Mag-log inSubuh-subuh Ashana, sudah bangun lebih awal dari biasanya. Setelah mandi, ia bersiap menuju kamar kakaknya untuk melihat persiapan sang kakak.
Namun, langkah kakinya terhenti kala melihat orang tuanya, om dan tantenya kini duduk melingkar di ruang keluarga lantai 2. Ashana dengan ceria dan semangat menghampiri mereka. "Selamat subuh semuanya," sapa Ashana dengan ceria. Mereka langsung menoleh menatap Ashana yang tampak bahagia itu. Ashana kaget kala melihat wajah murung mereka khususnya sang ayah. "Kalian kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Ashana mulai khawatir melihat raut wajah keluarganya. "Duduk dulu Cha," titah sang ibu. "Ada apa Bu? MUAnya belum datang atau Kak Al belum bangun?" tanya Ashana. Ibunya menggelengkan kepalanya pelan. Ashana mulai semakin bingung sekaligus khawatir. "Calon suami Kak Al kabur?" tanya Ashana lagi. "Bukan tapi Aliyah lah yang kabur," ujar Effendy, om Ashana sekaligus kakak pak Aris. " Apa Om? Kak Al kabur?" tanya Ashana kaget sampai intonasinya meninggi. Mereka semua kompak mengangguk. Ashana sampai menopang kepalanya yang tiba-tiba pusing. "Sejak kapan?" "Semalam," jawab pak Aris lirih. "Semalam Yah? Dan kalian baru memberi tau aku sekarang ini?" Ashana semakin sakit kepala dibuatnya. "Maaf Nak, semalam Ayah sibuk mencari Kakakmu. Jadi lupa memberi tau mu tapi Ayah dan yang lain sudah mencari keberadaan Kakak kamu tapi sampai saat ini Kakakmu belum ketemu juga." Ashana terdiam, ia tidak tau mau bicara apalagi. "Terus gimana ini Aris? Pernikahan harus tetap berlangsung, mau ditaruh dimana muka 2 keluarga ini kalau tersebar berita mempelai perempuan kabur?" tanya Effendy. "Entahlah Mas, aku juga belum tau. Yang jelas pihak besan tidak menerima pembatalan pernikahan. Pilihannya hanya menemukan Aliyah atau mencarikan pengantin pengganti," jawab Aris pelan. "Pengantin pengganti Yah? Memangnya bisa? Terus administrasinya di KUA bagaimana?" tanya Ashana lagi. Aris menggelengkan kepalanya pelan tanda ia tidak tau menau juga. Bu Mita kembali menangis memikirkan anak sulungnya belum ditemukan. "Jangan menangis Bu, kita berpikir positif saja dulu kalau Kak Al akan pulang sebelum akad berlangsung," ujar Ashana menenangkan sang ibu. "Tidak Cha, Kakakmu sengaja pergi untuk menghindari pernikahan ini. Ia tidak mau menikah dengan calon suaminya saat ini," ujar bu Mita terbata-bata sambil memperlihatkan selembar kertas yang Aliyah simpan. "Astaga Kak Al, bisa-bisanya baru tidak setuju di detik-detik pernikahan seperti ini," gerutu Ashana tidak habis pikir. Ditengah mereka mencari solusi, tiba-tiba salah seorang Artnya memberi tau kalau ada pihak lelaki yang datang. Wajah mereka langsung panik dan semakin gelisah. Mau tidak mau mereka harus menghadapinya. Mereka semua turun ke lantai 1 menemui pihak laki-laki. Pak Aris langsung menyapa calon besannya yaitu pak Esa. Mereka langsung duduk bersama di ruang tamu yang terasa panas padahal sekarang masih waktu subuh. "Bagaimana, calon mempelai perempuan sudah ketemu?" tanya pak Esa terus terang. "Maaf Pak, Aliyah belum bisa kami temukan," ujar pak Aris menunduk karena merasa bersalah sekaligus malu ke sahabatnya ini. "Hmm, begitu," ujar pak Esa tenang membuat yang lain malah ketar ketir. "Om, sebelumnya maaf kalau saya menyela. Apa boleh pernikahan ini di undur saja? Kami akan mencari Kak Aliyah lagi." Ashana memberanikan diri untuk berbicara. "Kamu siapa?" Tanya Esa. "Dia putri bungsu kami Pak," jawab bu Mita menggenggam