LOGINDeru mesin mobil yang membawa Ashana perlahan menghilang di balik tikungan jalan, meninggalkan Gibran yang masih berdiri mematung di pelataran rumah sakit. Pak Esa menepuk bahu putranya dengan helaan napas berat, mencoba memberikan kekuatan pada jiwa muda yang sedang dihantam gelombang penyesalan itu. Tanpa mengucapkan sepatah kata apapun, Gibran akhirnya melangkah lesu menuju mobilnya, menyadari bahwa perjuangan terberat dalam hidupnya baru saja dimulai.Sementara itu, suasana hangat tapi diselimuti keheningan menyambut kedatangan Ashana di rumah orang tuanya. Setibanya di kamar masa kecilnya, Ashana langsung beristirahat ditemani sang ibu yang tak henti-hentinya mengusap lembut jemari putrinya. Di ruang tamu, Aliyah duduk menunduk sembari meremas jemarinya sendiri, mengumpulkan sisa keberanian yang terlambat untuk menghadapi badai yang pernah ia ciptakan.Setelah memastikan Ashana sudah terlelap damai, Pak Aris dan istrinya berjalan menuju ruang keluarga di mana Aliyah telah menungg
Ruang UGD Rumah Sakit Harapan Bangsa riuh oleh langkah kaki petugas medis yang berpacu dengan waktu. Gibran berdiri terpaku di depan pintu kaca berkabut, memperhatikan dari jauh saat tim dokter memasang alat pemantau detak jantung pada tubuh Ashana yang terkulai lemah. Kemeja putihnya yang kusut dihiasi noda darah kering milik istrinya, sementara jemarinya masih gemetar hebat—menahan sisa-sisa trauma dan kemarahan yang membakar dada."Gibran, duduklah dulu," bisik Pak Esa, sang ayah, seraya menepuk bahu putranya yang tegang bagai kawat baja. "Ashana sudah ditangani dokter terbaik. Kamu harus tenang.""Bagaimana aku bisa tenang, Ayah?" Suara Gibran parau, nyaris pecah. Ia menatap telapak tangannya sendiri dengan tatapan kosong. "Semua ini terjadi karena keputusasaanku... karena ketidakmampuanku melindunginya dari Natasya. Kalau saja aku lebih tegas dari awal, Acha tidak akan pernah melewati neraka ini."Ibu Ashana yang duduk di kursi tunggu masih menyeka sisa air mata, dirangkul erat o
Natasya cepat-cepat menggeleng dengan bibir bergetar. Wajahnya yang biasanya dirias sempurna kini tampak pucat, mencerminkan ketakutan saat melihat tatapan menakutkan dari pria di depannya."Bo-bohong! Dia yang memancingku, Gibran! Wanita sialan ini yang ....""Cukup Natasya!" Bentak GibranBentakan dan muka marah Gibran membuat Natasya putus asa untuk membela diri lagi. Ia semakin panik dan berniat menerobos pintu keluar begitu melihat celah. Namun, langkahnya terhenti seketika,dua sosok wanita berdiri tegap menutup jalan keluar dengan tatapan menusuk."Mau lari ke mana kamu, Natasya?!" bentak Dea tajam, iya ikut juga ketika mendapat informasi dari Aliyah.Suaranya menggelegar menghentikan langkah Natasya yang panik.Di sebelah Dea, Aliyah melangkah maju dengan tatapan dingin penuh ketegasan. Ia juga tidak mau ketinggalan mencari adiknya walau dilarang dan ia juga yang memanggil Dewa untuk ikut mencari Ashana. Tanpa ragu, Aliyah cengkeram pergelangan tangan Natasya dengan amat kuat,
Jemari pria itu semakin dekat, hanya tinggal seujung kuku dari kulit bahu Ashana, bau alkohol yang tercium pekat berpadu dengan keputusasaan yang melumpuhkan seluruh harapan Ashana. Ia memejamkan matanya rapat-rapat, meremas jemarinya yang terlilit tali hingga darah segar makin menetes. Sementara tawa Natasya semakin. melengking riang melihat ketakutan Ashana, tawanya mengalun penuh kemenangan di dalam bangunan tua yang berdebu itu."Aku akan mengabadikan momen ini baik-baik!" seru Natasya dengan nada puas yang tak tertutup-tutupi. Ponselnya terus mengarah pada Ashana, merekam setiap detail kepanikan dan kehancuran wanita yang sangat ia benci."Lihat bagaimana wibawamu hancur malam ini, Ashana! Akan ku pastikan, setelah ini Gibran akan jijik dan akan menceraikanmu. Aku akan senang hati akan menggantikan posisimu anak malang," ejek Natasya.Namun, tawa puas Natasya seketika terhenti ketika suara gemuruh tiba-tiba terdengar dari arah belakang.BRAAAK!Pintu tua ruangan itu mendadak ter
