FAZER LOGINTak terasa Ashana dan Gibran sudah hampir dua bulan menghabiskan waktu di pulau pribadi ini akibat dijebak oleh orang tua sendiri. Hari demi hari berlalu bagaikan mimpi indah yang dihiasi tawa, manja, dan kehangatan tiada henti layaknya pengantin baru. Pantai pasir putih dan deburan ombak seolah menjadi saksi abadi dari jalinan cinta mereka yang kian mengakar kuat.Namun, suasana manis itu mendadak pudar ketika matahari berada tepat di puncak kepala pada suatu siang. Gibran yang biasanya selalu bersemangat menyapa pagi kini hanya bersandar lesu di sofa ruang tengah dengan wajah pucat pasi. Tatapan matanya terlihat layu, bahkan piring berisi sajian makanan favoritnya di atas meja sama sekali tak tersentuh sejak tadi.Ashana melangkah mendekat seraya meletakkan segelas air hangat di meja kayu depan suaminya. Ia mendaratkan telapak tangannya di dahi Gibran, merasakan suhu tubuh pria itu yang merambat agak hangat. Kekhawatiran seketika menjalar cepat di dalam dada Ashana saat melihat suam
Hari demi hari berlalu di pulau pribadi itu, waktu seolah berhenti khusus untuk memberikan ruang bagi cinta Ashana dan Gibran yang baru bersemi sempurna. Setiap sudut vila menjadi saksi bisu dari tawa lepas, godaan kecil, serta tatapan penuh kehangatan yang mengalir tanpa henti di antara mereka. Keintiman yang dulunya canggung kini berganti menjadi ritme manis sepasang suami istri yang tak terpisahkan.Sore itu, deburan ombak beradu lembut dengan desir angin laut yang membawa aroma garam segar ke area teras vila. Ashana duduk melipat kaki di sofa rotan sambil menikmati angin sore, sebelum pelukan hangat dari belakang menghentikan usapan jemarinya pada cangkir teh. Gibran menyandarkan dagunya di bahu sang istri, melingkarkan lengan kekarnya erat-erat seakan enggan membiarkan ada jarak di antara mereka."Masih betah di sini, atau sudah rindu suasana rumah kita?" bisik Gibran lembut sambil menyesap aroma harum dari rambut Ashana.Ashana memiringkan kepala, membalas tatapan suaminya denga
Ciuman yang semula lembut itu perlahan menuntut kehangatan yang lebih dalam, menyatukan deru napas mereka yang makin memburu di bawah cahaya lilin. Jemari Gibran meremas pelan tengkuk Ashana, menyapu batas kesabaran sampai dada mereka naik turun menggebu karena kehabisan pasokan udara. Tanpa memutus tatapan yang terkunci rapat, Gibran melingkarkan tangannya di bawah lipatan lutut Ashana lalu menyergap tubuh mungil itu ke dalam gendongannya menuju kamar mereka. Gibran merebahkan Ashana ke atas kasur empuk mereka dengan penuh kelembutan yang teramat hati-hati, seolah wanita di hadapannya adalah kaca rapuh. Lampu kamar yang temaram menyorot pendar gugup di wajah Ashana, membuat rona merah di pipinya kian jelas terpancar. Hawa dingin dari celah ventilasi mendadak menguap, tergantikan oleh gelombang hangat yang merambat cepat dari usapan lembut jemari Gibran di pelipis sang istri."Hampir setahun kita berada dalam ikatan pernikahan tapi aku belum pernah sama sekali meminta hakku karena me
Rasa lelah setelah seharian menjelajahi sudut pantai membelit tubuh Ashana, menyisakan kantuk berat yang menghempaskannya ke atas kasur empuk. Kelopak matanya tertutup rapat, tenggelam dalam lelap ketika lanskap langit di luar jendela perlahan berganti dari jingga keemasan menjadi pekatnya malam. Ketika matanya mendadak terbuka, kegelapan gulita dan keheningan mencekam langsung menyergap selimut dingin yang membungkus tubuhnya.Ruangan kamar tidur terasa begitu kosong dan dingin tanpa kehangatan napas yang biasanya berembun di sebelahnya. Keraguan kecil merayap cepat di benaknya, berubah menjadi desakan panik saat jemarinya hanya meraba sprei rata yang tak berpenghuni. "Mas Gibran?" panggil Ashana dengan suara serak, tapi hanya gema sunyi yang memantul kembali dari sudut-sudut plafon tinggi.Desir angin malam yang menerobos lewat celah jendela membuat tirai berkibar bagai bayangan hitam yang menari menakutkan. Ashana beranjak cepat dari tempat tidur, mengabaikan kakinya yang bertelanj