tangan Ashana. "Putri bungsu? Kenapa pas acara lamaran saya tidak melihatnya dan baru sekarang terlihat?" "Perkenalkan dia Ashana, putri bungsu kami Mas. Saat lamaran dia tidak hadir karena sedang di rawat di rumah sakit," ujar pak Aris memperkenalkan putrinya. Pak Esa terdiam, ia memerhatikan gadis manis dihadapannya ini. "Kamu saja yang menggantikan Kakak kamu untuk menikah dengan anak saya," ujar pak Esa membuat mereka semua kaget khususnya Ashana. "Apa Om? Menggantikan Kak Al?" tanya Ashana memastikan. Pak Esa mengangguk. "Jangan dong Om, saya tidak mau jadi pelakor di hubungan Kakak saya," tolak Ashana. "Tidak ada yang merebut disini karena Kakak kamu sendiri yang memilih pergi yang artinya ia tidak menginginkan posisi itu." "Tapi Om...." "Cha," tegur pak Aris ke putrinya. "Mas, Ashana ini masih kuliah, dia baru masuk magang. Dia masih terlalu muda untuk menikah, saya carikan pengganti yang lain ya." "Saya tidak mau, saya cuman mau anak bungsu kamu yang jadi pengganti," ujar pak Esa dengan tegas. Ashana menggelengkan kepalanya menolak sambil meminta bantuan ke orang tuanya. Pak Aris meminta waktu sejenak untuk berbicara kepada sang putri. "Acha, Ayah tau pasti ini berat tapi Ayah mohon Nak. Demi menyelamatkan nama baik keluarga kita, kamus setuju ya," ujar pak Aris memohon sampai meneteskan air mata. Ashana sampai meneteskan air matanya juga. Ia tidak menyangka garis takdirnya akan seperti ini. Ia harus menjadi pengantin pengganti demi menyelamatkan nama baik keluarga. Ia bahkan tidak tau wajah calon suaminya tapi dengan pertimbangan yang berat, Ashana setuju. Bu Mita kembali menangis, ia kasihan melihat putri bungsunya tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Pak Esa langsung mengurus semua administrasi pernikahan saat itu juga untuk membalikan nama mempelai wanita. Tak terasa waktu akad pun tiba juga, Ashana sudah cantik dengan kebaya putih milik sang kakak. Untung body mereka sama jadi tidak sulit memakai pakaian milik Aliyah. Akad berlangsung di sebuah hotel milik mempelai laki-laki tapi Ashana tidak duduk dengan calon suaminya karena tidak ingin membuat berita karena pengantinnya beda dengan yang di undangan. Ia memilih menunggu di salah satu kamar yang memang sudah di siapkan. Akad telah berlangsung, kedua mempelai sudah sah jadi suami istri. Ashana mulai keringat dingin saat mengetahui suaminya berjalan menuju kamar ini untuk menemuinya. Ashana terus menunduk di dampingi sang Ibu dan sahabat yang mendadak ia hubungi tadi pagi. Dea langsung datang saja tanpa banyak tanya padahal banyak pertanyaan yang sedang ia pikirkan. Pintu kamar terbuka, seorang pria tinggi dengan punggung lebar mulai memasuki ruangan ini membuat mata Dea langsung melotot melihat pria itu. Sementara Ashana masih terus menunduk meremas tangannya yang berkeringat dan dadanya yang menggebu-gebu. "Cha, suamimu sudah datang. Tatap dia Nak," ujar bu Mita. Ashana dengan malu-malu dan berat mengangkat kepalanya untuk melihat suaminya. Betapa kagetnya ia saat melihat siapa pria yang berdiri dihadapannya ini. "Kamu." "Bos." Ashana dan Gibran berucap secara bersamaan membuat yang ada di ruangan ini heran melihat raut wajah pengantin baru ini. "Kalian sudah saling kenal?" tanya bu Mita.Perempuan dengan tubuh jenjang itu baru saja keluar dari mobilnya setelah pulang pemotretan. Suara ketukan sepatu hak tinggi Natasya bergema di lorong apartemen kemewahannya. Saat ini fikirannya hanya tertambat pada satu nama yaitu