INICIAR SESIÓN"Lihat saja, hanya karena panggilan darurat dari rumah sakit, bisa membuat dia kalang kabut seperti itu." gumam Luna pelan pada dirinya sendiri.
Keheningan yang dingin seketika menyelimuti rumah mewah yang mendadak sepi itu. Luna berdiri mematung di ruang tengah, menatap pintu depan yang masih terbuka sedikit. Pandangannya lalu jatuh pada tumpukan kertas yang berserakan di atas lantai kayu, berkas yang tak sengaja tersenggol oleh sambaran kunci mobil Alan. Dengan langkah pelan, Luna mendekat dan berlutut memunguti lembaran dokumen berstempel resmi rumah sakit tempat suaminya bekerja. Namun, jemarinya membeku saat matanya menangkap judul berhuruf tebal di lembar utama: Surat Perjanjian Medis & Hak Asuh Hukum Wasiat Kakek. Napas Luna tertahan. Ia membaca baris demi baris kalimat hukum di lembar pertama dengan bibir gemetar. "D-diagnosis penyakit genetik ...?" bisik Luna parau. "Penyerahan hak keputusan medis penuh kepada Alan Raditya ...?" Luna membaca dokumen itu dengan nyaring. Darah Luna mendadak terasa berhenti mengalir. Dokumen itu dibuat tepat satu bulan sebelum Kakeknya meninggal dunia. Selama ini, Alan menyembunyikan fakta ini rapat-rapat darinya. Namun, yang paling menghantam dadanya adalah klausul terakhir berstempel basah di lembar berikutnya. "Apabila Luna Aurora memutuskan untuk bercerai atau meninggalkan Alan Raditya dalam kurun waktu kurang dari tiga tahun, maka seluruh hak penanganan medis dan seluruh aset peninggalan keluarga akan dialihkan dan dibekukan secara hukum." "Nggak ... ini nggak mungkin ...," ucapnya tertahan. Air mata Luna menetes keras, menimpa tanda tangan basah Alan di lembar dokumen itu. "Jadi ini alasan mas Alan mau menikahiku, jadi perjodohan ini ...," gumam Luna lirih. Tiba-tiba, telepon rumah di samping sofa berdering nyaring, memecah histeria Luna. Didera rasa panik dan penasaran, Luna menyapu air matanya, bangkit berdiri, dan mengangkat panggilan telepon tersebut. Ia menarik nafasnya dalam. "Halo? Dokter Alan?" suara seorang pria berjas hukum terdengar tegang di seberang telepon. "Dokter Alan, berkas perjanjian medis dan klausul hak asuh Nyonya Luna sudah kami verifikasi. Pihak audit meminta konfirmasi langsung apakah klaim pembekuan aset dan penanganan medis tetap diberlakukan jika Nyonya Luna mengajukan gugatan?" Tangan Luna bergetar hebat memegang gagang telepon. Suaranya tercekat di tenggorokan. "I-ini ... ini rumah Dokter Alan," bisik Luna parau, berusaha menahan isak tangisnya. "Dokter Alan ... baru saja pergi." Pihak hukum di seberang telepon tersentak kaget. "Ah, maaf ... Apakah ini Nyonya Luna?" "Surat perjanjian itu ...," cecar Luna dengan napas memburu. Ucapnya tak lagi tenang, Luna tak mampu lagi membendung sesak di dadanya. "Klausul pembekuan itu ... apa Mas Alan yang memintanya sendiri?!" Pria di seberang telepon terdiam sejenak sebelum menjawab canggung. "Nyonya ... Dokter Alan yang menandatangani dan menyetujui seluruh draf klausul pembatasan tersebut secara sah demi memastikan Nyonya tetap berada dalam pengawasannya." Tut ... Tut ... Tut ... Gagang telepon itu terlepas dari genggaman Luna dan jatuh menggantung. "Dia sampai berbuat sekejam ini padaku..." tawa sumbang bercampur tangis pecah dari bibir Luna. Gadis itu meremas lembaran kertas di tangannya hingga kusut. "Dia pura-pura lembut