Share

8

Penulis: Ardina whina
last update Tanggal publikasi: 2026-09-22 22:40:53

BRAKK!

Pintu taksi ditutup dengan keras.

Luna duduk di kursi belakang dengan kedua tangan mencengkeram erat tali tas kecil yang berada di pangkuannya. Emosinya entah bagaimana lagi dia bisa meredamnya.

Di dalam tas itu tersimpan dokumen yang baru saja mengubah seluruh cara pandangnya terhadap pernikahan.

"Tiga tahun."

Kalimat itu terus berputar di kepalanya.

Jika Luna meninggalkan Alan sebelum tiga tahun, hak penanganan medis dan aset keluarga akan dibekukan.

"Apa sebenarnya yang disembunyikan keluarganya?"

"Dan mengapa Alan sampai menyetujui perjanjian tersebut?"

Batin Luna terus bergejolak. Belum sempat Luna menarik nafas dalam. Ia di kejutkan dengan keadaan. Ia lupa, ia sekarang tidak sedang sendiri. Ia di dalam taksi, yang tentunya milik orang lain. Dan ada orang lain di sampingnya.

"Ke mana, Nona?"

Suara sopir taksi membuyarkan lamunan Luna. Ia lupa dimana dia berada. Seharusnya dia bisa menguasai emosinya sendiri. Luna terdiam beberapa detik.

Ia sebenarnya ingin langsung mendatangi kantor pengacara yang menghubungi rumah tadi. Namun, ada sesuatu yang membuatnya ragu.

"Kalau Alan sudah mengetahui semua ini sejak awal, apakah pihak hukum juga berada di pihaknya? Jika aku kesana sekarang, apakah mereka malah akan membantu pihak Alan. Aku tidak bisa meminta bantuan mereka kalau begitu." Pikirnya begitu kacau.

Luna menelan ludah. Otaknya dipaksa bekerja keras untuk berfikir.

"Ada kantor hukum yang dekat dari sini?" Tanya Luna.

Sopir melihatnya melalui kaca spion.

"Ada, Nona. Mungkin membutuhkan waktu 10 menit perjalanan. Mau saya antar sekarang?"

Luna mengangguk.

"Antar saya ke sana." Perintah Luna. Sopir taksi itu mengikuti perintah Luna. Ia menginjak gasnya dalam.

---

Sementara itu...

BRAKK!

Pintu ruang kerjanya terbuka.

Alan berjalan cepat melewati koridor rumah sakit dengan wajah tegang. Seorang perawat berlari kecil mengejarnya.

"Dokter Alan!" Panggilnya sambil mengatur nafas yang memburu.

"Bagaimana kondisi pasien?"

"Pasien laki-laki, kecelakaan lalu lintas. Trauma abdomen berat. Tekanan darah terus turun."

"Bagaimana hasil ST Scan? Kamu sudah siapkan ruang operasi darurat?"

"Dokter, hasil CT-scan menunjukkan kemungkinan perdarahan internal cukup luas." Alan langsung mengenakan jas operasi.

"Hubungi dokter anestesi. Saya masuk lima menit lagi."

"Baik, Dok."

Alan melangkah cepat.

Namun baru beberapa meter berjalan, langkahnya mendadak terhenti. Tangannya masuk ke saku jas. Ia mencari keberadaan ponselnya.

Ia teringat Luna.

Pagi tadi istrinya tampak jauh lebih pucat dari biasanya. Alan bahkan meninggalkan rumah tanpa benar-benar memastikan Luna dalam keadaan baik. Sebuah rasa tidak nyaman kembali mencengkeram dadanya. Alan mengeluarkan ponsel.

Namun, tidak ada pesan dan tidak ada panggilan. Entah mengapa justru hal itu membuatnya semakin gelisah. Biasanya Luna akan mengirim pesan sederhana. Atau menanyakan kabarnya. Atau sekedar menanyakan apa makanannya hari itu.

Hari ini tidak ada apa pun. Alan mengernyit. Semakin Alan di geluti dengan perasan bingung. Ia membuka aplikasi pelacak kendaraan yang terhubung dengan mobil pribadinya. Lokasi mobilnya masih berada di garasi rumah. Artinya Luna tidak membawa mobil.

"Dia pergi ke mana?" Alan menggumam pelan.

