LOGINSesuai kesepakatan bersama, pernikahan Ashana dan Gibran dirahasiakan. Gibran tidak ingin membuat berita negatif untuk 2 keluarga jika tau mempelainya tiba-tiba diganti.
Ashana tidak masalah sama sekali karena ke depannya ia masih bebas bermain tanpa harus pusing dengan status istri seorang CEO. Selama Ashana merasa diuntungkan, dia sama sekali tidak keberatan soal persyaratan yang diajukan Gibran. Hari pertama menjalani kehidupan menjadi seorang istri. Ashana belum melakukan apa-apa karena di rumah Gibran belum ada bahan makanan. Sekitar jam 6 pagi, Ashana sudah rapi dengan pakaian magangnya. Sementara itu Gibran baru bangun dan sedikit kaget melihat ada perempuan di dalam kamarnya. "Kenapa ekspresi wajah Bapak seperti itu melihatku? Lupa kalau sudah punya istri?" tanya Ashana kala tengah menyisir rambutnya dan melihat Gibran dari pantulan cermin meja rias. "Tidak, saya hanya kaget melihat kamu sudah rapi jam segini," elak Gibran. "Harus dong karena nanti saya telat kalau berangkatnya agak siang dan berakhir di omeli sama Bos saya," sindir Ashana dengan ekspresi wajah mengejek. "Mau berangkat bareng?" tanya Gibran mengalihkan pembicaraan. "No! Saya mau naik motor sendiri. Katanya mau menyembunyikan status, malah ngajak berangkat bareng. Gimana si Pak?" "Terserah kamu kalau begitu," ujar Gibran cuek lalu beranjak dari atas kasur menuju kamar mandi. "Saya berangkat duluan ya, takut telat dan di omeli sama Bos galak," teriak Ashana dari luar kamar mandi dengan sedikit cekikikan. Gibran hanya diam sambil geleng-geleng kepala mendengar sindiran istrinya itu. Ia kemudian melanjutkan ritual mandinya karena dia juga akan berangkat ke kantor. Ashana tiba di kantor sebelum setengah 8, ia langsung bisa berjalan santai memasuki gedung pencakar langit itu karena masih punya banyak waktu. Saat di lobby ia baru teringat sesuatu, ia langsung memukul pelan jidatnya. Pak Bos Sedeng : Pak,maaf saya belum sempat buat sarapan tadi pagi karena belum ada persediaan di dapur. Setelah mengirim pesan ke suaminya, Ashana lanjut berjalan menuju lantai 14 dimana ia tinggal. Ternyata masih sedikit temannya yang datang sehingga ia langsung duduk santai sambil bermain ponsel. "Dasar Bos sedeng, di kirimi pesan tapi tidak ada balasan apapun. Minimal bilang Iya kek atau apa gitu," batin Ashana. "Woi," tegur seseorang sambil merangkul Ashana. "Tumben kamu baru datang," ucap Ashana. "Ban motor kang ojek tiba-tiba kempes pas di jalan makanya harus cari ojek lain lagi. Makanya aku sedikit lambat datangnya." "Kenapa nggak hubungi aku saja si De? Kan aku bisa jemput kamu." Dea mendekatkan dirinya ke Ashana dan bersiap untuk berbisik,"memangnya kamu tidak berangkat sama suami?" Ashana langsung menyikut pelan Dea dan meminta dia untuk diam. "Jangan sebut-sebut suami kalau kita lagi di kantor," bisik Ashana. "Kenapa? Kalian menyembunyikan status kalian?" tanya Dea kaget masih sambil berbisik, bahkan posisi mereka sudah semakin dekat dan sedikit miring sambil bercerita. "Iya, demi kebaikan bersama. Kita tidak mau keluar berita buruk untuk keluarga kita masing-masing kalau orang lain tau aku sebagai pengganti." "Ini ide siapa?" "Berdua." "Selamat pagi Pak Gibran, selamat pagi Pak Rio," ujar teman magang Ashana yang sudah datang. Ashana dan Dea sontak berdiri ikut menyapa sang bos yang ternyata sudah datang. Gibran dan Rio melintasi tempat anak magang berada. "Pak Gibran sangat pekerja keras sekali ya. Kemarin baru habis