semalam ... Dan juga berpura-pura memberiku kebebasan pergi ke kampus pagi ini ...," bisik Luna pada dinding hampa di hadapannya. "Padahal Mas Alan udah mengunci seluruh jalan hidupku di dalam sangkar ini!" Luna merasa kebebasan yang ditawarkan Alan hanyalah semu. Alan tidak sekedar menginginkan tubuhnya. Tapi hidupnya kini tak akan bisa lagi kemana-mana. Alan mengikatnya dengan rantai tak terlihat. Didera rasa sakit hati yang membakar, Luna mengusap air matanya dengan kasar. "Aku nggak akan tinggal diam ... aku nggak akan biarkan Mas Alan memperlakukanku seperti orang bodoh lagi." Dengan jemari yang gemetar namun penuh tekad, Luna memasukkan berkas itu ke dalam tasnya, lalu melangkah mantap keluar rumah."Lihat saja, hanya karena panggilan darurat dari rumah sakit, bisa membuat dia kalang kabut seperti itu." gumam Luna pelan pada dirinya sendiri. Keheningan yang dingin seketika menyelimuti rumah mewah yang mendadak sepi itu. Luna berdiri mematung di ruang tengah, menatap pintu depan yang masih terbuka sedikit. Pandangannya lalu jatuh pada tumpukan kertas yang berserakan di atas lantai kayu, berkas yang tak sengaja tersenggol oleh sambaran kunci mobil Alan. Dengan langkah pelan, Luna mendekat dan berlutut memunguti lembaran dokumen berstempel resmi rumah sakit tempat suaminya bekerja. Namun, jemarinya membeku saat matanya menangkap judul berhuruf tebal di lembar utama: Surat Perjanjian Medis & Hak Asuh Hukum Wasiat Kakek. Napas Luna tertahan. Ia membaca baris demi baris kalimat hukum di lembar pertama dengan bibir gemetar. "D-diagnosis penyakit genetik ...?" bisik Luna parau. "Penyerahan hak keputusan medis penuh kepada Alan Raditya ...?" Luna membaca dokumen itu dengan nyaring
"Foto itu..." Suara Luna gemetar, memandangi foto masa kecilnya sedang di pegang oleh Alan. Alan tersentak hebat. Ia dengan cepat menoleh ke arah pintu ruang kerjanya yang sedikit terbuka. Di ambang pintu, berdiri Luna dengan gaun tidur tipisnya, memeluk kedua tangannya di dada. Wajah gadis itu pucat, dan matanya membelalak lebar saat pandangannya terkunci pada foto berukuran sedang yang dipegang Alan. Mata jernih Luna beralih dari foto tua di tangan suaminya, lalu turun ke arah kotak kayu ukir terbuka di atas meja. Air matanya mendadak merebak kembali tanpa bisa ditahan. "Kenapa... kenapa foto masa kecilku ada di tangan Mas Alan?" bisik Luna parau. Darah Alan mendadak terasa berhenti mengalir. Pria tiga puluh tahun itu berdiri secara refleks, menyembunyikan foto tersebut di balik punggungnya dengan raut panik yang tak pernah Luna lihat sebelumnya. "Luna... kenapa belum tidur?" suara Alan terdengar bergetar tipis, berusaha menguasai suaranya. Luna tidak menjawab. Langk
"Uuuuuhhhh..." desahan lolos begitu saja dari bibir manis Luna.Alan bergerak semakin cepat. Memperdalam hujamannya. Seolah melalui penyatuan fisik yang kasar ini, Alan berusaha mengikis semua kata benci dan niat pergi dari pikiran istrinya.Luna hanya bisa memejamkan mata rapat-rapat. menahan desahan yang pecah di antara isak tangis samar dan kepasrahan yang teramat dalam. Tubuhnya bergoyang mengikuti irama menuntut dari sang suami. Luna terbakar oleh gelombang pelepasan yang dipaksakan Alan padanya.Puncak gejolak itu menghantam mereka setelah belasan menit dalam tempo yang semakin menggila. Alan mempercepat temponya, menekan tubuh Luna sedalam mungkin sebelum menggeram keras saat pelepasannya tuntas di dalam rahim sang istri.Keheningan kembali menguasai kabin mobil.Alan masih berbaring di atas tubuh Luna dengan dada tegap yang masih memburu. Bulir keringat membasahi dahi dan lehernya. Pria itu perlahan menarik tubuhnya. Alan merapikan pakaian Luna dengan gerakan yang anehnya men
