanpa sadar, Jay menyentuh titik sensitifnya."Kalau Raka memang punya niat seperti itu, kenapa nggak bicara lebih awal? Ini bukan cuma menunda kesempatan kamu mengejar Brielle, tapi juga menunda hidup Devina," kata Jay dengan nada kesal.Lambert menunduk dan berkata pelan, "Bukannya kamu suka Devina? Ini malah kesempatanmu. Kamu bisa memanfaatkannya."Gerakan Jay yang hendak minum, langsung terhenti. Dia meletakkan gelas dan menatap Lambert. "Lalu Raka bakal setuju? Meski sekarang dia ter

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status