Share

Kabur

Penulis: Indri hasrun
last update Tanggal publikasi: 2025-08-26 23:03:13

Gibran langsung menjauhkan wajahnya dengan tenang dari Syakilla saat Rio memergoki mereka. Sementara Ashana terus menunduk malu seakan baru ketahuan berbuat mesum padahal tidak terjadi apa-apa.

"Maaf Bos, saya mengganggu. Cuman mau mengantar kopi ini saja," ujar Rio menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil memperlihatkan secangkir kopi yang ia bawa.

"Letakan saja diatas meja," titah Gibran sambil berjalan ke kursinya.

"Kamu ... Kembali bekerja," titah Gibran lagi menatap Ashana yang sudah ikut menatapnya.

"Baik Pak, saya permisi dulu," ujar Ashana lalu ia keluar dengan perasaan jengkel.

"Dasar Bos Sedeng, ngapain panggil saya ke ruangannya kalau cuman seperti itu," gerutu Ashana sambil menendang-nendang udara melampiaskan emosinya.

Ashana pun kembali ke ruangannya dan memulai bekerja sampai jam 5 sore baru mereka pulang kerja semua. Ashana sampai di rumahnya dengan langkah yang lunglai karena lelah bekerja.

Suasana rumahnya lagi ramai-ramainya karena besok kakaknya akan menikah. Ia juga sudah minta izin besok tidak masuk magang ke penanggung jawabnya.

"Sayang, baru pulang?" tanya Mita, ibu Ashana menyambut sang putri bungsu.

Ashana mengangguk lemah. "Sana sapa keluarga-keluarga yang baru datang," titah bu Mita.

"Boleh nanti saja nggak Bu? Acha capek banget, mau bersih-bersih dulu," ucap Ashana.

"Boleh sayang, ya sudah kamu ke kamar kamu saja istirahat. Nanti saja kamu sapanya pas makan malam bersama."

Ashana kembali mengangguk pelan. "Kak Aliyah mana Bu?" Ashana menanyakan keberadaan sang kakak sekaligus calon pengantin.

"Ada di kamarnya, sejak tadi tidak keluar mungkin lagi istirahat untuk acara besok."

Setelah itu Ashana mencium pipi sang ibu lalu pamit ke kamarnya. Saat menuju kamarnya ia melirik pintu kamar sang kakak yang tertutup rapat.

Setelah makan malam selesai dan Ashana sudah menyapa sanak keluarga yang hadir ia pamit keluar dulu. Ia ingin ke mini market yang tak jauh dari rumahnya untuk membeli cemilan.

Seorang wanita berusia sekitar 45 tahunan tengah berjalan menaiki anak tangga rumahnya dan menuju salah satu kamar putrinya. Ia membuka pintu kamar sang putri sulung yang tak terkunci.

Namun, saat memasuki kamar tersebut, ia tidak menemukan sang calon pengantin, ia pun memanggil-manggil nama sang anak. Setelah merasa ada yang janggal, bu Mita langsung memanggil sang suami, tak lama pak Aris pun datang.

"Ayah, Aliyah tidak ada di kamarnya," ujar bu Mita panik.

"Maksudnya?" Pak Aris sembari mengecek toilet sang putri.

"Tidak ada Yah, Ibu sudah mencarinya dan Aliyah tidak ada."

"Coba Ibu telfon, mungkin lagi keluar sama temannya atau lagi dikamar Acha."

"Sudah Ayah tapi ponselnya tidak aktif. Acha kan lagi ke minimarket dan belum pulang." Bu Mita semakin panik.

Pak Aris berjalan cepat menuju lemari Aliyah dan ketakutannya pun terjawab. Lemari sang putri beberapa baju ada yang kosong serta tempat penyimpanan barang berharga lainnya juga ikut kosong.

Bu Mita yang melihat hal itu langsung histeris dan jatuh pingsan membuat ia harus di tolong oleh beberapa sanak keluarga yang hadir.

Beberapa menit akhirnya bu Mita sadar, disana sudah ada pak Aris yang langsung menyambut kesadaran sang istri.

"Aliyah sudah pulang Yah?" tanya bu Mita langsung ke suaminya.

Pak Aris hanya diam sembari menggelengkan kepalanya lemas. "Ayo Yah, kita cari anak kita. Besok dia akan menikah, Ibu yakin pasti Aliyah hanya keluar main sama sahabatnya," ujar bu Mita buru-buru bangkit dari tempat tidur.