Gibran.Laki-laki pengusaha muda yang selama ini ia incar ternyata sudah memiliki istri. Rasa gengsi dan obsesi yang membakar dada membuat Natasya menyewa seorang detektif swasta untuk membongkar sosok wanita yang berani mengambil posisinya yang seharusnya menjadi miliknya.Ponsel Natasya berdering dan menampilkan satu nama yang sudah ia tunggu-tunggu kabarnya. Natasya langsung menjawab telpon orang itu."Hallo Natasya," sapa pria itu dingin dari balik telpon."Hallo, ada apa? Sudah mendapatkan yang saya minta?""Iya, ayo kita bertemu.""Tidak bisa, aku baru saja selesai pemotretan Afdal. kirim saja semua bukti di emailku," sahut Natasya sembari melempar tas tangannya ke sofa setelah ia masuk ke unitnya. "Baiklah, saya akan mengirim semuanya. Didalam folde
Setelah menjawab pertanyaan Gibran dengan saling bantu membantu agar tidak kena marah. Kini sudah memasuki waktu istirahat. Gelak tawa meramaikan kantin lantai lima siang itu, Ashana meminggirkan potongan ayam bakar di piringnya tanpa selera. Sementara tiga temannya yang lain, Dea, Nala, dan Mila sibuk mengobrolkan urusan pekerjaan yang seolah tidak ada habisnya."Mila, Mila, kamu masih mending dikasih revisi. Lah aku? Kemarin malah salah kirim draf email ke bagian HRD." Nala dengan keluhannya."Tapi jujur ya," potong Nala tiba-tiba, matanya melirik ke arah lorong kantin dengan binar usil, "ada yang bikin suasana magang di sini agak adem. Tuh, liat siapa yang jalan ke sini."Ashana menoleh sekilas dan langsung menghela napas halus, dari arah pintu masuk kantin, Andre berjalan mendekat. Pria itu tampak rapi dengan kemeja putih gulung siku, membawa sebuah kantong kertas di tangan kanannya. Semakin hari, sikap Andre terhadap Ashana makin terang-terangan, membuat ruang gerak Ashana di kan
Panas terik matahari dari luar jendela kantor seakan menembus ke dada Ashana, dari sudut ruangan lantai 14, matanya menatap tajam ke arah pintu ruangan CEO. Gibran, pria yang diam-diam telah mengikat janji suci dengannya sekitar 4 bulanan, keluar bersama Natasya. Perempuan bergaun hitam itu tertawa manja sembari memegang lengan jas Gibran, tampak begitu disengaja.Padahal, kontrak kerja sama antar perusahaan dan Natasya sudah resmi berakhir hampir sebulan lalu. Namun, Natasya masih selalu punya seribu alasan untuk muncul di kantor Gibran, membuat status Ashana sebagai istri rahasia terasa makin menyiksa. Ashana mengepalkan jemarinya, menahan gelombang lelah yang sudah di ambang batas.Saat jam istirahat tiba, Ashana melangkah cepat menuju kedai kopi di seberang gedung kantor bersama Dea. Ia ingin menenangkan hati dan pikirannya, Dea sebagai sahabat dan teman magang setia menemani Ashana. Tak lama kemudian, ponsel Ashana bergetar menampilkan panggilan video dari Aliyah, sang kakak yan
Natasya pulang dari Mahesa properties dengan kepalan tangan erat dan kemarahan yang membakar dada. Bagi seorang Natasya seorang model papan atas yang terbiasa sudah mendapatkan apa pun yang diinginkannya, kata "tidak" dari Gibran adalah sebuah penghinaan. Dia pernah menjadi bagian dari hidup Gibran selama 2 tahun. Dia tidak akan menyerahkan pria itu begitu saja kepada wanita misterius yang bahkan tak berani menampakkan dirinya.Rasa penasaran bercampur cemburu buta mendorong Natasya untuk mulai bergerak mencari tau siapa istri Gibran. Dia tidak bisa tinggal diam saja, melihat pria yang ia inginkan direbut begitu saja.Langkah pertamanya adalah menghubungi salah satus detektif swasta langganan para selebriti yang biasa menyapu bersih skandal atau mencari rahasia orang-orang kelas atas."Aku mau kamu cari tahu semuanya tentang Gibran," ujar Natasya dingin saat bertemu Afdal, di sebuah kafe di pinggiran kota.Afdal menyenderkan punggungnya. "Gibran Mahesa ? CEO Mahesa Properties itu? Buk
