"Jawab aku, Mas!" Jeritan Luna menggema di ruangan kaca itu. Suaranya pecah, rasa putus asa sarat akan ketakutan yang memenuhi dadanya. Pria yang selama ini menjadi suaminya, hanya berdiri mematung."Luna, tenanglah..." Alan mencoba melangkah maju. Tangannya terulur di udara, bergetar."Jangan mendekat!" Luna menepis udara di depannya, melangkah mundur hingga punggungnya menabrak tepi meja kayu. "Penyakit apa yang ada di dalam tubuhku, Mas?! Kenapa ada kata kematian di dalam perjanjian itu?!""Dokter Alan," panggil Dimas, menengahi dengan nada rendah namun penuh penekanan. "Sebagai konsultan hukum keluarga, saya berhak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa resep pengobatan wajib ini tidak pernah diberikan kepada Nyonya Luna?"Alan mengabaikan Dimas. Matanya terkunci sepenuhnya pada wajah Luna yang pucat pasi dan terbasah air mata. Ada kilat keputusasaan yang sangat dalam di manik mata sang dokter."Itu bukan penyakit genetik biasa, Luna," bisik Alan serak."Lalu apa?!" desak Luna
Last Updated : 2026-09-24 Read more