nikah, sekarang sudah masuk kerja," ujar teman magang Ashana. "Iya, apa istrinya tidak protes? Masa mereka tidak melakukan bulan madu si." "Soal istri Pak Gibran, katanya kemarin tidak ada yang melihat bagaimana wajahnya saat proses ijab kabul." "Masa si? Mereka juga katanya tidak melakukan resepsi. Tidak mungkin dong mereka terkendala biaya." "Nggak mungkinlah, seorang Gibran cakrawala tidak bisa buat resepsi pernikahan? Pasti ada alasan lain selain soal dana." "Betul tapi yang jelas pasti istri Pak Bos, cantik, putih, pokoknya bodynya kayak model lah. Nggak mungkin istri Pak Bos seperti kita." Ashana hanya mengatur emosinya saat teman-temannya terang-terangan sedang menggosipi dirinya dan sang suami. Dea hanya mengelus dada sang sahabat agar bisa sabar. "Ini resikonya kalian menutupi pernikahan kalian," bisik Dea. "Sudahlah, biarkan mereka mau berasumsi apapun. Aku mah biasa saja." "Betul, jangan terpengaruh. Fokus saja menyelesaikan magang ini." Kedua sahabat itu saling menguatkan menjalani magang ini. Mereka semua pun kembali bekerja karena ada sebuah proyek yang sedang mereka jalankan saat ini. Sementara itu di ruangannya, Gibran tengah sibuk membaca laporan karyawannya. Rio sedang mengetik pekerjaan di tempatnya. Hari pertama jadi suami istri tidak membuat mereka berubah. Mereka tetap sama seperti sebelum menikah. Tak terasa jam makan siang pun tiba, Ashana, Dea dan teman magangnya yang lain berjalan bersama menuju kantin perusahaan. Sudah banyak karyawan yang memenuhi ruangan tersebut. Kini hanya tersisa 2 tempat kosong. Ashana dan 1 temannya yang lain berlari untuk mengisi tempat itu. Sementara yang lain memesan makan siang mereka. Setelah menunggu beberapa waktu, pesanan mereka datang. Mereka pun makan siang bersama dengan karyawan lain. Uhuk-uhuk-uhuk Dea dengan cepat memberikan air putih ke Ashana karena sahabatnya itu malah tersendak. "Makanya pelan-pelan makannya Ca. Jam istirahat masih lama kok, kamu seperti orang yang belum makan saja," ujar Dea. "Emang belum makan Deaku sayang,makanya aku sudah kelaparan begini," jawab Ashana. "Pak Gib, tidak memberikan kamu makanan?" tanya Dea sedikit berbisik karena temannya yang lain duduk di meja sebelah. Hanya Ashana dan Dea duduk bersama di meja ini. "Bukan tapi di rumahnya belum ada persediaan makanan makanya aku belum sempat sarapan tadi," bisik Ashana balik. "Oh, kirain dia melupakan tanggung jawabnya. Hmm bagaimana soal tanggung jawab yang itu?" tanya Dea lagi dengan muka menggoda Ashana. "Tanggung jawab yang mana?" tanya Ashana balik. Mereka makan sambil bisik-bisik. "Itu loh masalah ranjang." Ashana kembali tersendak ludahnya kala mendengar ucapan frontal Dea. Ashana langsung melotot ke sahabatnya itu. "Boleh ikut bergabung?" tanya seseorang dari arah belakang Dea dan Ashana. Ashana dan Dea langsung balik badan mendengar sumber suara yang tidak asing. Mereka berdua langsung kaget kala melihat Gibran dan Rio tengaj berdiri di belakangnya dengan memegang nampan yang sama dengan mereka. "Boleh kami ikut bergabung Nona-Nona? Semua tempat sudah kosong dan hanya tersisa 2 kursi di tempat ini," ujar Rio dengan ekspresi wajah penuh harap.Hari demi hari berlalu di pulau pribadi itu, waktu seolah berhenti khusus untuk memberikan ruang bagi cinta Ashana dan Gibran yang baru bersemi sempurna. Setiap sudut vila menjadi saksi bisu dari tawa lepas, godaan kecil, serta tatapan penuh kehangatan yang mengalir tanpa henti di antara