"Dokter? Pasien sudah siap."

"Tunggu! saat aku di ruang operasi tadi apa tidak ada yang mencari ku?"

"Tidak ada dok. Jika ada pesan untuk dokter tentu sudah saya sampaikan."

"Baiklah. Segera siapkan diri."

Suara perawat membuatnya kembali tersadar. Alan memasukkan ponsel ke saku.

"Aku akan segera masuk ruang operasi sekarang." Ia berbalik. Namun sebelum melangkah, Alan kembali menatap layar ponselnya. Ada firasat buruk yang tiba-tiba muncul tanpa alasan.

Luna.

Nama itu terasa seperti mengetuk sesuatu di dalam dadanya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Bukan Pemuas Nafsu Dokter   15

    "Luna tidak boleh tahu soal ini, Alan," kata Maya lagi. Ia berdiri, melangkah mendekati Alan dan menyentuh lengan pria itu pelan."Tapi kamu tahu resikonya? Dia sedang frustasi menjawab semua teka-teki ini. Dia pasti tidak akan tinggal diam begitu saja. Dia pasti akan mencari cara bagaimanapun untuk mengorek masa lalu. Jika rahasia ini terbongkar, rumah sakit bakal hancur, dan kamu... kamu bakal kehilangan izin praktilmu."Alan menatap tangan Maya di lengannya, lalu menatap mata wanita itu."Apa mau kamu sebenarnya, Maya?""Tinggalkan dia," jawab Maya tanpa ragu."Ceraikan Luna. Biarkan dia masuk fasilitas rehabilitasi jiwa. Itu tempat yang paling cocok untuknya."***Keesokan harinya.Alan duduk di sisi Luna yang hanya memainkan roti tawar di piringnya."Aku mau ke pemakaman Ayah hari ini," kata Luna tiba-tiba. Suaranya datar, tanpa emosi.Alan menoleh kaget."Hari ini? Tapi kamu baru saja sembuh, Luna. Kita ganti besok saja. Hari ini ramalan cuacanya akan turun hujan.""Aku tidak mi

  • Bukan Pemuas Nafsu Dokter   14

    "Kenapa?" Tanya Luna lirih melihat perubahan raut muka Alan. Ia mendekat mengambil ponsel alan dengan cepat. Ini tidak pernah Luna lakukan sebelumnya. Tubuhnya menegang membaca pesan itu."Jelaskan padaku, Alan! Apa maksud pesan ini?!"Alan cemas luar biasa. Ponsel yang dipegangnya bergetar hebat di bawah cengkeraman jarinya yang membeku. Di hadapannya, Luna tidak lagi berbaring di bawah selimut. Wanita itu berdiri tegap, matanya yang sembap kini terlihat penuh amarah."Kembali ponsel milikku. Aku tidak tahu juga maksdu dari pengirim itu."Jangan berakting!" Luna menahan ponsel alan yang berada di tangannya ketika Alan ingin mengambilnya kembali.Jarinya menunjuk layar yang masih menyala. "Siapa pengirim pesan ini? Kenapa dia bicara soal rahasia delapan tahun lalu?!"Alan menelan ludah. "Aku tidak tahu. Itu nomor asing.""Bohong!" Suara Luna tertahan. Suara tawa yang begitu pahit keluar dari mulutnya."Delapan tahun lalu... itu tahun saat ayahku dinyatakan depresi berat lalu bunuh dir

  • Bukan Pemuas Nafsu Dokter   13

    "Masuk!" ujar Luna pelan.Pintu terbuka. Bukan Alan yang masuk, melainkan Maya. Wanita itu tampil anggun dengan mantel krem dan tas bermerek yang menggantung di lengannya."Kenapa kamu bisa masuk ke sini?" tanga Luna terkejut karena yang dilihatnya bukanlah Alan."Alan yang memintaku datang," jawab Maya tenang sambil melangkah mendekati tempat tidur. Tangannya membawa sebuah map tipis berisi dokumen rekam medis."Dia minta aku mengantarkan berkas evaluasi kesehatanmu yang terbaru."Luna tertawa sumbang. "Apa dia terlalu penakut untuk menatap mataku sendiri?""Alan sangat menyayangimu, Luna. Hanya saja caranya mungkin salah." kata Maya, mengambil posisi duduk di kursi samping kasur. Suaranya terdengar begitu manis, namun matanya memancarkan kehangatan yang palsu."Tapi dia juga manusia biasa. Dia juga merasa stres berat memikirkan kondisimu... Apalagi mendengarkan tuduhan-tuduhanmu untuknya.""Tuduhan?" Luna menatap Maya tajam. "Kamu sendiri yang membawa kertas laboratorium itu tiga ha