Namun, pak Aris menahan sang istri sambil menatap lekat seakan ada yang tertahan. "Kenapa Yah? Ayah tidak mau mencari Aliyah? Biar ibu saja kalau begitu!" ujar bu Mita sedikit emosi.

"Bukan Bu, ayo duduk dulu yang tenang."

Pak Aris menuntun sang istri untuk duduk ke atas ranjang kembali sembari mengeluarkan secarik kertas dan ia perlihatkan ke istrinya. "Ayah, Ibu, Acha, jangan cari aku dulu. Al tidak ingin menikah dengan dia, maaf kalau keputusan Al membuat kalian repot dan malu tapi Al mau mencari kebahagiaan Al sendiri."

Bu Mita langsung kembali lemas setelah membaca tulisan tangan sang putri dan menangis sejadi-jadinya. Para keluarga yang hadir khususnya saudara pak Aris mulai mendesak harus mencari jalan keluar dari permasalahan ini.

Pak Aris terdiam karena nyatanya ia pun tidak tau harus berbuat apa, otak cerdasnya tiba-tiba terasa buntu. Ia hanya mengelus pelan pundak sang istri sambil menenangkan bu Mita yang masih menangis tapi tidak sehisteris tadi.

Tak lama bu Mita pun tertidur karena lelah menangisi sang putri, pak Aris pun keluar kamar dan ia menelfon calon besannya. Dengan pertimbangan yang berat, ia terpaksa memberi tau calon besan sekaligus sahabat dan rekan kerjanya itu kalau putrinya yang akan menikah besok dengan putranya ternyata kabur.

Pak Aris pun memijit pelipisnya karena setelah menelfon pak Agung. Ia malah diminta mencari Aliyah dengan batas jam 7 pagi karena akad akan dilakukan jam 9 pagi atau mencari pengganti Aliyah karena pernikahan tidak bisa dibatalkan.

Pak Aris pun menelpon anggotanya untuk bergerak mencari sang putri yang entah kapan perginya padahal rumah selalu ramai terus dengan orang yang lalu lalang. Bahkan penjagaan pun dimana-mana karena keluarga pak Aris memang termasuk keluarga kelas atas.

Di saat pak Aris uring-uringan menunggu kabar dari anggotanya. Ia dikagetkan dengan suara seseorang yang tiba-tiba memanggilnya.

"Ayah kenapa belum tidur? Jangan begadang dong, besok kan harus tampil ganteng juga diacara Kakak."

Pak Aris tersenyum menatap wajah sang putri bungsu yang baru saja pulang jajan. Terlihat dari tangan kanannya menenteng kantongan dan tangan kirinya memegang minuman.

"Iya, sebentar lagi Ayah tidur. Kamu tidur duluan saja karena besok kan juga harus tampil cantik."

"Ya sudah, Acha istirahat sekarang ya Yah kan besok acaranya pagi, tidak bagus kalau telat."

Pak Aris hanya mengangguk menjawab ucapan  sang putri. Kemudian Acha pun berjalan menaiki anak tangga rumahnya untuk menuju kamarnya.

"Ceilleh, pasti Kak Al sudah tertidur juga mentang-mentang besok sudah mau nikah jadi harus cepat tidur biar mukanya fresh," ujar Ashana saat melewati kamar Aliyah.

Namun, tanpa sepengetahuan Ashana, kamar kakaknya sudah kosong karena Aliyah kabur. Ashana pun sibuk membersihkan diri setelah itu ia pun akan tidur tapi ia masih sempat menatap baju seragam yang akan ia kenakan besok.

"Sudah nggak sabar menunggu besok, mau pakai kebaya itu dan foto-foto biar ada bahan untuk posting di I*******m," ujar Aliyah cekikikan.

Setelah itu Ashana pun tertidur. Sementara itu pak Aris masih berada di ruang tamu sambil menunggu informasi.

