LOGINLembaga Pemasyarakatan Wanita terlihat lebih suram daripada penjara pria. Bau karbol yang menyengat dan suara kunci besi yang beradu menciptakan suasana mencekam.
Larasati melangkah dengan anggun, heels-nya mengetuk lantai semen yang lembap. Ia mengenakan setelan jas merah menyala, warna yang sengaja ia pilih untuk menunjukkan dominasi dan keberanian. Di balik kaca pembatas, seorang wanita duduk dengan bahu merosot. Rambut Sarah yang biasanya tertata salon kiniMatahari baru saja menyembul di cakrawala Jakarta, namun Larasati sudah duduk di kursi kebesarannya di lantai teratas gedung Darsa Group. Di depannya, selusin pengacara dan analis keuangan dari Vanguard Capital berdiri dengan tumpukan dokumen yang siap ditandatangani. Larasati tidak tidur semenjak keluar dari penjara semalam. Matanya yang dingin dan tajam kini tidak lagi menyiratkan kesedihan, melainkan fokus yang mematikan. "Mulai menit ini, saya ingin semua aset properti Darsa Group yang tidak produktif dijual dengan harga pasar terendah ke perusahaan cangkang kita di Singapura," perintah Larasati. Suaranya tenang, namun mutlak. "Tapi Nona Larasati," potong salah satu analis, "itu akan memicu kepanikan di bursa efek. Nilai perusahaan akan terjun bebas!" Larasati menyesap kopi hitamnya yang pahit. "Memang itu tujuannya. Biarkan kapal ini tenggelam. Saya ingin para pemegang saham setia Darsa merasa ketakutan dan menjual saham mereka kepada kita dengan harga sampah. Kita akan membe
Ruangan privat di lantai atas hotel bintang lima itu kedap suara, namun telinga Larasati seolah berdengung hebat.Di hadapannya, seorang pria paruh baya bernama Sodik, mantan sopir pribadi Sarah yang sempat menghilang ke luar negeri, duduk bersimpuh di lantai marmer. Tubuhnya gemetar, wajahnya pucat pasi di bawah temaram lampu gantung kristal. Larasati mencengkeram botol obat kecil bertuliskan huruf kimia yang asing di tangannya. Matanya merah, bukan karena air mata, tapi karena amarah yang mendidih hingga ke sumsum tulang. "Katakan sekali lagi, Sodik. Pelan-pelan. Jangan ada yang kamu kurangi satu kata pun," desis Larasati. Suaranya rendah, namun mengandung ancaman yang mematikan. Sodik menelan ludah dengan susah payah. "Malam itu... sebelum Nyonya Sarah menemui Anda di taman mawar untuk berkonfrontasi. dia memanggil saya ke dapur belakang. Dia memberikan serbuk ini. Dia bilang, ini hanya obat pencahar kuat agar Nona Utari merasa mulas dan ma
Lembaga Pemasyarakatan Wanita terlihat lebih suram daripada penjara pria. Bau karbol yang menyengat dan suara kunci besi yang beradu menciptakan suasana mencekam. Larasati melangkah dengan anggun, heels-nya mengetuk lantai semen yang lembap. Ia mengenakan setelan jas merah menyala, warna yang sengaja ia pilih untuk menunjukkan dominasi dan keberanian. Di balik kaca pembatas, seorang wanita duduk dengan bahu merosot. Rambut Sarah yang biasanya tertata salon kini kusam dan berantakan. Wajahnya yang dulu angkuh kini dipenuhi garis-garis kelelahan dan dendam yang belum padam. Begitu melihat Larasati, mata Sarah membelalak. Ia menyambar gagang telepon dengan tangan gemetar. "Kamu... kamu masih hidup?!" desis Sarah, suaranya parau penuh kebencian. "Kenapa kamu ke sini? Mau pamer karena berhasil merebut semuanya?" Larasati mengangkat teleponnya dengan tenang. "Saya ke sini bukan untuk pamer, Sarah. Saya ke sini