  • Bukan Pemuas Nafsu Dokter   12

    "Bukan aku yang menulis resep ini!"Suara Alan menggelegar di kamar rawat VVIP. Dia menolak dan terkejut. Jemarinya mencengkeram erat kertas hasil laboratorium yang disodorkan Maya. Buku-buku jarinya memutih, untung saja dia tahu batasan ketika berada di rumah sakit.Maya menatap Alan dengan raut wajah prihatin. Itu bukan wajah aslinya, itu hanyalah topeng yang selalu digunakannya ketika bersama Alan."Alan, aku hanya menyampaikan hasil dari laboratorium pusat. Tanda tangan dan nomor registrasi medis di lembar resep itu atas namamu.""Bohong!" Alan semakin geram. Ia melangkah maju, mendekatkan tubuhnya, menaikan jari telunjuknya tepat di wajah Maya. Matanya berkilat penuh ancaman."Kamu tahu persis, aku tidak pernah meresepkan zat neuro-suppressant ini untuk Luna! Siapa yang memalsukannya, Maya?!""Cukup!" Satu kata dari Luna menghentikan pertikaian itu. Suaranya tidak kencang, tetapi cukup membuat pertikaian itu berhenti.Alan seketika membalikkan badan, menatap istrinya dengan tatap

  • Bukan Pemuas Nafsu Dokter   11

    "Tekanan darah sembilan puluh per enam puluh! Pendarahannya melebar, Dok!""Siapkan ruang pemindaian sekarang!"Teriakan Alan menggelegar di sepanjang koridor gawat darurat. Ranjang dorong yang membawa Luna melaju cepat. Alan berlari di sampingnya, jemarinya mencengkeram erat tangan Luna yang dingin."Dokter Alan, Anda tidak boleh masuk!" tegur seorang dokter senior. "Anda suaminya!""Aku kepala tim bedah saraf di sini!" bentak Alan, matanya memerah panik. "Lakukan instruksiku sekarang!"Pintu ruang tindakan tertutup keras."Tidak bisa Dok! Ini sudah SOP rumah sakit kita." ucapan itu semakin membuat Alan frustasi. Dia hanya bisa menunggu di luar dengan jantung yang tak karuan.Tiga jam kemudian.Kamar rawat VVIP itu begitu hening, hanya didominasi suara bip teratur dari monitor jantung. Luna terbaring lemah dengan slang oksigen di hidungnya.Alan duduk di samping kasur. Tangannya yang gemetar terulur mengusap lembut dahi Luna."Maafkan aku..." bisik Alan parau. "Maafkan aku, Luna..."

  • Bukan Pemuas Nafsu Dokter   10

    "Jawab aku, Mas!" Jeritan Luna menggema di ruangan kaca itu. Suaranya pecah, rasa putus asa sarat akan ketakutan yang memenuhi dadanya. Pria yang selama ini menjadi suaminya, hanya berdiri mematung."Luna, tenanglah..." Alan mencoba melangkah maju. Tangannya terulur di udara, bergetar."Jangan mendekat!" Luna menepis udara di depannya, melangkah mundur hingga punggungnya menabrak tepi meja kayu. "Penyakit apa yang ada di dalam tubuhku, Mas?! Kenapa ada kata kematian di dalam perjanjian itu?!""Dokter Alan," panggil Dimas, menengahi dengan nada rendah namun penuh penekanan. "Sebagai konsultan hukum keluarga, saya berhak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa resep pengobatan wajib ini tidak pernah diberikan kepada Nyonya Luna?"Alan mengabaikan Dimas. Matanya terkunci sepenuhnya pada wajah Luna yang pucat pasi dan terbasah air mata. Ada kilat keputusasaan yang sangat dalam di manik mata sang dokter."Itu bukan penyakit genetik biasa, Luna," bisik Alan serak."Lalu apa?!" desak Luna

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status