"Bagaimana kalau Al, sampai besok pagi tidak ditemukan? Siapa yang harus menggantikannya? Pernikahan ini tidak mungkin dibatalkan begitu saja." Pak Aris sambil mondar-mandir memijit pelipisnya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Bukan Pengantin Pilihan   Usaha dan Doa

    Hari demi hari berlalu di pulau pribadi itu, waktu seolah berhenti khusus untuk memberikan ruang bagi cinta Ashana dan Gibran yang baru bersemi sempurna. Setiap sudut vila menjadi saksi bisu dari tawa lepas, godaan kecil, serta tatapan penuh kehangatan yang mengalir tanpa henti di antara mereka. Keintiman yang dulunya canggung kini berganti menjadi ritme manis sepasang suami istri yang tak terpisahkan.Sore itu, deburan ombak beradu lembut dengan desir angin laut yang membawa aroma garam segar ke area teras vila. Ashana duduk melipat kaki di sofa rotan sambil menikmati angin sore, sebelum pelukan hangat dari belakang menghentikan usapan jemarinya pada cangkir teh. Gibran menyandarkan dagunya di bahu sang istri, melingkarkan lengan kekarnya erat-erat seakan enggan membiarkan ada jarak di antara mereka."Masih betah di sini, atau sudah rindu suasana rumah kita?" bisik Gibran lembut sambil menyesap aroma harum dari rambut Ashana.Ashana memiringkan kepala, membalas tatapan suaminya denga

  • Bukan Pengantin Pilihan   Penyatuan Cinta

    Ciuman yang semula lembut itu perlahan menuntut kehangatan yang lebih dalam, menyatukan deru napas mereka yang makin memburu di bawah cahaya lilin. Jemari Gibran meremas pelan tengkuk Ashana, menyapu batas kesabaran sampai dada mereka naik turun menggebu karena kehabisan pasokan udara. Tanpa memutus tatapan yang terkunci rapat, Gibran melingkarkan tangannya di bawah lipatan lutut Ashana lalu menyergap tubuh mungil itu ke dalam gendongannya menuju kamar mereka. Gibran merebahkan Ashana ke atas kasur empuk mereka dengan penuh kelembutan yang teramat hati-hati, seolah wanita di hadapannya adalah kaca rapuh. Lampu kamar yang temaram menyorot pendar gugup di wajah Ashana, membuat rona merah di pipinya kian jelas terpancar. Hawa dingin dari celah ventilasi mendadak menguap, tergantikan oleh gelombang hangat yang merambat cepat dari usapan lembut jemari Gibran di pelipis sang istri."Hampir setahun kita berada dalam ikatan pernikahan tapi aku belum pernah sama sekali meminta hakku karena me

  • Bukan Pengantin Pilihan   Kejutan

    Rasa lelah setelah seharian menjelajahi sudut pantai membelit tubuh Ashana, menyisakan kantuk berat yang menghempaskannya ke atas kasur empuk. Kelopak matanya tertutup rapat, tenggelam dalam lelap ketika lanskap langit di luar jendela perlahan berganti dari jingga keemasan menjadi pekatnya malam. Ketika matanya mendadak terbuka, kegelapan gulita dan keheningan mencekam langsung menyergap selimut dingin yang membungkus tubuhnya.Ruangan kamar tidur terasa begitu kosong dan dingin tanpa kehangatan napas yang biasanya berembun di sebelahnya. Keraguan kecil merayap cepat di benaknya, berubah menjadi desakan panik saat jemarinya hanya meraba sprei rata yang tak berpenghuni. "Mas Gibran?" panggil Ashana dengan suara serak, tapi hanya gema sunyi yang memantul kembali dari sudut-sudut plafon tinggi.Desir angin malam yang menerobos lewat celah jendela membuat tirai berkibar bagai bayangan hitam yang menari menakutkan. Ashana beranjak cepat dari tempat tidur, mengabaikan kakinya yang bertelanj

  • Bukan Pengantin Pilihan   Menikmati pulau pribadi

    Hari-hari selanjutnya di pulau pribadi itu mengikuti pola yang serupa, seperti melodi rahasia yang hanya diperuntukkan bagi mereka berdua. Setiap pagi, cahaya keemasan menerangi lantai kayu vila sederhana tempat mereka tinggal, menyibak tirai jendela. Gibran dan Ashana menjalani rutinitas harian yang mulai terasa nyaman, mulai dari menyiapkan sarapan bersama hingga berjalan di sepanjang pantai berpasir putih.Namun, di balik keindahan dan kedekatan yang kian terajut erat, sebuah kejanggalan kecil mulai merayap dan mengusik benak keduanya. Setiap kali mereka terbangun di pagi hari, pintu lemari pendingin di sudut dapur selalu terisi penuh oleh bahan makanan segar yang masih berembun. Tidak pernah ada suara derap langkah kaki asing atau deru mesin perahu yang singgah di dermaga kecil depan vila selama malam buta."Menurutmu, siapa yang datang mengisi kulkas ini saat kita tidur pulas, Mas?" tanya Ashana suatu pagi, alisnya bertaut heran sambil menatap deretan buah dan daging segar.Gibra