mereka. Keintiman yang dulunya canggung kini berganti menjadi ritme manis sepasang suami istri yang tak terpisahkan.Sore itu, deburan ombak beradu lembut dengan desir angin laut yang membawa aroma garam segar ke area teras vila. Ashana duduk melipat kaki di sofa rotan sambil menikmati angin sore, sebelum pelukan hangat dari belakang menghentikan usapan jemarinya pada cangkir teh. Gibran menyandarkan dagunya di bahu sang istri, melingkarkan lengan kekarnya erat-erat seakan enggan membiarkan ada jarak di antara mereka."Masih betah di sini, atau sudah rindu suasana rumah kita?" bisik Gibran lembut sambil menyesap aroma harum dari rambut Ashana.Ashana memiringkan kepala, membalas tatapan suaminya denga
Ciuman yang semula lembut itu perlahan menuntut kehangatan yang lebih dalam, menyatukan deru napas mereka yang makin memburu di bawah cahaya lilin. Jemari Gibran meremas pelan tengkuk Ashana, menyapu batas kesabaran sampai dada mereka naik turun menggebu karena kehabisan pasokan udara. Tanpa memutus tatapan yang terkunci rapat, Gibran melingkarkan tangannya di bawah lipatan lutut Ashana lalu menyergap tubuh mungil itu ke dalam gendongannya menuju kamar mereka. Gibran merebahkan Ashana ke atas kasur empuk mereka dengan penuh kelembutan yang teramat hati-hati, seolah wanita di hadapannya adalah kaca rapuh. Lampu kamar yang temaram menyorot pendar gugup di wajah Ashana, membuat rona merah di pipinya kian jelas terpancar. Hawa dingin dari celah ventilasi mendadak menguap, tergantikan oleh gelombang hangat yang merambat cepat dari usapan lembut jemari Gibran di pelipis sang istri."Hampir setahun kita berada dalam ikatan pernikahan tapi aku belum pernah sama sekali meminta hakku karena me
Rasa lelah setelah seharian menjelajahi sudut pantai membelit tubuh Ashana, menyisakan kantuk berat yang menghempaskannya ke atas kasur empuk. Kelopak matanya tertutup rapat, tenggelam dalam lelap ketika lanskap langit di luar jendela perlahan berganti dari jingga keemasan menjadi pekatnya malam. Ketika matanya mendadak terbuka, kegelapan gulita dan keheningan mencekam langsung menyergap selimut dingin yang membungkus tubuhnya.Ruangan kamar tidur terasa begitu kosong dan dingin tanpa kehangatan napas yang biasanya berembun di sebelahnya. Keraguan kecil merayap cepat di benaknya, berubah menjadi desakan panik saat jemarinya hanya meraba sprei rata yang tak berpenghuni. "Mas Gibran?" panggil Ashana dengan suara serak, tapi hanya gema sunyi yang memantul kembali dari sudut-sudut plafon tinggi.Desir angin malam yang menerobos lewat celah jendela membuat tirai berkibar bagai bayangan hitam yang menari menakutkan. Ashana beranjak cepat dari tempat tidur, mengabaikan kakinya yang bertelanj
Hari-hari selanjutnya di pulau pribadi itu mengikuti pola yang serupa, seperti melodi rahasia yang hanya diperuntukkan bagi mereka berdua. Setiap pagi, cahaya keemasan menerangi lantai kayu vila sederhana tempat mereka tinggal, menyibak tirai jendela. Gibran dan Ashana menjalani rutinitas harian yang mulai terasa nyaman, mulai dari menyiapkan sarapan bersama hingga berjalan di sepanjang pantai berpasir putih.Namun, di balik keindahan dan kedekatan yang kian terajut erat, sebuah kejanggalan kecil mulai merayap dan mengusik benak keduanya. Setiap kali mereka terbangun di pagi hari, pintu lemari pendingin di sudut dapur selalu terisi penuh oleh bahan makanan segar yang masih berembun. Tidak pernah ada suara derap langkah kaki asing atau deru mesin perahu yang singgah di dermaga kecil depan vila selama malam buta."Menurutmu, siapa yang datang mengisi kulkas ini saat kita tidur pulas, Mas?" tanya Ashana suatu pagi, alisnya bertaut heran sambil menatap deretan buah dan daging segar.Gibra