Klik "Ada hal yang harus kita lanjutkan." ucapan Alan terus terbayang di ingatannya. Luna tahu persis apa artinya itu. Alan tidak akan bersikap lembut malam ini. Alan pasti masih menyimpan emosinya tadi. Luna yang masih gemetar berlari kecil menuju pintu kayu tebal tersebut. Jemari lentiknya menarik handle pintu dan memutarnya berulang kali. Luna mendorong pintu itu dengan seluruh tenaga. Namun pintu itu tetap kokoh tak berkutik. Pengunci elektronik di bagian luar memerlukan akses kartu spesialis atau bisa juga dengan sidik jari milik Alan. "Tolong... buka..." cicit Luna ketakutan dari dalam ruangan itu. Tidak ada jawaban yang Luna peroleh. Ruangan itu didesain khusus agar tidak menimbulkan suara dari luar. Ia mencoba mencari celah lain. Jendela di ruangan itu dilapisi kaca tebal kedap suara yang menghadap ke arah koridor tertutup. Tidak ada jalan keluar. Selama hampir satu jam, Luna terkurung dalam kesendirian yang mencekik. Ia terduduk di sudut ruangan, memeluk kedua lutu
"Sungguh menarik! Wanita kecil ini ternyata berani kesini." Maya membaca nama yang tertera di layar komputer Ny. Luna. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat tipis.Maya mengenali wajah ini. Sangat mengenalnya. Sebagai wanita yang bertahun-tahun menaruh rasa dan terobsesi pada Alan Raditya. Maya telah menggali setiap detail kehidupan dokter bedah dingin itu. Ia tahu tentang latar belakang keluarga Alan.Tidak terkecuali fakta menyakitkan bahwa Alan telah menikahi seorang gadis sembilan belas tahun secara diam-diam akibat wasiat keluarga beberapa bulan lalu."Ny. Luna..." panggil Maya dengan nada suara manis yang dibuat-buat. Ia meletakkan pulpennya dan menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya."Atau... harus saya panggil dengan nama lengkapmu, Luna Aurora? Istri dari dr. Alan Raditya?"Langkah Luna mendadak terkunci di tengah ruangan. Jantungnya berdesir hebat. Keberanian nekat yang dibawanya sejak dari ruma
"Boleh aku ikut ke rumah sakit hari ini, Mas? Aku mau berkenalan dengan rekan dokter yang lain, terlebih lagi Dokter Maya."Suara Luna mengalun begitu bening. Ia meletakkan secangkir kopi hitam yang masih berasap di hadapan Alan dengan gerakan sangat tenang. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis lengkap dengan binar polos di mata jernihnya.Alan yang sedang merapikan lengan kemejanya mendadak menghentikan pergerakan jemarinya. Pria tiga puluh tahun itu mendongak, memicingkan mata tajamnya ke arah sang istri.Semalam ia melampiaskan seluruh ketegangan dan rasa lelahnya pada tubuh mungil ini tanpa ampun. Ia mengeksekusi haknya sebagai suami dengan dominasi tinggi di kamar mandi. Ia menuntut kepatuhan Luna tanpa memberikan ruang sedikit pun untuk bernegosiasi. Biasanya, setelah perlakuan semacam itu. Luna akan bersikap canggung, malu-malu, atau bahkan tidak berani berbicara padanya.Namun pagi ini, wanita sembilan belas tahun di hadapannya justru tampil sempurna.