Satu bulan kemudian. Bandara Internasional Soekarno-Hatta tidak pernah berubah dari bising, panas, dan penuh dengan wajah-wajah yang terburu-buru. Namun bagi Larasati alias Utari, udara Jakarta kali ini terasa berbeda. Tidak ada lagi ketakutan yang mencekik paru-parunya. Tidak ada lagi aroma getah karet atau debu bandara bayangan. Sebuah jet pribadi bertuliskan logo Vanguard Capital mendarat mulus di area khusus. Pintu pesawat terbuka, dan Larasati melangkah turun. Ia mengenakan blazer putih tulang dengan potongan tajam yang membingkai bahunya dengan sempurna. Kacamata hitam bermerek menutupi matanya, dan tas kulit buaya di lengannya tampak berkilat di bawah terik matahari. Di belakangnya, dua pria berbadan tegap dengan jas hitam, pengawal pribadi yang disediakan Adrian mengikuti setiap langkahnya. "Mobil sudah menunggu di depan, Nona Larasati," ucap salah satu pengawal. Larasati berhenti sejenak, menghirup udara Jakarta yang sarat polusi. "Bawa saya langsung ke gedung Darsa Gro
Larasati mematung di lobi bank yang dingin. Nama aslinya Utari yang diucapkan oleh pria bernama Adrian itu terasa seperti sembilu yang menyayat identitas barunya. Larasati menoleh ke sekeliling, memastikan tidak ada orang lain atau kamera pengawas yang terlalu dekat. "Anda lancang," desis Larasati, suaranya rendah namun penuh ancaman. "Saya tidak kenal Anda, dan saya tidak punya urusan dengan orang asing di negeri orang." Adrian tertawa kecil, suara tawa yang elegan namun terdengar berbahaya. Kemudian Adrian merapikan jas abu-abu gelapnya. "Orang asing? Di dunia keuangan seperti ini, tidak ada yang benar-benar asing bagi saya, Nona Larasati. Atau haruskah saya panggil 'Mawar Hitam' dari Jakarta?" Adrian menyodorkan sebuah kartu nama hitam dengan tulisan emas timbul yaitu ADRIAN WONG – CEO, VANGUARD CAPITAL. "Saya tahu apa yang ada di dalam brankas itu. Bukan hanya uang, tapi bukti pengalihan saham ilegal senilai
Singapura menyambut mereka dengan kemilau lampu yang tertata rapi dan udara yang jauh lebih dingin. Begitu jet pribadi itu menyentuh landasan di bandara Seletar, sebuah sedan hitam mewah sudah menunggu di depan hangar. Tidak ada lagi polisi, tidak ada lagi bau getah karet, dan tidak ada lagi debu landasan pacu yang menyesakkan. Utari yang kini resmi menyandang identitas Larasati Arjanti, melangkah keluar dari pesawat dengan kacamata hitam besar menutupi matanya yang sembab. Di belakangnya, Ajeng menatap sekeliling dengan mulut ternganga, sementara Mbak Lastri terus memegang tas dokumen mereka seolah itu adalah nyawanya. "Selamat datang, Nona Larasati. Saya Hendrik, asisten hukum Tuan Darsa di Singapura," seorang pria paruh baya dengan setelan jas rapi membungkuk hormat. Laras hanya mengangguk kaku. "Bawa kami ke tempat tinggal kami. Saya lelah." Mobil itu meluncur mulus menuju sebuah apartemen penthouse di kawasan Orchard Road. Begitu pintu unit terbuka, kemewahan yang terpampa
Suasana di dapur milik Indri terasa sunyi dan sepi sepertitidak ada kegiatan apa pun. Namun, ada ketegangan yang mengisi di are sana, karena ada Darsa yang semakin berani mengukung tubuh Utari ke pojok dinding dapur yang ke halang kulkas besar."Tuan Darsa mau apa lagi dari Utari, hah? Mend
Utari mengambil seprai yang masih terlipat rapih di dalam lemari kecil yang berada di pojok kamar pembantu yang sanga kecil sekali. Lalu, menerapkannya pada kasur lipat untuk dirinya tidur selama tinggal di rumah Indri, ibu kandung tuan Darsa."Kalau tuan Darsa sudah menikah, lalu kenapa tu
Tubuh Darsa dan juga Utari saling menegang di tempat. Refleks mereka berdua saling menjauhkan dirinya masing-masing dengan gerakan cepat. Utari menatap penuh raut pias pada wajah Darsa, sedangkan Darsa sudah menebalkan wajahnya dengan raut wajah yang sangat dingin sekali."Loh, kamu sudah p
Suara ketukan di kaca mobil Darsa terdengar nyaring membuat tubuh mereka refleks saling menjauh. Buru-buru Darsa membuka pintunya dengan gerakan yang lumayan tergesa. "Wah, ternyata Tuan Darsa yang ada di dalam. Saya kira tamu nyonya Indri, Tuan," ucap seorang satpam dengan sopan pa