Napas Ashana mulai memburu,keheningan bangunan tua itu seketika pecah oleh rasa ketakutan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Keberanian yang sejak tadi ia bangun tiba-tiba runtuh dalam sekejap. Ketika Natasya melambaikan tangan, memanggil dua orang pria berbadan tegap dari balik bayang-bayang pilar beton.Salah satu pria itu bertubuh tinggi besar dengan kulit gelap dan tato yang merayap hingga ke leher, mereka melangkah maju. Tatapan matanya kelam, sarat akan intrik dan nafsu liar yang terang-terangan. Pria itu menyeringai, memamerkan deretan gigi yang tidak rata saat mengamati tubuh Ashana dari atas ke bawah."Saya serahkan wanita ini padamu, terserah kalian mau apakan," ujar Natasya dingin, melangkah mundur beberapa langkah. Ia menarik sebuah kursi besi berkarat, duduk santai sembari merogoh tas tangannya untuk mengeluarkan sebuah ponsel canggihnya. "Buat dia mengerti posisi dirinya yang sebenarnya tapi ingat, jangan sampai pingsan terlalu cepat.""Dengan senang hati, Nona,"
Berita penculikan Ashana sudah tersebar setelah Gibran memberi tau mertua dan orang tuanya. Dua keluarga besar bergerak serentak tanpa mengulur waktu untuk menyelamatkan Ashana.Di kediaman orang tua Ashana, kepanikan berbuah aksi cepat. Mertua Ashana yang memiliki relasi luas langsung menghubungi jajaran petinggi kepolisian untuk mengunci jalan keluar kota ditakutkan penculiknya nanti kabur dan juga berkoordinasi dengan kepolisian untuk menangkap pelaku. Di sisi lain, keluarga Ashana mengikut ke Gibran untuk mencari keberadaan Ashana.Gibran mencengkeram kemudi dengan buku-buku jari yang memutih. Jalur tol membelah malam, tapi baginya laju mobil masih terasa menyiksa lambat. Ponselnya yang terhubung ke pengeras suara mobil mendadak berdering. Suara kepala tim keamanannya terdengar."Bos! Kami berhasil memetakan rute van hitam dari rekaman CCTV tol. Mereka berbelok ke arah kawasan bangunan terbengkalai di pinggiran Jakarta Selatan.""Kepung kawasan itu sekarang!" seru Gibran dengan na
Setelah membuat alasan main dengan Dea setelah pulang magang, akhirnya Ashana terlepas dari cecaran Gibran. Entah suaminya percaya beneran atau pura-pura yang jelas ia bisa segera pergi dari hadapan Gibran saat ini. Ashana pun melakukan bersih-bersih sebelum istirahat. Sekitar jam 10 malam, Ashana
"Ssillahkan Pak," jawab Dea sedikit gugup.Gibran dan Rio tanpa bicara lagi langsung duduk berhadapan dengan Ashana dan Dea. Mereka seakan dua pasangan sejoli yang lagi double date."Tumben Pak Gibran dan Pak Rio makan di kantin ya," bisik beberapa karyawan yang hadir di kantin dan menyaksikan pema
Sesuai kesepakatan bersama, pernikahan Ashana dan Gibran dirahasiakan. Gibran tidak ingin membuat berita negatif untuk 2 keluarga jika tau mempelainya tiba-tiba diganti.Ashana tidak masalah sama sekali karena ke depannya ia masih bebas bermain tanpa harus pusing dengan status istri seorang CEO. Se
2 keluarga itu baru tau kalau ternyata, Ashana dan Gibran sudah saling kenal. Mereka ternyata bos dan anak magang di kantor setelah mengintrogasi sebentar.Setelah introgasi mendadak selesai, baru akan dilakukan pemasangan cincin nikah. Kedua keluarga inti sudah berada di dalam kamar untuk menyaksi