Hari baru menyapa pulau terpencil itu dengan bias cahaya keemasan yang menembus celah jendela kamar. Deburan ombak laut yang menghantam karang terdengar begitu kontras dengan keheningan pagi yang masih menyelimuti vila. Gibran membuka matanya perlahan, mendapati istrinya masih terlelap damai di sisi ranjang sebelah kanan.Pria itu beranjak tanpa menimbulkan suara sedikit pun agar tidak membangunkan lelap wanita di sampingnya. Ia melangkah keluar menuju dapur untuk menyiapkan sarapan sederhana sebelum hari beranjak semakin siang. Aroma kopi hangat langsung menyeruak memenuhi ruangan begitu air di atas kompor mulai mendidih.Tak lama kemudian, Ashana menyusul ke dapur dengan langkah ringan dan senyuman tipis menghiasi wajahnya.Berikut adalah tambahan dialog yang disisipkan dan disinkronkan secara mulus ke dalam momen pagi hari di dapur, memperkuat interaksi hangat dengan panggilan "aku-kamu" yang baru mereka sepakati:Tak lama kemudian, Ashana menyusul ke dapur dengan langkah ringan da
Gibran menarik napas panjang, mencoba mencairkan ketegangan yang masih menyelimuti udara malam di vila terpencil itu. Ia berdiri perlahan sambil menatap wajah istrinya yang masih menyisakan jejak air mata kepedihan."Perut kita sepertinya butuh diisi setelah seharian penuh terkuras emosi," ucap Gibran dengan nada suara yang berusaha dicairkan seramah mungkin. Ia mengulurkan tangannya sekali lagi ke hadapan Ashana, menawarkan sebuah gestur perdamaian yang tulus.Ashana menatap telapak tangan suaminya yang kokoh itu cukup lama sebelum akhirnya menyambutnya dengan ragu-ragu. Bibirnya membentuk senyuman tipis yang sangat rapuh, menandakan bahwa dinding es di antara mereka benar-benar telah runtuh.Mereka pun berjalan berdampingan meninggalkan kamar tidur menuju dapur minimalis yang terletak di sudut ruangan. Lampu minyak gantung memancarkan pendar kuning keemasan, menciptakan bayangan siluet tubuh mereka di dinding kayu lapuk.Suasana hening malam itu seketika berubah hangat ketika Gibran
Setelah membuat alasan main dengan Dea setelah pulang magang, akhirnya Ashana terlepas dari cecaran Gibran. Entah suaminya percaya beneran atau pura-pura yang jelas ia bisa segera pergi dari hadapan Gibran saat ini. Ashana pun melakukan bersih-bersih sebelum istirahat. Sekitar jam 10 malam, Ashana
"Ssillahkan Pak," jawab Dea sedikit gugup.Gibran dan Rio tanpa bicara lagi langsung duduk berhadapan dengan Ashana dan Dea. Mereka seakan dua pasangan sejoli yang lagi double date."Tumben Pak Gibran dan Pak Rio makan di kantin ya," bisik beberapa karyawan yang hadir di kantin dan menyaksikan pema
2 keluarga itu baru tau kalau ternyata, Ashana dan Gibran sudah saling kenal. Mereka ternyata bos dan anak magang di kantor setelah mengintrogasi sebentar.Setelah introgasi mendadak selesai, baru akan dilakukan pemasangan cincin nikah. Kedua keluarga inti sudah berada di dalam kamar untuk menyaksi
Subuh-subuh Ashana, sudah bangun lebih awal dari biasanya. Setelah mandi, ia bersiap menuju kamar kakaknya untuk melihat persiapan sang kakak.Namun, langkah kakinya terhenti kala melihat orang tuanya, om dan tantenya kini duduk melingkar di ruang keluarga lantai 2. Ashana dengan ceria dan semangat