Lampu kamera masih menyisakan bayangan siluet di depan mata Natasya. Ia mengenakan gaun sutra merah yang membalut tubuhnya dengan sempurna, ia menyunggingkan senyum paling menawannya. Hari ini adalah hari terakhir pemotretan untuk kampanye komersil di Mahesa Properties.Sementara itu disudut ruangan, seorang pria berdiri tegap. Setelan jas hitam membingkai tubuh jangkungnya dengan sangat indah. Natasya mengibas-ibaskan rambutnya yang bergelombang, melangkah perlahan dengan berlenggak-lenggok menuju tempat Gibran berdiri. "Terima kasih atas kesempatannya, Gib. Kerja sama kali ini benar-benar luar biasa," sapanya dengan suara manja yang dulu selalu berhasil meluluhkan hati pria itu.Gibran hanya mengangguk tipis, tangannya tetap berada di dalam saku celana. "Performa kamu bagus, Natasya. Tim pemasaran sangat puas. Setelah ini, sekretaris saya yang akan mengurus sisa honor kamu.""Hanya itu?" Natasya mendekat, sengaja mengikis jarak di antara mereka. "Kamu tidak mau mengajak mantan ke
Udara pendingin di lantai 14 Mahesa Properties berembus dingin, tetapi suasana di dalam ruang kerja Gibran terasa jauh lebih membekukan.Natasya seperti biasa melangkah masuk tanpa mengetuk pintu dulu. Gaun yang ia pakai selalu menyala yang melekat di tubuhnya tampak kontras dengan interior ruangan yang didominasi warna maskulin. Dengan senyum manis yang dipaksakan, ia melangkah mendekati meja kerja besar di tengah ruangan.Gibran bahkan tidak mendongak dari berkas di hadapannya ketika mendengar seseorang masuk. Jemarinya yang menempel pada pulpenterus menari di atas kertas dihadapannya."Gibran, nanti kita makan siang di luar, ya? Ada restoran baru yang ....""Rio," panggil Gibran datar melalui interkom, memotong kalimat Natasya tanpa memperdulikan Natasya.Pintu ruangan segera terbuka perlahan. Rio, asisten pribadinya, berdiri di ambang pintu. "Iya, ada apa Bos?""Tolong urus Mbak Natasya kalau kedatangannya terkait dengan kerja sama divisi pemasaran. Selesaikan di ruang rapat diata
Setelah membuat alasan main dengan Dea setelah pulang magang, akhirnya Ashana terlepas dari cecaran Gibran. Entah suaminya percaya beneran atau pura-pura yang jelas ia bisa segera pergi dari hadapan Gibran saat ini. Ashana pun melakukan bersih-bersih sebelum istirahat. Sekitar jam 10 malam, Ashana
"Ssillahkan Pak," jawab Dea sedikit gugup.Gibran dan Rio tanpa bicara lagi langsung duduk berhadapan dengan Ashana dan Dea. Mereka seakan dua pasangan sejoli yang lagi double date."Tumben Pak Gibran dan Pak Rio makan di kantin ya," bisik beberapa karyawan yang hadir di kantin dan menyaksikan pema
Gibran langsung menjauhkan wajahnya dengan tenang dari Syakilla saat Rio memergoki mereka. Sementara Ashana terus menunduk malu seakan baru ketahuan berbuat mesum padahal tidak terjadi apa-apa."Maaf Bos, saya mengganggu. Cuman mau mengantar kopi ini saja," ujar Rio menggaruk kepalanya yang tak gat
Seorang gadis muda berusia 19 tahun bernama, Ashana melangkah memasuki gedung pencakar langit dengan buru-buru. Ia memperlihatkan sebuah id card yang tergantung di lehernya ke satpam, tanda ia sudah punya akses untuk masuk.Setelah berhasil masuk, ia langsung mencari toilet karena saat ini ia kebel







