author-banner
Ardina whina
Ardina whina
Author

Novels by Ardina whina

Bukan Pemuas Nafsu Dokter

Bukan Pemuas Nafsu Dokter

Perjodohan akibat wasiat keluarga menyatukan Alan, dokter spesialis bertangan dingin, dengan Luna, gadis polos berusia 19 tahun. Di mata Alan, Luna adalah satu-satunya wanita yang mampu membakar hasratnya. Namun, gengsi tinggi membuat Alan enggan mengungkapkan rasa, hingga melampiaskan gairahnya secara dominan dan kasar. Luna yang merindukan pernikahan hangat hanya bisa pasrah menahan luka batin. Titik balik terjadi saat cemburu buta membakar Alan ketika melihat Luna tersenyum lepas bersama teman prianya. Saat mata Luna meredup hampa akibat sikap kasarnya, sang dokter panik luar biasa. Alan harus menurunkan egonya demi memenangkan kembali hati sang istri.
Read
Chapter: 15
"Luna tidak boleh tahu soal ini, Alan," kata Maya lagi. Ia berdiri, melangkah mendekati Alan dan menyentuh lengan pria itu pelan."Tapi kamu tahu resikonya? Dia sedang frustasi menjawab semua teka-teki ini. Dia pasti tidak akan tinggal diam begitu saja. Dia pasti akan mencari cara bagaimanapun untuk mengorek masa lalu. Jika rahasia ini terbongkar, rumah sakit bakal hancur, dan kamu... kamu bakal kehilangan izin praktilmu."Alan menatap tangan Maya di lengannya, lalu menatap mata wanita itu."Apa mau kamu sebenarnya, Maya?""Tinggalkan dia," jawab Maya tanpa ragu."Ceraikan Luna. Biarkan dia masuk fasilitas rehabilitasi jiwa. Itu tempat yang paling cocok untuknya."***Keesokan harinya.Alan duduk di sisi Luna yang hanya memainkan roti tawar di piringnya."Aku mau ke pemakaman Ayah hari ini," kata Luna tiba-tiba. Suaranya datar, tanpa emosi.Alan menoleh kaget."Hari ini? Tapi kamu baru saja sembuh, Luna. Kita ganti besok saja. Hari ini ramalan cuacanya akan turun hujan.""Aku tidak mi
Last Updated: 2026-09-29
Chapter: 14
"Kenapa?" Tanya Luna lirih melihat perubahan raut muka Alan. Ia mendekat mengambil ponsel alan dengan cepat. Ini tidak pernah Luna lakukan sebelumnya. Tubuhnya menegang membaca pesan itu."Jelaskan padaku, Alan! Apa maksud pesan ini?!"Alan cemas luar biasa. Ponsel yang dipegangnya bergetar hebat di bawah cengkeraman jarinya yang membeku. Di hadapannya, Luna tidak lagi berbaring di bawah selimut. Wanita itu berdiri tegap, matanya yang sembap kini terlihat penuh amarah."Kembali ponsel milikku. Aku tidak tahu juga maksdu dari pengirim itu."Jangan berakting!" Luna menahan ponsel alan yang berada di tangannya ketika Alan ingin mengambilnya kembali.Jarinya menunjuk layar yang masih menyala. "Siapa pengirim pesan ini? Kenapa dia bicara soal rahasia delapan tahun lalu?!"Alan menelan ludah. "Aku tidak tahu. Itu nomor asing.""Bohong!" Suara Luna tertahan. Suara tawa yang begitu pahit keluar dari mulutnya."Delapan tahun lalu... itu tahun saat ayahku dinyatakan depresi berat lalu bunuh dir
Last Updated: 2026-09-29
Chapter: 13
"Masuk!" ujar Luna pelan.Pintu terbuka. Bukan Alan yang masuk, melainkan Maya. Wanita itu tampil anggun dengan mantel krem dan tas bermerek yang menggantung di lengannya."Kenapa kamu bisa masuk ke sini?" tanga Luna terkejut karena yang dilihatnya bukanlah Alan."Alan yang memintaku datang," jawab Maya tenang sambil melangkah mendekati tempat tidur. Tangannya membawa sebuah map tipis berisi dokumen rekam medis."Dia minta aku mengantarkan berkas evaluasi kesehatanmu yang terbaru."Luna tertawa sumbang. "Apa dia terlalu penakut untuk menatap mataku sendiri?""Alan sangat menyayangimu, Luna. Hanya saja caranya mungkin salah." kata Maya, mengambil posisi duduk di kursi samping kasur. Suaranya terdengar begitu manis, namun matanya memancarkan kehangatan yang palsu."Tapi dia juga manusia biasa. Dia juga merasa stres berat memikirkan kondisimu... Apalagi mendengarkan tuduhan-tuduhanmu untuknya.""Tuduhan?" Luna menatap Maya tajam. "Kamu sendiri yang membawa kertas laboratorium itu tiga ha