  • Bukan Pengantin Pilihan   Hari baru

    Hari baru menyapa pulau terpencil itu dengan bias cahaya keemasan yang menembus celah jendela kamar. Deburan ombak laut yang menghantam karang terdengar begitu kontras dengan keheningan pagi yang masih menyelimuti vila. Gibran membuka matanya perlahan, mendapati istrinya masih terlelap damai di sisi ranjang sebelah kanan.Pria itu beranjak tanpa menimbulkan suara sedikit pun agar tidak membangunkan lelap wanita di sampingnya. Ia melangkah keluar menuju dapur untuk menyiapkan sarapan sederhana sebelum hari beranjak semakin siang. Aroma kopi hangat langsung menyeruak memenuhi ruangan begitu air di atas kompor mulai mendidih.Tak lama kemudian, Ashana menyusul ke dapur dengan langkah ringan dan senyuman tipis menghiasi wajahnya.Berikut adalah tambahan dialog yang disisipkan dan disinkronkan secara mulus ke dalam momen pagi hari di dapur, memperkuat interaksi hangat dengan panggilan "aku-kamu" yang baru mereka sepakati:Tak lama kemudian, Ashana menyusul ke dapur dengan langkah ringan da

  • Bukan Pengantin Pilihan   Memulai kembali

    Gibran menarik napas panjang, mencoba mencairkan ketegangan yang masih menyelimuti udara malam di vila terpencil itu. Ia berdiri perlahan sambil menatap wajah istrinya yang masih menyisakan jejak air mata kepedihan."Perut kita sepertinya butuh diisi setelah seharian penuh terkuras emosi," ucap Gibran dengan nada suara yang berusaha dicairkan seramah mungkin. Ia mengulurkan tangannya sekali lagi ke hadapan Ashana, menawarkan sebuah gestur perdamaian yang tulus.Ashana menatap telapak tangan suaminya yang kokoh itu cukup lama sebelum akhirnya menyambutnya dengan ragu-ragu. Bibirnya membentuk senyuman tipis yang sangat rapuh, menandakan bahwa dinding es di antara mereka benar-benar telah runtuh.Mereka pun berjalan berdampingan meninggalkan kamar tidur menuju dapur minimalis yang terletak di sudut ruangan. Lampu minyak gantung memancarkan pendar kuning keemasan, menciptakan bayangan siluet tubuh mereka di dinding kayu lapuk.Suasana hening malam itu seketika berubah hangat ketika Gibran

  • Bukan Pengantin Pilihan   Menemukannya

    Setelah membuat alasan main dengan Dea setelah pulang magang, akhirnya Ashana terlepas dari cecaran Gibran. Entah suaminya percaya beneran atau pura-pura yang jelas ia bisa segera pergi dari hadapan Gibran saat ini. Ashana pun melakukan bersih-bersih sebelum istirahat. Sekitar jam 10 malam, Ashana

  • Bukan Pengantin Pilihan   Mencari seseorang

    "Ssillahkan Pak," jawab Dea sedikit gugup.Gibran dan Rio tanpa bicara lagi langsung duduk berhadapan dengan Ashana dan Dea. Mereka seakan dua pasangan sejoli yang lagi double date."Tumben Pak Gibran dan Pak Rio makan di kantin ya," bisik beberapa karyawan yang hadir di kantin dan menyaksikan pema

  • Bukan Pengantin Pilihan   Pengantin pengganti

    Subuh-subuh Ashana, sudah bangun lebih awal dari biasanya. Setelah mandi, ia bersiap menuju kamar kakaknya untuk melihat persiapan sang kakak.Namun, langkah kakinya terhenti kala melihat orang tuanya, om dan tantenya kini duduk melingkar di ruang keluarga lantai 2. Ashana dengan ceria dan semangat

  • Bukan Pengantin Pilihan   Bos dan anak magang

    Seorang gadis muda berusia 19 tahun bernama, Ashana melangkah memasuki gedung pencakar langit dengan buru-buru. Ia memperlihatkan sebuah id card yang tergantung di lehernya ke satpam, tanda ia sudah punya akses untuk masuk.Setelah berhasil masuk, ia langsung mencari toilet karena saat ini ia kebel

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status