Hari-hari selanjutnya di pulau pribadi itu mengikuti pola yang serupa, seperti melodi rahasia yang hanya diperuntukkan bagi mereka berdua. Setiap pagi, cahaya keemasan menerangi lantai kayu vila sederhana tempat mereka tinggal, menyibak tirai jendela. Gibran dan Ashana menjalani rutinitas harian yang mulai terasa nyaman, mulai dari menyiapkan sarapan bersama hingga berjalan di sepanjang pantai berpasir putih.Namun, di balik keindahan dan kedekatan yang kian terajut erat, sebuah kejanggalan kecil mulai merayap dan mengusik benak keduanya. Setiap kali mereka terbangun di pagi hari, pintu lemari pendingin di sudut dapur selalu terisi penuh oleh bahan makanan segar yang masih berembun. Tidak pernah ada suara derap langkah kaki asing atau deru mesin perahu yang singgah di dermaga kecil depan vila selama malam buta."Menurutmu, siapa yang datang mengisi kulkas ini saat kita tidur pulas, Mas?" tanya Ashana suatu pagi, alisnya bertaut heran sambil menatap deretan buah dan daging segar.Gibra
Hari baru menyapa pulau terpencil itu dengan bias cahaya keemasan yang menembus celah jendela kamar. Deburan ombak laut yang menghantam karang terdengar begitu kontras dengan keheningan pagi yang masih menyelimuti vila. Gibran membuka matanya perlahan, mendapati istrinya masih terlelap damai di sisi ranjang sebelah kanan.Pria itu beranjak tanpa menimbulkan suara sedikit pun agar tidak membangunkan lelap wanita di sampingnya. Ia melangkah keluar menuju dapur untuk menyiapkan sarapan sederhana sebelum hari beranjak semakin siang. Aroma kopi hangat langsung menyeruak memenuhi ruangan begitu air di atas kompor mulai mendidih.Tak lama kemudian, Ashana menyusul ke dapur dengan langkah ringan dan senyuman tipis menghiasi wajahnya.Berikut adalah tambahan dialog yang disisipkan dan disinkronkan secara mulus ke dalam momen pagi hari di dapur, memperkuat interaksi hangat dengan panggilan "aku-kamu" yang baru mereka sepakati:Tak lama kemudian, Ashana menyusul ke dapur dengan langkah ringan da
Gibran langsung menjauhkan wajahnya dengan tenang dari Syakilla saat Rio memergoki mereka. Sementara Ashana terus menunduk malu seakan baru ketahuan berbuat mesum padahal tidak terjadi apa-apa."Maaf Bos, saya mengganggu. Cuman mau mengantar kopi ini saja," ujar Rio menggaruk kepalanya yang tak gat
Seorang gadis muda berusia 19 tahun bernama, Ashana melangkah memasuki gedung pencakar langit dengan buru-buru. Ia memperlihatkan sebuah id card yang tergantung di lehernya ke satpam, tanda ia sudah punya akses untuk masuk.Setelah berhasil masuk, ia langsung mencari toilet karena saat ini ia kebel
"Ssillahkan Pak," jawab Dea sedikit gugup.Gibran dan Rio tanpa bicara lagi langsung duduk berhadapan dengan Ashana dan Dea. Mereka seakan dua pasangan sejoli yang lagi double date."Tumben Pak Gibran dan Pak Rio makan di kantin ya," bisik beberapa karyawan yang hadir di kantin dan menyaksikan pema
Setelah membuat alasan main dengan Dea setelah pulang magang, akhirnya Ashana terlepas dari cecaran Gibran. Entah suaminya percaya beneran atau pura-pura yang jelas ia bisa segera pergi dari hadapan Gibran saat ini. Ashana pun melakukan bersih-bersih sebelum istirahat. Sekitar jam 10 malam, Ashana