Last Updated: 2026-09-28
Chapter: 12
"Bukan aku yang menulis resep ini!"Suara Alan menggelegar di kamar rawat VVIP. Dia menolak dan terkejut. Jemarinya mencengkeram erat kertas hasil laboratorium yang disodorkan Maya. Buku-buku jarinya memutih, untung saja dia tahu batasan ketika berada di rumah sakit.Maya menatap Alan dengan raut wajah prihatin. Itu bukan wajah aslinya, itu hanyalah topeng yang selalu digunakannya ketika bersama Alan."Alan, aku hanya menyampaikan hasil dari laboratorium pusat. Tanda tangan dan nomor registrasi medis di lembar resep itu atas namamu.""Bohong!" Alan semakin geram. Ia melangkah maju, mendekatkan tubuhnya, menaikan jari telunjuknya tepat di wajah Maya. Matanya berkilat penuh ancaman."Kamu tahu persis, aku tidak pernah meresepkan zat neuro-suppressant ini untuk Luna! Siapa yang memalsukannya, Maya?!""Cukup!" Satu kata dari Luna menghentikan pertikaian itu. Suaranya tidak kencang, tetapi cukup membuat pertikaian itu berhenti.Alan seketika membalikkan badan, menatap istrinya dengan tatap
Last Updated: 2026-09-27
Chapter: 11
"Tekanan darah sembilan puluh per enam puluh! Pendarahannya melebar, Dok!""Siapkan ruang pemindaian sekarang!"Teriakan Alan menggelegar di sepanjang koridor gawat darurat. Ranjang dorong yang membawa Luna melaju cepat. Alan berlari di sampingnya, jemarinya mencengkeram erat tangan Luna yang dingin."Dokter Alan, Anda tidak boleh masuk!" tegur seorang dokter senior. "Anda suaminya!""Aku kepala tim bedah saraf di sini!" bentak Alan, matanya memerah panik. "Lakukan instruksiku sekarang!"Pintu ruang tindakan tertutup keras."Tidak bisa Dok! Ini sudah SOP rumah sakit kita." ucapan itu semakin membuat Alan frustasi. Dia hanya bisa menunggu di luar dengan jantung yang tak karuan.Tiga jam kemudian.Kamar rawat VVIP itu begitu hening, hanya didominasi suara bip teratur dari monitor jantung. Luna terbaring lemah dengan slang oksigen di hidungnya.Alan duduk di samping kasur. Tangannya yang gemetar terulur mengusap lembut dahi Luna."Maafkan aku..." bisik Alan parau. "Maafkan aku, Luna..."
Last Updated: 2026-09-26
Chapter: 10
"Jawab aku, Mas!" Jeritan Luna menggema di ruangan kaca itu. Suaranya pecah, rasa putus asa sarat akan ketakutan yang memenuhi dadanya. Pria yang selama ini menjadi suaminya, hanya berdiri mematung."Luna, tenanglah..." Alan mencoba melangkah maju. Tangannya terulur di udara, bergetar."Jangan mendekat!" Luna menepis udara di depannya, melangkah mundur hingga punggungnya menabrak tepi meja kayu. "Penyakit apa yang ada di dalam tubuhku, Mas?! Kenapa ada kata kematian di dalam perjanjian itu?!""Dokter Alan," panggil Dimas, menengahi dengan nada rendah namun penuh penekanan. "Sebagai konsultan hukum keluarga, saya berhak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa resep pengobatan wajib ini tidak pernah diberikan kepada Nyonya Luna?"Alan mengabaikan Dimas. Matanya terkunci sepenuhnya pada wajah Luna yang pucat pasi dan terbasah air mata. Ada kilat keputusasaan yang sangat dalam di manik mata sang dokter."Itu bukan penyakit genetik biasa, Luna," bisik Alan serak."Lalu apa?!" desak Luna
Last Updated: 2026-09-24
You May Also Like
Wanita di Balik Kaca Mobil Suamiku
Wanita di Balik Kaca Mobil Suamiku
Romansa · Ina Shalsabila
73.7K views
Dekapan Hangat Tiga Pria
Dekapan Hangat Tiga Pria
Romansa · Langit Parama
73.7K views
Oh My Husband
Oh My Husband
Romansa · Indri Antika
73.5K views
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status